
Akhirnya semua keluarga pun senang dengan keputusan Tiwi. Malam itu juga orangtua Kak Gery sudah menyiapkan cincin pengikat untuk Kak Gery sematkan di jari manisnya Tiwi.
“Ayo nak ulurkan tangannya! ini hanya sebagai simbolik saja, Ger! ayo pasangkan cincinnya!" Seru Umi Kak Gery setelah menyerahkan sebuah kotak perhiasan kecil pada anaknya.
“Iya Umi, Bismillahirrahmanirrahim…” Ucap Kak Gery penuh keyakinan sambil memasangkan cincin di jari manis Tiwi.
“Alhamdulillah, akhirnya semua rencana kita berjalan lancar ya, Bas! nah, sekarang waktunya kita makan-makan tadi kan cuman baru makan ta’jil aja, ayo silahkan jangan sungkan ya Bas, Rud, Mir!" Seru Kakek Tiwi sambil mempersilahkan tamu-tamunya menyantap hidangan.
“Iya Mat, wah… hidangannya begitu luar biasa, kelihatannya enak-enak semua, ayo semuanya mari makan, Bismillah…” Sahut Kakek Kak Gery sambil menyendok sedikit nasi ke piringnya.
Sementara itu Kak Gery dan Tiwi beralih ke teras rumah untuk mengobrol dan meyakinkan Tiwi atas pilihannya itu.
“Wi, kenapa kamu terlihat tidak senang dengan pertunangan ini? apa kamu menyesal ya sudah menerima Kakak?" Tanya Kak Gery setelah mereka berada di teras rumah Tiwi.
“Bukan begitu, Kak! Tiwi hanya merasa ini semua bagaikan mimpi! rasanya, kita baru saja saling mengenal kemarin! dan sekarang Kakak sudah mengikat Tiwi dengan pertunangan ini, Tiwi benar-benar masih merasa terkejut, Kak!" Sahut Tiwi mengungkapkan perasaannya.
“Ini semua sudah takdirnya Allah, Wi! yang jelas sekarang kita harus berusaha saling memahami dan mengerti satu sama lain, In Sya Allah Kakak akan berusaha sebaik mungkin supaya kamu semakin yakin dengan hubungan kita ini!" Tutur Kak Gery tulus.
“Terimakasih ya, Kak!" Ucap Tiwi merasa lega setelah mendengarkan penuturan Kak Gery.
"Ya udah, kalau gitu kita ke dalam lagi yuk! di sini terlalu dingin, Kakak khawatir kamu masuk angin jika
terlalu lama disini!" Seru Kak Gery seraya membantu Tiwi beranjak dari duduknya.
“Iya Kak, Kakak juga belum makan juga kan, Tiwi ambilkan sekalian ya,” Sahut Tiwi sambil berjalan ke dalam rumahnya.
Sesampainya di dalam rumah, Tiwi segera mengajak Kak Gery duduk di ruang makan rumahnya dan segera mengambilkan nasi serta beberapa lauk untuk Kak Gery. Tiwi menjadi semakin mantap dan yakin dengan keputusan yang dipilihnya. Tak terasa malam pun semakin larut, dan kini tibalah waktunya untuk keluarga Kak Gery berpamitan.
“Kek, Tiwi tuangkan airnya lagi ya!" Seru Tiwi sambil menyambar sebuah teko berisi air teh hangat.
“Tidak perlu nak! terimakasih, sepertinya ini sudah terlalu larut, kami semua begitu menikmati hidangannya hingga lupa waktu! kapan-kapan kita makan bersama di Resto ku lagi ya, Mat! aku dan anak-cucu ku harus pulang sekarang, sekali lagi terimakasih ya sudah di jamu dengan begitu baik!" Tutur Kakek Kak Gery panjang lebar.
"Jangan sungkan, Bas! kita kan sekarang sudah menjadi keluarga, ya sudah kalian hati-hati ya!” Sahut Kakek Tiwi sambil memeluk Kakek Kak Gery sebelum mereka berpisah.
“Bu, kami pamit dulu ya! terimakasih sudah mau direpotkan," Ucap Umi Kak Gery mengusap punggung tangan Ibu Tiwi yang sedang berjabat tangan dengan tangannya sendiri.
__ADS_1
“Kami tidak merasa direpotkan, ko! kalau begitu kapan-kapan kita kumpul-kumpul seperti ini lagi ya!" Sahut Ibu Tiwi dengan senyum terbaiknya.
"Iya Bu, harus itu!" Jawab Umi Kak Gery terkekeh.
