
"Apa aku harus mengingatkan kamu lagi ya? lagi pula kamar ini terlalu sempit untuk kita berdua, jadi aku udah putuskan, kalau kita akan tinggal di apartemen, aja." Tutur Kak Haikal setelah memiringkan badannya menghadap Andrina.
"Kenapa aku selalu gak di kasih pilihan sih?" Lirih Andrina setelah menghela nafasnya secara kasar.
Tiba-tiba, Kak Haikal menyentuh pipi Andrina dan memberi senyum terbaiknya.
"Sudah! Jangan dipikirkan lagi, mungkin ini memang takdir kita sayang," Ucap Kak Haikal dengan tatapan sayu nya.
"Ihhh... gak usah lebay deh, pakai sayang-sayangan segala lagi, kita kan gak sedekat itu!" Gerutu Andrina dengan bibirnya yang mengerucut.
"Lagi pula sejak kapan Kakak menjadi sopan begini? aku jadi curiga deh, jangan-jangan Kakak memang udah merencanakan ini sejak awal ya?" Tutur Andrina menyelidik.
"Hm... seharusnya kamu senang dengan perubahan aku, Drin! tapi, ya sudahlah. Toh, aku memang sudah menikah sama kamu. Dan satu hal yang harus kamu tau, aku sama sekali gak pernah merencanakan pernikahan ini, aku juga gak mau pernikahanku hanya di rayakan seperti tadi. Maka dari itu, sebaiknya kamu gak usah berpikiran negatif lagi sama aku, mau bagaimana pun juga, sekarang kita sudah sah menjadi suami istri." Tutur Kak Haikal panjang lebar.
Andrina kembali menghela nafasnya, dia bersikeras menerima kenyataan itu meski hatinya kini masih bertolak belakang dengan keadaan.
"Ya udah, sebaiknya kita tidur sekarang, aku gak akan menyentuh kamu, kalau kamu masih belum siap, Drin!" Ucap Kak Haikal yang membuat Andrina mematung menatapnya.
"Kakak gak berbohong, kan?" Tanya Andrina.
"Aku gak bakal memaksa kamu, sayang!" Sahut Kak Haikal meyakinkan.
"Baiklah, makasih." Lirih Andrina seraya mencoba memejamkan kedua matanya.
Keesokan harinya, Tiwi sudah di perbolehkan pulang oleh Dokter. Dan entah mengapa, sejak semalam Kak Gery tak juga pulang ke rumahnya. Dia lebih memilih menemani Tiwi di ruangannya. Kedua orangtua Tiwi hanya bisa melihat kelakuan calon menantunya tersebut dengan tatapan sendu. Mereka berharap jika Kak Gery bisa secepatnya sembuh dan bisa menjalin kembali hubungannya dengan sang putri.
"Nak, Tiwi sudah di perbolehkan pulang oleh Dokter, sebaiknya kamu juga pulang saja ya! kamu pasti lelah kan menunggu Tiwi seharian," Seru Ibu Tiwi.
"Gak apa-apa, Tan! Gery antar kalian pulang sekalian aja ya," Sahut Kak Gery yang malah menawarkan diri untuk mengantarkan mereka.
"Kami bisa naik taksi, nak! Lagi pula kamu sudah menjaga putri kami semalaman, kami sangat berterimakasih! kami tidak tau harus membalasnya bagaimana. Sebaiknya, sekarang nak Gery pulang saja ya! nak Gery harus istirahat juga, biar tidak ikut-ikutan sakit!" Tutur Ibu Tiwi.
"Tapi Gery sama sekali tidak keberatan Tante, ijinkan Gery mengantar kalian ya!" Sahut Kak Gery bersikukuh.
"Yah! bagaimana?" Tanya Ibu Tiwi pada suaminya.
"Ya sudahlah, Bu! biarkan saja, kita turuti saja kemauannya kali ini, kasihan juga jika kita menolaknya," Ucap Ayah Tiwi.
"Emm... baiklah, kalau begitu Tante siap-siap dulu ya, nak!" Tutur Ibu Tiwi sambil mengemas barang-barang Tiwi.
Setelah menyelesaikan administrasi Rumah Sakit, Tiwi dan yang lainnya kembali ke rumah dan menyambung istirahat di rumahnya.
__ADS_1
"Nak, terimakasih banyak ya sudah mau direpotkan oleh kami, ayo silahkan di minum dulu tehnya! Tante bawakan makanan ringannya dulu ya," Ucap Ibu Tiwi seraya melenggang ke arah dapur rumahnya.
"Gak perlu repot-repot, Tan! Gery mau langsung pulang, ko! Gery baru ingat ada janji mengantar sepupu hari ini, Gery pamit sekarang ya," Sahut Kak Gery sambil beranjak.
"Wah, sayang sekali ya nak, padahal Om baru saja mau mengajak kamu menikmati teh hangatnya, loh!" Seru Ayah Tiwi.
"Lain kali aja Om, In Sya Allah nanti Gery berkunjung lagi deh," Tutur Kak Gery yang membuat kedua orangtua Tiwi saling menatap.
Mereka merasa aneh dengan sikap Kak Gery yang seolah-olah memang tidak kehilangan ingatannya. Namun sepertinya Kak Gery benar-benar belum sembuh saat dia bersikap biasa saja pada Tiwi.
"Ya sudah, hati-hati ya nak!" Seru Ibu Tiwi.
"Iya Tante, kalau begitu Gery pamit ya, semoga Tiwi lekas sembuh, Assalamu'alaikum." Sahut Kak Gery sambil melenggang ke depan rumah Tiwi.
"Wa'alaikumsalam," Jawab Ayah dan Ibu Tiwi.
