CHOICE LOVER

CHOICE LOVER
Eps 78.


__ADS_3

Satu jam kemudian akhirnya Tiwi dan Kak Haikal selesai menghabiskan semua makanan yang terhidang sebelumnya. Sebenarnya Kak Haikal lah yang menghabiskannya lebih banyak, ternyata dia benar-benar sangat kuat dalam hal makan seperti itu.


"Alhamdulillah... Kakak masih belum kenyang ya?" Tanya Tiwi setelah menghabiskan makanannya.


"Hm... Elo kalau masih mau pesan lagi aja!" Sahut Kak Haikal yang masih fokus melahap makanannya.


"Tiwi udah kenyang Kak, Tiwi ke toilet dulu deh!" Tutur Tiwi beranjak.


Setelah kembali dari toilet, Tiwi dan Kak Haikal kembali melanjutkan perjalanan pulang mereka. Saat ini mereka berdua memilih berbincang untuk mengusir rasa kantuk yang menyapa.


"Kak! besok Tiwi mau ke Rumah Sakit lagi jenguk Kak Gery, Kakak mau ikut gak?" Tanya Tiwi.


"Bilang aja kalau elo pengen gue jemput!" Sahut Kak Haikal.


"Ish, gak usah GR, deh! siapa juga yang mau minta di jemput? lagi pula, besok Tiwi mau ke Rumah Sakitnya bareng Ayah sama Ibu, ko! ngarep banget deh," Cibir Tiwi.


"Oh... gue kira elo sendiri, emm... kalau begitu gue gak ikut deh," Sahut Kak Haikal.


"Emangnya kalau Tiwi sendiri Kakak mau apa? gak usah macam-macam deh," Tutur Tiwi.


"Siapa juga yang mau macam-macam, tadinya gue cuman mau ajak elo ke tempat tadi yang gak jadi kita datangi, tau!" Seru Kak Haikal.


"Oh... memangnya Kakak mau bawa Tiwi kemana, tadi?" Tanya Tiwi penasaran.


"Rahasia!" Ucap Kak Haikal yang membuat Tiwi sedikit kesal.


"Haist! Kak Haikal nyebelin banget deh, udah tau aku penasaran banget, udahlah percuma mengemis ngemis info juga, nanti yang ada dia malah ke GRan lagi!" Batin Tiwi.


Setibanya di depan Gang rumah Tiwi, Kak Haikal segera kembali masuk ke mobil sportnya dan berpamitan pada Tiwi.


"Kakak yakin gak mau mampir dulu?" Tanya Tiwi.


"Lain kali aja deh, ini udah terlalu malam, gue cabut dulu ya, bye..." Sahut Kak Haikal sambil bergegas masuk kembali ke dalam mobil sportnya.


"Hm... ya udah hati-hati, Kak!" Seru Tiwi sambil melambaikan tangannya.


Keesokan harinya, Tiwi dan kedua orangtuanya bersiap untuk menjenguk Kak Gery di Rumah Sakit. Mereka sengaja membawa beberapa makanan dan buah-buahan sebagai buah tangan.


"Apa ini sudah cukup Bu?" Tanya Tiwi setelah memasukkan semua makanan dan buah-buahan yang telah di beli orangtuanya sebelumnya.


"Sepertinya udah, Wi! ya udah, Ibu panggil Ayah dulu ya biar dia siap-siap juga!" Sahut Ibu Tiwi beranjak.


"Kak Desi yakin gak mau ikut?" Tanya Tiwi.


"Kakak nunggu rumah aja deh, lagi pula Kakak juga lagi gak enak badan," Sahut Kak Desi.


"Ya udah, Kakak istirahat aja deh!" Seru Tiwi.


"Iya, iya... udah sana gih siap-siap!" Sahut Kak Desi.


Sesampainya di Rumah Sakit, Tiwi dan kedua orangtuanya langsung masuk ke ruangan Kak Gery setelah mereka di persilahkan masuk sebelumnya.


"Umi, bagaimana keadaan Kak Gery sekarang?" Tanya Tiwi.

__ADS_1


"Masih sama seperti semalam sayang, dia masih belum siuman," Sahut Umi Kak Gery.


