
Beberapa menit kemudian. Berbagai makanan dan minuman tersaji melimpah di hadapan Tiwi. Kak Haikal sengaja menyiapkan semua itu karena belum tahu makanan yang di sukai Tiwi.
"Kak! apa semua ini hanya untuk kita ya?" Tanya Tiwi.
"Bukan kita! tapi elo aja, Wi. Gue gak tau elo sukanya makanan apa, jadi gue pesankan semua makanan yang ada." Sahut Kak Haikal.
"Ya ampun... kenapa Kak Haikal tidak bertanya aja pada Tiwi, sih! kalau begini kan bisa jadi mubazir, Tiwi gak mungkin bisa makan semuanya sendirian," Tutur Tiwi.
"Udah! gak perlu mikirin makanan sisanya, yang penting sekarang pilih salah satu yang kamu suka dan cepat makan, sebentar lagi gue ada meeting dadakan. Jadi sebaiknya elo jangan buang-buang waktu lagi!" Sahut Kak Haikal.
"Meeting dadakan? itu berarti, aku bisa cepat pulang kan kalau aku udah habiskan makanannya?" Batin Tiwi, seraya memilih salah satu makanan yang akan dia makan.
Mata Tiwi tertuju pada sebuah piring yang berisi cake kesukaannya dan Kak Gery. Tiwi sempat mematung sejenak dan mengenang kenangan pertama memakan kue itu bersama Kak Gery. Tak terasa air matanya terjatuh begitu saja. Hingga akhirnya ada seorang wanita paruh baya menghampirinya.
"Cake ini... Ya Allah, aku benar-benar merindukan Kak Gery! dia lagi apa ya sekarang?" Batin Tiwi seraya berlinang air mata.
"Hei, girl! are you ok?" Tanya Kak Haikal.
Bukannya menjawab, tangis Tiwi malah semakin pecah dan tak tak dapat di hentikan. Hingga akhirnya ada seorang wanita paruh baya menghampirinya dan langsung memeluknya.
"Hei! ayolah! elo jangan menangis lagi, ok!" Bujuk Kak Haikal.
"Sayang!" Seru Umi Kak Gery yang langsung menarik Tiwi kedalam pelukannya. Kebetulan beliau sedang ada keperluan di kafe tersebut.
"Tante?" Ucap Kak Haikal terkejut.
"Suttt!! menangis lah sayang, Umi tau kamu perlu meluapkan perasaan kamu!" Tutur Umi Kak Gery sambil mengusap lembut punggung Tiwi.
"Umi! Tiwi tidak yakin bisa melewati hari-hari Tiwi seperti sebelumnya lagi, Mi! Tiwi benar-benar merindukan Kak Gery yang dulu." Sahut Tiwi terisak dalam pelukan Umi Kak Gery.
"Umi mengerti sayang, tapi kamu tetap harus kuat dan yakin, nanti biar Umi atur waktu supaya kamu bisa bertemu dengan Gery ya sayang," Tutur Umi Kak Gery.
"Tapi Umi, Tiwi takut kalau Kak Gery akan mengusir Tiwi lagi?" Sahut Tiwi lirih sambil melepaskan pelukannya.
"Umi janji, kali ini dia tidak akan mengusir kamu lagi sayang, Umi sudah membuat rencana untuk kalian, tapi sebelumnya Umi harus meminta bantuan dulu sama Haikal. Kal! kamu mau kan membantu Tante?" Tutur Umi Kak Gery.
"Bantu apa Tan? Haikal sih oke-oke aja," Sahut Kak Haikal santai.
"Kak, bukannya tadi Kakak bilang Kakak ada meeting dadakan ya, sekarang?" Ucap Tiwi mengingatkan.
"Astaga... elo benar, Wi! Hampir aja gue lupa, Tante maaf ya, Haikal gak bisa menemani lama-lama, Haikal harus pergi sekarang dan elo Wi, gue udah utus supir buat mengantar elo pulang sampai rumah, jadi elo bisa makan dengan tenang sekarang, kalau gitu gue cabut duluan ya! Tante, Haikal pamit dulu ya!" Tutur Kak Haikal panjang lebar.
