
"Ayolah, Wi! cuma sebentar ko, aku tunggu ya!" Ucap Rizki membujuk.
"Ya ampun... satu masalah aja belum kelar, sekarang masalah apa lagi, sih? si Rizki ko jadi perhatian banget ya hari ini?" Batin Tiwi.
"Wi! udah selesai belum? aku mau minta bantuan kamu nih buat dekor kelas yang bakal aku pake buat kejutan Kak Iman!" Tegur Tata menghampiri.
"Oh... ya udah tunggu sebentar ya, aku mau kasih dulu konsumsi buat bintang tamu nih!" Sahut Tiwi sambil
menata makanan yang akan dia suguhkan.
Setelah selesai menyajikan suguhan, Tiwi segera bergegas bersama Tata untuk mendekor kelas yang akan mereka gunakan, untuk memberi kejutan pada Kak Iman.
"Ha... akhirnya selesai juga, mudah-mudahan kak Iman suka ya sama kejutannya!" Tutur Tata.
"Pastilah! dan satu hal lagi Ta! Kak Iman juga pasti bakal langsung lamar kamu tuh habis ini, secara dia udah uring-uringan banget dari kemarin nanyain kamu!" Sahut Tiwi terkekeh.
"Emm... masa sih, Wi? kamu bikin aku jadi grogi aja deh," Tutur Tata tersipu.
"Ceileh...malah malu-malu kucing lagi! ya udah, pokoknya jangan sampai kejutannya gagal ya, aku bakal benar-benar marah kalau Kak Iman gak terkejut sama sekali," Ucap Tiwi.
"Siap bos! aku yakin ko, kalau Kak Iman pasti terkejut dengan kejutannya!" Sahut Tata percaya diri.
Waktu terus bergulir, hingga akhirnya acara Gelar Seni Sekolah Tiwi pun resmi di tutup. Mereka begitu puas dengan hasil jerih payah mereka selama persiapan dan kelangsungan acara. Banyaknya support dan dukungan dari berbagai pihak membuat acara Tahunan mereka kala itu berjalan sukses besar.
"Alhamdulillah... guys aku pribadi sangat-sangat berterimakasih atas perjuangan kalian untuk mensukseskan acara kita ini! dan sebagai reward, aku akan memberikan kalian liburan bersama akhir pekan nanti di sebuah wisata alam yang pasti bakal kalian sukai!" Tutur Rizki.
Sontak semua teman-teman Tiwi bersorak gembira, mereka benar-benar sangat setuju dengan pilihan Rizki yang akan mengajak mereka untuk berlibur bersama.
"Wah... ide bagus Ki, kita memang butuh liburan sekarang, iya kan guys?" Seru Regi.
"Benar, Gi! aku jadi gak sabar pengen cepat akhir pekan!" Sahut Nana.
"Syukur deh kalau kalian semua setuju, kalau gitu hari ini sekali lagi aku ucapkan terimakasih banyak untuk
kerja keras kalian dan aku minta maaf jika selama ini aku ada salah-salah kata sama kalian, akhir kata Wassalamu'alaikum. Warahmatullahi. Wabarakatuh." Tutur Rizki menutup acara mereka.
"Wa'alaikumsalam. Warahmatullahi. Wabarakatuh. Wi! kita ke kelas sekarang aja ya! sebentar lagi Kak Iman dan Kak Gery bakal datang nih!" Seru Tata.
"Ok, Ta! yuk!" Sahut Tiwi.
Belum sampai Tiwi dan Tata melangkah, mereka berdua sempat di hadang Rizki yang mengajak Tiwi untuk berbicara, sesuai ajakannya tadi siang.
"Wi! mau kemana? bukannya tadi kamu udah janji ya mau..." Tutur Rizki yang segera di sanggah oleh Tiwi.
"Aku kan bilang In Sya Allah, Ki! memangnya kamu tadi gak dengar ya, tadi?" Sahut Tiwi merasa risih.
"Ya udah, karena kamu sekarang ada di sini aku ngomongnya di sini aja deh, biar si Tata juga jadi
saksinya!" Tutur Rizki sambil mengulurkan sebuah papper bag untuk Tiwi.
"Apa ini?" Tanya Tiwi.
Rizki akhirnya melipat sebelah Kakinya ala-ala Romeo yang akan menyatakan cinta. Sontak hal tersebut mengundang rasa penasaran teman-teman Tiwi yang lainnya untuk menghampiri dan menyaksikan pernyataan cinta Rizki tersebut.
"Wah, si Rizki jadi juga ya tembak si Tiwi?" Ucap Yudha.
"Berani juga dia, aku pikir dia bakalan mundur," Sahut Regi.
"Ada apa sih? kenapa kalian berkerumun di sini?" Tutur Andrina sambil menghampiri.
