
"Drin, pacar kamu gak ikut nemenin ya?" Tanya Tata. Setelah kemarin tau, jika Mamih nya Andrina sudah ikut pindah bersama suami barunya ke Kota lain.
"Engga, Ta! kita udah putus dua hari yang lalu," Jawab Andrina santai.
"Serius, Drin? tapi ko kamu gak keliatan sedih sedikit pun sih?" Sahut Tiwi tak percaya.
"Ya habis mau gimana lagi? kalau dia udah gak setia, masa aku harus pertahankan sih, gak layak banget deh, Wi!" Tutur Andrina.
"Astaga, ini cewek apa baja sih? baru di putusin, ko gak ada sedih-sedih nya sedikit pun ya." Gumam Kak Haikal dalam hatinya.
Tak lama kemudian acara perpisahan pun dimulai, Tiwi masih belum menyadari jika kini dia duduk di tengah, diapit oleh kedua pria yang menyukainya. Begitu acara di mulai, Tiwi dan teman-temannya di suguhkan penampilan kabaret yang di mainkan oleh adik-adik kelasnya. Kabaret yang bertemakan horor tersebut berhasil membuat sebagian penontonnya menjerit histeris, termasuk Tiwi yang saat itu spontan memeluk lengan salah satu pria yang duduk di sampingnya. Karena terkejut, Tiwi sampai tidak sadar menyembunyikan wajahnya di salah satu lengan pria itu.
"Astagfirullah..." Ucap Tiwi sambil menyembunyikan wajahnya di balik lengan Kak Gery.
"Kamu takut ya, Wi?" Seru Kak Haikal yang membuat Tiwi langsung melepaskan pelukannya dari lengan Kak Gery.
"Ma...maaf, Kak! Ti... Tiwi gak sengaja," Tutur Tiwi terbata.
"Kalau elo takut, seharusnya elo bersembunyi di balik lengan gue dong, Wi! kenapa elo malah sembunyi di lengannya si Gery sih? sini gue yang peluk Lo, biar gak takut lagi." Sahut Kak Haikal sambil menarik Tiwi ke dalam pelukannya.
"Kenapa aku kesal ya, saat liat si Tiwi di peluk si Haikal? sebenarnya apa dia memang ada hubungan denganku ya, sebelumnya? tapi kenapa aku gak bisa mengingatnya sama sekali, arrrhh... kepalaku jadi sakit," Batin Kak Gery sambil sedikit meringis memegangi kepalanya.
"Kak, Kakak gak apa-apa?" Tanya Tata khawatir.
"Tolong ambilkan air minum Kakak, Ta! Kakak harus segera meminum obat sekarang." Seru Kak Gery menahan sakit di kepalanya.
"Ya Allah, sepertinya Kak Gery berusaha keras melawan rasa sakitnya, semoga Engkau secepatnya memulihkan ingatannya, aku benar-benar tidak tega melihatnya kesakitan seperti itu," Batin Tiwi merapal doa.
Setelah meneguk obatnya, Kak Gery berangsur membaik dan meneruskan acara, hingga akhirnya tibalah mereka pada acara peresmian kelulusan yang akan di umumkan langsung oleh Kepala Sekolah Tiwi yang tak lain Kakeknya Kak Haikal.
"Semoga angkatan aku lulus semua, Aamiin." Lirih Tiwi berdoa.
"Semakin dekat melihatnya, aku seakan ingin memeluknya. ada apa dengan diriku? aku benar-benar tak mengerti dan tak tahu harus bagaimana? tapi jika memang dia seseorang dari masa laluku, kenapa dia begitu acuh sekarang? bahkan dia malah berdampingan dengan Haikal, apa aku sudah membuat kesalahan ya, sebelumnya?" Batin Kak Gery sambil menatap Tiwi yang sedang cemas menunggu pengumuman kelulusannya.
"Yeay... akhirnya kita lulus 100%, guys selamat untuk kita semua." Teriak Andrina bersorak yang di ikuti
teman-temannya yang lain.
"Astaga! bocah itu benar-benar sangat bar-bar ternyata." Gumam Kak Haikal sambil sedikit tersenyum.
"Kenapa Kakak senyum-senyum sendiri, ada yang lucu ya? Tegur Tiwi.
"Eh, engga ko! gue cuman lagi bayangin elo aja barusan," Sahut Kak Haikal berbohong.
__ADS_1
"Gak usah bohong, Kak! pasti Kakak lagi mikirin hal lain ya, kalau engga kenapa barusan Kakak senyum senyumnya sambil lihat ke depan? apa jangan jangan... Kakak benar-benar udah jatuh hati sama si Andrina, ya?" Tebak Tiwi yang membuat Kak Haikal tersedak saat meneguk air minumnya.
Uhuk... uhuk...
"Hati-hati, Kak! Kakak gak apa-apa kan?" Tanya Tiwi seraya spontan memegang salah satu tangan Kak Haikal.
"Gue baik-baik aja, ko!" Sahut Kak Haikal sambil menggenggam tangan Tiwi.
"Apa benar begitu Kak, tapi wajah Kakak sedikit memerah, Lo! apa sebaiknya kita ke Rumah Sakit aja ya?" Tawar Tiwi.
