CHOICE LOVER

CHOICE LOVER
Eps 80.


__ADS_3

"Wi! kalau di perhatikan, si Andrina sama Kak Haikal cocok juga ya!" Bisik Tata seraya memperhatikan salah satu sahabatnya yang di paksa di gendong oleh Kak Haikal.


"Iya, Ta! mereka sama-sama menggemaskan ya kalau udah cekcok kaya gitu" Sahut Tiwi sambil terkekeh.


"Kenapa kalian tertawa seperti itu? ada yang lucu ya?" Tegur Andrina saat dirinya kini di gendongan Kak Haikal.


"Hei bocah! jangan banyak gerak, badan elo jadi berat tau!" Sungut Kak Haikal sambil membenarkan gendongannya yang bertumpu pada punggung atletisnya itu.


Sontak hal itu membuat tubuh mungil Andrina ikut terangkat dan mendarat sempurna pada punggung laki-laki kekar nan tampan itu.


"Ish...bisa lembut dikit gak sih! lagi pula siapa juga yang suruh gendong, dasar cowok aneh!" Gerutu Andrina.


"Hei itu kata-kata gue! elo gak boleh mengambilnya bocah aneh!" Sahut Kak Haikal.


"Ihh...cepat turunkan aku! aku gak Sudi di gendong laki-lakinya super aneh dan menyebalkan seperti Kakak!" Berontak Andrina yang membuat langkah Kak Haikal terhuyung hingga terjatuh.


Bruk...


"Astaga! elo benar-benar memancing emosi gue ya." Ucap Kak Haikal sambil mencoba bangun dari posisinya yang sudah tersungkur ke tanah.


"Masa bodo! ayo guys kita jalan lagi! aww..." Pekik Andrina kesakitan setelah dia beranjak dan hendak melangkah.


"Drin, hati-hati! Kaki kamu masih bengkak, sebaiknya kamu jangan memberontak terus, Kak Haikal udah baik hati loh mau bantu kamu buat turun dari bukit ini!" Tutur Tata.


"Iya Drin, kayanya kaki kamu gak akan kuat deh kalau harus jalan sendiri sampai ke garis finis, kamu nurut aja deh sama Kak Haikal!" Sahut Tiwi menambahkan.


"Ko kalian jadi mendukung Kak Haikal sih? hm... tapi kaki aku emang sakit banget sih, duh... apa gak ada pilihan lain lagi ya selain di gendong cowok aneh ini?" Ucap Andrina.


"Ada ko, elo bisa pilih diam disini sendirian atau merangkak sendiri sampai kaki elo membusuk!" Sahut Kak Haikal.


"Ishh...bisa gak sih, sekali...aja bicara yang sopan sama perempuan, pakai acara nakut-nakutin segala lagi," Ucap Andrina.


"Udah, Drin! kamu di gendong lagi aja sama Kak Haikal, kita juga kayanya gak bisa membantu kalau keadaan kamu kaya gini!" Tutur Tata.


"Ha... ok deh, tapi awas ya kalau Kakak macam macam lagi, aku gak akan segan-segan berteriak untuk membela diri!" Ancam Andrina.


"Buat apa elo teriak-teriak? orang gue cuman gendong doang, lagi pula kalau bukan karena nyokap gue yang di titipin amanat dari nyokap elo, gue gak akan mau gendong elo kaya gini," Ketus Kak Haikal.


"Bodo amat, ya udah cepat gendong aku lagi!" Sahut Andrina tak kalah ketus.

__ADS_1


"Astagfirullah, dua orang ini kapan damainya sih?" Gumam Tiwi.


"Udahlah Wi, sekarang kita ikuti mereka aja," Sahut Tata.


Setibanya di garis finis, Andrina langsung di bawa ke pos panitia untuk mendapatkan penanganan medis pada kakinya yang membengkak.


"Aww... pelan-pelan, Kak! aku gak punya kaki lagi selain kaki ku ini," Ucap Andrina yang membuat terkekeh para senior yang menanganinya.


"Sabar cantik, gak akan ada yang akan potong kaki kamu ko, tenang aja... kamu benar-benar imut sekali deh," Sanjung salah satu senior yang mengobati kaki Andrina.


Tak di sangka sepasang mata elang menyorot tajam ke arah mereka yang sedang terkekeh. Seketika mereka pun membungkam mulut mereka masing masing dan tak berani memuji gadis cantik di hadapan mereka lagi.


"Apa udah selesai?" Tanya Kak Haikal.


"Udah Kak, silahkan... untungnya lukanya tidak terlalu serius, hanya butuh terapi pijatan aja untuk benar benar memulihkannya!" Tutur Senior Andrina yang tadi mengobati kakinya.


"Makasih banyak ya Kak, aku balik lagi sama teman-teman aja deh," Ucap Andrina sambil mencoba berdiri.


