CHOICE LOVER

CHOICE LOVER
Eps 19.


__ADS_3

"Eh... sorry banget ya Wi," Ucap Kak Gery seraya menjauhkan sedikit wajahnya


“I...iya Kak, gak apa-apa!" Sahut Tiwi salah tingkah.


Tiwi hanya bisa terdiam dan tersipu malu sambil menundukkan kepalanya, tak lama kemudian Suster Ani masuk untuk memeriksa perkembangan kondisi Tiwi.


“Permisi, waktunya pemeriksaan dan pemberian obat!" Seru Suster Ani melenggang masuk dengan sebuah meja beroda yang berisi alat pemeriksaan dan obat-obatan untuk Tiwi.


“Silahkan, Sus!” Sahut Kak Gery memberi ruang pada Suster Ani untuk melakukan tugasnya.


“Wah… tensinya bagus, coba saya cek dulu lidahnya! ada keluhan di sekitaran luka operasi gak?" Tanya Suster Ani.


“Tidak, Sus! kira-kira saya bisa pulang kapan ya?” Tutur Tiwi bertanya.


“Kalau pemeriksaan berikutnya tidak ada keluhan lagi, In Sya Allah hari ini juga sudah bisa pulang ko!" Sahut Suster Ani menjelaskan.


“Oh, begitu ya! makasih banyak ya, Sus!" Ucap Tiwi.


“Sama-sama! kalau begitu saya permisi ya, mari!" Seru Suster Ani seraya melenggang keluar ruangan dengan meja beroda yang semula dia bawa.


Tak lama setelah di periksa oleh Suster, suara Adzan Subuh pun berkumandang, Kak Gery meminta ijin kepada Tiwi untuk pergi ke Mesjid.


“Wi, kakak ke mesjid dulu ya! kamu gak apa-apa kan Kakak tinggal sebentar?” Tanya Kak Gery.


“Gak apa-apa, Kak! Kaka ke Mesjid aja!" Sahut Tiwi.


“Ya udah! Nanti kalau kamu butuh apa-apa langsung hubungi Kakak aja, ya!” Seru Kak Gery sebelum bergegas.


“Iya Kak... ya udah, sana gih ke Mesjid!" Ucap Tiwi.


Kak Gery akhirnya bergegas ke Mesjid untuk Sholat Subuh berjamaah. Kebetulan saat di Mesjid, Kak Gery bertemu dengan salah satu dosennya yang sedang menunggu istrinya melahirkan.


“Pak Agus! sedang apa di sini, Pak? apa sedang menunggu yang sakit ya?" Sapa Kak Gery setelah menghampiri dosennya.


“Eh, kamu Ger! Bapak di sini lagi nunggu istri lahiran, do’akan ya supaya lancar!" Sahut Pak Agus menjelaskan.


“Aamiin, semoga bayi dan Ibunya selamat dan sehat ya Pak!” Ucap Kak Gery tulus.


"Aamiin... makasih ya, Ger! kamu sendiri di sini sedang apa?” Tanya Pak Agus seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam Mesjid.


“Saya lagi menunggu saudara yang sedang sakit Pak! mari kita berjamaah sekarang, Pak!" Ajak Kak Gery setelah sampai di dalam Mesjid dan bersiap untuk berjamaah.


Setelah selesai Sholat berjamaah, Kak Gery langsung kembali ke ruangan Tiwi setelah berpamitan dengan dosennya.


“Kalau begitu saya duluan ya Pak, mari... Assalamu'alaikum," Tutur Kak Gery berpamitan seraya mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


“Wa'alaikumsalam, semoga lekas sembuh ya saudaranya!" Seru Pak Agus membalas salam.


Setibanya di depan ruangan Tiwi, tiba-tiba saja hp Kak Gery berdering menampilkan nama Kak Iman pada layar hpnya.


"Assalamu'alaikum, ada apa Man?" Sapa Kak Gery setelah menerima panggilan teleponnya.


"Wa'alaikumsalam, Ger! ana mau ajak ente briefing nih! ente bisa kan?" Tanya Kak Iman di sebrang telepon.