"Gue baik-baik aja, ko! elo gak usah khawatir, ini kan hari penting elo, mana mungkin gue mengacaukannya cuman gara-gara tersedak," Sahut Kak Haikal.
"Ha... ya udah, kalau gitu Kakak minum lagi aja yang banyak, supaya tenggorokannya gak sakit!" Seru Tiwi sambil memberikan air minumnya.
"Maaf." Ucap Kak Gery yang tak sengaja menyenggol tangan Tiwi sehingga membuat air minumnya terjatuh ke bawah dan tumpah
"Yah... Ger! elo ko ceroboh banget sih, air minum si Tiwi kan jadi tumpah, mana air minum gue udah abis lagi," Gerutu Kak Haikal.
"Sorry, Kal! ana benar-benar gak sengaja, kalau gitu Kakak ganti dengan ini aja ya!" Sahut Kak Gery sambil memberikan air minumnya pada Tiwi.
"Gak usah Kak, Tiwi gak haus ko." Tolak Tiwi.
"Maaf ya! Kakak gak punya air minum lagi selain ini sekarang! atau setelah acara ini selesai, Kakak traktir kamu beli minuman di minimarket deh," Tawar Kak Gery.
"Gak usah, Kak! Kakak gak perlu traktir Tiwi segala, Tiwi benar-benar gak apa-apa, ko!" Sahut Tiwi.
"Ish, kamu Drin! giliran denger traktiran aja langsung nimbrung, udah sana balik lagi ke kursi kamu!" Sahut Tiwi sedikit terkekeh.
"Biarin dong, kan lumayan di traktir jajan, dasar pelit!" Tutur Andrina.
"Biarin, wew." Ucap Tiwi sambil menjulurkan sedikit lidahnya ke arah sahabatnya itu.
"Ya ampun, kenapa si Tiwi menggemaskan banget sih, rasanya gue jadi pengen melahap bibir ranumnya itu." Batin Kak Haikal.
"Bibirnya benar-benar terlihat begitu... Astagfirullah," Batin Kak Gery.
"Kalian berdua kenapa memperhatikan si Tiwi terus sih? apa aku kurang cantik ya, sampai tidak di lirik sedikit pun," Omel Andrina.
"Baru nyadar Lo, kemana aja dari tadi? seharusnya elo sadar diri jadi bocah, bukannya bar-bar gitu." Ucap Kak Haikal.
"Ish, mulutnya gak pernah di cuci ya Kak, ko ngomongnya kotor banget sih," Sahut Andrina sambil
memicingkan matanya.
__ADS_1
"Enak aja kalau ngomong, awas..." Ucap Kak Haikal tercekat karena Tiwi melerainya lagi.
"Udah-udah! kalau kalian masih aja berdebat, Tiwi bakal minggat nih!" Tegur Tiwi.
"Jangan dong, elo kan harus nikmati acaranya sampai selesai, gue gak akan ladeni bocah aneh itu lagi deh," Sahut Kak Haikal membujuk.
"Janji?" Ucap Tiwi sambil mengangkat kedua alisnya.
"Janji!" Sahut Kak Haikal sambil mengacungkan kedua jari tangannya.
"Hm... ya udah, sebaiknya kita sekarang tunggu pengalungan aja, udah itu kita langsung ke studio foto!" Seru Tiwi yang di setujui oleh semua temannya.
Setelah acara pengalungan selesai, Tiwi dan teman-temannya benar-benar mengunjungi studio foto untuk mengabadikan momen bahagia mereka hari itu.
"Kak, sendal Tiwi tadi di bawa lagi ga?" Tanya Tiwi setelah mereka berada di parkiran.
"Kamu kenapa, Wi?" Tanya Tata menghampiri.
"Aku pengen ganti sendal, Ta! kaki aku sedikit sakit karena kelamaan pakai heel," Sahut Tiwi sedikit meringis.
"Ya udah, gue cari dulu deh di bagasi, elo tunggu disini ya!" Ucap Kak Haikal.
"Apa sebelumnya kaki kamu pernah patah ya, Wi?" Tutur Kak Gery bertanya.
Tiwi sempat bingung untuk menjawab, namun akhirnya dia berkata jujur dan tak ingin membohongi Kak Gery lagi.
"Bukan patah Kak, tapi tulangnya retak karena benturan beberapa bulan yang lalu." Jawab Tiwi.
"Astagfirullah, apa kamu mengalami kecelakaan? ah, iya! waktu itu kamu sempat datang ke ruangan Kakak, kan? apa waktu itu kaki kamu retak?" Sahut Kak Gery.
Tiwi hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dia sangat berharap jika Kak Gery bisa mengingat kejadian itu, tapi Tiwi tetap bersyukur karena hari ini Kak Gery tidak mengusirnya seperti
saat pertama kali Kak Gery kehilangan ingatannya.
"Apa mungkin dia kecelakaan denganku beberapa bulan yang lalu, ya? tapi kenapa tidak ada yang memberi tahuku tentang kejadian itu sedikit pun?" Batin Kak Gery.
.
.
.
.
__ADS_1
.
See you next episode... 😘😘😘