
"Astagfirullah... kenapa aku bisa seagresif itu ya sama dia, sekarang dia pasti kecewa banget sama aku, apa yang harus aku lakukan? aku coba telepon dia deh buat minta maaf lagi!" Gumam Kak Gery setelah selesai membersihkan diri dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Drett... drett... drett...
"Kak Gery? mau apa lagi dia?" Ucap Tiwi setelah melihat layar hpnya yang menampilkan nama Kak Gery yang menelpon.
"Angkat, Yang! aku benar-benar gak tenang sebelum kamu memaafkan aku. Bahkan di saat seperti ini aku masih memanggilnya sayang!. Sebenarnya apa yang terjadi sama aku, sih?" Gumam Kak Gery sebelum akhirnya Tiwi menolak panggilan teleponnya.
"Sebaiknya aku matikan aja hpnya, aku benar-benar belum bisa melupakan kejadian tadi, aku belum siap untuk sekedar berbicara lagi dengannya" Gumam Tiwi sambil menonaktifkan hpnya.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar servis area, silahkan..." Tutur operator memberitahu sebelum akhirnya Kak Gery memutuskan sambungan teleponnya.
"Ternyata dia benar-benar masih marah sama aku. Aku tau, aku memang sangat bersalah, tapi setidaknya angkatlah teleponku ini. Hm... mungkin malam ini dia memang butuh menenangkan diri, sebaiknya aku biarkan dulu aja, biar besok aja aku temui dia di kampus!" Gumam Kak Gery bermonolog.
Keesokan harinya, ternyata Tiwi mengalami demam. Sehingga membuatnya harus beristirahat dan tak keluar rumah sedikit pun.
"Wi... makan dulu ya, nak! badan kamu masih demam, nanti setelah selesai makan kamu makan obatnya ya!" Seru Ibu Tiwi.
"Iya, Bu! maaf ya, Tiwi selalu membuat Ibu repot," Sahut Tiwi lirih.
"Udah, kamu sekarang makan aja ya!" Ucap Ibu Tiwi.
*******
"Hah? Tiwi sakit, Ta? apa jangan-jangan gara-gara kemarin kehujanan, ya?" Cecar Andrina panik saat Tata memberi tahunya perihal kesehatan sahabat mereka itu.
"Memangnya kemarin kalian pada kemana sih, aku kira kalian benar-benar mau ke rumah untuk bantu bantu, tapi malah gak jadi!" Sahut Tata yang kini tengah berjalan menyusuri jalanan dekat taman kampus mereka.
"Ceritanya panjang, Ta! nanti aku ceritakan deh, sekalian menjenguk ke rumah Tiwi!" Tutur Andrina.
"Ok deh, sepertinya banyak cerita yang aku belum tahu ya!" Sahut Tata sambil bergegas memasuki kelas mereka.
*******
"Umi, apa sebelumnya Umi kenal dengan temannya Tata, ya?" Tutur Kak Gery bertanya saat dia mengantarkan Uminya ke butik.
"Teman Tata yang mana, Ger?" Sahut Umi Kak Gery pura-pura tidak tahu.
"Tiwi, Mi! semalam, Umi sempat bertanya kan sama, Gery!" Ucap Kak Gery mengingatkan.
"Oh, i...itu karena Tina yang memberitahu Umi, katanya kemarin kalian mampir dalam keadaan basah kuyup ya?" Sahut Umi Kak Gery.
"Iya, Mi! kemarin Gery gak sengaja liat dia lagi duduk di halte depan apartemen Haikal, terus Gery ajak dia ke butik buat ganti pakaiannya yang basah. Tapi Mi, sebenarnya ada yang mau Gery tanyakan sama Umi! Entah kenapa, Gery selalu nyaman kalau di dekatnya, apa sebelumnya kita memang udah saling kenal ya?" Cecar Kak Gery panjang lebar.
"Suatu saat nanti, kamu pasti mengingatnya lagi Ger, semoga kalian memang benar-benar berjodoh" Batin Umi Kak Gery.
__ADS_1
"Mi! ko, malah bengong sih?" Tegur Kak Gery.
"Eh... iya Ger, Umi tiba-tiba baru ingat kalau hari ini, Umi ada meeting sama klien dari kota XXXXX, kamu ambil jalan tikus aja ya biar cepat sampai butik, soalnya Umi harus menyiapkan dulu sketsa sketsanya!" Tutur Umi Kak Gery mengalihkan perbincangan.
"Hm... baiklah, Mi!" Sahut Kak Gery tanpa membantah.
Setibanya di butik. Umi Kak Gery segera bergegas ke ruangannya demi meyakinkan anaknya akan hal tadi yang dia ucapkan. Meski memang sebenarnya dia ada meeting hari ini, tapi itu akan di lakukan ketika siang nanti.
"Umi benar-benar sibuk ya hari ini? kalau gitu, Gery ke Resto aja ya!" Ucap Kak Gery.
"Ya udah, sekalian tolong bawakan beberapa masakan buat Ayah nanti, ya! sepertinya Ayah akan pulang malam ini, Umi takutnya masih sibuk di sini!" Sahut Umi Kak Gery.
"Iya Umi, kalau gitu Gery pamit sekarang ya, Assalamu'alaikum" Ucap Kak Gery berpamitan.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Umi Kak Gery.
Sebelum menuju Restonya, Kak Gery lebih memilih pergi ke kampus almamaternya sesuai rencananya semalam. Namun sayangnya, hari itu dia tidak menemukan Tiwi di sana.
