
Assalamu'alaikum guys... Alhamdulillah... Tadinya males banget buat revisi novel pertama ini, tapi sampai hari ini bersyukur banget udah bisa sampai di titik ini, semoga masih ada yang sudi mampir membaca karya receh ku ini... makasih banyak banget buat yang masih setia membaca, dan ikuti kisah Tiwi dan Gery. Semoga kebaikan kalian Allah lipat gandakan pahalanya, Aamiin Allahumma Aamiin...
Happy reading...
.
.
.
.
.
"Belum Tante, Gery cuma udah tau kebenarannya lewat cerita Kakek tadi! maaf, kalau selama ini Gery udah bikin kalian khawatir dan kecewa," Lirih Kak Gery.
"Tante mengerti, nak! Apa yang kalian hadapi ini memang tidaklah mudah, semoga kalian berdua bisa melewatinya bersama-sama, ya!" Sahut Ibu Tiwi.
Beberapa menit kemudian, Ayah Tiwi memutuskan kembali ke kantornya karena waktu makan siangnya hampir habis.
"Bu, Ayah berangkat lagi ya!" Seru Ayah Tiwi.
"Iya, Yah! hati-hati ya!" Sahut Ibu Tiwi.
"Nak, Om tinggal dulu ya!" Tutur Ayah Tiwi berpamitan.
"Iya Om, hati-hati di jalan, ya!" Sahut Kak Gery seraya mencium tangan Ayah Tiwi.
Setelah kepergian Ayahnya, Tiwi memutuskan pergi ke dapurnya karena lapar. Namun sayangnya dia tidak menemukan makanan sedikit pun karena sang Ibu belum memasak lagi petang itu.
"Bu, gak ada makanan yang tersisa ya? Tiwi lapar banget nih," Ucap Tiwi setelah menghampiri meja makannya.
"Duh... maaf ya Wi, tadi Ibu belum sempat masak lagi, jadi sisa lauk yang tadi pagi, Ibu kasih ke Ayah! emm... gimana kalau sekarang kamu makan mie instan dulu aja, Ibu masakin, deh! sekalian ajak nak Gery juga ya!" Sahut Ibu Tiwi.
"Gak usah repot-repot, Tan! sebaiknya kamu ikut Kakak ke Resto aja ya! kebetulan Kakak juga belum sempat makan siang!" Seru Kak Gery menghampiri.
"Eh, gak usah deh, Kak!" Sahut Tiwi sungkan.
"Udah, gak apa-apa! ayo kita berangkat sekarang!" Ajak Kak Gery seraya menggenggam salah satu pergelangan tangan Tiwi dan menariknya.
"Ya udah, kamu pergi aja, Wi! Ibu juga sebenarnya gak tega kasih kalian makan cuma mie instan!" Tutur Ibu Tiwi.
"Maaf ya, Tan! Gery bukan gak suka makan mie instan, tapi Gery cuma gak mau merepotkan Tante!" Ucap Kak Gery.
"Tante ngerti ko, nak! santai aja! ya udah, kalian hati-hati di jalan ya!".
__ADS_1
"Kalau gitu, Gery sama Tiwi pamit dulu ya, Tan! Assalamu'alaikum." Tutur Kak Gery seraya mencium tangan Ibu Tiwi.
"Wa'alaikumsalam,".
Sesampainya di teras rumah, Tiwi tiba-tiba mendapat chat misterius dari seseorang dengan nomor yang tidak dia kenal. Di bacanya isi pesan tersebut, bisa di katakan sebagian isi chat tersebut merupakan ancaman yang di tujukan untuk Tiwi. Namun Tiwi tidak mau ambil pusing dan segera memasukkan kembali hpnya ke dalam tas selempang yang dia gunakan. Dia hanya berfikir positif, bisa saja chat itu salah sasaran dan bukan di tujukan untuk dirinya.
"Yang, ada apa? kenapa kamu seperti melamun?" Tegur Kak Gery yang membuat Tiwi tersadar dari lamunannya.