"Si Tiwi mau di tembak si Rizki, Drin! ayo, cepat kita tonton mereka! aku gak sabar pengen tahu jawaban si Tiwi," Seru Nana.
"Wah, si Rizki bakal kena malu besar nih!" Gumam Andrina.
"Malu besar? memangnya kenapa, Drin? aku pikir si Tiwi memang ada hubungan spesial sama si Rizki selama ini, secara mereka berdua emang selalu dekat kan?" Tanya Nana.
__ADS_1
"Kalian belum tau ya? ha... si Tiwi itu udah tunangan." Ucap Andrina yang membuat teman-teman nya menatap Tiwi tak percaya.
Mereka semakin penasaran dengan tunangan Tiwi yang selama ini belum mereka ketahui. Padahal mereka semua sudah pernah bertemu dan melihatnya selama ini.
"Wah, si Rizki bakal bertepuk sebelah tangan dong!" Sahut Regi tiba-tiba menghampiri.
"Ish... kamu Gi, ngagetin aja deh! permisi dulu kek kalau mau nimbrung." Gerutu Andrina.
"He... sorry deh, Drin! abisnya kalian bikin aku penasaran sih... pake bisik-bisik kaya gitu lagi!" Sahut
Regi.
Setelah selesai mengungkapkan perasaannya, Rizki begitu terlihat percaya diri jika dirinya pasti di terima
oleh Tiwi. Secara mereka sedang menjadi tontonan saat ini, dan Rizki pikir Tiwi pasti tidak akan mengecewakannya.
"Bagai mana, Wi?" Tanya Rizki.
"Astagfirullah, si Rizki kenapa malah pake acara nembak gini sih, aku kan jadi gak enak jawabnya! aku gak berani bikin dia malu karena aku gak bisa terima dia. Tapi kalau aku gak ngomong, dia pasti makin berharap lebih nantinya, duh... aku harus gimana sekarang," Batin Tiwi.
"Terima aja, Wi! terima... terima..." Seru Yudha memprovokasi.
"Iya, Wi! terima, terima... terima..." Sahut Regi dan yang lainnya.
Tak lama kemudian, Kak Gery yang baru saja tiba dengan Kak Iman segera menghampiri mereka karena khawatir terjadi sesuatu pada kedua kekasih mereka.
"Ger, sepertinya mereka lagi dikerumuni tuh! kita hampiri sekarang yuk!" Seru Kak Iman tak sabar.
"Sabar, Man! Ana parkir dulu motor!" Sahut Kak Gery sambil memarkirkan motor sportnya.
"Cepet, Ger! ana khawatir mereka kenapa-napa, tuh!" Tutur Kak Iman cemas.
"Iya, iya...ayo!" Seru Kak Gery setelah memarkirkan motor sportnya dengan aman.
Di lokasi penembakan sendiri, Tiwi masih di desak oleh semua orang yang ingin me dengar jawaban darinya.
"Iya Wi ayo terima aja!" Sahut Yudha.
"A .. aku, emm..." Ucap Tiwi terbata karena gugup.
"Sayang! kalian gak apa-apa, kan?" Tanya Kak Gery setelah berhasil menghampiri.
"Sayang?" Ucap teman-teman Tiwi serempak.
"Oh, maaf sebelumnya! biar saya memperkenalkan diri saya lebih jelas lagi kali ini. Perkenalkan, nama saya Gery tunangannya Tiwi dan sepupunya Tata." Tutur Kak Gery penuh penekanan.
"Hm... ambigu sekali, memangnya apa buktinya kalau kalian udah bertunangan?" Sahut Rizki menyangkal.
"Mau bukti seperti apa? mungkin yang saat ini kami bisa tunjukkan hanya cincin ini, saya harap kalian bisa percaya dengan melihat nama kita yang di ukir di dalam cincin ini!" Tutur Kak Gery sambil melayangkan jari manisnya dan jari manis Tiwi yang sudah terisi
dengan cincin tunangan mereka.
"Wah... cincin pasangan guys, mereka benar-benar udah tunangan," Gumam teman-teman Tiwi.
"Ki, aku minta maaf ya! seharusnya aku kasih tau kamu dari awal," Sesak Tiwi.
"Ha... sudahlah, Wi! aku gak apa-apa, ko! aku harap kita masih bisa berteman seperti biasanya!" Sahut Rizki lirih.
Kak Gery hanya menghela nafas, sebelum dia menganggukkan kepalanya sebagai tanda jika dia mengijinkan Tiwi untuk tetap berteman dengan Rizki.
"Terimakasih ya Wi, dan anda! saya mohon maaf, saya benar-benar tidak tahu jika kalian benar-benar sudah bertunangan." Ucap Rizki mendadak formal.
