
Dua bulan kemudian, Tiwi dan kedua sahabatnya melaksanakan kegiatan bakti sosial dari kampusnya. Mereka menyambangi beberapa panti asuhan dan memberikan sumbangan yang sudah di kumpulkan sebelumnya.
"Udah semua, kan Drin?" Tanya Tiwi.
"Ada satu panti lagi, Wi!" Sahut Andrina setelah mengecek daftar nama-nama panti asuhan yang mereka datangi.
"Ha... Alhamdulillah, syukur deh kalau emang tinggal satu panti lagi! badan aku bener-bener udah lemes sama pegel-pegel, nih!" Keluh Tata.
"kamu kenapa, Ta?" Tanya Tiwi.
"Aku juga gak tau, Wi! badanku lemes banget, padahal kan kita gak bawa barang-barang berat juga ya," Sahut Tata bingung sendiri.
"Hm... ya udah, kita selesaikan sekarang aja yuk, aku juga udah lelah banget nih!" Seru Andrina yang tak kalah lesu.
"Kalian berdua sakit, ya? habis ini kita ke Dokter ya!" Ucap Tiwi mencemaskan kedua sahabatnya itu.
Tata dan Andrina pun kompak menggelengkan kepala mereka. Tiwi sebenarnya sangat ingin mengantar kedua sahabatnya itu untuk memeriksakan kesehatan mereka. Tapi apa daya, keduanya sama-sama tidak mau dan memilih pulang ke rumah mereka masing masing.
"Assalamu'alaikum, Kak! Kak Iman bisa jemput Tata di panti xxxxx gak? soalnya Tata keliatan pucet banget! Tiwi takut Tata pingsan, Kak! Kakak bisa jemput ke sini sekarang, kan?" Isi Chat Tiwi yang akhirnya dikirimkan pada Kak Iman karena kekhawatirannya pada Tata.
Tiwi juga mengirimkan chat yang sama pada Kak Haikal supaya menjemput Andrina yang tak kalah pucat dari Tata. Hari itu Tiwi benar-benar dibuat ektra cemas oleh kedua sahabatnya yang berbarengan sakit mendadak seperti robot yang kehabisan baterai.
"Yang, kamu kenapa?" Tanya Kak Haikal yang ternyata tiba lebih awal seraya menghampiri.
"Kakak kenapa ke sini? Drina juga mau pulang, ko sekarang!" Sahut Andrina yang sudah terkulai lemas di sebuah bangku tunggu panti asuhan.
"Ya ampun, Yang! kamu pucet banget! kita ke Dokter sekarang, ya!" Seru Kak Haikal seraya menggendong istrinya ke dalam mobil.
Sejurus kemudian, Kak Iman pun datang dan sama-sama terlihat khawatir menghampiri istrinya.
"Sayang, kamu gak apa-apa kan? ayo kita ke Dokter sekarang!" Seru Kak Iman yang langsung memboyong istrinya ke dalam mobil juga.
"Hati-hati, Kak! apa gak sebaiknya kalian sama-sama aja ya ke Dokternya? Tiwi juga pengen ikut kalau boleh, Tiwi juga khawatir sama Tata dan Andrina!" Sahut Tiwi yang di angguki oleh Kak Haikal dan Kak Iman.
"Ya udah, kamu ikut mobil Kakak aja, Wi!" Seru Kak Iman.
Setibanya di Rumah Sakit, Tata dan Andrina segera memasuki ruangan pemeriksaan. Mereka masuk bersamaan karena nomber yang mereka daftarkan berurutan.
"Silahkan! apa ini semuanya pasien?" Seru seorang suster sambil mempersilahkan mereka masuk.
"Pasiennya cuma dua orang ini aja, Sus! kami cuma menemani dan mengantar aja, takutnya mereka tiba-tiba pingsan!" Tutur Tiwi bantu menjawab.
"Baiklah, tapi harap perhatikan peraturan Rumah Sakit ya! silahkan baringkan pasiennya!" Sahut suster menyiapkan dua buah berangkat untuk Tata dan Andrina.
"Ta, kamu salah makan ya? kenapa kita bisa samaan sakit ya?" Tanya Andrina merasa aneh sendiri.
"Gak tau, Drin! aku pusing banget, aku gak bisa mikir apa pun sekarang," Sahut Tata.
__ADS_1
"Hm... sama, Ta! aku juga pusing banget sekarang," Ucap Andrina.
"Selamat sore, wah... pasiennya borongan ya?" Sapa seorang Dokter muda yang baru saja memasuki ruang pemeriksaan.
"Sore juga, Dok! iya kami sengat khawatir dengan kondisi keduanya, Dok! jadi kami ingin memeriksakannya bersamaan," Sahut Kak Iman.
"Oh, gitu ya! ya udah, saya mulai periksa ya!" Tutur Dokter seraya menghampiri Tata terlebih dahulu.
Setelah memeriksa Tata, kini Dokter beralih memeriksa Andrina.
"Wah... sepertinya kalian harus di bawa ke bagian Obgyn, nih!" Seru Dokter setelah selesai memeriksa Tata dan Andrina.
"Bagian Obgyn? maksudnya Dokter kandungan ya, Dok!" Tanya Tiwi yang di jawab anggukan oleh sang Dokter.
"Tapi untuk apa Dok? istri saya gak apa-apa, kan?" Tanya Kak Haikal khawatir.
