CHOICE LOVER

CHOICE LOVER
Eps 84.


__ADS_3

"Syukurlah... kalau gitu besok pagi kita pulang aja ya, lebih baik kamu istirahat di rumah!" Sahut Ayah Tiwi.


"Iya yah..." Ucap Tiwi.


"Siapa yang bawa aku ke Rumah Sakit ya? dan siapa juga yang bius aku sampai pingsan?" Batin Tiwi penuh tanya.


"Ya udah, kalau gitu sekarang kamu istirahat aja ya nak!" Seru Ibu Tiwi sambil menarik selimut untuk putrinya.


Lain halnya dengan Tiwi dan Andrina yang sedang bingung dengan keadaan. Malam itu Tata malah masih merenungi nasibnya yang semakin di buat merana setelah mendengar kabar jika Kak Iman akan segera menikahi seseorang dalam waktu dekat.


Tata hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar sambil menahan genangan air mata yang sebenarnya sudah mengalir membasahi pipi mulusnya. Setelah memutuskan pulang ke rumahnya sendiri, Tata memilih mengurung diri di kamarnya.


"Apa memang sampai di sini aja ya perjalanan cinta aku, kenapa Kak Iman jahat banget, sih?" Gerutu Tata dalam kamarnya sambil terisak.


"Ta! ada tamu buat kamu, turun sebentar ya!" Seru Ibu Tata setelah mengetuk pintu kamar Tata yang


terkunci dari dalam.


"Siapa sih malam-malam begini bertamu? Gak tau waktu banget, deh!" Gerutu Tata sambil beranjak dari


tempat tidurnya.


Ceklek...


Dengan langkah yang gontai akhirnya Tata pun menuruni anak tangga menuju ruang tamu rumahnya. Dia sempat terkejut setelah mengetahui siapa yang bertamu.


"Hai? apa kabar, Ta?" Sapa Kak Iman dengan santainya.


"A...ada apa Kakak ke rumah malam-malam begini?" Sahut Tata bertanya.


"Ta, tidak baik jika mengobrol dengan tamu sambil berdiri, kamu duduk dulu lah!" Tegur Ayah Tata yang sudah menemani Kak Iman semenjak Kak Iman bertamu.


"Iya sayang, ayo duduk dulu!" Seru Ibu Tata sambil menggiringnya untuk duduk di ruang tamu bersama yang lainnya.


"Mau apa lagi Kakak ke sini?" Tanya Tata ketus.


"Ta! sebelumnya Kakak mau minta maaf sama kamu, tapi Kakak harus menyampaikannya, lusa nanti Kakak mau menikah!" Tutur Kak Iman terlihat serius.


"Me...menikah? dengan siapa? mengapa mendadak sekali?" Cecar Tata.


Kedua orangtua Tata begitu bersikeras menahan tawa mereka saat melihat ekspresi anaknya yang terkejut seperti itu. Mereka berdua ternyata sudah bersekongkol dengan Kak Iman yang ingin memberi kejutan pada Tata untuk meminangnya setelah sedikit mengerjainya.

__ADS_1


"Iya Ta, sekali lagi Kakak minta maaf ya, maaf sudah membuat kamu menunggu," Tutur Kak Iman yang masih tak di pahami oleh Tata.


"Tapi dengan siapa Kakak akan menikah? apa selama ini Kakak diam-diam memiliki hubungan dengan wanita lain ya di belakang Tata? kenapa Kakak gak memberitahunya sejak awal? Kalau tau gitu, Tata gak akan pernah nerima Kakak dari dulu!" Ucap Tata panjang lebar sambil menahan genangan air di pelupuk matanya.


"Ta, kamu tenang dulu sayang, biarkan nak Iman menjelaskannya, supaya kamu gak salah paham," Sahut Ayah Tata.


"Tapi Yah, Kak Iman udah keterlaluan, kenapa Ayah malah membelanya sih? sebenarnya yang jadi anak Ayah itu Tata apa dia?" Tanya Tata dengan linangan air mata yang sudah tidak dapat dia bendung lagi.


Ibu Tata terlihat saling melirik dengan kedua pria di depannya itu. Ada rasa kasihan melihat putrinya di jahili seperti ini, tapi dirinya harus kuat agar kejutannya berjalan dengan sempurna.


"Udah sayang kamu jangan menangis, apa yang Ayah katakan benar, sebaiknya kamu dengarkan dulu penjelasan nak Iman sekarang!" Tutur Ibu Tata.


"Hik...hik... sebenarnya apa yang Kakak mau? kenapa Kakak memberi rasa sakit ini sama Tata?" Ucap Tata sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Tenanglah Ta, Kakak gak akan menikah selain dengan kamu, ko!" Tutur Kak Iman


Tata segera melepaskan tangannya yang menutupi wajah cantiknya itu. Ada rasa yang entah mengapa tidak bisa di mengerti olehnya, Tata menatap penuh tanya ke arah Kak Iman sebagai pertanda dia meminta kejelasan.


"Iya Ta, lusa nanti Kakak mau menikah dengan kamu!" Ucap Kak Iman yang berhasil membuat Tata membulatkan kedua bola matanya.


