
"Kejutan? apa sih? Ayang bikin Aby penasaran aja, deh!" Ucap Kak Gery.
"Udah, pokoknya Aby mandi dulu sana! Tiwi buatkan teh hangat dulu, ya!" Sahut Tiwi mendorong suaminya menuju kamar mandi.
15 menit kemudian, Kak Gery baru saja selesai dengan ritual membersihkan dirinya. Dia segera melenggang ke arah dapur rumahnya untuk mencari keberadaan Tiwi, yang ternyata sedang menyiapkan makanan untuknya.
"Emm... wangi banget masakannya! Aby jadi makin lapar, deh! eh, Ayang kenapa pake masker? Ayang sakit ya?" Cecar Kak Gery seraya mencoba membuka masker yang Tiwi gunakan.
"Jangan, By! Tiwi lagi sedikit flu soalnya, jadi Tiwi pake masker biar virusnya gak menyebar kemana-mana," Sahut Tiwi beralasan.
"Kamu beneran sakit, Yang? sejak kapan? kenapa gak bilang sama Aby sebelumnya, sih!" Ucap Kak Gery cemas.
Tiwi segera mematikan kompor dan berbalik menghadap suaminya. Tangannya membingkai wajah tampan sang suami seraya menatapnya dengan lekat.
"Tiwi baik-baik aja, By! bahkan sangat baik, Aby makan dulu ya sekarang! pasti, tadi gak sempet sarapan, kan!" Seru Tiwi mengecup sekilas bi*** ranum suaminya.
"Eh, ko cuma di kecup, Yang! sekarang udah berani goda, Aby ya! awas aja, setelah sarapan kesiangan ini, Aby bakal makan Yang juga!" Sahut Kak Gery yang membuat Tiwi terkekeh.
Kurang lebih 20 menit, Kak Gery menyelesaikan sarapannya yang sudah sangat siang itu. Dia segera mencuci piring bekas makannya sendiri agar sang istri tidak terlalu lelah mengurus rumahnya.
"By, Aby udah selesai makannya? kita ke kamar sekarang, yuk! Tiwi mau tunjukkan sesuatu sama, Aby!" Tutur Tiwi mengajak suaminya beranjak ke kamar mereka.
"Tumben ngajak duluan, ada apa sih? kayanya kejutannya benar-benar istimewa ya!" Sahut Kak Gery.
"Udah, Aby duduk dulu aja di tempat tidur! Tiwi bawa dulu kotak hadiahnya, ya! bentar," Ucap Tiwi yang begitu di patuhi oleh Kak Gery.
"Kamu mau kasih kejutan apa sih, Yang? bikin Aby penasaran aja deh," Tanya Kak Gery tak sabar.
"Ada deh! Aby tutup mata dulu ya! nanti kalau udah Aby buka kotak hadiahnya, Aby boleh buka mata lagi!" Seru Tiwi.
"Ko, harus tutup mata segala? nanti kan susah buka kotaknya," Sahut Kak Gery beralasan.
__ADS_1
"Usah nurut aja, kotaknya juga mudah di buka, ko! Aby tutup mata ya, sekarang! jangan ngintip," Ucap Tiwi seraya meletakkan kotak berukuran sekitar 20cm itu pada telapak tangan suaminya yang sudah memejamkan mata.
"Ok...ok! Aby boleh buka sekarang gak, nih? kotaknya lumayan besar juga, tapi ko ringan, ya?" Gumam Kak
Gery seraya meraba kotak yang dipegangnya.
Dengan perlahan, Kak Gery merobek kertas yang sering di pakai untuk membungkus kado itu dengan hati-hati. Perasaannya semakin tak karuan saat tangannya sudah membuka kotak tersebut dan siap untuk membuka matanya.
"Yang, ini udah ke buka semua, kan kotaknya?" Tanya Kak Gery memastikan.
"Iya, By! sekarang, Aby boleh buka matanya!" Ucap Tiwi.
Remang-remang, mata Kak Gery melihat sebuah benda yang cukup tidak asing baginya. Di raih dan di baliknya bernada tersebut, hingga menampakkan garis-garis merah yang begitu jelas terpampang.
Mata Kak Gery seketika berkaca-kaca, bibirnya pun sudah bergetar tak tertahankan menahan haru bahagia. Kak Gery segera melirik ke arah sang istri seraya mendekap dan menghujani kepala Tiwi dengan ciuman bertubi-tubi.
"Yang, ini... kamu gak lagi bohongin Aby, kan?" Ucap Kak Gery mencari jawaban kesungguhan.
