
30 menit kemudian, Ibu Tiwi menghampirinya di kamar untuk mengajaknya makan sebelum meminum obat yang Dokter berikan untuk Tiwi.
"Wi, makan sekarang ya! ajak Yani sekalian juga ya!" Seru Ibu Tiwi dari balik pintu kamar Tiwi.
"Iya Bu, Tiwi makan sebentar lagi deh," Sahut Tiwi dari dalam kamarnya.
"Kamu mau makan ya, Wi? aku pulang aja ya, lagi pula aku harus mengantar jahitan Bu Resmi ke rumahnya," Tutur Yani beranjak.
"Ishh... Ko buru-buru banget sih, Yan! aku kan masih pengen cerita banyak sama kamu," Sahut Tiwi.
"Lain kali aja ya, Wi! aku harus mengantarkan jahitannya sebelum Ibuku marah, kamu kan hafal sendiri kalau aku gak nurut, pasti kena omelan nya yang kaya kereta itu!" Tutur Yani terkekeh di akhir ucapannya.
"Haist... dasar anak durhakim kamu, Yan! tapi makasih ya udah mau nemenin aku hari ini, kamu hati-hati ya pulangnya!" Sahut Tiwi mengalah.
...****************...
"Masih lama ya Kak?" Tanya Andrina yang kini berada di dalam mobil sport suaminya menuju apartemen.
"Sebentar lagi, Yang! kamu udah gak sabar ya, pengen cepat sampai di sana!" Sahut Kak Haikal.
"Engga, ko! aku cuman pengen ke toilet! aku udah kebelet nih," Tutur Andrina polos yang mengundang tawa Kak Haikal.
"Astaga, kenapa kamu gak bilang, Kakak kan bisa mencarikan kamu toilet dulu sebelum sampai!" Sahut Kak Haikal merasa gemas sendiri.
"Udah gak usah banyak ngomong, aku udah gak tahan nih! aku paling gak bisa pakai toilet umum, jadi buruan ya setir mobilnya!" Rengek Andrina.
"Ok-ok... sebentar lagi sampai ko, nah... kita parkir di bawah aja ya, biar bisa langsung naik lift ke apartemen!" Seru Kak Haikal.
"Terserah deh, yang penting bisa cepat sampai," Sahut Andrina.
Kak Haikal hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, ketika melihat kelucuan istri kecilnya itu. Dia benar-benar terhibur sekaligus bahagia bisa memiliki Andrina sebagai istrinya, meski cara mereka menikah bisa di bilang Instan, tapi Kak Haikal benar-benar bersyukur.
"Kamar mandinya ada di sana, atau kamu juga bisa menggunakan yang ada di dalam kamar," Tutur Kak Haikal menunjuk letak kamar mandinya setelah sampai di dalam apartemennya.
"Duh... aku benar-benar udah gak tahan, awas...awas..." Ucap Andrina sambil mengibaskan tangannya bergegas ke kamar mandi yang di tunjukkan oleh Kak Haikal.
"Haist... lama-lama aku bisa gak tahan juga kalau begini, tiap detik dia makin menggemaskan!" Gumam Kak Haikal sambil membawa ransel istrinya ke dalam kamar mereka.
"Ha.... lega banget. Eh, Kak Haikal kemana ya? ko sepi banget sih, apa jangan-jangan dia tinggalin aku ya?" Gumam Andrina sambil melenggang masuk ke dalam kamar yang terlihat masih gelap karena tirai nya belum di buka.
__ADS_1
"Udah selesai ya, Yang?" Tanya Kak Haikal dari arah belakang tubuh Andrina dan langsung memeluknya.
Seketika Andrina mematung dan meredakan debaran jantungnya akibat keterkejutannya. Namun sedetik kemudian dia pun mulai meronta agar terlepas dari pelukan suaminya itu.
"Ihhh... Kakak ngapain sih, udah ngagetin sekarang malah halangi aku buat berbenah lagi," Gerutu Andrina dengan wajah yang sudah memerah.
"Nanti aja, Yang! sekarang kita istirahat dulu aja ya! Kakak masih ngantuk, semalam kan kamu benar-benar liar," Bisik Kak Haikal di akhir ucapannya seraya terkekeh.
"Liar? memangnya aku hewan buas, liar? udah, lepas tangannya! atau kalau engga aku bakal teriak nih!" Ancam Andrina.
"Teriak aja! lagi pula ruangan apartemen ini kedap suara, jadi mau sekencang apa pun kamu berteriak tidak kan ada yang mendengarnya, sayang!" Tutur Kak Haikal sambil mengendus ceruk leher istrinya dari belakang.
