
"Assalamu'alaikum, Tiwi dimana, Bi? Ibu masih di sini, ya?" Cecar Kak Gery setelah pintu rumahnya di buka oleh Bi Ina dan melenggang masuk ke dalam rumahnya seraya mencari keberadaan sang istri dan mertuanya.
"Masih, Pak! mereka ada di ruang makan," Sahut Bi Ina setelah menutup kembali pintu rumah majikannya.
Kak Gery melebarkan langkahnya menuju rungan makan. Dia benar-benar sudah merindukan istrinya setelah seharian ini menyelesaikan pekerjaannya yang begitu menumpuk.
"Assalamu'alaikum," Ucap Kak Gery setelah sampai di ruang makan seraya mengecup kening istrinya dan beralih menyalami tangan sang mertua.
"Wa'alaikumsalam. Baru pulang ya, nak! pasti akhir akhir ini kamu sibuk, ya?" Tanya Ibu Tiwi yang melihat keletihan di wajah sang menantu yang baru saja duduk di samping putrinya.
"Hari ini memang sedikit sibuk, Bu! karena Gery harus memadatkan beberapa jadwal pertemuan sebelum cuti kembali. Oh, iya! kenapa kalian belum makan? Ayang, ko biarin Ibu nunggu Aby, sih! ayo, Bu kita makan!" Tutur Kak Gery.
"Iya, nak! Ibu gak apa-apa, ko! lagu pula, kita juga baru aja duduk, tadi!" Sahut Ibu Tiwi.
"Ya udah, Aby cuci tangan dulu gih!" Seru Tiwi yang langsung di patuhi oleh sang suami.
Setelah selesai menyantap makan malam. Ibu Tiwi berpamitan untuk pulang. Awalnya Kak Gery berencana mengantarkan sendiri sang mertua dengan mobilnya. Namun, hal itu segera di cegah oleh Ibu Tiwi yang merasa sungkan pada menantunya. Ibu Tiwi tidak tega jika Kak Gery harus mengantarnya pulang malam itu. Ibu Tiwi pikir, Kak Gery pasti sangat lelah setelah seharian bekerja. Akhirnya, setelah sedikit bersitegang dengan sang mertua, Kak Gery mengutus Pak Slamet untuk mengantar Ibu Tiwi pulang.
"Ya udah, kalau gitu Ibu pulang dulu ya, nak! kalau ada apa-apa langsung telepon Ibu, ya!" Tutur Ibu Tiwi saat mereka sudah ada di depan teras rumah Tiwi.
"Iya, Bu! hati-hati, ya! Pak, bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut, ya!" Sahut Tiwi seraya mengingatkan.
"Siap, Bu!" Jawab pak Slamet seraya memberi hormat ke arah Tiwi yang langsung mendapat kekehan dari kedua majikannya.
Kak Gery memilih membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum mereka tidur malam itu. Sementara Tiwi masih saja mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Perut hamilnya yang besar benar-benar membuatnya tak nyaman. Tubuhnya seolah serba salah dan tak tau harus bagaimana lagi agar bisa terpejam dengan nyaman.
"Ayang belum tidur?" Tanya Kak Gery seraya menghampiri raga istrinya setelah keluar dari kamar mandi.
"Tiwi susah cari posisi nyaman, By! kayanya anak kita aktif terus di dalam sini, Tiwi jadi gak nyaman buat tidur," Keluh Tiwi seraya menumpuk beberapa bantal untuk menopang perut hamilnya di samping tempat tidur dengan sebelah tangannya, sedang tangan satunya lagi terus memegang perutnya karena sang janin yang terus bergerak aktif di dalam perutnya.
__ADS_1
"Apa bener-bener gak nyaman, ya Yang? sini biar Aby bantu! sebaiknya Ayang tidur kaya malam kemarin aja!" Sahut Kak Gery seraya membenarkan tumpukan bantal yang sudah Tiwi susun sebelumnya.
Dengan cekatan Kak Gery merapihkan bantal yang akan menjadi sandaran istrinya tidur malam itu. Semenjak kehamilan Tiwi memasuki bulannya melahirkan, Kak Gery tampak lebih perhatian dan siaga saat menghadapi berbagai keluhan dari istrinya. Dia benar-benar berusaha menjadi suami terbaik siang dan malam.
"Jagoan Aby bobo ya, nak! kasihan Bunda, sayang! Bundanya udah ngantuk, besok kita main sama Aby ya, ok!" Ucap Kak Gery seraya mengelus lembut perut istrinya yang terasa terus bergerak akibat anaknya yang masih aktif menggeliat di dalam perut Ibunya.
Begitu Kak Gery mengajaknya berbicara, sang janin seolah meresponnya dan tak bergerak begitu aktif lagi di perut Tiwi.
