CHOICE LOVER

CHOICE LOVER
Eps 110.


__ADS_3

Setibanya di rumah, Tiwi langsung bergegas masuk ke kamar. Dia membaringkan tubuhnya yang terasa lelah dan remuk bak di hantam batu besar, sama halnya seperti hati dan pikirannya yang sudah hancur di hantam kenyataan mengejutkan dari sang tunangan.


Dretttt.... dretttt....


"Umi? ada apa, ya? tumben telepon jam segini," Gumam Tiwi setelah melihat nama penelpon yang tertera di layar hpnya.


"Assalamu'alaikum, nak! kamu lagi apa sekarang?" Sapa Umi Kak Gery setelah sambungan telepon terhubung.


"Wa'alaikumsalam Mi, Tiwi baru aja pulang dari..." Tutur Tiwi menggantung ucapannya yang hendak mengucapkan kata Rumah Sakit.


Dia tidak ingin di cap sebagai perempuan yang suka mengadu pada calon mertuanya. Tiwi memilih berbohong, dan mengatakan jika dia baru saja pulang dari kampusnya dan mampir ke sebuah minimarket untuk berbelanja kebutuhan.


"Belanja, Mi! tadi kebetulan jadwal Tiwi gak terlalu padat di kampus, jadi Tiwi mampir belanja dulu sebelum pulang ke rumah! apa ada yang mau Umi sampaikan?" Tanya Tiwi.


"Benar, kamu pergi belanja? kamu gak pergi ke Rumah Sakit dimana Tami dirawat, kan nak?" Cecar Umi Kak Gery mencari suatu kebenaran dari calon menantunya.


Tiwi terdiam sesaat, dirinya bingung harus menjawab apa pada sang calon mertua. Berbohong lagi pun rasanya sudah tidak akan mempan. Sepertinya Umi Kak Gery sudah tau, jika Tiwi memang baru saja kembali dari Rumah Sakit.


"Sayang, Umi tau kamu tadi habis dari Rumah Sakit, kan? Gery udah kasih tau Umi! Kamu yang sabar ya, kamu juga jangan berpikir yang aneh-aneh dulu, Umi yakin Gery juga gak bermaksud ingin melukai hati kamu, nak!" Tutur Umi Kak Gery mencoba menjelaskan.


"Tiwi ngerti, ko Mi! Tiwi cuma kaget aja tadi!" Lirih Tiwi.


Umi Kak Gery benar-benar merasa bersalah pada calon menantu kesayangannya itu. Dia benar-benar tidak menyangka jika Tami bisa senekat itu dan mendesak Kak Gery dengan ancamannya yang akan bunuh diri lagi.


"Sayang maafkan Umi dan Gery ya, kami selalu menorehkan luka di hati kamu, nak!" Lirih Umi Kak Gery.


"Umi, Umi gak perlu minta maaf! Tiwi ngerti, ko! kalau Tiwi yang berada di posisi Kak Gery, Tiwi juga pasti melakukan hal yang sama! jadi, Umi gak perlu merasa bersalah dan meminta maaf sama Tiwi!" Sahut Tiwi.


Umi Kak Gery menghela kasar nafasnya, ada sedikit lega di hatinya setelah mendengar perkataan Tiwi. Setelah berbincang cukup lama, akhirnya Umi Kak Gery mengakhiri sambungan teleponnya dan beralih mengirim chat pada sang anak. Umi memberi tahu Kak Gery agar tetap menjaga perasaan Tami supaya dia mau melepaskannya pulang malam itu.


"Sebaiknya kamu jaga terus mood nya Tami, Ger! bujuk terus dia supaya kamu bisa pulang ke rumah malam ini, kamu pasti lelah juga kan nak, Umi baru aja telepon Tiwi, sepertinya dia mencoba tegar setelah melihat kalian tadi!" Tutur Umi Kak Gery lewat chat yang dikirimnya.


"Tiwi pasti kecewa, Mi! tapi semoga aja Tami bisa cepat pulih! Gery juga udah lelah banget bujuk dia dari tadi!" Balas Kak Gery.