"It's Ok, yang terpenting sekarang di antara kalian tidak ada ke salah pahaman lagi, kalau begitu saya akan membawa Tiwi pulang sekarang jika memang acara kalian sudah selesai!" Tutur Kak Gery.
"Iya silahkan, kami memang sudah selesai hari ini." Sahut Rizki.
__ADS_1
Tiwi dan Kak Gery hendak melenggang pergi. Namun secepat kilat, Tata mencegah Tiwi dengan mencekal tangannya.
"Tunggu, Wi! kejutannya gimana? masa kamu mau pulang gitu aja sih?" Bisik Tata.
"Astagfirullah... aku lupa, Ta! ya udah, yuk! kita pergi sekarang!" Sahut Tiwi.
"Kalian bisik-bisikin apaan sih?" Tegur Kak Gery.
"Gak apa-apa ko, nanti juga Kakak tau," Sahut Tiwi terkekeh.
"Astagfirullah, Yang! kalau kamu goda Kakak seperti ini terus Kakak benar-benar akan lepas kendali untuk
cubit pipi kamu," Tutur Kak Gery.
Setelahnya membantu Tata memberi kejutan untuk Kak Iman,Tiwi dan Kak Gery akhirnya pulang dengan perasaan lega. Mereka bisa mengungkapkan hubungan mereka pada waktu yang tepat.
"Sayang, I Love You." Ucap Kak Gery sambil mengendarai motor sportnya.
"Kakak bilang apa? Tiwi gak denger?" Seru Tiwi yang kini sedang dibonceng Kak Gery.
Tiba-tiba saja Kak Gery menepikan motornya dan berbalik ke arah Tiwi. Dibukanya helm yang Tiwi kenakan sambil menatap kedua manik-manik mata indah milik Tiwi. Kak Gery mengusap lembut pipinya dengan penuh perasaan sambil mengucapkan kata-kata yang ia lontarkan tadi di atas motornya.
"I Love You, sayang. Kakak benar-benar gak sabar ingin segera memiliki kamu seutuhnya." Tutur Kak Gery.
"Tiwi masih harus Sekolah, Kak! setidaknya 4 bulanan lagi Tiwi harus menyelesaikannya, baru Kakak bisa memiliki Tiwi seutuhnya." Sahut Tiwi.
"Maksud Ayang?" Tanya Kak Gery.
"Maksud Tiwi ya... kalau Kakak sudah menikahi Tiwi tentunya" Sahut Tiwi.
"Maksud, Ayang, Ayang setuju kalau Kakak lamar
kamu setelah kamu lulus nanti?" Tanya Kak Gery antusias.
Tiwi hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dan hal itu berhasil membuat Kak Gery berjingkrak kegirangan. Kak Gery benar-benar bahagia mendengar keputusan Tiwi, hingga akhirnya Kak Gery melajukan kembali motor sportnya dengan kecepatan yang cukup kencang, karena perasaan bahagianya yang menggebu-gebu.
brukkkkk......
Suara benturan cukup keras terdengar begitu nyaring di sebuah jalanan yang cukup sepi. Sepasang anak Adam yang sedari tadi tengah berbahagia, akhirnya terpental cukup jauh ke arah trotoar yang membuat mereka seketika tak sadarkan diri. karena terlalu bahagia. Kak Gery tak bisa mengontrol laju motornya sendiri, hingga akhirnya dia menabrakkan motornya ke arah trotoar yang mengakibatkan mereka berdua mengalami kecelakaan tunggal yang cukup mengenaskan.
"Sayang berjanjilah untuk selalu ada di sisi Kakak ya!" Ucap Kak Gery sebelum dia kehilangan kendali.
"Kak! bawa motornya jangan kebut-kebutan! Tiwi takut!" Seru Tiwi sambil memeluk erat tubuh Kak Gery.
"Tenang aja, Yang! Kakak udah biasa membawa motor dengan kecepatan seperti ini, kamu pegangan yang erat aja ya!" Tutur Kak Gery yang malah menambah kecepatan laju motornya. Hingga akhirnya, mereka di temukan tak sadarkan diri oleh Kak Haikal yang tak sengaja melihat motor sport mereka melaju kencang dan terpental.
"Astaga..." Ucap Kak Haikal tercekat sambil bergegas menghampiri Kak Gery dan Tiwi di posisi mereka terjatuh.
"Ger, elo baik-baik aja kan, Ger... Gery!" Seru Kak Haikal sambil menggoyang-goyangkan tubuh Kak Gery.
"Astaga, gue harus menelepon polisi dan ambulan sekarang juga!" Gumam Kak Haikal sambil menghubungkan teleponnya.
Tak lama kemudian mobil ambulan dan
polisi pun berdatangan. Akhirnya Kak Gery dan Tiwi segera di larikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
See you next episode 😘😘😘