
"Wa'alaikumsalam." Jawab Ayah Tiwi seraya menatap kepergian calon menantunya.
Kak Gery mengusap wajahnya kasar setelah sampai di dalam mobil, dia benar-benar menyesali keputusannya untuk mendatangi Tami yang membuat Tiwi salah paham dan menghindarinya seperti ini.
"Ya Allah, aku tahu aku salah! seharusnya aku gak datang temui Tami, aku benar-benar menyesal sekarang!" Gumam Kak Gery.
Akhirnya Kak Gery memilih pulang ke rumahnya dengan penyesalan yang begitu mengusik hati dan pikirannya. Dia terus berpikir untuk membujuk Tiwi agar tak menghindarinya lagi.
"Assalamu'alaikum." Ucap Kak Gery setelah masuk ke dalam rumahnya.
"Wa'alaikumsalam, kamu baru pulang ya?" Sahut Ayah Kak Gery yang kebetulan keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum.
"Iya, Yah! Gery ke kamar dulu ya!" Ucap Kak Gery melenggang lesu.
"Hm... dia pasti lagi ada masalah! gak biasanya wajahnya sampai muram gitu," Gumam Ayah Kak Gery memperhatikan gerak gerik anaknya yang melenggang masuk ke arah kamarnya.
3 hari kemudian, akhirnya Tami di perbolehkan pulang dari Rumah Sakit. Meski Kak Gery tak ingin menghampirinya lagi, tapi kenyataannya tak semudah yang dia bayangkan. Beberapa kali Tami mengancamnya lagi, saat tahu jika Kak Gery tidak mau lagi menemuinya. Kak Gery benar-benar di buat depresi dengan tingkah Tami yang semakin menjadi.
3 hari itu juga Kak Gery tidak bertemu dengan Tiwi, bahkan untuk sekedar menelepon pun Tiwi tidak menjawabnya. Tiwi beralasan tak ingin membuat Tami semakin depresi. Hanya beberapa Chat saja yang Tiwi balas agar Kak Gery tak terlalu cemas.
"Yang, hari ini Tami udah boleh pulang dari Rumah Sakit, semoga saja hari ini adalah hari terakhir Kakak menemaninya." Isi Chat Kak Gery yang dikirim pada Tiwi.
"Hm... Alhamdulillah, tapi aku gak berani menjamin, kalau Kak Gery bisa terlepas dari ancamannya," Batin Tiwi setelah membaca chat dari Kak Gery tanpa berniat untuk membalasnya.
...****************...
"By... beliin buah kedondong di Kota XXX, ya!" Bujuk Tata pada suaminya.
"Di sini kan juga banyak, Yang! lagi pula usia kandungan kamu masih rentan bepergian jauh! Aby gak mau terjadi sesuatu yang buruk sama kalian," Tutur Kak Iman seraya mengelus perut istrinya yang masih rata.
"Ihh...Aby pelit deh! kita kan bisa pelan-pelan di perjalannya! lagi pula ini kan kemauan anak Aby! Aby mau ya anak kita ngences nantinya? ihhh engga mau deh!" Sahut Tata merajuk.
"Aby tau, Yang! tapi..." Ucap Kak Iman tercekat karena Tata langsung beranjak meninggalkannya yang kini sedang terduduk di pinggiran tempat tidur mereka.
"Ihh... sebel deh, udah tau istri lagi ngidam, masih aja banyak alasan!" Gerutu Tata menghentakkan kakinya ke arah balkon kamar mereka.
"Yang! ko malah ke sini, sih! anginnya gak baik loh buat kamu sama anak kita!" Ucap Kak Iman menghampiri.
"Biarin, Aby nya juga sama tega gak mau turuti kemauan aku!" Rajuk Tata.
__ADS_1
"Iya deh, maaf! Aby turuti deh kemauan kamu, tapi ada syaratnya!" Sahut Kak Iman yang membuat Tata tak jadi merajuk.
"Beneran By! apa syaratnya? Aby gak bohong, kan?" Cecar Tata.
"Ya engga lah, emang kapan Aby bohong sama kamu? hm... Aby bakal turuti kemauan kamu, asal kita menginap di sana satu malam! Aby gak mau kalau kamu kelelahan," Ucap Kak Iman seraya membingkai wajah istrinya dengan kedua tangan.
"Sebaiknya kamu siap-siap sekarang! jangan lupa bawa baju ganti dan jaket juga! Aby gak mau kamu kedinginan di sana!" Tambah Kak Iman seraya mencubit gemas hidung istrinya.
"Ok deh, Tata siap-siap dulu, ya!" Sahut Tata bergegas ke dalam kamarnya dan memilih pakaian yang akan dia bawa.
"Ternyata repot juga ya menghadapi istri hamil, mood nya benar-benar cepet banget berubah-ubah!" Batin Kak Iman sambil menyusul sang istri ke dalam kamar mereka.
...****************...
Hoek... Hoek...
"Kak, ini minum dulu! kita ke Dokter aja ya!" Bujuk Andrina sambil mengusap peluh yang bercucuran di kencing suaminya.