Namun sayangnya, ternyata kakinya masih terasa sakit dan membuatnya oleng hingga hampir terjatuh, sebelum akhirnya seniornya tadi menangkap tubuh mungilnya dengan cepat.


"Hati-hati!" Ucap Senior Andrina sambil menangkap tubuh mungil milik Andrina ke dalam pelukannya supaya tak terjatuh.


"Aww... Kakak apa-apaan sih?" Ucap Andrina memberontak.


"Diam bocah aneh! gak ada satu orang pun yang boleh menyentuh elo selain gue, ayo kita pergi sekarang!" Sahut Kak Haikal dengan tatapan mengintimidasinya.


"Tapi, Kak! aku mau balik sama Tiwi dan Tata lagi," Ucap Andrina yang tak di gubris oleh Kak Haikal.


Sesaat, suasananya begitu hening setelah Kak Haikal memasukkan Andrina ke dalam mobil sportnya, namun sedetik kemudian tangis Andrina pecah menggema ke seluruh ruang dalam mobil sport tersebut hingga memekakkan telinga yang mendengarnya.


"Huaaaaa....." Jerit Andrina begitu histeris.


"Astaga, elo bisa buat telinga gue tuli kalau nangis kaya gitu, diam lah! gue gak akan berbuat macam-macam, ko!" Seru Kak Haikal mencoba membujuk.


"Aku mau teman-temanku, aku gak mau ikut dengan Kakak, turunkan aku Kak! aku mohon, biarkan aku bertemu sama Tata dan Tiwi lagi!" Isak Andrina.


"Apa elo yakin? yang ada elo akan membuat mereka kerepotan nantinya. Kaki elo itu benar-benar harus di istirahatkan, kalau engga bisa tambah parah!" Sahut Kak Haikal yang berusaha di cerna oleh Andrina.


"Ada benarnya juga sih yang Kak Haikal omongin, tapi aku benar-benar takut sekarang, aku gak mau jadi pelampiasan kemarahan laki-laki aneh ini! tatapannya aja udah serem banget!" Batin Andrina seraya bergidik.

__ADS_1


"Lebih baik sekarang kita pulang aja, ok!" Tutur Kak Haikal.


"Hah... pulang? kemana?" Tanya Andrina mengernyitkan keningnya.


"Ya ke rumah elo lah, masa ke apartemen gue, kan gak mungkin! kecuali elo emang pengen berduaan sama gue!" Sahut Kak Haikal seraya menggoda.


"Ish, kepedean, deh! tapi gak mungkin juga kalau Kakak antar aku pulang ke rumah sekarang, aku takut di gerebeg warga kalau ketahuan bawa laki-laki ke rumah, aku kan cuma tinggal sendiri, bisa-bisa nanti aku di usir lagi dari rumah yang udah sejak lama aku tinggali itu!" Tutur Andrina.


"Tenang aja, gue akan pastikan elo gak akan di usir dari sana! Udah cepat! pasang sabuk pengamannya, apa perlu gue yang memasangkannya?" Seru Kak Haikal.


"Gak! gak usah! aku bisa sendiri, hm... anterin sampai depan rumah aja, deh!" Ucap Andrina pasrah.


Di kampus sendiri, Tata dan Tiwi tengah melanjutkan acar ospek mereka yang sekarang di lanjutkan dengan acara pemberian materi dari salah satu narasumber yang sudah di pilih langsung oleh pihak kampus sebelumnya.


Saat itu waktu menunjukkan pukul 7 malam. Setelah mereka menyelesaikan kegiatan pencarian jejak dan beberapa games sebelumnya.


"Duh... badanku rasanya pegel semua nih, Wi! kayanya aku gak akan sanggup untuk pulang ke rumah deh malam ini, aku nginap di rumahnya Kak Gery aja ah, jaraknya lumayan dekat dari sini di banding pulang ke rumah!" Tutur Tata sambil menggeliatkan tubuhnya.


"Emm... aku pulang ke rumah aja deh, sepertinya akan lebih nyama beristirahat di rumah sendiri," Sahut Tiwi sambil mengeluarkan botol minumnya.


"Air minum kamu habis ya, Wi? nih, ambil punyaku aja!" Tutur Tata sambil memberikan botol minumnya.


"Gak usah, Ta! nanti kalau kamu haus giman? aku minta sama panitia aja, deh!" Sahut Tiwi sambil beranjak dengan botol minum di tangannya.


"Oh, ya udah deh, jangan lama-lama ya Wi! bentar lagi acaranya mau di mulai, tuh!" Seru Tata mengingatkan.


"Oke, Ta!" Jawab Tiwi sambil bergegas.


Setibanya di ruang panitia, Tiwi di kejutkan dengan kehadiran Kak Gery yang menyanggah tubuhnya yang hampir saja terjatuh ke lantai, akibat air yang menggenang bekas dispenser yang akan dia hampiri untuk mengisi botol minumnya itu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


See you next episode 😘😘😘


__ADS_2