
Selesai memperdengarkan Adzan dan Iqomah pada putranya, Kak Gery menyerahkan bayi merah tampan itu pada mertuanya di ruangan bayi. Meski rasa . bahagia telah menyertainya saat ini, namun pikiran . Kak Gery masih saja tak bisa tenang, mengingat . tentang seseorang yang harus dia beri pelajaran atas perbuatannya.
"No, temui saya sekarang juga!" Ucap Kak Gery via telepon.
Tak menunggu jawaban dari sang asisten, Kak Gery segera memutuskan sambungan telepon tersebut dan memilih kembali ke ruangan istrinya.
"Aby darimana?" Tanya Tiwi saat suaminya baru saja masuk ke ruangannya.
"Aby baru aja terima telepon, Yang! gimana sekarang? apa masih sakit, ya?" Sahut Kak Gery seraya mengelus lembut kepala istrinya.
"Udah sedikit membaik, By. Baby kita gak rewel kan?" Tanya Tiwi.
"Engga, ko! putra kita anak yang Soleh, dia sangat tahu kalau Bundanya butuh istirahat," Tutur Kak Gery tak henti mengecup tangan Tiwi yang ia genggam.
"Aby udah siapkan nama buatnya, kan?" Tanya Tiwi lagi seraya menatap teduh wajah sang suami
"Udah, Yang! Aby kasih nama dia Al Rayyan Saleem, gimana? Bunda suka gak?" Sahut Kak Gery membelai lembut kepala istrinya.
"Bagus, By. Tiwi suka namanya," Ucap Tiwi seraya tersenyum meski tubuhnya masih terasa sakit.
"By, apa Aby tau orang yang sengaja mengunci Tiwi di toilet?" Lirih Tiwi menatap kedua bola mata suaminya dengan lekat.
"Kemungkinan masih orang yang sama, Yang! Aby akan segera mengurusnya, Ayang tenang aja," Sahut Kak Gery seraya mengecup kening Tiwi.
"Aby jangan sampai pakai kekerasan, ya! Jika memang masalah ini masih bisa di selesaikan secara baik-baik, Tiwi minta selesaikanlah dengan baik-baik, Aby jangan sampai terbawa emosi," Tutur Tiwi mengingatkan sang suami yang terlihat begitu menggebu untuk membalas dendam.
"Tapi, Yang! kali ini mereka udah kelewatan banget, mereka gak cuma bahayakan Ayang, tapi mereka juga hampir bikin anak kita gak tertolong! Aby bener-bener gak bisa memaafkannya, Aby harus memberi mereka hukuman yang setimpal atas perbuatannya!" Sahut Kak Gery menggebu-gebu.
Tiwi begitu mengerti dengan perasaan suaminya yang begitu khawatir padanya dan sang buah hati. Saat ini Tiwi hanya bisa tersenyum untuk meredam emosi suaminya yang kian tersulut hingga memunculkan semburat merah di wajah tampan itu.
"Aby, sini!" Seru Tiwi seraya mengulurkan tangannya.
Kak Gery masih terpaku di tempatnya, namun sejurus kemudian dia segera menghampiri istrinya yang langsung menarik raganya untuk di peluk.
"I love you, By!" Ucap Tiwi dalam dekapan.
__ADS_1
"I love you more, Yang! maaf ya, Aby belum bisa menjadi suami yang baik buat kamu," Sahut Kak Gery.
"Tidak ada manusia yang sempurna, By! jangan ucapkan itu lagi, ok!" Tutur Tiwi sambil melerai pelukannya.
"Baiklah, kalau gitu Ayang tidur lagi, ya! Aby mau liat Baby Al, dulu." Sahut Kak Gery seraya mengelus wajah istrinya sebelum bergegas pergi ke ruangan bayi dimana sang anak yang sedang di temani mertuanya mendapatkan beberapa Vitamin yang di butuhkan bayi baru lahir.
Tak lama setelah keluar dari ruangan istrinya, Kak Gery di hampiri Nino yang baru saja sampai. mereka terlihat berbincang dengan serius sebelum akhirnya Kak Gery melangkahkan kakinya kembali ke ruangan bayi.
"No, pastikan kali ini mereka berdua benar-benar jera dengan hukuman yang kita berikan, jangan biarkan mereka lolos lagi!" Tutur Kak Gery penuh penegasan.
"Baik Pak, kalau gitu saya permisi" Sahut Nino melenggang pergi meninggalkan atasannya.
...****************...
Brakk...
