
"Gak semua pria dewasa sama, Yang! apa lagi Aby. Aby gak akan sama dengan pria bajingan mana pun! lagi pula, Aby kan udah punya yang lebih seksi dan cantik! ngapain Aby tergoda lagi," Ucap Kak Gery seraya mencolek hidung sang istri dan mengecupnya.
"Gombal, Aby cuma mau bilang, kan kalau Tiwi sekarang makin gemuk." Sahut Tiwi seraya cemberut.
"Ma Sya Allah, Ayang makin seksi deh kalau lagi cemberut kaya gini! kayanya Aby bisa khilaf kalau gak liat tempat kita sekarang!" Ucap Kak Gery seraya mulai mengecup lama bibir ranum istrinya.
"Aby! ini, kan masih siang! kalau ada yang liat gimana coba? udah ah, Tiwi mau tidur lagi aja!" Sahut Tiwi melorotkan tubuhnya sambil menarik selimut untuk menutupi wajahnya yang memerah seperti udang rebus.
Kak Gery hanya bisa terkekeh melihat tingkah menggemaskan istrinya. Perasaannya kini lebih lega, akhirnya dia pun ikut membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sempit sambil memeluk Tiwi dengan erat.
"By! kenapa malah ikut naik, sih? tempat tidurnya kan gak muat," Protes Tiwi seraya berusaha melepas pelukan suaminya.
"Aby ngantuk juga, Yang! semalam, kan Aby gak bisa tidur! Aby bener-bener gak tenang sebelum mengetahui motif orang itu kirim foto ke hp Ayang!" Tutur Kak Gery seraya mengendus aroma tubuh istrinya yang sudah sangat ia rindukan.
"Aby, nanti ada suster yang masuk! malu tau!" Ucap Tiwi seraya mencoba melepaskan diri dari kejahilan sang suami yang terus mengendus ceruk lehernya.
"Biarkan aja, Yang! Aby bener-bener ngantuk, sekarang!" Lirih Kak Gery yang semakin membenamkan wajahnya di ceruk leher Tiwi.
"Hm... dasar bayi besar," Batin Tiwi mengalah, membiarkan sang suami terlelap di sampingnya.
Beberapa menit kemudian, Tiwi mendengar deru nafas suaminya yang mulai teratur. Tiwi menjadi merasa bersalah pada suaminya karena sudah menuduhnya berselingkuh dengan wanita lain. Apa lagi Kak Gery sampai tidak bisa tidur karena ingin segera mendapatkan bukti untuk membuat dirinya percaya dan tak salah paham lagi.
"Maafin Tiwi, ya By! gara-gara Tiwi, Aby harus mencari bukti sampai gak tidur semalaman. Tiwi janji! kedepannya, Tiwi akan lebih percaya lagi sama Aby!" Batin Tiwi seraya mengelus tangan suaminya yang melingkar di atas perutnya.
Sore harinya, di rumah Tiwi sudah terlihat ramai di datangi oleh para ibu-ibu pengajian yang akan . mendoakan kesehatan serta kehamilan Tiwi dan bayi yang di kandungnya.
"Bi, apa kuenya udah semua? itu yang di depan kayanya belum ada suguhan apa pun, deh!" Seru Kak Desi sambil memeriksa kembali suguhan untuk Ibu-ibu pengajian.
"Udah ko, Des! barusan Yani udah ambil dua piring buat suguhan di depan!" Sahut Bi Atik.
"Oh, ya udah deh. Kalau gitu Desi masuk lagi aja ya buat mulai acaranya!" Tutur Kak Desi sambil melenggang.
...****************...
"Mas! Mas jadi, kan antar aku ke rumah Tiwi? aku mau sama kamu perginya, baby twins pasti rewel kalau gak ada kamu," Tutur Andrina sambil menelepon suaminya dan mengganti popok salah satu anak kembarnya.
"Iya, Yang! Mas otw jemput kamu sekarang, deh! ya udah, Mas tutup dulu teleponnya, ya! Assalamu'alaikum," Sahut Kak Haikal sebelum mengakhiri sambungan telepon dari istrinya.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya, Mas!" Seru Andrina.
Beberapa menit kemudian, Kak Haikal sudah sampai di apartemennya dan segera memboyong anak istrinya untuk menyambangi kediaman orangtua sahabat istrinya. Mereka tampak kompak saat menjaga kedua anak kembarnya secara bergantian.
__ADS_1
"Mom, kayanya baby Al haus, deh! Mommy kasih dulu dia Mimi, gih! biar Daddy yang gendong baby El sekarang!" Tutur Kak Haikal setelah sampai di rumah orang tua Tiwi dan ikut duduk di antara Ibu-ibu pengajian yang ada di teras rumah Tiwi.
"Oh... sayang Mommy, haus ya nak! sini Mimi dulu!" Sahut Andrina menukar anak kembarnya pada sang suami.
"Ya ampun, gemesnya! berapa bulan, Dek?" Tanya salah satu Ibu-ibu pengajian yang duduk di sebelah Andrina.
"9 bulan, Bu!" Jawab Andrina sambil memberi Asi pada putranya.
"Wah, lagi lucu-lucunya, ya! ini kembar ya anaknya?" Tanya Ibu pengajian lagi.
"Iya, Bu!" Jawab Andrina.