"Wah... sorry Man! sepertinya hari ini ana gak bisa ikut, ana harus jaga di Rumah Sakit soalnya," Sahut Kak Gery yang membuat Kak Iman menautkan kedua alisnya.


"Siapa yang sakit Ger?” Tanya Kak Iman penasaran.


“Ada deh! pokoknya ana gak bisa ikut hari ini! sorry ya!" Ucap Kak Gery yang sengaja tak memberi tahu siapa yang sedang sakit saat ini.


"Hm... ya udah lah! kalau begitu ana telepon dulu anak-anak yang lainnya, deh! semoga yang sakitnya cepat sembuh, ya! bye, Assalamu'alaikum,” Tutur Kak Iman.


“Wa'alaikumsalam, Aamiin... Syukron Man," Sahut Kak Gery sebelum mengakhiri sambungan teleponnya.


Setelah memasukkan kembali hpnya ke dalam saku bajunya, Kak Gery segera melenggang masuk ke dalam ruangan Tiwi dan di kejutkan oleh Tiwi yang sudah tertatih-tatih memegang infus nya.

__ADS_1


“Astagfirullah... kamu mau kemana, Wi? ayo Kakak bantu!" Seru Kak Gery menghampiri setelah melihat Tiwi tertatih-tatih.


“Tiwi hanya ingin buang air kecil, Kak! gak apa-apa ko! Tiwi bisa sendiri!" Sahut Tiwi segan.


“Emm... kalau gitu Kakak panggilkan suster aja ya untuk membantu!" Tutur Kak Gery yang mengerti kekhawatiran Tiwi.


“Gak usah, Kak! Tiwi bisa sendiri ko, Kakak tunggu di sini aja ya! nanti kalau Tiwi udah selesai Tiwi panggil Kakak lagi," Sahut Tiwi sebelum masuk ke dalam toilet.


“Hm… ya udah deh, hati-hati ya!” Seru Kak Gery mencoba yakin pada Tiwi.


Tak lama setelah Tiwi masuk ke kamar mandi, hp Kak Gery kembali berdering menandakan jika ada yang menghubunginya.


"Intan? ada apa ya?" Gumam Kak Gery sambil menerima panggilan teleponnya.


“Ger! kamu di Rumah Sakit ya? aku ke sana sekarang ya! nama Rumah Sakit sama ruangannya chat sekarang ya!” Cecar Kak Intan setelah sambungan teleponnya terhubung.


“Astagfirullah, kamu nanya apa lagi bikin kereta, Tan? panjang banget deh, mana gak ucap salam dulu lagi!" Tegur Kak Gery tak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya itu.


"He... sorry deh, aku lupa Ger! pokoknya kirim sekarang ya alamatnya! aku tunggu, ok! Assalamu'alaikum," Tutur Kak Intan sebelum memutus sambungan teleponnya secara sepihak.


Setelah di beritahu alamat dan nama ruangan Rumah sakitnya, Kak Intan segera bergegas menuju Rumah Sakit tersebut saat itu juga.


“Permisi Sus, ruangan VIP pasca operasi sebelah mana ya?” Tanya Kak Intan setelah berhasil sampai di Rumah Sakit.


“Dari sini tinggal lurus saja Mba, terus belok ke kanan! kalau boleh tau Mba nya mau cari siapa ya?” Sahut Suster jaga.


“Oh… saya lagi cari ruangan saudara saya Sus, namanya, Gery!" Tutur Kak Intan.


“Mba yakin saudaranya di rawat di sini? Sepertinya untuk saat ini tidak ada pasien yang bernama Gery deh di ruangan VIP! Kebanyakan, sekarang yang mengisi ruangan VIP perempuan, Mba! laki-lakinya cuman hanya ada satu orang dan itu pun bukan atas nama Tuan Gery!" Sahut suster jaga panjang lebar.


“O...oh begitu ya Sus! ya udah terimakasih banyak ya, Sus! saya coba telepon dulu orangnya aja deh!" Ucap


Kak Intan sambil mencoba menghubungi Kak Gery kembali.