Sementara itu Tiwi lebih memilih beristirahat di kamarnya sepulang dari Rumah Sakit tadi. Dia benar-benar bingung harus bersikap seperti apa terhadap Kak Gery. Meski jauh dari lubuk hatinya mengharapkan Kak Gery mengingatnya, namun Tiwi cukup sadar diri karena kenyataannya Kak Gery masih saja sama seperti sebelumnya yang tidak mengingat hubungan mereka sedikit pun.
"Assalamu'alaikum," Ucap Kak Gery sambil melangkah masuk ke dalam rumahnya.
"Wa'alaikumsalam, kamu dari mana aja, Ger? semalam kamu tidur di markas ya?" Cecar Umi Kak Gery.
"Gery tidur di Rumah Sakit, Mi! semalam temannya Tata Gery temukan tak sadarkan diri di pinggir jalan, jadi Gery membawanya ke Rumah Sakit," Tutur Kak Gery.
"Iya Umi, kenapa Umi sampai terkejut seperti itu? lagi pula dia udah gak apa-apa ko sekarang, dia cuman pingsan semalam. Tapi yang Gery bingung, dia pingsan akibat di bius seseorang, Mi!" Tutur Kak Gery.
"Astagfirullah, siapa yang mau mencelakai gadisnya Umi?" Ucap Umi Kak Gery keceplosan.
"Gadis? sejak kapan Umi punya anak gadis?" Tanya Kak Gery sambil mengerutkan keningnya.
"Ma... maksud Umi, temannya Tata, Ger! ya udah, sekarang kamu ke rumahnya Tata aja gih, sepertinya dia butuh bantuan kamu sekarang untuk mempersiapkan pernikahannya sama Iman," Tutur Umi Kak Gery mengalihkan pembicaraan.
"Pernikahan sama Iman? Umi gak bercanda kan? sejak kapan anak itu berhubungan dengan Tata? kenapa Gery gak tahu sih, Mi?" Cecar Kak Gery.
"Mereka udah lama menjalin hubungan, Ger! kamu aja yang gak tahu. Udah sana! makannya kamu jangan diam aja, bantu mereka gih!" Tutur Umi Kak Gery.
"Hm... ya udah deh, Gery mau mandi dulu, Mi!" Sahut Kak Gery sambil bergegas.
****************
"Aaaaaa...... emm!!" Teriak Andrina yang langsung di bungkam oleh tangan Kak Haikal.
__ADS_1
"Jangan berteriak, nanti orangtua kamu pada ke sini!" Ucap Kak Haikal.
"Emm...emm..." Gumam Andrina sambil menunjuk mulutnya agar di lepas dari bekapan tangan suaminya itu.
"Oh, sorry! aku refleks barusan, kamu gak apa-apa, kan?" Tanya Kak Haikal sambil membingkai wajah Andrina dengan kedua telapak tangannya.
Seketika Andrina menangkis tangan suaminya itu karena kesal. Dia benar-benar geram saat dia terbangun, dia menemukan tangan suaminya yang melingkar erat di perutnya.
"Ihhh.... dasar pembohong! pendusta! bukannya Kakak udah bilang ya, gak akan menyentuh aku sebelum aku siap, tapi kenapa main peluk sembarangan, sih?" Tutur Andrina mengomel.
"Sayang, aku gak meluk sembarangan, ko! aku cuma meluk kamu, istri aku! apa itu salah? lagi pula semalam kamu sendiri yang meminta untuk di peluk, apa kamu gak ingat, ya?" Sahut Kak Haikal.
"Bohong! aku gak mungkin melakukan hal yang memalukan seperti itu! memangnya cewek apaan aku, gak usah mengarang cerita demi membela diri, deh!" Tutur Andrina menggebu-gebu.
"Tapi itu kenyataannya, Yang! semalam kamu menggigil kedinginan, tadinya aku berinisiatif untuk menyelimuti kamu, tapi saat aku mau beranjak, kamu malah menarik aku sampai aku jatuh ke dalam pelukan kamu, Yang!" Sahut Kak Haikal menjelaskan.
"Gak! gak mungkin! ini pasti cuma alasan Kakak aja, kan! aku gak percaya," Ucap Andrina angkuh.
"Kalau kamu masih gak percaya, lalu ini bekas siapa? kamu sampai mencium dadaku semalam karena terus mendekat akibat menggigil," Tutur Kak Haikal sambil memperlihatkan dada bidangnya yang terdapat noda lip gloss yang Andrina kenakan semalam.
"Bodoh! bodoh! Kenapa aku malah berbuat hal memalukan itu sih, mau di taruh dimana mukaku sekarang, Kak Haikal pasti sangat bangga sekarang," Batin Andrina merutuk.
"Yang, dari pada bengong, lebih baik kita mandi ya sekarang! setelah itu kita sarapan sebelum ke apartemen," Tegur Kak Haikal membuyarkan lamunan Andrina.
"Aku kan gak bilang setuju, pokoknya aku gak mau tinggal di apartemen, aku mau tinggal di sini saja, titik!" Ucap Andrina tak mau di bantah.
"Tapi, Yang! sekarang kita udah menikah, akan lebih baik jika kita pisah rumah dengan orang tua, kita juga bisa belajar mandiri nantinya," Sahut Kak Haikal.
"Kalau aku bilang gak mau ya gak mau! kenapa maksa terus sih!" Tutur Andrina sambil bergegas ke kamar mandi.
"Astaga! ternyata benar kata Mamih, gadis ini benar-benar menggemaskan, apalagi saat marah seperti
itu," Gumam Kak Haikal terkekeh melihat kepergian sang istri menuju kamar mandi.
.
.
.
.
__ADS_1
.
See you next episode 😘😘😘