CHOICE LOVER

CHOICE LOVER
Eps 131.


__ADS_3

Kak Gery benar-benar serba salah saat itu, dia benar benar sulit untuk mengambil keputusan yang keduanya benar-benar penting saat ini.


"Yang, Aby harus pergi! kamu baik-baik di rumah ya, Aby janji setelah urusannya selesai, Aby akan segera pulang," Seru Kak Gery dari balik pintu kamar istrinya.


"Masa bodo! Tiwi gak perduli, pergi aja sana!" Teriak Tiwi penuh emosi.


Hening, tak ada sahutan lagi dari suaminya. Tiwi mencoba menempelkan daun telinganya ke arah pintu, dia ingin memastikan jika suaminya itu sudah pergi atau belum. Setelah di rasa benar-benar sepi, Tiwi segera membuka pintu kamarnya dan menghampiri sang ibu yang tengah memasak di dapur.


"Bu, Ibu masak apa hari ini? Tiwi bantu ya!" Seru Tiwi.


"Yakin mau bantu? nanti malah muntah-muntah lagi," Sahut Ibu Tiwi sambil menyiapkan panci untuk merebus sayuran.


"In Sya Allah gak akan Bu, sekarang kan usia kandungan Tiwi udah lewat dari trisemester pertama. Tiwi juga udah jarang mual, ko!" Tutur Tiwi sambil meraih sebilah pisau yang akan dia gunakan untuk memotong kentang yang akan di rebus bersama sayuran lainnya.


"Hm... ya udah, tapi jangan terlalu lelah ya, nak! tadi nak Gery bilang kamu pengen makan asinan, ya? gimana kalau Ibu buatkan? kayanya nak Gery akhir-akhir ini sibuk banget, ya! kasihan nya menantu Ibu, dia sampai banting tulang seperti itu demi mempersiapkan yang terbaik untuk istri dan calon anaknya!" Sahut Ibu.


"Udahlah Bu, gak usah bahas Kak Gery lagi, ya!" Ucap Tiwi seraya memotong kentang yang sudah dia kupas.


"Wi, kalian lagi marahan, ya? jangan sampai, emosi kamu berpengaruh sama cucu Ibu nak, dia juga bisa merasakan kemarahan kamu saat ini, kamu harus bisa mengolah emosi kamu sebaik mungkin, jangan sampai mempengaruhi perkembangan anak kamu," Tutur Ibu Tiwi memberi wejangan sambil menghampiri Tiwi dan mengelus perut hamil anaknya yang sudah terlihat sedikit membesar.


"Tiwi udah berusaha, Bu! tapi... udahlah, Tiwi lagi gak mau membahasnya sekarang, Tiwi mau lanjut potong kentangnya saj... aww!" Pekik Tiwi saat pisau yang dia gunakan untuk memotong kentang tak sengaja mengurus jemarinya.


"Astaghfirullah, hati-hati, Wi! jari kamu berdarah, ayo Ibu obati!" Seru Ibu Tiwi panik.


"Gak apa-apa, Bu! Tiwi sendiri aja, ini hanya luka kecil, ko!" Sahut Tiwi melenggang ke arah wastafel dan mencuci jarinya yang terluka.


"Hm... kalau gitu, kamu istirahat di kamar lagi aja gih, biar Ibu aja yang memasak," Seru Ibu Tiwi.


"Maaf ya, Bu! Tiwi malah gak jadi bantuin masaknya," Ucap Tiwi.


"Gak apa-apa, udah gih masuk ke kamar! jangan lupa obati dulu lukanya, ya!" Ucap Ibu Tiwi sebelum putri bungsunya itu melenggang pergi.


Setibanya di kantor, Kak Gery sedikit terkejut dengan penampilan Nyonya Viola yang tak lain investor yang sedang menunggunya. Dia sedikit risih saat mereka harus berdua saja di dalam ruangannya saat hari sudah semakin sore.

__ADS_1


"Maaf Nyonya, apa anda yakin ingin berinvestasi di perusahaan saya?" Tanya Kak Gery to the poin.


"Saya sudah mencari tahu tentang perusahaan ini dari jauh-jauh hari, maka saya sudah sangat yakin dengan keputusan saya ini. Apa Tuan Gery keberatan, jika saya berinvestasi di sini?" Sahut Viola balik bertanya dengan nada bicaranya yang terdengar sensual.


"Sa... saya sangat senang anda bisa berinvestasi di perusahaan ini, tapi apa anda tidak ingin bertanya hal-hal lain terlebih dahulu untuk semakin membuat anda yakin berinvestasi di sini," Tutur Kak Gery.


"Saya sudah tahu semuanya Tuan, apa lagi saya semakin yakin karena Tuan yang memimpin di sini, apa Tuan sudah tidak mengenal saya sekarang?" Sahut Viola beranjak dari duduknya dan menghampiri Kak Gery di kursi kebesarannya.


"Tunggu, anda mau apa anda mendekat? saya sudah beristri dan dia sedang hamil sekarang, anda tidak sepantasnya seperti ini, Nyonya!" Sanggah Kak Gery sambil bersiap untuk beranjak dari kursinya untuk menghindar.


Namun, hal itu kalah cepat dengan gerakan Viola yang langsung mendaratkan bokongnya tepat di pangkuan Kak Gery dan mengunci tubuhnya dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Kak Gery.