“Ger! kamu di ruangan mana sih? Kamu beneran di Rumah Sakit kan? aku udah ada di dekat ruang VIP nih," Tutur Kak Intan via telepon.


“Ger!" Seru Kak Intan memanggil setelah melihat Kak Gery keluar dari salah satu ruangan yang tak jauh dari


tempatnya berdiri.


"Kamu sama siapa ke sini, Tan?" Tanya Kak Gery setelah Kak intan menghampirinya.


“Aku sendirian Ger! jadi siapa yang sakit?” Sahut Kak Intan balik bertanya.


“Kamu tau dari siapa kalau aku ada di Rumah Sakit?” Tutur Kak Gery mengalihkan pembicaraan.


“Dari si Iman, Ger! habisnya kamu susah di hubungi sih! bukanya waktu itu kamu udah janji ya mau temani aku bertemu Tante sama Om," Tutur Kak Intan dengan nada manjanya seraya bergelayut manja di lengan Kak Gery.


Kak Gery benar-benar risih dan tak nyaman dengan sikap Kak Intan, dengan susah payah Kak Gery mencoba menghindarinya senatural mungkin, agar Kak Intan tidak merasa tersinggung.


“Oh iya, aku baru ingat Tan! tadi si Iman katanya mau ajak briefing, kalau kamu gak keberatan aku boleh minta tolong gak?!" Seru Kak Gery sambil melepaskan tangan Kak Intan yang bergelayut manja di lengannya.


"Minta tolong apa Ger?" Sahut Kak Intan menautkan kedua alisnya.


"Kamu mau ya wakilkan aku hari ini untuk briefing di markas, kalau sudah selesai aku akan ajak kamu bertemu sama orangtuaku, nanti! bagaimana?" Tutur Kak Gery membujuk.


“Emm... tapi nanti kamu nyusul gak nih? aku sih mau-mau aja wakili kamu, asal... nanti kamu juga nyusul,” Sahut Kak Intan sambil mengayun-ayunkan sebelah tangan Kak Gery yang dia raih setelah melepaskan gelayutannya pada lengan Kak Gery.


“Emm... lihat nanti deh, Tan! kalau gitu mending sekarang kam…” Seru Kak Gery tercekat karena mendengar suara Tiwi terjatuh dari dalam ruangannya.


Karena terlalu licin dan ceroboh, Tiwi akhirnya terpeleset hingga membuat sikutnya terbentur lantai, beruntung Kak Gery segera datang menolongnya dan segera menggendongnya ke atas tempat tidurnya. Namun ternyata, hal tersebut membuat Kak Intan tak suka dan langsung mencecar Tiwi dengan berbagai pertanyaan.


Brukk....


“Aww..." Pekik Tiwi sambil meringis.

__ADS_1


"Astaghfirullah!" Ucap Kak Gery seraya melengos masuk ke dalam ruangan Tiwi.


"Wi! kamu kenapa bisa jatuh?" Seru Kak Gery menghampiri.


“Loh…jadi yang sakit itu kamu ya, Wi? Ger, ko kamu gak bilang sih sama aku! sejak kapan kamu perhatian sama cewek selain sama aku?” Tutur Kak Intan penuh emosi.


“Tan, sudahlah... Tiwi sedang sakit sekarang!" Sahut Kak Gery malas meladeni.


“Aku benar-benar tidak habis pikir! bisa-bisanya kamu dekati si Gery! padahal kamu kan tau kalau kita berdua sudah sangat dekat! ternyata begini ya sifat asli kamu! tampang saja yang polos, taunya hatinya busuk banget,” Cecar Kak Intan meluapkan kekesalannya.


“Intan! jaga ucapan kamu!” Bentak Kak Gery dengan nada yang cukup tinggi.


“Kenapa, Ger? apa karena sekarang aku udah gak berarti lagi ya buat kamu?! Lalu selama ini kamu anggap apa hubungan kita? aku benar-benar gak bisa menerimanya Ger! aku akan beri tahu pada Kakek


semua ini sekarang juga!" Tutur Kak Intan bergegas pergi seraya menghentakkan kakinya dengan kasar.