"Tidak perlu cemas, Tuan! sepertinya kedua Nona yang sudah saya periksa barusan sama-sama sedang hamil, tapi untuk hasil lebih akuratnya lagi, saya sarankan kalian pergi ke bagian Obgyn!" Tutur Dokter menjelaskan.
"Hah! hamil, Dok?" Seru Kak Haikal dan Kak Iman kompak terkejut. Tak lupa keduanya pun saling pandang seakan belum paham dengan ucapan sang Dokter.
"Alhamdulillah, kayanya sebentar lagi aku bakal punya ponakan-ponakan baru nih!" Ucap Tiwi bahagia.
"Drin! kamu hamil?" Tanya Tata.
"Aku gak tau, Ta! terus kamu sendiri gimana?" Sahut Andrina balik bertanya.
"Hm... berarti kamu emang positif, Tetot!" Ucap Andrina.
"Semoga aja, Drin! aku sengaja gak nunda kehamilan, soalnya aku udah merencanakannya dengan Kak Iman dari sebulan yg lalu!" Tutur Tata.
"Ha... gitu ya! aku jadi was-was nih sekarang," Sahut Andrina yang kini di hampiri Kak Haikal.
"Yang, kita periksa ke Dokter Obgyn sekarang, ya! biar kita tau pasti kalau kamu benar-benar hamil atau engga!" Seru Kak Haikal.
"Drina terserah Kakak aja deh! tapi Drina gak kuat jalan, kepala Drina pusing banget!" Keluh Andrina.
"Ya Udah, Kakak gendong ya! atau kamu pakai kursi roda?" Sahut Kak Haikal.
"Pake kursi roda aja, deh! Drina takut jatuh kalau Kakak gendong!" Jawab Andrina.
Sedang Kak Iman sendiri sudah tersenyum lebar sambil mengusap kepala Tata dengan lembut.
"Yang, Abi makin sayang sama kamu," Ucap Kak Iman seraya mengecup kening Tata.
"Astagfirullah... kenapa kalian mengumbar so sweet di depan aku, sih! udah yuk, kita ke Dokter Obgyn sekarang, mumpung masih sore juga!" Seru Tiwi yang membuat kedua pasang pasutri itu terkekeh melihat tingkah konyolnya.
"Ini rujukan dari saya! jadi kalian bisa langsung masuk ke ruangan Dokternya," Tutur Dokter sambil memberikan secarik surat rujukan pada Tiwi.
__ADS_1
"Makasih banyak Dok, kalau gitu kami pamit ya, permisi!" Ucap Tiwi setelah Andrina dan Tata di bawa oleh masing-masing suaminya.
Tiwi segera merogoh tasnya untuk mencari keberadaan hp miliknya. Dia segera menghubungi Kak Gery dan memberi kabar gembira itu padanya.
"Assalamu'alaikum! Kakak lagi sibuk gak?" Ucap Tiwi yang langsung bertanya kesibukan Kak Gery setelah sambungan teleponnya terhubung.
"Wa'alaikumsalam, Yang! kedengarannya kamu lagi bahagia banget! ada apa, hm?" Sahut Kak Gery.
"Tiwi emang lagi bahagia banget, Kak! Tiwi punya kabar yang bener-bener menggembirakan sekarang!" Tiwi terdengar begitu antusias.
"Wah... benarkah? apa kabar gembiranya, Yang?" Sahut Kak Gery penasaran.
"Tapi sebelum Tiwi kasih tau, Kakak kasih tau Tiwi duluan! kapan Kakak pulang dari XXXXX nya?" Tanya Tiwi.
"Ya ampun, akhirnya tunangan Kakak ini kangen juga sama Kakak! jadi pengen cepat-cepat pulang deh, kalau gini!" Tutur Kak Gery malah menggoda.
"Ihh... Kakak ko malah ke GR an, sih! udah cepetan kasih tau dulu, kapan Kakak pulang?" Rengek Tiwi yang terdengar semakin menggemaskan di telinga Kak Gery.
"Iya-iya deh, Kakak pulang lusa sayang, Kakak harus menyelesaikan dulu masalah disini dengan beberapa klien lagi, nanti kalau udah selesai Kakak langsung pulang ke rumah kamu dulu deh!" Sahut Kak Gery.
"Gak usah, Kak! Kakak pasti capek nanti, sebaiknya nanti Kakak pulang dulu aja ke rumah, istirahat!" Tutur Tiwi.
"Ok deh tuan putriku! kamu mau Kakak bawakan oleh-oleh apa?" Tanya Kak Gery melupakan kabar gembira yang ingin Tiwi sampaikan padanya.
"Emm... Tiwi pengen...eh, itu kan Kak Tami! dia kenapa berdarah seperti itu?" Ucap Tiwi yang malah mengabaikan telepon Kak Gery.
"Halo, Yang! ada apa? kamu baik-baik aja, kan?" Cecar Kak Gery di balik telepon yang masih terhubung.
"Ta, aku gak salah lihat, kan! itu beneran Kak Tami bukan, sih?" Tanya Tiwi memastikan.
"Iya, Wi! kayanya itu emang Kak Tami, sepertinya dia mengalami kecelakaan, deh!" Jawab Tata setelah dia selesai di periksa dan duduk di kursi tunggu menunggu Andrina yang masih di dalam ruangan pemeriksaan.
"Aku liat dulu ke sana ya, Ta! kalian kalau mau pulang duluan aja!" Ucap Tiwi seraya beranjak.
"Hati-hati, Wi!" Seru Tata.
.
.
.
.
.
See you next episode 😘😘😘
__ADS_1