CHOICE LOVER

CHOICE LOVER
Eps 113.


__ADS_3

Setibanya di kamar Hotel yang mereka tuju, Kak Gery langsung di suguhi pemandangan yang mengejutkan. Pasalnya, saat Kak Gery dan Sindy baru saja masuk, Tiwi sedang beradegan bak Romeo dan Juliet dengan seorang laki-laki.


"Assalamu'alaikum," Ucap Sindy langsung bergegas masuk ke kamar Hotel.


"Astaghfirullah! Wi! apa yang kalian lakukan?" Tegur Kak Gery setelah mendapati Tiwi yang berada di pelukan Kakaknya Sindy. Tiwi tak kalah terkejut, karena tak menyangka jika Kak Gery bisa sampai menemukannya di sana.


"Ka... Kak Gery, kenapa Kakak bisa ada di sini?" Tutur Tiwi tergagap.


"Kenapa? apa Kakak ganggu kalian mesra-mesraan, ya?" Sahut Kak Gery seraya tersenyum kecut.


"Maaf bung, ini gak seperti yang kamu liat, barusan..." Tutur Kakak Sindy tercekat.


"Barusan apa? udahlah, Kakak benar-benar kecewa sama kamu, Wi!" Sangkal Kak Gery seraya berkacak pinggang setelah mengusap wajahnya secara kasar.


"Kalau Kakak kecewa melihat kesalahpahaman ini, lalu bagaimana dengan pelukan dan ciuman Kak Tami kemarin? apa Tiwi juga gak berhak kecewa!" Ucap Tiwi dengan suaranya yang sudah bergetar hebat sambil menghampiri dan menunjuk dada kekar Kak Gery dengan telunjuknya.


"Jadi kamu berniat balas dendam! gitu?" Sahut Kak Gery seraya menatap intens kedua bola mata sang tunangan.


"Maaf bung, kalau boleh saya jelaskan, sebaiknya kalian..." Sanggah Kakak Sindy ingin meluruskan.


"Aku gak butuh penjelasan dari siapa pun! ternyata begini ya sifat asli kamu!" Ucap Kak Gery yang semakin membuat hati Tiwi sakit.


Mungkin jika bisa Tiwi ingin berteriak sekencang mungkin. Dia benar-benar sudah terlalu lelah menghadapi sikap tunangannya. Namun Tiwi sadar, hal itu tidak akan membuat permasalahan mereka selesai. Hingga akhirnya Tiwi memilih meraih tas miliknya dan bergegas keluar dari kamar Hotel tersebut. Meninggalkan semua orang yang menyaksikan drama percekcokan nya dengan sang idola kampus.


"Hei! kamu mau pergi kemana? Tiwi! tunggu!" Seru Kak Gery hendak mengejar, namun segera di cekal oleh Kakaknya Sindy yang semakin geram melihat tingkah Kak Gery.


"Cukup! sepertinya Tiwi memang harus pergi dari pria yang gak bisa hargai perasaannya. Asal elo tau, ya! tadi itu dia hampir aja jatuh setelah keluar dari toilet, jadi gue langsung sigap tangkap tubuh dia biar gak mencium lantai! lagi pula kita di kamar ini gak cuma berdua! masih ada tiga teman Sindy yang lagi ngerjain tugas di dalam! jadi sebaiknya elo jangan nuduh kita yang engga-engga!" Tutur Kakak Sindy panjang lebar.


"Ja...jadi... kalian bukannya lagi..." Sahut Kak Gery terbata.


"Gue sama Tiwi gak punya hubungan apa-apa, bahkan gue baru ketemu sama dia hari ini, sebab gue juga baru balik ke Kota ini, hari ini! sebaiknya sekarang elo kejar si Tiwi dan minta maaf! dia pasti kecewa dan sedih banget sekarang!" Seru Kakak Sindy. Sedangkan Sindy dan ketiga temannya yang lain hanya bisa menjadi penonton yang mengunci mulut mereka rapat-rapat.


"Ya Allah! kalau gitu aku kejar Tiwi dulu bang, makasih ya buat penjelasannya, sorry udah bikin keributan di sini!" Ucap Kak Gery seraya bergegas mengejar Tiwi.


Sayangnya, Tiwi sudah berlari begitu jauh dan tak meninggalkan jejak. Akhirnya Kak Gery memutuskan mencari Tiwi ke rumahnya.

__ADS_1


Sementara itu, Tiwi yang sedari tadi di cari. Saat ini terlihat menangis tersedu-sedu di sebuah taman kecil, samping Hotel. Tangisnya kian pecah saat mengingat kembali pelukan dan ciuman yang Kak Tami lakukan pada Kak Gery tempo hari.


"Kenapa? kenapa? rasa sesak ini selalu menusuk hati Tiwi, Ya Allah! kuatkan Tiwi... Kuatkan Tiwi agar bisa melalui ini semua dengan mudah," Batin Tiwi.


"Sayang... kamu pergi kemana? Kakak bener-bener gak bermaksud gak percaya sama kamu! Kakak terlalu cemburu dengan keberadaan laki-laki tadi! Ya Allah... aku harus cari Tiwi kemana lagi sekarang," Gumam Kak Gery.