"Eh, Tiwi cuma inget tugas kampus aja ko, Kak! oh iya, besok kira-kira jam berapa fitting bajunya?" Tutur Tiwi mengalihkan pembicaraan.
"Kakak sih terserah kamu aja, Yang! oh iya, kamu gak keberatan kan Kakak panggil sayang, rasanya Kakak sangat nyaman panggil kamu dengan sebutan itu!" Sahut Kak Gery meminta persetujuan dari Tiwi yang langsung di jawab anggukan kepala oleh Tiwi.
Sekian belas menit akhirnya Tiwi dan Kak Gery tiba di Resto. Kebetulan saat itu Resto Kak Gery sedang ramai-ramainya, hingga saat Kak Santi melihat kemunculan mereka berdua, dia langsung tersenyum layaknya mendapat pertolongan dari sang Maha Penguasa.
"Bos, syukurlah kalian datang di waktu yang tepat! kita di sini benar-benar sedang keteter, di dalam sudah banyak pelanggan yang menunggu di layani, tapi kita kekurangan personil! Eka sedang cuti menemani istrinya yang melahirkan, jadi kita kesulitan membagi tugas!" Tutur Kak Santi panjang lebar setelah Tiwi dan Kak Gery masuk ke dalam Resto.
"Ya ampun, aku sampai lupa kalau Eka cuti! ya udah, kalau gitu kamu layani dulu aja ya, tamu-tamunya! biar bagian dapur aku yang bantu!" Seru Kak Gery memberi instruksi.
"Siap, bos! kalau gitu saya permisi!" Sahut Kak Santi merasa sedikit lega.
"Yang, kamu ke roof top duluan aja, ya! nanti Kakak susul ke sana, kamu gak apa-apa, kan?" Tutur Kak Gery.
"Engga apa-apa, ko! tapi biar Tiwi bantu Kak Santi dulu aja ya! kayanya dia benar-benar kewalahan, deh!" Sahut Tiwi.
"Tapi kamu, kan belum makan Yang! Kakak gak mau kalau kamu malah sakit nanti!" Tutur Kak Gery cemas.
"Hm... ya udah, deh! tapi kalau kamu capek langsung istirahat di atas ya! Kakak janji akan segera menyelesaikan pesanannya secepat mungkin di belakang!" Tutur Kak Gery mengalah.
"Oke! Kakak gak perlu khawatir, Kakak bantu di dapur aja! biar Tiwi yang bantu di sini!" Seru Tiwi dengan senyum manisnya.
"Aihhh... kamu bikin Kakak tambah gemes aja, deh! ya udah, Kakak bantu bagian dapur dulu ya! I sure miss you honey!" Ucap Kak Gery seraya berbisik di akhir ucapannya.
"Dasar gombal!" Sahut Tiwi tersipu dengan kedua pipi yang memerah.
Setelah drama romantis singkat itu selesai. Tiwi segera menghampiri Kak Santi yang ternyata benar-benar kewalahan menghadapi pelanggan. Kejadiannya sangat sama persis seperti saat dimana Tiwi pernah membantunya, sebelum Kak Gery kehilangan ingatannya. Kak Santi sangat bersyukur melihat bosnya itu kembali bersama dengan Tiwi lagi.
"Kak! Tiwi bantu ya!" Seru Tiwi sambil bersiap mencatat pesanan pelanggan.
"Loh, bukannya tadi bos Gery suruh kamu tunggu di atas ya, Wi! duh... kamu naik aja, ya! bisa-bisa nanti bos marah besar kalau tahu kamu bantu di sini!" Tutur Kak Santi cemas.
"Gak apa-apa Kak, Tiwi udah meminta ijin, ko sama Kak Gery! sini, biar Tiwi bantu, ya!" Sahut Tiwi seraya mengambil alih buku catatan menu.
"Ha... makasih banyak ya, Wi! Kakak jadi merasa gak enak sama kamu! udah beberapa kali loh kamu bantuin Kakak!" Tutur Kak Santi.