Hal itu benar-benar membuat Andrina geli sekaligus kesal, karena Kak Haikal yang sudah sangat berani menyentuhnya tanpa permisi.
"Kak, geli! lepaskan... Drina mau berbenah sekarang!" Seru Andrina yang tak di gubris sama sekali oleh Kak Haikal.
"Nanti aja, Yang! kita tidur sebentar lagi ya! mumpung masih pagi, nanti aku bantu deh berbenah nya!" Sahut Kak Haikal yang masih asik mengendus aroma tubuh istrinya itu.
"Dasar cowok rese, nyebelin... bisa-bisanya dia mengendus leher aku kaya gini. Awas aja! aku bakal buat perhitungan, nanti!" Batin Andrina sambil mencoba melepaskan diri.
...****************...
"Bu, kita langsung ke tempat catering aja ya sekarang!" Seru Tata.
"Iya, Ta! kalau gitu Ibu pamit sama Tante kamu dulu ya," Sahut Ibu Tata sambil beranjak.
"Kalian mau pakai jasa catering ya? kenapa gak memesan dari Resto?" Tanya Kak Gery.
"Kita hanya ingin mencari tambahan makanan ringannya aja, Ger! untuk makanan beratnya kita udah pastikan dari Resto ente ko!" Sahut Kak Iman menjelaskan.
"Oh, ana pikir kalian mau cari menu baru," Tutur Kak Gery terkekeh.
"Kalian udah selesai ya memilih pakaiannya?" Tanya Umi Kak Gery menghampiri.
"Iya Tan, Tata mau sekalian pamit ya, Tata mau ke tempat catering sekarang!" Sahut Tata.
"Oh, gitu ya! ya udah kalian hati-hati ya! Ger, kamu tunggu Umi beres-beres sebentar ya, Umi mau minta di antar ke suatu tempat, kamu bisa kan?" Tutur Umi Kak Gery bertanya.
"Kemana, Mi?" Tanya Kak Gery
__ADS_1
"Nanti Umi kasih tau deh, sekarang Umi beres-beres dulu ya!" Sahut Umi Kak Gery bergegas kembali ke dalam ruangan kerjanya.
"Ayo Tante, Ta! Ger, ana pamit dulu ya, thanks ya udah mau bantuin hari ini!" Seru Kak Iman.
"It's ok Man, ente kaya sama siapa aja, kalian hati-hati ya!" Sahut Kak Gery.
"Siapp! Assalamu'alaikum," Ucap Kak Iman bergegas membukakan pintu butik Umi Kak Gery untuk mempersilahkan Tata dan Ibunya berjalan lebih dahulu.
Sepuluh menit kemudian, Kak Gery dan Uminya kini berhenti di sebuah toko bunga untuk membeli beberapa ikat bunga segar yang entah akan di berikan pada siapa oleh Umi Kak Gery itu.
"Mba tolong satu ikat ya bunganya, saya mau yang benar-benar fresh!" Seru Umi Kak Gery pada penjual bunga.
"Baik Nyonya, tunggu sebentar ya!" Sahut sang penjual bunga.
"Umi, sebenarnya kita mau kemana, sih? kenapa Umi membeli bunga segala?" Tanya Kak Gery yang sudah sangat penasaran dengan tujuan Uminya.
"Nanti juga kamu bakal tau ko, Ger!" Sahut Umi Kak Gery sambil melihat-lihat beberapa bunga yang di pajang.
"Tumben banget, Umi main tebak-tebakan kaya gini!" Gumam Kak Gery.
Setelah mendapatkan buket bunga segar pilihannya, Umi Kak Gery segera memerintahkan Kak Gery kembali melajukan mobilnya, kini tujuan mereka adalah Supermarket.
"Kamu mau ikut masuk apa tunggu di mobil, Ger?" Tanya Umi Kak Gery sambil beranjak turun dari mobil.
"Gery tunggu di mobil aja deh, Mi!" Sahut Kak Gery.
"Ya udah, kalau gitu tunggu sebentar ya, Umi segera kembali!" Seru Umi Kak Gery seraya bergegas masuk ke dalam Supermarket.
Sesampainya di dalam Supermarket, Umi Kak Gery segera memilih beberapa buah-buahan segar dan berbagai cemilan ke dalam troli yang di bawanya saat memasuki Supermarket. Setelah semua di rasa cukup, Umi Kak Kak Gery pun segera membayarnya Ke kasir dan kembali menghampiri Kak Gery di mobilnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
See you next episode 😘😘😘