CHOICE LOVER

CHOICE LOVER
Eps 93.


__ADS_3

Kak Gery menelisik ke dalam mata Tiwi, namun di sana hanya ada sebuah kebenaran yang ia temukan. Di tariknya tangan Tiwi dengan lembut ke arah dada bidangnya, seketika Kak Gery mendekatkan wajahnya di hadapan Tiwi, dan...


Cup...


Satu kecupan hangat mendarat mulus di kening Tiwi. Hatinya seketika menghangat setelah Kak Gery melemparkan senyum terbaiknya pada Tiwi.


"Kenapa kamu gak menolak, Wi?" Tanya Kak Gery yang membuat Tiwi menautkan kedua alisnya.


"Ti...Tiwi hanya terkejut, Kak! lagi pula, Kakak barusan cium Tiwi gitu aja, sih!" Sahut Tiwi dengan wajahnya yang sudah memerah.


"Terus... apa ini? pipi kamu udah mirip kepiting rebus, sekarang!" Ucap Kak Gery sambil mengusap lembut pipi Tiwi yang memerah karena tersipu.


"I...ini karena Kakak terlalu dekat dengan, Tiwi! sebaiknya, sekarang antar Tiwi pulang aja! atau, Tiwi cari taksi aja deh," Tutur Tiwi sambil bergegas menyambar tasnya di dalam mobil Kak Gery.


Dengan cepat, Kak Gery menarik tangan Tiwi hingga tubuh keduanya saling berbenturan. Alhasil, posisi mereka kini benar-benar seperti sepasang kekasih yang sedang berpelukan. (padahal emang pasangan kekasih ya 😁).


"So...sorry..." Ucap Kak Gery yang enggan melepaskan tubuh mungil Tiwi.


"E...engga apa-apa, Kak! tapi, tolong lepaskan Tiwi, ya! Tiwi mau pulang," Sahut Tiwi mencoba melepaskan diri.


"Kakak gak akan lepasin, sebelum kamu jawab mau jadi pacar, Kakak!" Ucap Kak Gery seraya memeluk Tiwi lebih erat.


"Kak! Tiwi gak bisa napas kalau gini! tolong jangan seperti ini," Ucap Tiwi.


"Kamu bilang iya dulu, baru Kakak lepaskan!" Tutur Kak Gery.


"Tapi Kak, Tiwi kan udah bilang ,kalau Tiwi udah tunangan, Tiwi gak mungkin menerima Kakak menjadi pacar Tiwi!" Sahut Tiwi masih mencoba melepaskan diri.


"Kakak tau, kamu pasti cuma berbohong soal tunangan itu. Sebaiknya kamu terima aja tawaran Kakak kalau kamu ingin pulang dengan selamat malam ini!" Tutur Kak Gery dengan seringai di bibirnya.


"Duh... Kak Gery kenapa jadi seperti ini sih? horor banget deh, Ibu... Tiwi pengen pulang" Batin Tiwi merengek.


"Ayolah sayang, terima, ya?" Ucap Kak Gery sambil mengedipkan sebelah matanya.


"O...ok deh," Sahut Tiwi pasrah.


"Nah, gitu dong! Kakak kan jadi gak perlu mengurung kamu seperti barusan kalau kamu menurut, ayo Kakak antar pulang sekarang!" Seru Kak Gery sambil menggenggam sebelah tangan Tiwi dan menariknya ke arah mobil


"Semoga aja keputusan aku kali ini gak salah, dan semoga semuanya akan baik-baik aja," Batin Tiwi.

__ADS_1


"Emm... Yang, rumah kamu dimana? dari sini kita kemana lagi?" Tanya Kak Gery yang kebingungan menentukan jalan pulang menuju rumah Tiwi.


"Dari sini kita lurus dulu aja, Kak!" Ucap Tiwi datar.


"Kamu kenapa jutek gitu sih? kamu marah ya sama Kakak?" Tanya Kak Gery menatap Tiwi sekilas sambil mengemudikan mobilnya.


"Engga ko! lagi pula kalau Tiwi marah pun, Kakak pasti gak akan membiarkannya, kan!" Sahut Tiwi tambah ketus.


Rem dadakan pun Kak Gery lakukan. Setelah memilih menepi ke pinggir jalan, dengan gerakan kilat Kak Gery membuka sabuk pengaman yang ia gunakan dan langsung membungkam mulut Tiwi yang masih mengerucut dengan bibirnya.


"Emm..." Berontak Tiwi.


"Maaf... Sebaiknya kamu jangan berkata ketus lagi ya! Kakak bisa kehilangan kendali, kalau kamu mengerucutkan terus bibir manis itu!" Tutur Kak Gery setelah melepaskan pagutannya.


Tiwi masih terdiam mencerna apa yang baru saja terjadi. Sejurus kemudian matanya mulai meluncurkan bulir bening di pipi mulusnya.


"Hei, kenapa kamu menangis? jangan bilang tadi itu ciuman pertama kamu!" Ucap Kak Gery.


Tiwi masih terisak ditempatnya tanpa mau menjawab pertanyaan konyol tunangannya itu. Padahal dia sudah mati-matian mempertahankan kesuciannya itu selama ini, namun sekarang harus hilang begitu saja oleh Kak Gery. Meski Tiwi mencintainya, tapi Tiwi ingin memberikannya ketika mereka sudah halal. Kini semua itu hanya angan-angan belaka yang hanya bisa Tiwi ratapi.


