CHOICE LOVER

CHOICE LOVER
Eps 145.


__ADS_3

Hari ini Tiwi berencana berjalan-jalan berolahraga mengitari taman perumahannya bersama Bi Ina. Di sela istirahat setelah berkeliling, Tiwi tak sengaja melihat sosok yang begitu tak ingin dia ingat, namun nyatanya sosok tersebut malah terlihat menghampiri mereka yang sedang terduduk di bangku taman perumahan.


"Ini minumnya, Bu! apa sebaiknya kita pulang sekarang aja? sepertinya Ibu udah cukup lama berjalan-jalan, Bibi takut Ibu terlalu lelah," Tutur Bi Ina yang nampak mencemaskan majikannya setelah memberikan sebotol air mineral yang dia bawa dari rumah majikannya.


"Bentar lagi ya, Bi! Tiwi masih pengen istirahat bentar di sini!" Sahut Tiwi sebelum meneguk minumannya.


"Baiklah Bu, tapi habis ini kita langsung pulang, ya! biar nanti Bibi telepon pak Slamet buat jemput," Tutur Bi Ina yang di jawab dengan anggukan oleh Tiwi.


"Eh, itukan... kenapa dia bisa ada di sini lagi? kayanya dia juga nyamperin ke sini, deh! dia mau apa, ya? aku harus hati-hati, nih!" Batin Tiwi bermonolog.


"Permisi, apa boleh saya ikut duduk di sini?" Sapa Viola yang tak lain wanita yang Tiwi maksud.


"Maaf Nona, majikan saya butuh cukup ruang yang luas untuk beristirahat, sebaiknya Nona cari tempat lain aja!" Sahut Bi Ina membantu Tiwi mengusir wanita itu secara tidak langsung.


Entah mengapa, Bi Ina seolah tau jika Tiwi tidak suka dengan keberadaan wanita asing itu. Dirinya segera memasang badan untuk melindungi majikannya dengan berdiri tegap di hadapan wanita asing yang terlihat seksi nan modis itu.


"Heh! dasar belagu! baru jadi babu aja udah banyak tingkah! di bayar berapa kamu sama perempuan jelek ini? aku bisa bayar gaji mu itu 10 kali lipat dari yang perempuan itu berikan!" Sarkas Viola sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Nona, tolong jaga ucapan anda! Saya lebih baik mengabdi sama majikan saya dari pada harus menerima gaji 10 kali lipat yang anda tawarkan!" Ucap Bi Ina sambil mengangkat wajahnya dengan percaya diri dan berkacak pinggang.


"Bi... sudahlah! malu banyak orang, sebaiknya kita pulang aja sekarang!" Cegah Tiwi serata beranjak dari duduknya.


"Baik, Bu! sebentar, saya telepon dulu Pak Slamet, ya!" Tutur Bi Ina seraya menghubungkan sambungan telponnya pada sang supir majikan.


"Heh! kamu Tiwi, kan! Aku Viola, Kakaknya Tami. Kamu kenal adikku, kan?" Viola menggunakan kesempatan saat Bi Ina menghubungi Pak Slamet, dia langsung menghampiri Tiwi dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Tiwi.


"Kak Tami? bukannya dia anak tunggal ya?" Gumam Tiwi berusaha mengingat tentang Tami. Yang Tiwi tau, Tami memang anak tunggal dan tidak memiliki banyak saudara.


"Kami memang Kakak beradik, tapi kami beda, Ayah! apa kamu juga tau kalau sekarang Tami udah sembuh dari penyakit gangguan kejiwaannya?" Tutur Viola yang membuat Tiwi semakin bingung.


Tiwi masih mencerna setiap kata yang di ucapkan oleh Viola. Entah apa yang ingin wanita itu sampaikan kepadanya. Namun Tiwi berusaha menghadapinya setenang mungkin sambil terus mendengarkan penuturan wanita seksi di depannya itu.

__ADS_1


"Alhamdulillah, kalau Kak Tami udah sembuh, Tiwi ikut senang mendengarnya!" Jawab Tiwi.


"Bu, Pak Slamet udah ada di depan gerbang taman!" Seru Bi Ina mengalihkan perhatian Tiwi dan Viola yang sudah berdiri berdekatan.


"Ok, aku tidak akan bertele-tele lagi! sebenarnya aku hanya ingin menyampaikan sesuatu dari Tami, dia ingin meminta maaf secara langsung padamu di kafe XXXX sore nanti, aku akan katakan padanya jika kamu menyetujui pertemuan itu, bye!" Ucap Viola yang langsung melenggang setelah selesai berucap pada Tiwi.


"Bu! sebaiknya jangan di dengarkan. Bibi, ko jadi curiga ya sama wanita barusan, sepertinya wanita itu bukan wanita baik-baik, Ibu jangan pergi ya!" Seru Bi Ina cemas.


"Jangan berburuk sangka dulu, Bi! siapa tau apa yang dia ucapkan memang benar, mungkin Tiwi akan menemuinya sebentar nanti sore," Sahut Tiwi mencoba terus berpikir positif.