"Ini semua salah Tiwi, Umi! seharusnya Tiwi gak paksa Kak Gery untuk mengingat Tiwi," Lirih Tiwi.


"Tidak sayang! jangan berpikir seperti itu, semua ini sudah kehendak Allah, kita harus kuat dan bersabar menghadapinya," Sahut Umi Kak Gery mengusap punggung tangan Tiwi yang dia genggam.


Tiba-tiba jari tangan Kak Gery bergerak, di susul dengan membuka mata perlahan yang menandakan jika dia mulai siuman.


"Umi! jari Kak Gery!" Seru Tiwi antusias.


"Iya, nak! Sayang, kamu bisa dengar Umi, kan?" Sahut Umi Kak Gery sambil menghampiri Kak Gery.


"Umi... mereka semua siapa? arrgh... kenapa kepala Gery begitu sakit!" Ucap Kak Gery seraya meringis.


"Sebaiknya kamu gak usah banyak bergerak dulu, Ger! Umi ambilkan minum ya!" Saran Umi Kak Gery.


"Kamu siapa? kenapa kamu terlihat sedih seperti itu?" Tanya Kak Gery ke arah Tiwi.


"A...aku, aku Tiwi, Kak! aku temannya Tata, sepupu Kakak!" Ucap Tiwi terbata seraya menahan sedih.


Hatinya begitu terasa sesak saat mengetahui kenyataan, jika Kak Gery semakin tidak mengenalnya.


"Kuatkan aku Ya Allah, aku gak boleh nangis di sini! aku harus tetap bertahan, supaya Kak Gery gak berpikir macam-macam dulu," Batin Tiwi.


"Ini sayang, minum dulu ya! apa kamu mau makan sesuatu?" Tanya Umi Kak Gery.


"Engga, Mi! Gery gak lapar, nanti aja!" Sahut Kak Gery.


"Emm... baiklah Umi, sedikit aja ya," Ucap Kak Gery.


"Umi! biar Tiwi bantu Kak Gery ya!" Seru Tiwi yang langsung di tolak oleh Kak Gery.


"Gak! aku bisa sendiri, kamu jangan dekat-dekat!" Ucap Kak Gery sedikit ketus.


Seketika air mata yang sedari Tiwi bendung pun mengalir deras membasahi pipi mulusnya. Kak Gery benar-benar banyak berubah setelah operasinya semalam. Tanpa menunggu orang tuanya, Tiwi bergegas keluar ruangan Kak Gery sambil berderai air mata.


"Sayang..." Seru Umi Kak Gery mencoba mencegah.


"Umi! kenapa Umi begitu peduli pada gadis itu? dia kan hanya temannya Tata," Tutur Kak Gery.


"Bu, kami pamit, ya! sepertinya mereka benar-benar butuh waktu masing-masing sekarang, semoga nak Gery cepat sembuh ya," Sahut Ayah Tiwi tak tahan ingin segera menyusul putri bungsunya.


"Iya, Pak! maaf sudah membuat kalian kecewa," Tutur Umi Kak Gery lirih.


"Kami mengerti Bu, Bu Mirna yang kuat dan sabar ya, kami pulang dulu," Seru Ibu Tiwi.


"Terimakasih ya, Bu, Pak! sekali lagi saya minta maaf," Ucap Umi Kak Gery.


"Umi, sebenarnya mereka tadi siapa sih?" Tanya Kak Gery.


"Mereka orangtuanya nak Tiwi,".


"Ya udah, Umi keluar dulu sebentar ya! Umi mau beli makanan dulu!" Tutur Umi Kak Gery bergegas.

__ADS_1


Kak Gery hanya menganggukkan kepalanya sambil menatap Uminya dengan heran. Entah apa yang dia pikirkan sekarang, namun yang pasti saat ini Kak Gery benar-benar merasa asing dengan kehadiran Tiwi.


"Yah, bagaimana? apa Ayah sudah menemukannya?" Tanya Ibu Tiwi khawatir.


"Ayah belum menemukannya Bu, sepertinya dia sudah pergi jauh, semoga saja Tiwi bisa mengontrol emosinya!" Sahut Ayah Tiwi cemas.