"Makasih, Yang! Makasih udah memberikan kebahagiaan yang sangat sempurna di hidup Aby, Aby janji, Aby akan menjaga kalian berdua jauh lebih baik lagi mulai sekarang!" Tutur Kak Gery di sela isak bahagianya.
"Sama-sama, By! Tiwi juga janji, Tiwi akan selalu belajar dan terus belajar lagi supaya bisa menjadi istri dan calon Ibu yang baik untuk anak-anak kita kelak!" Sahut Tiwi mempererat pelukan suaminya.
Haru bahagia begitu terpancar di wajah kedua pasang manusia yang tengah menunggu buah hatinya itu. Mereka sama-sama berjanji dan akan selalu belajar untuk memberikan yang terbaik bagi keluarga kecilnya itu.
"Oh, iya! Ayang udah periksa ke Dokter belum?" Tanya Kak Gery melerai pelukannya dan beralih membingkai wajah sang istri dengan kedua tangannya.
"Udah, By! kemarin waktu ke rumah Umi, Tiwi muntah-muntah! karena curiga, akhirnya Umi suruh testpack pake yang di kasih Tata! pas Tiwi sama Umi udah tau positif, Umi langsung ajak Tiwi periksa ke Dokter, deh!" Tutur Tiwi menjelaskan.
"Hm... sayang banget Aby gak bisa temenin Ayang, kemarin! lain kali, Aby yang temani ke Dokternya ya, Yang! Aby juga gak mau melewatkan perkembangan anak kita!" Sahut Kak Gery mengelus lembut perut Tiwi yang masih terlihat rata.
"Gak apa-apa, By! yang penting calon anak kita kondisinya sehat dan baik-baik aja!" Ucap Tiwi mengelus sebelah rahang sang suami yang kembali menatapnya teduh.
__ADS_1
"Terus, Dokter bilang apa aja, kemarin? ada makanan yang di larang di konsumsi gak? atau, Ayang di suruh makan obat penguat janin?" Cecar Kak Gery.
"Gak ada larangan makanan, ko By! cuma Dokter bilang, Tiwi harus sedikit membatasi aktivitas sama minum obat-obatan yang udah diresepkan," Sahut Tiwi.
"Tapi kata Ayang kemarin muntah-muntah, ya? apa penyebabnya? maafin Aby, ya! Ayang jadi harus kesakitan kaya gini!" Ucap Kak Gery seraya membingkai wajah sang istri.
"Gak apa-apa, ko By! Dokter bilang, hal itu wajar-wajar aja buat Ibu hamil di trimester pertama, soalnya kondisi hormon nya masih menyesuaikan. Nanti juga mual nya hilang sendiri, ko!" Sahut Tiwi seraya mengusap tangan suaminya yang masih membingkai wajah cantiknya.
"Hm... kamu emang pelengkap kebahagiaan Aby, Yang! makasih ya, rasanya Aby gak akan pernah bisa membalasnya dengan apa pun juga!" Ucap Kak Gery seraya kembali menarik tubuh mungil istrinya ke dalam dekapan.
4 bulan telah berlalu, kini Tiwi bisa sedikit merasa lega karena sudah tidak merasakan morning sickness yang menyiksanya setiap pagi. Hari ini jadwalnya ke kampus bersama kedua sahabatnya yang ternyata memilih menitipkan anak-anaknya pada jasa baby sister, setelah mendapat persetujuan dari para suami suaminya.
"Guys, Kalian emang gak sayang, ya waktu kalian jadi lebih sedikit sama anak-anak?" Tanya Tiwi saat mereka bertiga duduk di sebuah tikar yang mereka gelar di taman kampus yang cukup sejuk.
"Engga lah Wi, kita kan bawa mereka kemana-mana sekarang, ya meski kadang suka gak tega juga sih sebenarnya." Sahut Andrina seraya menatap kedua jagoan pelipur hatinya yang semakin tumbuh dengan sehat.
"Iya, Wi! lagi pula kita kan pakai baby sister juga gak sampai seharian, kalau malam atau waktu libur dan senggang, kita jaga sendiri, ko! jadi kita masih bisa melihat pertumbuhan anak kita!" Timpal Tata menambahkan.
"Wah... ternyata perjuangan kita begitu berat juga, ya sebagai seorang Ibu. Semoga aja, anak-anak kita nanti gak pernah mendapat kekurangan kasih sayang dan perhatian lagi!" Gumam Tiwi seraya mengelus perutnya yang sudah sedikit menonjol.
.
.
.
.
.
See you next episode 😘😘😘
__ADS_1