"Engga usah, Yang! aku baik-baik aja ko, mungkin ini hanya masuk angin biasa, nanti juga pusing dan mual nya lang sendiri!" Sahut Kak Haikal merangkak naik ke atas tempat tidurnya.
"Hm... kasihan Kak Haikal, baru kali ini aku liat dia sakit! mana wajahnya sampe pucet gitu lagi! apa aku telepon Mamih aja, ya buat tanya obat yang ampuh buat pusing dan mual?" Batin Andrina seraya meraih hpnya.
"Halo sayang, ada apa?" Seru Mamih Andrina dari sebrang telepon.
"Mih, Mamih tau gak obat yang ampuh buat orang mual dan pusing hebat?" Tanya Andrina to the poin.
"Kamu sakit ya, Drin? kamu baik-baik aja kan? apa kamu mengalami morning sickness ya?" Cecar Mamih Andrina terdengar cemas.
"Drina baik-baik aja, Mih! justru yang sakit Kak Haikal, dari Subuh dia muntah-muntah dan ngeluh pusing! Drina jadi khawatir, tadi Drina juga udah coba bujuk buat pergi ke Dokter, tapi Kak Haikal nya gak mau! mana mukanya udah pucet banget lagi!" Papar Andrina.
Bukannya menyahuti, Mamih Andrina malah terkekeh dan membuat Andrina sedikit kesal dengan sikap Mamih nya itu.
"Mih!! ko malah ketawa sih? Drina lagi khawatir nih, Drina butuh solusi buat ngobatin Kak Haikal, Mamih ko malah ketawa gitu, sih!" Gerutu Andrina.
"Maaf sayang, Mamih cuma jadi inget waktu lagi hamil kamu dulu!" Tutur Mamih Andrina.
"Memangnya waktu Mamih hamil aku dulu, kenapa?" Tanya Andrina penasaran.
"Waktu Mamih hamil kamu, Papih juga merasakan hal yang sama seperti yang suami kamu alami sekarang, bahkan dulu Papih lebih parah lagi" Sahut Mamih Andrina terkekeh.
__ADS_1
"Beneran, Mih? terus gimana Mamih merawatnya?" Tanya Andrina.
"Mamih paling suka bikin teh lemon madu kalau Papih kamu mual!" Sahut Mamih Andrina.
"Tapi Mih, Kak Haikal sama Papih kan laki-laki! biasanya, kan yang mual-mual saat hamil itu Ibu hamilnya," Tutut Andrina.
"Memang bener, sayang! tapi gak sedikit juga para suami yang mengalami morning sickness! kalau kata Dokter dulu sih, itu di sebabkan kekhawatiran si calon yayah nya sendiri sama buah hati dan istrinya, atau bisa di sebut juga kehamilan simpati! itu tandanya suami kamu bener-bener mencintai dan menyayangi kamu, sayang!" Sahut Mamih Andrina.
Tiba-tiba Kak Haikal beranjak dan berlalu ke arah kamar mandi sambil memuntahkan kembali isi perutnya. Andrina yang melihatnya pun segera mengakhiri sambungan teleponnya dengan sang Mamih. Dia pun berlari menghampiri suaminya yang masih berdiri tertatih-tatih memegangi perutnya yang bergejolak.
"Masih mual ya Kak? Kakak tiduran lagi aja, ya! nanti Drina buatkan teh lemon hangat campur madu, Mamih bilang itu bisa sedikit meredakan rasa mual" Seru Andrina memapah suaminya ke tempat tidur kembali.
Kak Haikal tersenyum menatap istrinya, dia benar benar bahagia karena sekarang Andrina lebih perhatian padanya. Apa lagi saat ini di rahim Andrina sudah tertanam benih cinta mereka.
"Makasih sayang, aku mencintaimu." Ucap Kak Haikal setelah menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur.
"Drina juga Kak! ya udah, Drina buatkan teh hangatnya dulu ya!" Andrina mencoba beranjak, namun tangan Kak Haikal mencekalnya dan membuat Andrina kembali terduduk di atas tempat tidur tepatnya di atas lahunan suaminya.
"Kak... jangan seperti ini!" Ucap Andrina.
"Panggilnya jangan Kak terus dong, Yang! biar makin romantis ganti ya!" Seru Kak Haikal melingkarkan kedua tangannya di perut istrinya itu.
"Terus Kakak mau Drina panggil apa?" Tanya Andrina menikmati pelukan suaminya yang sudah menjadi candunya saat ini.
"Terserah Ayang aja, tapi aku ingin yang terdengar seksi kalau bisa!" Sahut Kak Haikal sambil menciumi aroma tubuh Andrina yang memabukkannya.
"Emm... apa ya? gimana kalau, Mas aja? kayanya panggilan itu cocok buat Mas Haikal yang suka mesum," Kekeh Andrina yang membuat suaminya menautkan kedua alisnya.
.
.
.
.
.
See you next episode 😘😘😘
__ADS_1