“Wi! Kakak pulang dulu ya, kalau besok kamu mau ke luar telepon Kakak ya, biar Kakak antar kamu nanti!" Tutur Kak Gery setelah mendekati Tiwi yang sudah berdiri di depan rumahnya bersama keluarganya yang lain.
“In Sya Allah, Kak! nanti Tiwi hubungi Kakak deh kalau mau pergi, Kakak hati-hati ya bawa mobilnya, jangan ngebut-ngebut!" Sahut Tiwi mengingatkan.
“Ok Wi, Kakak pulang ya!" Ucap Kak Gery.
“Sayang, Umi pulang dulu ya! Semoga kamu cepat pulih! nanti kalau kamu udah pulih sepenuhnya, sering-sering main ke rumah ya! atau ke butik Umi juga boleh ko!" Seru Umi Kak Gery.
“Aamiin... In Sya Allah, Tan! nanti Tiwi coba main ke sana deh!" Sahut Tiwi.
“Kalau begitu kami pamit dulu ya, Assalamu’alaikum," Ucap Ayah Kak Gery mewakili keluarganya.
“Wa’alaikumsalam…” Jawab keluarga Tiwi serempak.
Keluarga Kak Gery akhirnya pulang dengan perasaan lega dan penuh bahagia. Keesokan harinya, Tiwi hendak cek up ke Rumah Sakit untuk mengontrol bekas luka operasinya. Awalnya Tiwi berencana
menelepon Kak Gery untuk memberitahunya sesuai yang dia katanya semalam. Namun, Tiwi mengurungkan niatnya karena tidak ingin merepotkan Kak Gery.
"Iya Bu, jadi ko!" Jawab Tiwi.
"kamu jadi minta antar nak Gery?" Sahut Ibu Tiwi
"Tiwi berangkat sendiri aja deh, Bu! Tiwi takut merepotkan nya! lagi pula Tiwi udah gak apa-apa ko sekarang!" Tutur Tiwi.
"Maaf ya! Ibu juga gak bisa antar kamu, sayang!" Sesal Ibu Tiwi yang memang tak bisa mengantar putrinya karena sebuah urusan penting yang tak bisa dia tinggalkan.
"Gak apa-apa, Bu! cuman cek up doang ko!" Sahut Tiwi.
"Ya udah, nanti kalau mau berangkat hati-hati ya!" Seru Ibu Tiwi.
"Iya Bu! kalau gitu Tiwi kasih kabar Kak Gery dulu ya!" Tutur Tiwi seraya menghubungi Kak Gery.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Wi?" Sapa Kak Gery setelah menerima panggilan telepon dari Tiwi.
"Wa'alaikumsalam Kak, Kakak lagi apa sekarang?" Tutur Tiwi bertanya.
"Kakak lagi mikirin kamu, Wi!" Gombal Kak Gery.
"Ish!! Kakak gombal deh!" Elak Tiwi seraya tersipu di seberang telepon.
"Ko gombal sih! Kakak ngomong kenyataan, ko! oh iya ngomong-ngomong ada apa nih telepon Kakak duluan? kangen ya?" Tanya Kak Gery kembali menggombal.
"Ihhh... Kakak! mulai lagi deh, Tiwi cuman mau kasih kabar aja tau!" Rajuk Tiwi pura-pura kesal.
"He... sorry deh, memangnya kabar apa sih, Wi?" Tanya Kak Gery setelah terkekeh.
"Hari ini Tiwi ada jadwal cek up, doakan Tiwi ya biar hasilnya bagus!" Sahut Tiwi.
"Cek up?! hari ini?! terus kamu berangkat sama siapa?" Cecar Kak Gery.
"Tiwi berangkat sendiri aja, Kak! Kakak mau ikut?!" Sahut Tiwi.
"Emm... Kakak kayanya gak bisa, Wi! maaf ya! hari ini Kakak masih banyak tugas di kampus, tapi nanti malam Kakak usahakan ke rumah kamu deh!" Tutur Kak Gery.
“Oh ya udah gak apa-apa, Kak! kalau gitu Tiwi berangkat sekarang ya, nanti malem kalau Kakak capek gak usah ke rumah aja, Kakak istirahat aja!" Sahut Tiwi mencoba mengerti.
“Maafin Kakak ya, Wi!" Sesal Kak Gery.
“Gak apa-apa Kak, kalau gitu Tiwi tutup teleponnya ya! Tiwi mau siap-siap berangkat sekarang soalnya, Assalamu’alaikum," Sahut Tiwi sebelum mengakhiri sambungan telponnya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
See you next episode guys 😘😘😘