"Yah... ya udahlah, nanti biar Tante bicara sama kamu lain kali ya, Kal! tapi kamu janji ya mau membantu Tante!" Seru Umi Kak Gery sebelum Kak Haikal benar-benar meninggalkan kafenya.
"Ok, Tan! nanti Haikal hubungi lagi deh setelah meeting selesai," Sahut Kak Haikal.
__ADS_1
"Umi! sebenarnya apa yang Umi rencanakan? ko perasaan Tiwi jadi gak enak, ya?" Tanya Tiwi setelah Kak Haikal benar-benar pergi.
"Kamu tenang saja, sayang! pokoknya Umi yakin, kalau rencana Umi kali ini bakal berjalan mulus, dan semoga saja si Gery tidak terlalu cuek lagi sama kamu, Umi ikut sedih melihat kamu di acuhkan seperti waktu itu sama Gery. Meski dia anak kandung Umi satu-satunya, tapi Umi tetap tidak membenarkan sikapnya yang sangat cuek sama kamu sayang," Tutur
Umi Kak Gery.
"Sebelumnya terimakasih ya, Mi! tapi Umi tau dari siapa Tiwi ada disini?" Sahut Tiwi.
"Itu sih perkara gampang sayang, Umi kan punya banyak mata-mata untuk mengawasi kamu" Kekeh Umi Kak Gery.
"Jadi, Umi gak marah mengetahui Tiwi pergi dengan Kak Haikal?" Tanya Tiwi.
"Awalnya sih, iya sayang! tapi justru dari melihat keberaniannya si Haikal dekati kamu, Umi jadi punya ide, " Tutur Umi Kak Gery sambil memotong sedikit tiramisu cake dan mencicipinya.
"Umi, sebenarnya apa rencana Umi? Tiwi benar-benar jadi penasaran sekarang" Sahut Tiwi bertanya kembali.
"Baiklah... akan Umi beritahu sama kamu, sekarang! jadi begini, Umi akan meminta bantuan si Haikal untuk membuat si Gery cemburu sama kamu Umi, harap dengan begitu Gery bisa cepat mengingat kamu, sayang!" Tutur Umi Kak Gery panjang lebar.
"Tapi, Mi! gimana perasaannya Kak Haikal? Tiwi takut dia malah semakin berharap pada Tiwi nantinya!" Sahut Tiwi.
"Kamu tidak perlu khawatir dengan Haikal, sayang! Umi sudah menyiapkan calon yang cocok untuk dia dengan Mamih nya, pokoknya kamu tinggal turuti apa yang Umi perintahkan saja, ok!" Tutur Umi Kak Gery.
"Tiwi tidak yakin Umi," Ucap Tiwi sendu.
"Kamu harus yakin sayang, Umi sudah menganggap kamu seperti putri Umi sendiri, Umi tidak mau kehilangan kamu, Umi sudah sangat menyayangi dan sangat nyaman dengan kamu, kamu coba dulu saja ya!" Tutur Umi Kak Gery meyakinkan.
Setelah selesai menghabiskan makanannya, Tiwi akhirnya memilih pulang dengan Umi Kak Gery setelah dia di bujuk berkali-kali.
"Umi terimakasih ya sudah mau menerima Tiwi apa adanya, Tiwi begitu beruntung bisa mengenal Umi," Ucap Tiwi saat mereka dalam perjalanan pulang.
"Umi yang sangat beruntung sayang, karena kamu sudah hadir di keluarga kami, terimakasih ya sayang!" Sahut Umi Kak Gery sambil mengelus punggung tangan Tiwi.
"Tiwi tidak bisa berkata-kata apa lagi selain mengucapkan syukur dan terimakasih kepada Allah,
karena-NYA lah Tiwi bisa mengenal orang-orang baik seperti kalian." Tutur Tiwi penuh syukur.
Tiba di rumah, Tiwi langsung berganti pakaian dan segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Hari itu benar-benar membuatnya lelah hingga akhirnya dia pun terlelap ke alam mimpinya.