"Semoga aja hari ini, dia bisa aku ajak bicara!" Gumam Kak Gery saat memarkirkan mobilnya di area parkiran kampus.
"Tam, kayanya itu mobil Gery, deh! iya, itu benar-benar mobilnya, Tam!" Seru Gea sambil menunjuk ke arah mobil Kak Gery yang baru saja terparkir.
"Iya, Ge! ya udah, aku samperin dia dulu ya!" Sahut Tami bergegas.
"Hai, Ger! kamu mau ajak aku kencan ya hari ini? cewek rese kemarin benar-benar gak bisa puaskan kamu, kan!" Ucap Tami.
"Jaga ucapan kamu, Tam! dia gak seperti yang kamu pikirkan! dan yang jelas, dia lebih baik dari kamu!" Sahut Kak Gery sambil menunjuk tepat di depan hidung Tami.
Dengan segera Tami menepis telunjuk Kak Gery itu dan malah bergelayut manja di lengan Kak Gery tanpa tahu malu.
"Ayolah, Ger! aku tau ko, semenjak kecelakaan itu kamu kesepian, kan!" Tutur Tami dengan nada yang di buat manja.
"Jangan ngaco kamu, Tam! lepas, sepertinya kamu yang kesepian! kenapa kamu gak cari pria hidung belang aja untuk menyalurkan hasrat mu itu!" Ucap Kak Gery.
Plakk...
Sebuah tamparan akhirnya mendarat mulus di pipi Kak Gery. Tami begitu marah setelah Kak Gery mengucapkan kata-kata senonohnya yang merendahkan dirinya.
"Gue jadi gini juga karena elo, Ger! kenapa sih, elo masih aja gak bisa nerima gue?" Tutur Tami menggebu-gebu.
"Hei, nona! kenapa jadi menyalahkan orang lain? itu kan akibat ulah kamu sendiri yang gak bisa menahan diri!" Sahut Kak Gery santai sambil bergegas meninggalkan Tami di tempatnya.
"Brengsek! liat aja, gue pasti bikin elo bertekuk lutut di depan gue, nanti!" Gumam Tamu penuh amarah.
Tak sengaja, Tata dan Andrina yang baru saja keluar dari ruangan, bertemu dengan Kak Gery yang terlihat celingukan di depan ruangan mereka.
__ADS_1
"Kak Gery! Kakak lagi apa di sini?" Seru Tata bertanya.
"Eh, kamu Ta! kebetulan banget, Kakak mau tanya sesuatu nih," Sahut Kak Gery sambil menyunggingkan senyuman di bibirnya.
"Tanya soal apa, Kak? tumben deh, biasanya juga langsung telepon!" Tutur Tata sambil melipir ke pinggiran lorong di depan ruangan kelasnya.
"Emm... Kakak mau tanya soal teman kamu, Ta!" Ucap Kak Gery yang membuat Tata langsung menatap Andrina karena bingung.
"Teman Tata? teman yang mana, Kak?" Sahut Tata bertanya.
"Tiwi, Ta! dia hari ini masuk kuliah, kan?" Tutur Kak Gery tanpa bertele-tele lagi.
"Oh... Tiwi ya, Kak! dia hari ini gak masuk, katanya sih badannya lagi demam. Kalau jadi, Tata sama Andrina mau ke rumahnya nanti siang!" Sahut Tata menjelaskan.
"Demam? apa gara-gara kehujanan kemarin ya?" Gumam Kak Gery yang masih bisa di dengar Tata dan Andrina.
"Kakak ko tau si Tiwi kemarin hujan-hujanan?" Seru Andrina mulai angkat bicara.
"Emm... kebetulan kemari Kakak melihat dia di halte depan apartemennya Haikal, jadi Kakak pikir pasti karena itu," Sahut Kak Gery.
"Pantas aja aku gak liat dia lagi setelah mengantar Kak Haikal masuk, aku pikir dia bakal nunggu aku balik lagi, ternyata udah bertemu dengan Kakak ya, syukur deh!" Tutur Andrina.
"Jadi kemarin kalian sama-sama bertemu lagi ya, Kak?" Sahut Tata menimpali dengan pertanyaannya.
Kak Gery hanya menganggukkan kepalanya, saat ini pikirannya lebih berfokus pada kondisi Tiwi. Perasaannya semakin tidak karuan setelah mendengar kabar sakitnya Tiwi dari sang sepupu. Akhirnya Kak Gery mengusulkan untuk mengantarkan Tata dan Andrina berkunjung ke rumah Tiwi.
"Kalau gitu nanti siang Kakak antar kalian menjenguk ya! sekalian, Kakak juga ingin tahu kondisinya, kamu habis ini masih ada kelas atau udah selesai, Ta?" Ucap Kak Gery.
"Tata masih ada kelas, Kak! ya udah, nanti Tata kabari lagi deh kalau udah selesai," Sahut Tata yang mengerti kecemasan sepupunya itu.
"Baiklah, kalau gitu sekarang Kakak ke Resto dulu ya, kebetulan tadi juga Umi pesan di bawakan masakan untuk Ayah, nanti jangan lupa hubungi Kakak ya, Ta!" Tutur Kak Gery mewanti-wanti.
"Siap!" Jawab Tata sebelum akhirnya melihat kepergian sang sepupu.
.
.
.
.
.
See you next episode... 😘😘😘
__ADS_1