"Maaf!" Ucap Kak Gery lirih.


"Jangan! Kakak benar-benar minta maaf kalau sudah lancang barusan! entah kenapa, tadi itu terjadi begitu saja," Sahut Kak Gery mencengkram sebelah tangan Tiwi yang hendak turun dari mobilnya.


"Sudahlah, Kak! biarkan Tiwi sendiri dulu saat ini, Tiwi ingin menenangkan diri," Tutur Tiwi.


"Yang...maafkan Kakak, Kakak janji gak akan melakukannya lagi sebelum kita menikah!" Seru Kak Gery memelas.


"Ha... baiklah, tapi Tiwi tetap akan pulang dengan taksi sekarang, Assalamu'alaikum." Ucap Tiwi seraya benar-benar turun dari mobil dan berlari menyetop taksi yang melintas.


Kak Gery hanya bisa menatap nanar kepergian gadisnya itu dengan tatapan penyesalan. Seharusnya tadi dia bisa lebih menahan diri. Tapi apa lah daya, sekarang nasi terlanjur menjadi bubur, mungkin memang tepat jika sekarang Kak Gery membiarkan gadisnya itu pergi menenangkan dirinya.


"Arregh!! sial! kenapa aku gak bisa menahan diri, sih! ini semua pasti karena pengaruh obat-obatan itu!" Gerutu Kak Gery sambil memukul stir kemudinya.


"Ya Allah, ampuni Tiwi yang penuh dosa ini, ampuni Tiwi yang udah gak lagi suci. Sekian lama Tiwi menjaganya, akhirnya hari yang paling Tiwi takuti pun tiba, tapi kenapa harus Kak Gery?" Batin Tiwi seraya meneteskan bulir-bulir bening dari kedua bola matanya.


"Sudah sampai di tujuan, neng!" Tegur sang supir taksi memberi tahu.


"Oh, iya Pak! ini ongkosnya," Sahut Tiwi sambil mengeluarkan uang kertas pecahan lima puluh ribu yang dia berikan pada sang supir.

__ADS_1


"kembaliannya, neng!" Tutur sopir taksi sambil memberikan uang kembalian pada Tiwi namun segera di tolak oleh gadis manis itu.


"Kembaliannya ambil aja, Pak!" Seru Tiwi sambil beranjak turun dari taksi.


Setibanya di rumah, Tiwi langsung mendapat pertanyaan dari kedua orangtuanya, khususnya sang ibu yang begitu mengkhawatirkan dirinya. Namun bukannya menjawab, Tiwi malah memilih bergegas pergi menuju kamarnya dan mengurung diri.


"Assalamu'alaikum." Ucap Tiwi sambil melepas flat shoes yang dia gunakan.


"Wa'alaikumsalam, kamu dari mana aja sih, Wi? kita yang di rumah pada khawatir, loh! apalagi kamu sulit di hubungi, Ibu benar-benar cemas, tau!" Cecar Ibu Tiwi.


"Tiwi baru pulang Bu, Tiwi capek! mau istirahat dulu ya," Sahut Tiwi bergegas ke kamarnya.


"Lah-lah... anak itu kenapa sih, Yah? bukannya minta maaf udah buat kita khawatir, malah melengos gitu aja," Tutur Ibu Tiwi setelah melihat kepergian anaknya.


"Udahlah, Bu! mungkin dia memang benar-benar lelah, sepertinya dia udah menghadiri acara deh, apa Ibu gak perhatikan bajunya ya, tadi!" Sahut Ayah Tiwi.


"Hm... tapi kan Ibu cuma khawatir aja, Yah!" Lirih Ibu Tiwi.


Dikamar sendiri, Tiwi memilih mengganti pakaiannya dan mulai membersihkan diri. Untungnya saat itu Tiwi sedang kedatangan tamu bulanannya, sehingga dia bisa bebas beristirahat.


"Alhamdulillah, semoga Allah mengampuni Tiwi. dan Kak Gery!" Gumam Tiwi setelah keluar dari kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.


Sama halnya dengan Ibu Tiwi, Umi Kak Gery pun mencecarnya dengan berbagai pertanyaan, setelah anak tunggalnya itu pulang ke rumah. Karena tak tahan mendengar omelan sang Ibu, ternyata Kak Gery pun melakukan hal yang sama dengan Tiwi, dia bergegas masuk kamar dan mengunci pintunya dari dalam.


"Ger, kamu dari mana aja sih? tadi Tina bilang kamu bawa Tiwi ke butik Umi ya, kalian sebenarnya udah dari mana, sih?" Cecar Umi Kak Gery.


"Gak dari mana-mana, Mi! Gery ke kamar dulu ya mau mandi," Sahut Kak Gery melenggang begitu saja melewati Uminya yang mematung di tempatnya sambil memperhatikan sikap anaknya itu.


"Sebenarnya anak itu kenapa lagi, sih?" Gumam Umi Kak Gery yang memilih segera bergegas pergi ke kamarnya juga untuk beristirahat.


.


.


.


.


.

__ADS_1


See you next episode 😘😘😘


__ADS_2