"Semoga saja rencana Umi untuk memancing perasaan Kak Gery tidak akan sia-sia. Tapi apa aku bisa melakukannya ya? hm... sudahlah, sebaiknya aku istirahat sekarang, hari ini benar-benar luar biasa
lelah, untung hari ini aku sedang datang bulan, jadi aku bisa sepuasnya beristirahat." Gumam Tiwi sambil membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Keesokan harinya, Kak Haikal sudah menunggu Tiwi di pinggir jalan depan Gang rumahnya. Kak Haikal sudah bersiap mengantarkan Tiwi ke Sekolah pagi itu.
Semalam setelah Kak Haikal selesai meeting, dirinya benar-benar menghubungi Umi Kak Gery untuk membahas perbincangannya yang sempat tertunda.
__ADS_1
"Kak Haikal? kenapa Kakak ada di sini?" Tanya Tiwi menghampiri.
"Ya jemput Lo, lah. Ayo masuk! gue bakal antar dan jemput Lo Sekolah mulai hari ini, dan gue pikir elo sudah tau kan permainannya," Tutur Kak Haikal sambil membukakan pintu mobil sportnya untuk Tiwi.
"Tapi, Kak! Tiwi rasa ini terlalu berlebihan, Tiwi bisa berangkat Sekolah sendiri ko," Sahut Tiwi.
"Udah! jangan buat gue mengulang ucapan gue lagi deh. Cepat masuk! atau gue gendong elo sampai ke kelas nanti!" Ancam Kak Haikal.
"Apa Kak Haikal mau membunuhku ya? bisa-bisa aku babak belur kalau ketauan fans fanatiknya nanti, duh... kenapa aku selalu ada di pilihan yang sulit sih!" Batin Tiwi.
"Ayo buruan! jangan kebanyakan mikir, atau elo memang mau gue gendong lagi ya?" Tutur Kak Haikal
menyeringai.
"E...eh... jangan-jangan Kak! Tiwi naik sekarang deh," Sahut Tiwi menyerah.
"Nah, gitu dong! gue kan jadi gak perlu buang-buang tenaga buat gendong elo." Ucap Kak Haikal sambil memastikan pintu mobilnya tertutup dengan aman.
Hari berganti Minggu, begitu pun dengan Minggu yang berganti Bulan. Akhirnya Kelulusan Tiwi pun di gelar setelah Tiwi dan teman-temannya di nyatakan lulus sebelumnya. Hari itu Tiwi tidak bisa di dampingi oleh keluarganya yang kebetulan sedang berada di luar Kota karena acara pernikahan kerabatnya.
Bersamaan dengan itu, ternyata Umi Kak Gery sudah merencanakan pertemuan putranya dengan Tiwi di acara perpisahan tersebut. Umi Kak Gery sengaja menyuruh keluarga Tata untuk berbohong tidak bisa menemaninya di acara perpisahan, dan meminta Kak Gery menggantikan mereka sebagai pengganti wali Tata.
"Ger! Om titip Tata sama kamu, ya!" Tutur Ayah Tata.
"Ta, Ayah berangkat sekarang ya! maaf ya, Ayah sama Ibu gak bisa temani kamu!" Ucap Ayah Tata.
"Iya, Yah! Tata ngerti, ko! lagu pula Kak Gery pasti mau kan temani Tata?" Sahut Tata menahan tawanya karena melihat akting Ayahnya yang meyakinkan.
"Om tenang aja, biar nanti Gery yang temani Tata!" Ucap Kak Gery.
"Terimakasih ya, Ger! kalau begitu kita pamit dulu ya, Assalamu'alaikum." Tutur Ayah Tata sambil bergegas keluar dari rumahnya.
"Ta, Ibu pergi dulu ya, kamu jaga diri baik-baik ya sayang." Ucap Ibu Tata ikut berakting.
"Wah, mereka benar-benar aktor dan aktris yang hebat. Aku baru tahu kalau kedua orangtuaku punya bakat terpendam." Batin Tata terkekeh.
.
.
.
.
.
__ADS_1
See you next episode 😘😘😘