"Ya udah, kamu pastikan Tami benar-benar tidur dulu aja, Ger! baru kamu pulang, hati-hati selalu ya, nak!" Seru Umi Kak Gery mengakhiri chat nya.


Beberapa menit kemudian, Kak Gery baru bisa bernafas lega. Pasalnya, setelah Dokter memberi obat penenang pada Tami, akhirnya gadis itu tertidur pulas. Hal tersebut merupakan kesempatan baik untuk Kak Gery, tanpa menunggu lagi Kak Gery segera berpamitan pada Mami Tami untuk pulang.

__ADS_1


"Tante, Gery pamit sekarang ya!" Tutur Kak Gery dengan suara sepelan mungkin.


"Iya, nak! makasih, ya udah menyempatkan datang!" Sahut Mamih Tami sambil mengantar Kak Gery ke depan pintu.


"Sama-sama Tan, Assalamu'alaikum." Ucap Kak Gery.


Setibanya di parkiran, Kak Gery segera memasuki mobilnya dan memilih mengunjungi rumah Tiwi sebelum pulang ke rumahnya. Dia masih merasa bersalah atas insiden tak terduga hari itu. Kak Gery berniat mengatakan hal yang sejujurnya agar Tiwi tak salah paham padanya.


"Yang, maafkan Kakak ya! Kakak benar-benar gak bermaksud menyakiti perasaan kamu, Kakak cuma berusaha menenangkan Tami supaya dia gak coba bunuh diri lagi, tadi!" Tutur Kak Gery melalui chat yang dia kirim sebelum dia mengunjungi rumah Tiwi.


"Tiwi ngerti, ko Kak! mungkin Kak Tami memang lebih membutuhkan Kakak saat ini, Kakak temani dia aja, jangan buat dia depresi lagi!" Balas Tiwi yang membuat Kak Gery semakin ingin menemuinya.


Sesampainya di depan rumah Tiwi, Kak Gery langsung mengetuk pintu tanpa menghiraukan penghuni rumah yang sedang beristirahat di kamar mereka masing-masing.


Tik...tok...tok...


"Yah, kayanya ada yang ketuk pintu deh," Ucap Ibu Tiwi memastikan pendengarannya.


"Iya Bu, biar Ayah periksa deh! kira-kira siapa yang bertamu malam-malam begini ya? bahkan ini hampir jam satu pagi!" Sahut Ayah Tiwi sambil beranjak dari atas tempat tidurnya.


"Nak Gery! Om pikir siapa, ayo masuk! ada perlu apa nak Gery sampai ke mari malam-malam begini?" Cecar Ayah Tiwi setelah mendaratkan bokongnya di sofa ruang tamu rumahnya.


"Sebelumnya, Gery minta maaf Om! Gery memang sangat salah bertamu malam-malam begini, tapi sepertinya Gery gak bisa tenang kalau belum menemui Tiwi untuk menjelaskan sesuatu hal! Gery gak mau kalau Tiwi salah paham!" Tutur Kak Gery yang membuat Ayah Tiwi semakin bingung.


"Memangnya apa yang membuat Tiwi harus salah paham? maaf, bukan Om ingin mencampuri urusan kalian, tapi sepertinya Om juga berhak tau jika itu menyangkut putri Om sendiri," Sahut Ayah Tiwi.


Kak Gery pun menceritakan awal mula insiden tak terduga di Rumah Sakit tadi tanpa terlewatkan sedikit pun. Dia berharap, Ayah Tiwi akan mengerti dengan tujuannya datang ke rumahnya malam itu.


"Hm... jadi gitu, ya! ya udah, nak Gery tunggu sebentar, ya! biar Om bangunkan dulu Tiwi nya!" Ucap Ayah Tiwi seraya beranjak menghampiri kamar putri bungsunya yang ternyata masih belum tidur.


Tok...tok...tok...


"Siapa?" Seru Tiwi dari dalam kamarnya.