“Astagfirullah... Wi kamu gak apa-apa kan? kamu jangan masukan ke hati ya ucapannya si Intan! Kakak juga gak punya hubungan apa-apa ko sama dia, maafin Kakak ya!” Sahut Kak Gery menghela kasar nafasnya setelah Kak Intan meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan.


“Seharusnya Tiwi yang meminta maaf, Kak! gara-gara Tiwi, hubungan Kakak dan Kak Intan jadi tidak baik


sekarang, Tiwi benar-benar minta maaf ya!" Ucap Tiwi lirih.


“Sudahlah... jangan pikirkan lagi, ok! sebaiknya sekarang kita obati luka kamu dulu! habis itu, kamu istirahat, ok!" Seru Kak Gery seraya mencari kotak P3K.


Akhirnya hari itu Tiwi di perbolehkan pulang, setelah melalui pemeriksaan terakhirnya. Kebetulan Kak Gery


saat itu di telepon oleh Kakeknya untuk segera pulang menemuinya, sehingga Kak Gery tak dapat ikut mengantarkan Tiwi pulang ke rumahnya karena Kak Intan yang tiba-tiba datang sambil menangis mengadu ke rumah Kakeknya.


“Assalamu’alaikum… Wi! Ayah sama Ibu datang, wah… nak Gery ternyata masih ada di sini ya!" Sapa Ayah Tiwi setelah berhasil masuk ke dalam ruangan anaknya.


“Wa'alaikumsalam... iya Om, kebetulan hari ini Gery tidak ada jadwal apa pun, jadi Gery bisa menemani, Tiwi! Tutur Kak Gery.


Tiba-tiba hp Kak Gery berdering dan menunjukkan nama sang Kakek pada layarnya, setelah mengakhiri sambungan teleponnya, Kak Gery segera berpamitan dan meminta maaf karena tak bisa ikut mengantarkan Tiwi pulang sampai rumahnya.


“Alhamdulillah… akhirnya kamu boleh pulang juga nak!" Tutur Ibu Tiwi seraya membantu Tiwi bangun untuk duduk.


“Iya Bu, Tiwi juga sudah tidak sabar ingin segera pulang ke rumah," Sahut Tiwi sambil menurunkan kedua kakinya dari atas tempat tidurnya.


Kring... kring... kring...


“Maaf Tan, Om... Gery angkat dulu telepon ya!" Ucap Kak Gery seraya melangkah sedikit menjauh dari keberadaan kedua orang tua Tiwi.


“Oh, iya silahkan nak!" Sahut Ayah Tiwi.


“Assalamu'alaikum, Kek! ada apa ya?” Tanya Kak Gery di telepon.


“Wa'alaikumsalam, Ger... kamu apakan si Intan sih sampai nangis-nangis begini?! sebaiknya kamu sekarang ke sini dulu ya! Kakek jadi gak bisa istirahat nih gara-gara sahabatmu ini,” Tutur Kakek Kak Gery di telepon.


“Emm... bagaimana ya Kek? kebetulan Tiwi hari ini sudah boleh pulang dari Rumah Sakit, masa Gery tidak mengantarnya sih, Kek! Kan gak enak juga sama orang tuanya, Kek!" Keluh Kak Gery.


“Kamu bilang saja kalau kakek ada perlu mendadak sama kamu, mereka pasti mengerti ko, lagi pula kamu kan sudah menjaga nak Tiwi dari kemarin! Kakek benar-benar sudah gak tahan nih sama tangisan si Intan! Kamu cepat ke sini ya, sekalian ada yang mau Kakek tanyakan sama kamu,” Bujuk Kakek Kak Gery.


Setelah menutup telepon dari Kakeknya, Kak Gery memutuskan untuk berpamitan kepada kedua orangtua Tiwi.


“Om, Tante! Gery ijin pamit sekarang ya! maaf, Gery tidak bisa ikut mengantar Tiwi pulang!" Ucap Kak gery.


“Tidak apa-apa, nak! terimakasih ya sudah menjaga Tiwi semalaman!" Sahut Ayah Tiwi sambil menepuk sebelah bahu Kak Gery.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Maaf baru sempat up guys, happy reading 😘😘😘


__ADS_2