
Setelah Dokter menjelaskan secara terperinci, Kak Gery segera menghubungi Nino untuk meminta bantuannya perihal penyelidikan kejadian yang menimpa istri dan calon anaknya.
"Assalamu'alaikum," Ucap Nino setelah menerima panggilan telepon dari atasannya.
"Wa'alaikumsalam. No, saya butuh bantuan kamu lagi sekarang! bahkan kali ini sangat penting, saya ingin kamu terus ikuti gerak gerik Viola, saya rasa dia masih ada kaitannya dengan keracunan istri saya!" Tutur Kak Gery yang langsung di mengerti oleh Nino.
"Baik, Pak! apa ada hal lainnya lagi yang Bapak butuhkan?" Sahut Nino.
"Kali ini itu dulu aja, kalau kamu udah mendapatkan petunjuk, segera hubungi saya, ok!" Ucap Kak Gery.
Selang beberapa menit, Tiwi akhirnya siuman. Hal pertama yang dia lihat saat sadarkan diri adalah wajah sang suami tercinta.
"By!" Lirih Tiwi.
"Aby di sini, Yang! apa Ayang udah baikan sekarang?" Sahut Kak Gery sambil mengusap kepala Tiwi dengan lembut.
"Anak kita gak apa-apa, kan? kenapa Tiwi bisa lemas seperti tadi, By? apa yang Dokter katakan?" Cecar Tiwi cemas.
"Semuanya baik-baik aja, Yang! Ayang gak perlu khawatir, Ayang cuma harus istirahat, sekarang! Ayang mau minum? Aby ambilkan ya!" Tutur Kak Gery seraya meraih segelas air putih di atas nakas samping bangsal sang istri.
"By, Tiwi mau pulang! Tiwi gak mau nginep di Rumah Sakit lagi!" Rengek Tiwi setelah meneguk air minum yang suaminya berikan.
"Iya, Yang! tapi nanti, ya kalau kondisi Ayang udah bener-bener pulih, Aby masih khawatir kalau Ayang kenapa-napa lagi kalau langsung pulang sekarang!" Tutur Kak Gery.
"Tapi Tiwi gak betah diam di sini, By! kita pulang aja ya! Tiwi juga bisa istirahat di rumah, ko!" Bujuk Tiwi tampak memelas.
"Yang, besok aja, ya! Aby janji, besok pagi Aby bakal minta izin pulang sama Dokternya!" Ucap Kak Gery mencoba membujuk.
Tiwi hanya bisa menghela kasar nafasnya, seraya membelakangi suaminya yang duduk di salah satu samping bangsalnya. Tiwi benar-benar sudah bosan jika harus bermalam lagi di Rumah Sakit. Tapi, Tiwi juga sadar, dirinya tidak boleh egois. Karena saat ini yang menjadi prioritasnya adalah sang anak yang berada di dalam kandungan.
"Yang, maafin Aby, ya! Aby lakuin ini juga buat kebaikan Ayang sama anak kita!" Ucap Kak Gery seraya mengusap lengan Tiwi.
Plak...
"Gak usah pegang-pegang, By! Tiwi mau tidur," Ketus Tiwi seraya menahan isak.
__ADS_1
"Yang, Aby minta maaf! Aby janji ini yang terakhir kalinya kamu masuk Rumah Sakit, Aby gak akan lalai lagi menjaga kalian!" Batin Kak Gery seraya mengirim chat pada Nino untuk mengirimkannya beberapa pengawal yang akan menjaganya dan sang istri.
Keesokan harinya, Kak Gery telah bersiap-siap membantu Tiwi berkemas untuk pulang ke rumah mereka. Setelah mendapat persetujuan dari Dokter, akhirnya Tiwi bisa pulang dengan syarat tetap mendapat perawatan selama di rumah.
"Hati-hati, Yang! biar Aby gendong aja, ya!" Seru Kak Gery yang di tolak mentah-mentah oleh istrinya.
"Gak! Tiwi bisa jalan sendiri!" Ketus Tiwi seraya berpegangan pada dinding Rumah Sakit.
"Astaghfirullah, Mike! kamu siapkan aja mobilnya, ya!" Seru Kak Gery pada anak buahnya.
"Siap, Pak!" Sahut Mike, salah satu pengawal yang Nino kirim untuk menjaga atasannya itu.
"Aby, sejak kapan Aby pakai jasa bodyguard? kita, kan bukan artis atau petinggi yang perlu penjagaan ketat!" Tegur Tiwi
"Aby cuma gak mau sampai terjadi apa-apa lagi sama kamu, Yang! jadi Aby sewa jasa mereka buat kawal kita!" Ucap Kak Gery.