"Dua diem, By!" Haru Tiwi yang merasa bangga pada sang bayi yang masih didalam kandungannya.
"Good boy, jagoan Aby emang pinter! ya udah, kalian tidur sekarang ya, Yang! Aby mau pakai baju tidur dulu," Tutur Kak Gery seraya mengecup dalam kening istrinya sebelum melenggang ke arah lemari pakaiannya untuk mengambil baju yang akan dia kenakan tidur.
1 Minggu berlalu, pagi itu Tiwi seperti biasa menyiapkan sarapan untuk suaminya meski sudah di larang oleh Bi Ina karena pergerakannya yang sudah sangat mengkhawatirkan.
"Bu, biar Bibi aja yang siapkan sarapannya! Ibu istirahat aja ya, Bibi takut Ibu kelelahan nantinya!" Seru Bi Ina terus mengingatkan majikannya supaya tak membantunya.
"Gak apa-apa Bi, justru kalau Tiwi diam terus badan Tiwi bakal pegal-pegal, lagi pula Tiwi cuma bantu menatanya aja, ko!" Sahut Tiwi seraya meletakkan sendok dan garpu di tiap sisi piring yang akan suaminya gunakan.
"Aby pergi aja, gak usah khawatir! lagi pula tanggal melahirkan Tiwi kan masih 3 hari lagi, jadi Aby gak perlu cemas, ok!" Sahut Tiwi ikut seraya mendudukkan diri di kursi samping suaminya yang kini membantunya menyamankan posisi untuk menyantap makanannya.
"Aby janji, setelah urusannya selesai Aby pasti segera pulang!" Ucap Kak Gery mengelus lembut tempat anaknya berlindung di tubuh sang istri.
Selesai menyantap sarapannya, Tiwi membantu suaminya menyiapkan keperluan yang akan di bawa Kak Gery. Meski sebenarnya jarak tempuh Kota yang akan di tuju suaminya itu lumayan jauh, Tiwi berusaha tegar dan menguatkan diri agar pikirannya tetap positif.
"Nanti Aby telepon ya kalau udah sampai! jangan terlalu lelah, jangan lupa makan vitamin dan minum susunya juga, ya!" Seru Kak Gery mengingatkan seraya membingkai wajah istrinya dengan kedua tangannya seakan enggan meninggalkan sang istri yang sedang hamil tua.
"Iya, By! Aby hati-hati di jalan, ya!" Ucap Tiwi seraya memegang salah satu tangan suaminya yang masih membingkai wajah cantiknya.
Cup...
__ADS_1
Satu kecupan Kak Gery daratkan di bibir ranum istrinya, sebelum memasuki mobilnya yang sudah terparkir di pekarangan rumah.
"By! ini kan di depan rumah, jahil banget, deh!" Gerutu Tiwi seraya menepuk sebelah bahu suaminya.
"Biarin, Aby kan cuma cium istri Aby! apanya yang salah coba?" Ucap Kak Gery cuek seraya mencuri kembali satu kecupan di bibir istrinya sebelum dia benar-benar melenggang ke arah mobilnya.
"Ihhh... dasar mesum, udah sana gih berangkat!" Sahut Tiwi yang langsung mendapat kekehan dari suaminya.
"Iya-iya, deh! hei jagoan Aby, baik-baik sama Bunda di rumah ya, nak! jangan nakal, ok!" Tutur Kak Gery seraya membungkukkan badannya sambil mengelus lembut perut Tiwi untuk berbincang dengan sang anak yang masih di dalam perut sang ibu.
Seperti mengerti dengan ucapan Ayahnya, sang jabang bayi pun menggeliat di dalam perut Ibunya hingga menimbulkan pergerakan di permukaan perut Tiwi.
"Ma Syaa Allah, jagoan kita langsung merespon, Yang! kayanya dia ngerti ya kalau Aby ngajak dia ngomong!" Tutur Kak Gery girang merasakan pergerakan anaknya yang semakin hari semakin aktif di perut Ibunya.
"Anak kita anak yang pintar, By! semoga aja kelak dia menjadi anak yang bisa membanggakan kedua orangtua juga Agama serta Negara, ya!" Sahut Tiwi ikut mengelus perutnya merasai pergerakan sang anak yang kadang membuatnya kewalahan karena terus aktif bergerak di dalam perutnya.
"Aamiin. Ya udah, Aby berangkat sekarang ya, Yang! Assalamu'alaikum," Ucap Kak Gery seraya kembali m mendaratkan kecupannya yang kali ini dia sematkan di kening istrinya dan segera melenggang ke arah mobilnya.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati, By!" Sahut Tiwi seraya melambaikan tangannya dari tempatnya berdiri melihat sang suami pergi melajukan mobilnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
See you next episode 😘😘😘