"Yang, bukannya si Iman sama Tata mau datang juga, ya? kenapa mereka belum keliatan?" Tanya Kak Haikal.
"Gak tau, Mas! mungkin mereka kena macet, kali!" Sahut Andrina.
Di Rumah Sakit sendiri, Umi Kak Gery terlihat panik sekaligus cemas setelah dirinya mengetahui kabar jika sang menantu masuk Rumah Sakit.
"Assalamu'alaikum," Ucap Umi Kak Gery sambil memasuki ruangan rawat inap Tiwi.
"Wa'alaikumsalam," Jawab Tiwi dan sang suami kompak.
"Sayang, kenapa kamu gak bilang sama Umi, sih kalau kamu sakit? Umi bener-bener khawatir sama kamu dan calon cucu Umi, kalian baik-baik aja, kan?" Cecar Umi Kak Gery.
"Hm... syukurlah, Umi kan udah bilang supaya kamu tinggal di rumah Umi, jadi Umi bisa jagain kamu selagi Gery kerja!" Tutur Umi Kak Gery membelai lembut kepala Tiwi.
"Gak apa-apa, Mi! Tiwi cuma gak mau Umi repot! apalagi Umi juga harus kerja juga kan!" Sahut Tiwi.
"Tapi, kan Umi bisa ajak kamu ke butik sayang, jadi kamu juga gak merasa bosan!" Tutur Umi Kak Gery.
"Lain kali aja, ya Mi! Tiwi lebih nyaman di rumah soalnya," Sahut Tiwi halus.
"Ha... ya udah, kalau memang kamu tetap gak mau pindah ke rumah Umi, kamu harus janji sama Umi gak akan kelelahan kaya gini lagi, ok!" Seru Umi Kak Gery.
"Assalamu'alaikum," Ucap Tata dan Kak Iman yang baru saja tiba.
"Wa'alaikumsalam, loh kalian ke sini juga ya?" Jawab Tiwi sambil melayangkan pertanyaannya.
"Ya, iya lah Wi! Kamu kenapa gak kasih aku kabar sih kalau masuk Rumah Sakit gini? are you ok, beb? baby di sini juga baik-baik aja, kan?" Ucap Tata.
"Kita baik-baik aja, Onty! makasih ya udah nengok ke sini!" Sahut Tiwi.
__ADS_1
"Sama-sama, Beb! eh, btw gimana acara syukuran 4 bulanannya, Wi? apa di batalin, ya?" Tanya Tata.
"Jadi, ko! Ibu sama Ayah tetap melangsungkan syukurannya! lagi pula persiapannya kan udah siap semua, jadi mereka tetap melangsungkannya di rumah," Tutur Tiwi.
"Oh, gitu ya! Astaghfirullah, aku lupa kasih kabar Andrina, Wi?" Ucap Tata seraya menepuk keningnya sendiri.
"Ya udah, telepon dulu gih, kan kasihan kalau dia nunggu sendirian di rumah Ibu!" Seru Tiwi.
"Duh... ok deh, aku tadi keburu panik sih waktu Kak Gery kasih kabar kamu masuk Rumah Sakit, aku telepon dulu dia deh sekarang!" Sahut Tata sambil mengotak-atik hpnya untuk melakukan sambungan telepon pada Andrina.
"Hai baby Caca! makin gemes aja sih, nak! duh... ini pipi atau bakpao sih, gemes banget, deh." Ucap Tiwi seraya mencubit pipi cabi baby Caca yang di gendong Kak Iman.
"Apa kalian udah tau, jenis kelamin anak kalian?" Tanya Kak Iman.
"Belum Kak, dia masih malu-malu! ngumpet terus tiap di periksa," Kekeh Tiwi sambil terus memainkan pipi cabi baby Caca.
"Wah, kalau gitu sama kaya Tata waktu hamil Caca, dong! kayanya bayi kalian juga cewek deh!" Sahut Kak Iman.
"Semoga aja, Kak! jujur, kalau di tanya pengennya anak cewek atau cowok? Tiwi pengen banget anak cewek! tapi semuanya Tiwi pasrahkan lagi sama Allah, Kak! mau cewek atau cowok pun, Tiwi pasti seneng. Biar gimana pun juga, anak itu kan titipan
dan anugrah terindah yang Allah beri, jadi Tiwi gak terlalu mempersalahkannya," Tutur Tiwi.
"Hai baby Caca? gendong sama Om, yuk!" Seru Kak Gery yang baru saja menghampiri setelah sebelumnya mencuci mukanya di kamar mandi.
"Ente gak ke kantor, Ger?" Tanya Kak Iman.
"Ana ambil cuti, Man! Ana mau temani istri istirahat selama seminggu ini!" Tutur Kak Gery menjawab.
"Bagus, dong! istri hamil itu emang butuh banget perhatian, Ger! apa lagi sekarang istri ente kandungannya makin membesar, Tiwi pasti butuh banget suami yang bisa membantunya dalam segala hal!" Ucap Kak Iman.
"Iya, Man! ana juga mikirnya gitu! jadi ana ambil cuti seminggu ini," Jawab Kak Gery sambil membawa baby Caca ke arah sofa dan memberinya sebuah biskuit.
.
.
.
.
.
__ADS_1
See you next episode 😘😘😘