
"Ger, aku boleh kan duduk di sini? aku janji deh gak akan ganggu kalian!" Bujuk Tami.
"CK! kamu gak liat ya kalau aku lagi dinner sama Tiwi? kalau kamu ikut duduk di sini, momen kita jadi beda! jangan mentang-mentang kedua orangtua kita saling mengenal, kamu jadi lebih berani ya sama aku! aku kan udah bilang berkali-kali, kalau aku gak suka sama kamu!" Tutur Kak Gery geram.
Flash back start.
Suatu hari, Umi Kak Gery meminta Kak Gery untuk mengantarnya ke rumah sang sahabat yang sedang sakit. Setelah tiba di sana, Kak Gery sedikit terkejut, karena ternyata salah satu putri sahabat Umi Kak Gery adalah Tami, juniornya di kampus.
"Assalamu'alaikum," Ucap Umi Kak Gery setelah menekan tombol bel.
Tak lama kemudian pintu pun terbuka dan menampilkan sosok yang tak asing bagi Kak Gery.
"Tami! kamu tinggal di sini?" Tanya Kak Gery setelah Tami membukakan pintu rumahnya.
"Kalian udah saling kenal ya? syukur deh, oh iya Mamah kamu ada kan sayang?" Sahut Umi Kak Gery.
"Oh, ada ko Tan, Tante ini Mamahnya Gery ya?" Tutur Tami sambil mempersilahkan Kak Gery dan Uminya masuk.
"Iya sayang, kalian sudah kenal berapa lama?" Sahut Umi Kak Gery.
"Dia junior Gery di kampus, Mi! beda satu semester doang, ko!" Seru Kak Gery membantu menjawab.
"Iya, Tan! sebentar ya, Tami panggilkan dulu Mamah," Tutur Tami beranjak menghampiri Mamahnya. Tak lama, Tami dan Mamahnya pun kembali menghampiri Kak Gery dan Uminya.
"Eh... jeng Mirna! baru aja aku mau balas chat nya, maaf ya, tadi aku ketiduran setelah meminum obat!" Sapa Mamah Tami.
"Gak apa-apa jeng! oh iya, ini aku bawakan beberapa cemilan untuk kalian." Tutur Umi Kak Gery sambil memberikan buah tangan yang di bawanya.
"Ya ampun... Jeng Mirna kenapa harus repot-repot sih, makasih banyak ya jeng! oh iya Tam, tolong suruh bibi buatkan minum ya!" Sahut Mamah Tami.
"Iya Mah!" Jawab Tami beranjak.
"Ini siapa jeng?" Tanya Mamah Tami.
"Ini anak saya jeng, namanya Gery!" Sahut Umi Kak Gery memperkenalkan putra tunggalnya.
"Wah... gantengnya, sudah punya pacar?" Tanya Mamah Tami antusias.
"Udah Tante!" Sahut Kak Gery yang membuat Uminya mengerutkan kening.
"Wah, beruntungnya ya yang jadi pacar kamu nak, Tante pikir kamu masih single, tadinya mau Tante jodohkan dengan putri Tante yang barusan," Kekeh wanita paruh baya tersebut.
"Oh iya jeng, aku cuma mau mengingatkan acara bakti sosial Minggu depan nanti, kamu jadi kan kasih sumbangannya!" Sahut Umi Kak Gery mengalihkan pembicaraan.
"Jadi dong jeng, nanti aku transfer langsung ya!" Ucap Mamah Tami.
__ADS_1
"Umi, kalau gitu Gery pamit sekarang ya!" Tutur Kak Gery beranjak dari duduknya.
"Loh, Ger! kamu mau kemana? buru-buru amat" Seru Tami yang baru saja kembali dari dapur rumahnya dan meletakkan dua cangkir air teh yang dia bawa.
"Tam, kalian udah saling kenal ya? wah, bagus lah semoga setelah putus nanti nak Gery bisa dekat dengan Tami ya!" Sahut Mamah Tami tanpa tau malu.
"Maaf Tante, Gery harus pulang sekarang, Umi Gery pamit ya, Assalamu'alaikum." Tutur Kak Gery yang langsung di susul oleh Tami.
"Ger! kamu kenapa sih selalu menghindar dari aku? jelas-jelas kamu tau kan kalau aku suka sama kamu, dan lagi kenapa kamu berbohong udah punya pacar di depan Mamahku? apa aku sebegitu gak menariknya ya buat kamu!" Cecar Tami yang membuat Kak Gery segera membalikkan badannya untuk menjawab.
"Itu kamu tau sendiri jawabannya, sudahlah! jangan ganggu aku lagi Tam, cari saja laki-laki yang lain," Sahut Kak Gery.
"Tapi, aku sukanya cuman sama kamu, Ger! pokoknya aku akan lakukan apa pun supaya kamu bisa jatuh cinta sama aku!" Ucap Tami tak gentar.
Kak Gery tak menoleh lagi dan bergegas memasuki mobilnya.
"Liat aja! sampai kapan pun aku gak akan melepaskan kamu, Ger! kalau aku gak bisa miliki kamu, berarti wanita lain juga gak boleh! termasuk cewek rese itu!" Rutuk Tami setelah melihat mobil Kak Gery menjauh dari halaman rumahnya.
Flash back done.
"Dasar cewek gak tau diri! elo kasih si Gery apa sih sampai dia nempel banget sama, elo? jangan-jangan, elo udah kasih keperawanan Lo sama dia, ya?" Tuduh Tami yang langsung mendapat tamparan dari Kak Gery di pipi kiri, mulusnya.
Plakkk...