"Gak usah sungkan Kak, ayo! sebaiknya kita sekarang bekerja keras, supaya para pelanggan gak kecewa dengan pelayanan disini, yuk!" Seru Tiwi penuh semangat.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Kak Gery telah selesai membuat menu terakhir pesanan pelanggannya. Dia segera menuangkan masakan yang dia buat ke sebuah piring dan menatanya sedemikian rupa agar terlihat lebih menarik dan menggoda untuk di santap.
"Bos, sepertinya pesanannya udah bisa saya handle, sekarang! makasih ya untuk bantuannya!" Ucap salah satu koki Resto Kak Gery.
"Syukurlah, kalau gitu aku mau masak makanan buat Tiwi dulu, dia pasti udah lapar banget sekarang!" Sahut Kak Gery merasa bersalah. Niat hati ingin makan siang romantis bersama sang tunangan, tapi kenyataannya dia dan Tiwi malah harus bekerja dulu untuk membantu para karyawan Restonya.
"Wah... bos udah kembali lagi dengan tunangannya ya, selamat ya bos!" Ucap Koki Resto Kak Gery.
"Alhamdulillah...meski ingatanku belum pulih, tapi aku bersyukur, kalau aku gak kehilangan dirinya!" Sahut Kak Gery dengan senyum di wajahnya.
Selesai menata makanan yang dia masak untuk sang kekasih hati. Kak Gery segera menyimpannya di sebuah nampan yang nantinya akan di bawa oleh pelayan Restonya ke roof top, sesuai perintah darinya.
"San! Tiwi mana?" Tanya Kak Gery setelah berhasil keluar dari dapur Restonya.
"Dia lagi ke toilet bos, apa ada yang bisa aku bantu?" Sahut Kak Santi.
"Gak apa San, biar aku tunggu dia aja di sini!" Tutur Kak Gery mendaratkan bokongnya di sofa Restonya sendiri.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Tiwi menghampiri Kak Gery yang ternyata telah terpejam dan berselancar ke alam mimpinya. Sepertinya dia benar-benar lelah setelah membantu kokinya memasak tadi.
"Eh, Kak Gery kenapa tidur di sini?" Batin Tiwi menghampiri Kak Santi.
"kamu udah selesai Wi? bos barusan nyari kamu tuh!" Tutur Kak Santi.
"Oh, iya Kak! tapi kenapa Kak Gery malah tiduran di sofa? dia kan bisa tidur di markas kalau capek!" Sahut Tiwi
"Mungkin saking capeknya, Wi! ya udah, sebaiknya sekarang kamu bangunkan aja, suruh dia pindah ke markas!" Tutur Kak Santi memberi saran.
"Hm... ok, deh! tapi kira-kira dia marah gak ya kalau Tiwi bangunkan, kayanya Kak Gery benar-benar lelah hari ini!" Sahut Tiwi ragu.
"Aku rasa, dia gak akan marah Wi, kalau kamu yang bangunkan! lagi pula, bos bukan tipe orang yang bakal marah-marah gak jelas jika hanya di bangunkan tidur aja! seharusnya kamu sendiri udah tau dong sifat dan kebiasaannya selama ini!" Tutur Kak Santi.
"Ha... Tiwi memang sudah hafal dengan sifat dan kebiasaannya, Kak! tapi semenjak dia hilang ingatan, banyak sekali yang berubah dari diri Kak Gery, Tiwi jadi ragu, Kak!" Lirih Tiwi.
"Udah, gak usah banyak mikir! sana gih bangunkan! kasian loh kalau kelamaan tidur di sofa, nanti sakit leher lagi!" Seru Kak Santi seraya mendorong tubuh Tiwi agar bergegas.
Sambil mengumpulkan keberaniannya Tiwi menghampiri Kak Gery yang masih terlelap di atas sofa Resto. Ada desiran hangat, yang menyapa hatinya kala melihat wajah Kak Gery sedekat itu. Tanpa menunggu lagi, akhirnya Tiwi menepuk-nepuk lengan Kak Gery supaya terbangun dari tidurnya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
See you next episode 😘😘😘