"Apa dia langsung pulang ke rumah, ya? aku coba susul ke sana, deh!" Monolog Kak Gery seraya hendak masuk ke dalam mobilnya.


Tanpa sengaja pandangan Kak Gery melihat sosok yang dia cari-cari di sebuah taman. Kak Gery segera mengurungkan niatnya untuk memasuki mobil dan berbalik untuk menghampiri sosok yang di rindukan.


Namun baru saja kakinya hendak melangkah, Tami datang mencekal pergelangan tangannya. Ternyata, s hak Kak Gery berpamitan pulang tadi dari rumahnya, Tami membuntuti Kak Gery hingga ke Hotel.


"Ger! jangan pergi! apa kamu buta ya! jelas-jelas wanita rubah itu udah berkhianat di belakang kamu! aku perduli sama kamu, Ger! ayolah, sebaiknya


kamu ikut pulang sama aku sekarang!" Bujuk Tami dengan ocehannya yang memprovokasi.


Kak Gery terdiam sesaat, meski hatinya merasa sedih melihat adegan tadi. Tapi rasa cinta dan sayangnya pada Tiwi lebih besar, sehingga dia tidak mudah terhasut begitu saja oleh Tami. Hingga akhirnya Kak Gery melihat Tiwi mulai beranjak dari duduknya yang semula membelakanginya. Tiwi mulai melangkahkan kakinya dengan tatapan mata yang terlihat kosong, Tiwi terus berjalan ke arah jalan raya tanpa menghiraukan apa pun di hadapannya.


"Tam! lepas! aku gak peduli apa pun yang kamu omongin! yang jelas, aku harus menyusulnya sekarang!" Ucap Kak Gery seraya menepis tangan


"Tapi, Ger!" Cegah Tami yang di tinggal begitu saja oleh Kak Gery.


Tami semakin geram dan kesal. Tanpa menunggu lagi, dia memasuki mobilnya sendiri dan melajukan nya dengan kecepatan tinggi. Hingga akhirnya...


Bruakkk.....


"Tiwi!!!" Jerit Kak Gery histeris.


Tanpa di duga, Tami menabrak Tiwi hingga gadis itu terpental jauh dan membentur trotoar. Kak Gery yang melihatnya begitu syok dan langsung bergegas menghampiri. Namun disaat bersamaan, bayang-bayang kecelakaannya dulu bersama Tiwi sebelum kehilangan ingatan seakan kembali berputar di kepalanya. Perlahan-lahan ingatan Kak Gery berangsur kembali dan membuatnya ingat dengan peristiwa yang sudah menimpanya dan sang tunangan yang kini tergeletak bersimbah darah.


"Arrgh! kenapa kepala ku mendadak sakit, apa yang sebenarnya terjadi? kenapa kecelakaan ini seperti


pernah aku alami juga? apa ini ingatanku yang sebenarnya?" Batin Kak Gery seraya memegangi kepalanya yang terasa sakit.


"Kak Gery! Astagfirullah, Tiwi!" Seru Sindy setelah memutuskan memeriksa temannya yang tiba-tiba pergi tadi.

__ADS_1


"Kak! apa yang terjadi? Tiwi... aku akan telepon ambulan sekarang!" Tutur Sindy gerak cepat.


Dengan sigap Sindy segera menghubungi ambulan untuk membawa Tiwi agar segera mendapat pertolongan. Tak jauh dari sana, mobil Tami terlihat melaju kembali dengan kecepatan yang lebih tinggi di bandingkan sebelumnya.


Flash back start.


"Dasar cewek sialan! gue bakal habisi elo sekarang juga!" Ucap Tami seraya menginjak pedal gas dengan emosi yang memuncak.


Bruakkkkk....


"Hahaha... rasain, Lo cewek jala*ng! kalau si Gery gak bisa gue miliki, itu berarti gak boleh ada satu perempuan pun yang bisa memilikinya juga!" Ucap Tami dengan seringai penuh kebencian di bibirnya.


"Tiwi!!" Jerit Kak Gery.


"Polisi! gawat! gue harus cepat pergi dari sini," Ucap Tami mulai panik, ketika melihat mobil Polisi yang terparkir tak jauh dari lokasinya menabrak Tiwi.


Dengan cekatan Tami kembali melajukan mobilnya untuk melarikan diri. Sadar dengan pengguna jalan yang menyalahi aturan serta membuat kriminal lalu lintas, mobil Polisi yang semula terparkir tadi pun ikut melaju mengejar kendaraan Tami yang melaju di atas batas maksimal berkendara.


"Sial! kenapa gue gak liat mobil Polisi itu tadi, sih! bikin ribet aja!" Gerutu Tami yang terus melajukan kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata.


Flash back done.


"Sayang! bertahanlah! Kakak udah ingat semuanya, jadi kamu jangan tinggalkan Kakak, ok! Kakak mohon bertahanlah!" Ucap Kak Gery yang ikut masuk ke dalam ambulan untuk mendampingi Tiwi seraya terisak.


.


.


.


.


.


See you next episode 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2