"K..Kakak bercanda, kan?" Tanya Tata memastikan.


"Sayang... maafkan Ibu dan Ayah ya, sebenarnya nak Iman udah minta ijin sama kami untuk meminang kamu secepatnya, dan tentang yang barusan juga semuanya sudah di rencanakan oleh nak Iman untuk membuat kejutan buat kamu," Tutur Ibu Tata menjelaskan.


"Iya Ta, ternyata kamu benar-benar terkejut ya, selamat ya sayang, Ayah dan Ibu merestui kalian nak, semoga kedepannya tidak ada halangan untuk kalian melangsungkan pernikahan," Ucap Ayah Tata.


Mata Tata kembali berkaca-kaca, namun kali ini bukan air mata kesedihan yang ingin dia tumpahkan. Kali ini dia benar-benar bahagia hingga rasanya dia tidak bisa berkata-kata lagi dan langsung memeluk Ibunya karena haru bahagia.


"Bu, apa itu berarti Tata akan menjadi istri Kak Iman ya?" Tanya Tata dalam pelukan Ibunya.


"Iya sayang, semoga kalian bisa menjalani rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah, ya. Semoga kalian bisa melewati semua suka dan duka bersama-sama hingga maut memisahkan," Tutur Ibu Tata penuh doa.


"Aamiin," Ucap Tata sambil melerai pelukannya.


Dia pun berbalik menatap Kak Iman yang tersenyum ke arahnya, Tata masih tak percaya dengan apa yang dia alami malam itu.


"Kak, kalau boleh Tata tau, kenapa Kakak ingin menikahi Tata dalam waktu dekat ini?" Tanya Tata setelah kedua orangtuanya memutuskan beranjak ke kamar mereka untuk memberi ruang pada Tata dan Kak Iman menjelaskan semuanya.


"Sayang, apa selama ini kamu gak ak tau ya kalau kakak selalu gelisah dan khawatir jika kamu keluar rumah?" Tanya Kak Iman yang membuat Tata langsung menggelengkan kepalanya.


"Memangnya karena apa?" Sahut Tata balik bertanya.

__ADS_1


"Hm... itu karena kamu terlalu cantik dan sempurna, Yang! dan kakak gak mau kamu di lirik pria lain selain Kakak," Tutur Kak Iman penuh kelembutan.


"Gombal, pasti bukan karena itu kan alasan yang sebenarnya," Sahut Tata pura-pura merajuk.


"Hm... terserah kamu deh, Yang! yang jelas Kakak ingin segera menghalalkan kamu, supaya Kakak bisa miliki kamu seutuhnya," Ucap Kak Iman penuh keseriusan.


Tata tak bisa berucap apa pun lagi saat itu, tenggorokannya terasa tercekat karena perkataan perkataan Kak Iman yang membuatnya tak bisa berkutik lagi.


"Ya udah, narena ini udah malam, sebaiknya kamu tidur ya! besok pagi Kakak akan ke sini lagi untuk membicarakan persiapan pernikahan kita," Tutur Kak Iman.


"Baiklah, Kakak hati-hati di jalan ya!" Sahut Tata.


"Iya sayang, sampaikan salam untuk Ayah dan Ibu ya, sepertinya mereka udah pada tidur ya? kalau gitu Kakak pamit ya, Assalamu'alaikum." Tutur Kak Iman berpamitan.


"Wa'alaikumsalam... iya Kak, nanti Tata sampaikan." Sahut Tata sambil mengantar Kak Iman ke depan teras rumahnya.


****************


Dikamar, Andrina terlihat sedikit memanas karena perseteruan pasangan suami istri baru itu yang


memperebutkan wilayah kekuasaan mereka untuk beristirahat. Meski tempat tidur Andrina terbilang cukup luas, namun ternyata dirinya masih belum rela membagi tempat kekuasaannya dengan orang lain.


"Ish... Kakak kenapa malah ikut tidur di sini sih?" Tegur Andrina sambil beranjak duduk di tempat tidurnya setelah Kak Haikal ikut membaringkan tubuhnya di samping Andrina


"Stttt! jangan berisik, aku mau tidur! lagi pula kita udah sah jadi suami istri, jadi udah seharusnya kita tidur satu ranjang!" Ucap Kak Haikal tanpa beban.


Entah mengapa Andrina malah merinding sendiri setelah mendengar penuturan Kak Haikal tersebut. Dia jadi cemas dan tak bisa tidur nyenyak meski badannya kini sudah sangat lelah, perlahan dia membaringkan tubuhnya di samping Kak Haikal, setelah sebelumnya dia membuat pembatas dari bantal dan guling yang ada.


"Awas ya kalau berani macam-macam, jangan sampai melewati batas ini, ok! kalau gak, aku akan berteriak dan bilang kalau Kakak melakukan KDRT sama aku!" Ancam Andrina.


"Terserah deh! Cepatlah tidur, supaya besok kita bisa pulang ke apartemen." Tutur Kak Haikal yang sudah menutup rapat matanya sedari tadi


"Untuk apa aku ke apartemen Kakak? ogah deh," Sahut Andrina.


.


.


.


.

__ADS_1


.


See you next episode 😘😘😘


__ADS_2