"Tapi, Bu! Bapak juga udah pesan sama Bibi, kalau Ibu gak boleh pergi kemana-mana selama Bapak pergi! kecuali kalau Ibu membutuhkan sesuatu yang mendesak," Tutur Bi Ina khawatir sambil membantu majikannya menaiki mobil yang sudah terparkir menjemput mereka.


"Hati-hati, Bu! rasanya saya jadi ikut tidak sabar menanti kelahiran putra Ibu dan Pak Gery, semoga saatnya nanti melahirkan Ibu dan bayinya selamat dan sehat, serta prosesnya di mudahkan dan di lancarkan," Ucap Pak Slamet yang ikut membantu Tiwi menaiki mobil.


"Aamiin, makasih ya, Pak!" Jawab Tiwi setelah berhasil duduk di dalam mobil.


Siang harinya, Tiwi menyibukkan diri membuat beberapa cemilan. Salah satunya, puding yang selalu dia ingat dan menjadi kenangannya bersama sang suami, puding tiramisu.


"Gak apa-apa, Bu! Tiwi lagi kepengen banget buat pudingnya soalnya, rasanya udah lama banget Tiwi gak buat puding ini, Aby pasti seneng kalau tau Tiwi buatkan puding ini," Sahut Tiwi yang bersikukuh mengaduk pudingnya sendiri.


"Pak Gery pasti sangat bangga punya istri yang sangat perhatian dan pintar memasak seperti Ibu, Bibi juga beruntung bisa punya majika sebaik Pak Gery sama Ibu!" Tulus Bi Ina.


25 menit kemudian, Tiwi telah selesai membersihkan diri setelah menyelesaikan puding buatannya. Di liriknya jam dinding yang menggantung di atas layar LED besar ruang keluarganya. Waktu baru saja menunjukkan pukul 14.45, Tiwi meraih hpnya yang tergeletak di atas meja ruang keluarga. Dia berniat menghubungi suaminya yang sampai saat ini belum juga memberi kabar padanya.


Padahal, Kak Gery sudah berjanji padanya akan memberinya kabar jika sudah tiba di tempat tujuannya. Namun, kenyataannya sampai saat ini Kak Gery belum juga mengabarinya sekali pun. Membuat Tiwi semakin cemas dan khawatir pada keadaan suaminya itu.


"Apa Aby memang belum sampai, ya? tapi ini udah hampir jam 3 sore, apa dia langsung ke lapangan ya?" Gumam Tiwi bermonolog sambil menatap layar hpnya saat ia sudah mendaratkan bokongnya di sofa ruang keluarga.


"Bu, apa Ibu mau Bibi buatkan minuman hangat?" Seru Bi Ina setelah menghampiri.


"Boleh deh, Bi!" Jawab Tiwi.

__ADS_1


Dengan cekatan, Bi Ina segera melenggang ke dapur dan membuatkan majikannya teh hangat. Sementara itu, Tiwi yang baru saja hendak ingin mengirim chat kepada suaminya mendadak menerima telepon dari nomer yang tak ia kenal.


"Nomer siapa, ya? jangan-jangan penipuan lagi, tapi..." Gumam Tiwi seraya berpikir berbagai hal negatif sambil menatap layar hpnya yang masih memunculkan nomer yang tak ia kenali.


"Assalamu'alaikum," Ucap Tiwi yang akhirnya memilih menjawab panggilan telepon itu.


"Wa'alaikumsalam, a...apa benar ini kamu, Wi?" Tutur sang penelepon bertanya dengan sedikit terbata.


"Maaf, ini siapa, ya?" Sahut Tiwi menautkan kedua alisnya saat mendengar sang penelepon menyebut namanya bak seperti yang sudah akrab dengannya.


"A...aku Tami, Wi! kamu masih ingat aku, kan!" Tutur Tami yang ternyata sang penelepon yang menghubungi Tiwi. Sesaat Tiwi membisu, sebelum akhirnya Tami berucap kembali.


"Apa kamu bisa menemui ku di Resto XXXXX pukul 4, nanti? aku benar-benar ingin meminta maaf sama kamu, Wi!" Lirih Tami yang terdengar sedikit terisak di sebrang telepon.


"Emm... gimana, ya? sebenarnya Tiwi bisa aja kak, tapi... Tiwi belum dapat ijin dari Kak Gery, jadi..." Tutur Tiwi menggantung.


"Bentar aja, Wi! sebenarnya, aku udah beberapa kali mencoba ke rumah kalian, tapi ternyata di sana di jaga ketat. Apa lagi, Gery tidak membiarkan sembarang orang masuk, padahal aku cuma mau minta maaf secara langsung sama kamu aja!" Ucap Tami.


"Tiwi udah memaafkan Kakak, ko! lagi pula itu udah lama terjadi, Tiwi benar-benar udah melupakannya, Kak!" Sahut Tiwi tulus.


.


.


.


.


.


See you next episode 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2