"Apa Aby punya musuh? Aby gak lagi sembunyikan sesuatu dari Tiwi, kan?" Sahut Tiwi sambil memicingkan matanya ke arah sang suami.
"A...Aby gak punya musuh, ko! apa lagi main sembunyi-sembunyi dari Ayang, mungkin itu cuma perasaan Ayang aja kali!" Tutur Kak Gery sedikit terbata.
"Hm... ok, Tiwi akan coba percaya!" Sahut Tiwi mencoba meyakini apa yang suaminya ucapkan seraya terus menyusuri dinding Rumah Sakit menuju tempat mobil suaminya terparkir.
"Yang, yakin gak mau Aby temenin?" Seru Kak Gery yang kini duduk di samping tubuh Tiwi yang terbaring di atas tempat tidur mereka.
"Tiwi pengen sendiri, By! Aby tidur di kamar lain aja!" Sahut Tiwi memunggungi suaminya tanpa menoleh sedikit pun.
Dengan berat hati, akhirnya Kak Gery beranjak dari duduknya. Dia menyempatkan mengecup kepala Tiwi sebelum keluar kamar dan memberi Tiwi waktu untuk beristirahat sendirian.
"Kalau butuh sesuatu langsung panggil Aby, ya! Aby ada di ruang kerja," Ucap Kak Gery sebelum meninggalkan kamar.
"HM!" Gumam Tiwi.
Tak berapa lama setelah kepergian suaminya, Tiwi segera menjatuhkan bulir bening dari pelupuk matanya yang sudah terasa sangat panas. Dia menangis sejadinya meluapkan segala emosi yang dia pendam.
"Tiwi tau kamu bohong, By! kamu sembunyikan sesuatu dari Tiwi, kan! tapi apa? kenapa kamu pilih bungkam dari pada memberitahu Tiwi yang sebenernya," Batin Tiwi sambil terisak hebat di dalam kamarnya.
__ADS_1
Di ruang kerja sendiri, Kak Gery terlihat menyibukkan diri sambil sesekali menghubungi bawahannya untuk sekedar menanyakan perihal perusahaannya yang dia tinggalkan cuti beberapa hari ini.
Tak lama berselang, Bi Ina mengetuk pintu dan membawakannya secangkir teh hangat beserta cemilan yang Tiwi minta untuk di berikan pada suaminya.
Tok...tok...tok...
"Masuk!" Seru Kak Gery tanpa mengalihkan penglihatannya dari depan layar laptopnya.
"Pak, Ibu suruh Bibi bawakan ini untuk Bapak," Tutur Bi Ina setelah masuk ke dalam ruang kerja Kak Gery dan menyimpan nampan berisi teh hangat serta cemilan yang di bawanya di atas meja kerja Kak Gery.
"Makasih, ya Bi! apa Tiwi udah membaik?" Sahut Kak Gery seraya menutup laptopnya.
"Kayanya masih lemes, Pak! tadi Bibi ke kamar Ibu buat tanya yang Ibu mau, takutnya Ibu mau makan atau minuman hangat, tapi Ibu malah menyuruh Bibi mengantarkan ini untuk Bapak," Tutur Bi Ina menjelaskan.
"Gitu, ya! ya udah, makasih ya, By! biar saya bawa ini ke kamar aja sekarang!" Sahut Kak Gery beranjak seraya membawa nampan yang Bi Ina letakkan di atas meja kerjanya tadi.
"Biar Bibi bawakan nampan nya, Pak!" Seru Bi Ina.
"Gak apa-apa, Bi! biar saya bawa sendiri aja," Sahut Kak Gery seraya melenggang menghampiri pintu kamarnya.
"Aby, kenapa Aby malah bawa makanan sama minumannya ke sini?" Tanya Tiwi setelah melihat suaminya menyimpan nampan berisi makanan dan minuman di atas nakas samping tempat tidur mereka.
"Aby mau makannya sama kamu, Yang! kita makan berdua, ya! Ayang juga belum makan apa pun kan setelah pulang dari Rumah Sakit tadi," Tutur Kak Gery seraya membelai sebelah wajah Tiwi.
"Tiwi baru minum susu hamil barusan, Tiwi belum lapar!" Sahut Tiwi.
"Ayolah, Yang! dikit....aja! lagi pula ini cuma biskuit dan beberapa kue aja, mau ya!" Bujuk Kak Gery seraya mendekatkan sebuah biskuit pada mulut istrinya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
See you next episode 😘😘😘