Suara pintu terdengar di buka kasar oleh seseorang di kamar yang sedang Tami singgahi, dan ternyata orang itu adalah Viola.
"Tam, ayo! kita harus segera pergi sekarang!" Seru Viola seraya membuka lemari pakaian Tami dan memasukkan beberapa pakaian adiknya tersebut secara acak ke dalam sebuah koper.
"Aku banyak pekerjaan! kita harus pergi sekarang juga, ayo!" Ucap Viola seraya menarik salah satu pergelangan tangan Tami setelah selesai mengemasi pakaian adiknya.
Baru saja mereka tiba di lobi Apartemen tempat Viola dan Tami tinggal, mereka sudah di kejutkan dengan beberapa anggota polisi yang mengepung mereka lengkap dengan senjata api di masing-masing tangan mereka yang siap melepaskan pelurunya jika sasarannya melarikan diri.
"Saudari Viola dan saudari Tami, kalian sudah kami kepung! kami harap kalian berdua bisa ikut dengan kami untuk di mintai keterangan tanpa ada pemberontakan," Ucap salah satu Polisi di tempatnya mengambil posisi yang siap membidik sasarannya.
"Astaga, Kak! sebenarnya ada apa ini?" Tanya Tami seraya menatap sang Kakak untuk meminta penjelasan.
"Nona-nona, silahkan ikuti perintah kami! jika tidak, kami akan menyeret kalian dengan paksa," Ucap Polisi yang tadi berbicara.
"Kak? kenapa kita di kepung Polisi seperti ini?" Tanya Tami semakin gelisah.
"Diam bodoh! ini semua gara-gara kamu yang susah diatur, kalau kamu tadi menuruti ucapan ku, kita berdua gak akan tertangkap Polisi seperti ini!" Gertak Viola nampak tak kalah gelisah seraya melihat ke sekelilingnya.
Sejurus kemudian, Polisi segera meringkus kedua gadis tersebut dan memboyong mereka ke kantor Polisi untuk di mintai keterangan.
__ADS_1
"Lepaskan kami, Pak! kami tidak bersalah!" Seru Tami berusaha berontak.
"Silahkan jelaskan semuanya di kantor Polisi, Nona!" Sahut seorang Polisi yang menyeret Tami masuk ke dalam mobil Polisi.
"Kak, jelaskan pada Tami! apa yang sebenarnya terjadi?" Cecar Tami saat keduanya sudah berhasil masuk ke dalam mobil Polisi.
"Kamu gak perlu tahu, Tam! aku melakukan ini juga karena sakit hati melihat keadaan kamu selama ini," Ucap Viola seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Maksud Kakak? Tami benar-benar gak ngerti, Kak! apa yang Kakak lakukan? kenapa kita bisa di tangkap Polisi seperti ini?" Tanya Tami bertubi-tubi meluapkan rasa penasarannya. Karena geram akhirnya Viola memberi tahu alasan meraka sampai bisa di tangkap oleh Polisi seperti ini.
"Aku mengurung Tiwi di toilet Resto tadi, puas!" Lantang Viola yang membuat Tami seketika menganga.
"Astaga, kenapa Kakak lakukan itu? Tami kan udah bilang, kalau Tami udah mengikhlaskan semuanya, Tami..." Sahut Tami tercekat.
Sedetik kemudian bulir bening dari pelupuk matanya jatuh begitu saja di atas permukaan kulit Tami. Tami menyesalkan tindakan Kakaknya yang seolah tidak bercermin dari kelakuannya dulu yang kini sangat dia sesali.
"Silahkan duduk!" Seru seorang Polisi yang siap menanyakan beberapa pertanyaan pada kedua wanita yang baru saja mereka tangkap.
"Kak, sebaiknya Kakak mengaku aja! Tami gak mau mengulang kesalahan Tami lagi, Kakak harus berkata jujur sekarang!" Ucap Tami lirih.
"Tam, Kakak sayang sama kamu, Kakak lakukan ini semua cuma untuk membalaskan rasa sakit hati kamu, kenapa kamu malah memojokkan Kakak sekarang?" Sahut Viola kecewa.
"Kak, Tami gak pernah minta Kakak untuk balas dendam! Tami udah sadar Kak, cinta dan jodoh itu benar-benar gak bisa di paksakan," Tutur Tami terisak meratapi nasibnya dan sang kakak yang malah mengulang perbuatan bodohnya untuk mencelakai Tiwi.
.
.
.
.
.
See you next episode 😘😘😘
__ADS_1