"Ini Ayah, nak! kamu bisa buka dulu bentar pintunya gak?" Sahut Ayah Tiwi dari balik pintu.


"Bentar, Yah!" Ucap Tiwi seraya bergegas membukakan pintu kamarnya.

__ADS_1


"Kamu belum tidur? di ruang tamu ada nak Gery ingin bertemu, kalian sedang ada masalah ya? sebaiknya selesaikan segera, dan ingat! jangan sampai kamu . mengedepankan ego kamu sendiri, sepertinya nak Gery juga sangat menyesal saat ini," Tutur Ayah Tiwi memberi petuah.


"Maksud Ayah, Kak Gery benar-benar ada di sini?" Tanya Tiwi. Sejurus kemudian dia melenggang, menghampiri Kak Gery di ruang tamu rumahnya.


"Yang!" Ucap Kak Gery setelah melihat Tiwi menghampirinya.


"Kakak kenapa datang ke sini? bukannya Kakak harus menjaga Kak Tami, ya? gimana kalau dia mencoba bunuh diri lagi kalau tahu Kakak gak ada di sampingnya!" Tutur Tiwi.


"Wi! gak baik bicara sambil berdiri, ayo duduk dulu! apa pun masalah kalian, selesaikanlah dengan baik baik! jangan sampai kamu menyesal nantinya!" Tegur Ayah Tiwi yang sejak tadi membuntuti putri bungsunya.


"Sebaiknya Kakak pulang aja sekarang! ini udah terlalu malam! Tiwi juga udah ngantuk banget pengen tidur!" Sahut Tiwi tanpa menggubris perkataan Ayahnya.


"Tapi Yang, kamu belum mendengar penjelasan Kakak! Kakak cuma mau minta maaf sama kamu, Kakak gak bermaksud menyakiti hati kamu! itu semua benar-benar terjadi begitu aja! Kakak sama sekali gak punya perasaan apa pun pada Tami! jadi, Kakak harap kamu jangan salah paham, ya!" Tutur Kak Gery berusaha meyakinkan Tiwi.


"Udahlah Kak, Tiwi udah gak mau bahas lagi hal itu! sebaiknya Kakak pulang aja sekarang! Umi pasti udah cemas nunggu Kakak di rumah!" Seru Tiwi seraya membendung lelehan air mata yang siap meluncur dari kedua bola matanya.


Sekuat mungkin, Tiwi menahan air matanya agar tak terjatuh. Bayangan di saat Tami memeluk dan mencium Kak Gery kembali terlintas di benaknya. Akhirnya Tiwi memilih kembali masuk ke kamarnya tanpa memperdulikan lagi keberadaan Kak Gery. Baginya yang terpenting saat ini menyembunyikan kesedihannya dari siapa pun. Tiwi tak ingin air matanya di ketahui orang-orang yang dia sayang, termasuk Kak gery. Meski dia masih kecewa, Tapi jauh di lubuk hati Tiwi, dia sangat percaya dan yakin jika perasaan tunangannya itu benar-benar hanya untuk dirinya. Namun entah mengapa, saat ini Tiwi benar-benar masih belum bisa melupakan insiden di Rumah Sakit tadi.


"Maafkan Kakak, Yang! Kakak benar-benar bodoh udah bikin kamu sedih! mungkin akan lebih baik kalau aku gak ke Rumah Sakit, tadi! sekarang Tiwi benar-benar kecewa dan marah sama aku, mungkin aku memang pantas dia benci!" Batin Kak Gery.


"Maafkan Tiwi ya, nak! meski dia ketus begitu, tapi Om yakin, dia pasti percaya sama nak Gery!" Seru Ayah Tiwi.


"Semoga aja, Om! kalau gitu, Gery pamit ya! dan maaf, Gery udah ganggu istirahat, Om dan keluarga! Assalamu'alaikum," Pamit Kak Gery.


.


.


.


.


.


Yang belum kasih dukungannya, Mom tunggu ya...


See you next episode 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2