"Tuan, sebelum perjanjian investasinya berjalan, aku ingin memberimu hadiah terlebih dahulu sebagai perkenalan kita kembali!" Bisik Viola tepat di samping telinga Kak Gery yang membuat sang empunya telinga bergidik ngeri dengan kelakuan wanita aneh itu.


"Nyonya, tolong! jaga sopan santun anda! jika anda tidak turun dari pangkuan saya, maka saya tidak mau bekerja sama dengan anda!" Ucap Kak Gery tegas.


"Hem... jadi, kau mengancam ku, ya? apa kau benar-benar tak ingat padaku?" Tutur Viola seraya membuka satu persatu kancing kemeja ketat yang dia kenakan.


"Stop! Tolong jangan membuat saya berlaku kasar pada anda!" Cegah Kak Gery sambil mencengkram tangan Viola untuk menghentikannya membuka kancing bajunya sendiri.


Drett... Drett... Drett


Sebuah notifikasi Chat masuk terdengar dari hp Tiwi. Di raihnya benda pipih nya tu dari atas nakas. Setelah memeriksa chat yang di kirim padanya, Tiwi begitu terkejut bukan main.


"Astaghfirullah! apa ini? apa yang sebenarnya terjadi?" Gumam Tiwi setelah melihat isi chat yang dia terima dari nomer yang tak ia kenal.


"Siapa yang mengirim foto ini, apa motifnya? engga-engga, Kak Gery gak mungkin selingkuh! apa lagi dengan wanita seksi seperti ini!" Ucap Tiwi semakin frustasi sambil memegang punggungnya yang terasa menegang.


"By, kamu gak mungkin setega ini, kan! ah..." Ucap Tiwi seraya memekik.


"Nyonya! anda sudah keterlaluan. Sekarang juga tolong tinggalkan kantor saya dan lupakan urusan investasinya! saya benar-benar tidak sudi bekerja sama dengan anda!" Tegas Kak Gery membangunkan dirinya secara kasar dan berhasil membuat Viola terjatuh di atas lantai.


"Ger! aku masih mencintaimu. Persetan dengan istri dan calon anakmu itu, aku bisa memberikan yang lebih untuk kamu, Ger!" Ucap Viola seraya kembali bangkit dan menghampiri Kak Gery.

__ADS_1


Kali ini, Kak Gery tak ingin kalah cepat dan segera menepis tangan Viola yang hendak mengelus wajah tampannya.


"Silahkan angkat kaki dari ruangan saya sekarang juga! kalau tidak, biar saya sendiri yang pergi, saya tidak sudi bekerja sama dengan wanita murahan seperti anda!" Tutur Kak Gery seraya memposisikan diri untuk bergegas pergi dari ruangan kerjanya.


"Ger, aku mohon jangan pergi. Aku hanya butuh bantuan kamu sekarang, aku harus meyakinkan Papa ku supaya tidak menjodohkan aku dengan anak rekan bisnisnya!" Sahut Viola seraya bersimpuh di Kaki Kak Gery yang hendak melangkah.


"Itu bukan urusan saya! sebaiknya kamu cari pria lain saja, saya harus pulang menemui istri saya yang seharusnya saya temani sedari tadi!" Ucap Kak Gery bergegas pergi tanpa menoleh lagi.


"Sialan! awas aja kamu, Ger! aku pasti akan menghancurkan kamu seperti kamu menghancurkan adikku, Tami!" Gumam Viola seraya menyeringai licik.


Setelah berhasil meloloskan diri dari jerat Viola. Kak Gery segera kembali ke rumah mertuanya dengan tergesa. Dia benar-benar merasa bersalah karena sudah meninggalkan istrinya tadi.


Namun, setelah sampai di depan rumah. Kak Gery kembali di kejutkan dengan Kak Desi yang terlihat tergesa-gesa mengunci pintu rumah mertuanya itu.


"Kak, ada apa? kenapa rumahnya di kunci? kalian mau pada kemana?" Cecar Kak Gery setelah berhasil tiba di depan rumah mertuanya.


"Tiwi tadi menjerit kesakitan sambil memegang perutnya, Ger! barusan Ayah sama Ibu langsung membawanya ke Rumah Sakit, semoga aja dia dan bayinya gak kenapa-napa. Kamu kenapa dari tadi gak bisa di hubungi, sih?" Tutur Kak Desi terlihat kecewa pada adik iparnya itu.


"Maaf Kak, hp Gery mati habis daya. Kalau gitu, ayo kita susul Tiwi ke Rumah Sakit sama-sama!" Seru Kak Gery cemas.


Di perjalanan, Kak Gery tak hentinya memanjatkan doa seraya berharap, jika kondisi istri dan anaknya baik-baik saja. Dirinya semakin merasa bersalah karena sudah mengabaikan kedua nyawa yang begitu berarti di hidupnya itu. Hingga beberapa menit kemudian, mobil Kak Gery berhasil sampai di halaman parkir Rumah Sakit yang dia tuju.


"Kakak telepon Ibu dulu, deh! Kakak mau tanya dulu ruangannya," Tutur Kak Desi seraya mencari kontak sang Ibu.


"Iya, Kak!" Sahut Kak Gery.


.


.


.


.

__ADS_1


.


See you next episode 😘😘😘


__ADS_2