"Ya Allah, kamu kemana sih, nak! Ibu sudah mencoba menghubungi hpnya dari tadi tapi gak diangkat juga, Yah!" Ucap Ibu Tiwi.


"Ya udah, Bu! sebaiknya kita pulang aja dulu, siapa tau dia udah sampai di rumah sekarang!" Seru Ayah Tiwi menenangkan.


"Baiklah, Yah! semoga Tiwi benar-benar pulang ke rumah," Sahut Ibu Tiwi penuh harap.


Ternyata, Tiwi saat itu memilih masuk ke Mesjid Rumah Sakit dan menunaikan sholat Sunnah untuk menenangkan hati dan pikirannya. Dia berdoa dengan derai air mata yang terus membanjiri pipi mulusnya. Hingga akhirnya ada satu tangan yang menepuk bahunya dengan lembut.


"Ya Allah... Tiwi benar-benar gak sanggup untuk menghadapinya, Tiwi pasrahkan semuanya padamu Ya Allah, Tiwi benar-benar rapuh saat ini." Gumam Tiwi dalam doanya.


"Sayang." Seru Umi Kak Gery menghampiri sambil menyentuh sebelah bahu Tiwi.


Tiwi menoleh dan menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Umi Kak Gery. Saat ini dia benar-benar membutuhkan pelukan itu, pelukan yang bisa membuatnya sedikit mengurangi rasa sesak yang ada dalam hatinya.


"Menangis lah sayang, jika itu bisa mengurangi sedikit kesedihanmu." Ucap Umi Kak Gery penuh kelembutan.


"Umi... " Isak Tiwi dengan tangisannya yang kian pecah.


Umi Kak Gery sendiri tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain memeluk dan mengelus punggung Tiwi. Dia begitu mengerti dengan perasaan Tiwi yang sudah berjuang untuk menunggu kesembuhan anaknya. Namun apa lah daya, ternyata ingatan Kak Gery malah semakin memburuk.


Setelah dirasa sedikit tenang, Tiwi pun melerai pelukannya dan membenahi pakaiannya yang sudah tak beraturan itu. Sesekali bulir bening dari matanya masih saja lolos tanpa permisi.


"Sebaiknya sekarang kamu pulang ya, nak! Umi khawatir, jika kamu terus disini kamu tidak bisa beristirahat dengan benar, kamu pulang ya sayang!" Seru Umi Kak Gery.


"Umi, Tiwi sudah putuskan... Tiwi gak akan memaksa Kak Gery lagi untuk mengingat Tiwi. Tiwi ingin dia menikmati hidupnya sesuai yang dia mau, Tiwi tidak ingin memperburuk kesehatannya" Ucap Tiwi.


"Apa itu berarti kamu ingin menyerah? Umi mohon, nak, bertahanlah! Umi juga sudah sangat sayang sama kamu! Umi gak mau kehilangan kamu!" Sahut Umi Kak Gery.


"Umi... Tiwi hanya ingin Kak Gery menikmati hidupnya seperti yang dia inginkan saat ini. Jadi, Tiwi mohon biarkan Tiwi menjauh, agar Kak Gery tak terganggu pemulihannya!".


"Tiwi juga sangat sayang sama Umi, Tiwi juga sudah menganggap Umi seperti Ibu Tiwi sendiri, tapi sepertinya untuk saat ini, Tiwi harus menjauh! Tiwi tidak ingin memperburuk keadaan Kak Gery!" Tutur Tiwi panjang lebar.


"Apa ini berarti, kamu memutuskan hubungan pertunangan?" Tanya Umi Kak Gery.


"Tidak, Umi! saat ini Tiwi hanya ingin memberi ruang untuk Kak Gery, bagaimana pun juga kita sudah bertunangan, Tiwi tidak akan melupakannya Umi," Ucap Tiwi.


.


.


.


.


.


Maaf slow respon dan gak tentu Up guys, akhir-akhir ini banyak banget kesibukan di RL, mohon maaf juga untuk teman-teman sesama author yg karyanya belum aku kunjungi balik 🙏🏻 In Sya Allah jika ada waktu luang pasti Mom kunjungi deh, See you next episode 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2