"Sekali lagi kamu menuduh dia yang enggak-enggak! aku gak akan segan-segan laporkan kamu ke Polisi! kamu pikir aku gak tau, apa yang udah kamu lakuin sama Tiwi? jangan sangka kamu bisa tenang setelah menjadi dalang dari pembiusan Tiwi tempo hari!" Sahut Kak Gery yang membuat Tami membulatkan kedua bola matanya.
"A...apa? ke... kenapa kamu tau, Ger?" Tutur Tami terbata.
"Jadi... yang bius Tiwi malam itu, Kakak?" Sahut Tiwi.
"Iya Wi, dia dalang dari semua kejadian kemarin!" Tutur Kak Gery menegaskan.
"Astagfirhullah, Kak! tapi untuk apa Kakak melakukan hal seperti itu, apa salah Tiwi sama Kakak?" Sahut Tiwi.
"Elo mau tau alasan gue nekad seperti itu?! asal elo tau, ya! semua itu gara-gara elo! Elo udah berani merebut perhatian Gery dari gue!" Ucap Tamu penuh emosi.
"Stop! cukup!" Sanggah Kak Gery.
"Sebaiknya kita pergi aja Wi, jangan ladeni lagi wanita gila ini, ayo!" Seru Kak Gery meraih tangan Tiwi dan membawanya pergi meninggalkan Tami yang masih Geram di tempatnya.
"Ger! kamu mau kemana? Gery!" Teriak Tami yang tak di gubris sedikit pun oleh Kak Gery.
"Kak, sepertinya Kak Tami benar-benar marah, sekarang! Tiwi jadi gak enak sama dia!" Tutur Tiwi sambil mencoba menyeimbangi langkah Kak Gery.
"Kamu gak perlu merasa gak enak seperti itu, Wi! Tami itu emang kaya gitu orangnya! sebaiknya mulai sekarang, kamu jaga jarak sama dia ya! Kakak takut kalau sewaktu-waktu dia bisa mencelakai kamu lagi!" Sahut Kak Gery seraya membukakan pintu mobilnya untuk Tiwi.
__ADS_1
Dengan segera keduanya pun naik ke mobil dan melaju entah kemana. Setelah perdebatan itu, Tiwi semakin gelisah karena baru pertamakali ini dia memiliki musuh yang begitu nyata.
"Ini dimana, Kak?" Tanya Tiwi setelah tersadar dari lamunannya.
"Ini taman Kota yang belum terjamah banyak orang, Wi! sebenarnya ini juga tempat favorit Kakak kalau sedang sedih atau pun ada masalah," Sahut Kak Gery menjelaskan.
"Ma Sya Allah... dari sini pemandangan Kota terlihat begitu indah! Tiwi baru tau kalau ada taman seperti ini di tengah Kota," Tutur Tiwi kagum.
"Syukurlah kalau kamu suka. ha... rasanya hari ini benar-benar melelahkan ya, apalagi setelah berdebat dengan si Tami tadi!" Lirih Kak Gery seraya melipat kedua tangannya untuk di jadikan bantalan membaringkan kepalanya di sebuah kursi panjang taman.
"Kalau Kakak lelah, kenapa gak pulang aja? mungkin istirahat di rumah akan lebih baik dan nyaman, Kak!" Sahut Tiwi membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Kak Gery yang berada di belakangnya.
"Nanti aja lah! soalnya Kakak masih mau sama-sama kamu, Wi!" Ucap Kak Gery seraya beranjak duduk.
Seketika tangannya meraih tangan Tiwi, keduanya saling menautkan tangan mereka yang entah mengapa Tiwi sendiri tidak bisa menolaknya. Tatapan mereka kembali bertemu dengan lekat. Mencari sebuah perasaan yang terlihat jelas di sana.
"Kamu mau ya jadi pacar Kakak! kamu belum punya pacar, kan?" Cecar Kak Gery yang menyadarkan Tiwi dari lamunannya.
"Ke...kenapa Kakak ingin menjadi pacar Tiwi?" Ucap Tiwi balik bertanya.
"Kakak juga gak tau, Wi! tapi entah kenapa, setiap Kakak bertemu dan ada di dekat kamu, Kakak selalu merasa nyaman, perasaan Kakak seperti tidak tenang jika belum melihat kamu sehari aja!" Tutur Kak Gery.
"Ternyata perasaannya belum berubah! padahal ingatannya masih belum pulih. Tapi... aku harus menjawab apa, sekarang? apa aku harus menerimanya lagi? aku takut, kalau sewaktu-waktu nanti, Kak Gery sakit lagi seperti tempo hari!" Batin Tiwi serba salah.
"Sayang, kamu mau kan jadi pacar Kakak? atau kamu ingin yang lebih serius?" Seru Kak Gery sambil membingkai sebelah pipi Tiwi dengan sebelah tangannya.
"Beri Tiwi waktu ya, Kak! sekarang udah terlalu malam, Tiwi harus pulang!" Sahut Tiwi.
"Hm... apa Kakak kurang meyakinkan buat kamu ya?" Tanya Kak Gery.
Ada sorot kekecewaan yang terlihat jelas di mata coklatnya. Meski sebenarnya Tiwi masih begitu mencintai Kak Gery, namun Tiwi tetap tak ingin membuat penyakitnya lebih parah lagi, mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu, Tiwi jadi tak tega jika harus menyaksikan Kak Gery kesakitan lagi akibat penyakitnya.
"Bukan begitu Kak, hanya saja Tiwi sebenarnya sudah bertunangan," Lirih Tiwi yang membuat Kak Gery beranjak dari duduknya dan berdiri tepat menatap ke dalam mata Tiwi.
.
.
.
.
.
See you next episode... 😘😘😘
__ADS_1