CHOICE LOVER

CHOICE LOVER
Eps 143.


__ADS_3

Mau tidak mau, Tiwi membuka mulutnya karena Kak Gery terus membujuknya agar ikut makan cemilannya. Namun sejurus kemudian sebuah nada dering panggilan masuk membuyarkan suasana mereka yang sedang asik saling menyuapi.


"By! angkat dulu gih teleponnya!" Seru Tiwi.


"Hm... siapa, sih! ganggu orang lagi asik suap-suapan, aja!" Ucap Kak Gery seraya melihat layar benda pipih nya yang ternyata terpampang nama Nino yang menelepon.


"Siapa, By?" Tanya Tiwi setelah melihat sang suami yang tak kunjung mengangkat teleponnya.


"Dari Nino, Yang! Aby angkat dulu, ya! Ayang abisin aja kuenya!" Sahut Kak Gery seraya melenggang ke arah balkon kamarnya.


"Kenapa harus menghindar, sih? biasanya juga terima telepon gak suka jauh-jauh gini, apa emang benar ya kalau Kak Gery lagi sembunyikan sesuatu dari aku?" Batin Tiwi seraya menatap nanar kepergian suaminya ke arah balkon kamar mereka.


Kurang lebih 15 menit, Kak Gery kembali menghampiri Tiwi setelah menyelesaikan panggilan teleponnya dengan Nino. Dia kembali menyuapkan kue yang masih tersisa lumayan banyak di atas nampan yang Tiwi letakkan kembali di atas nakas samping tempat tidurnya.


"Loh, ko kuenya masih banyak! Ayang gak makan lagi, ya?" Ucap Kak Gery menghampiri sang istri yang tengah membaca buku tentang kehamilan di atas tempat tidur mereka.


"Tiwi udah kenyang. Aby kalau sibuk kerja, masuk aja! Tiwi juga udah jauh lebih baik ko sekarang!" Tutur Tiwi sambil menutup buku yang dia baca.


"Aby gak ada kerjaan, ko! Aby masih mau nemenin Ayang di rumah. Lagi pula cuti Aby masih ada 2 hari lagi, Aby cuma pengen berduaan sama Ayang!" Sahut Kak Gery seraya beranjak naik ke atas tempat m tidurnya dan membaringkan dirinya di pangkuan Tiwi sambil mencium tempat anaknya berlindung di tubuh mungil istrinya.


"By, Aby cerita aja kalau ada masalah! siapa tau Tiwi bisa sedikit membantu," Ucap Tiwi seraya mengelus lembut rambut suaminya.


"Aby gak ada masalah, Yang! cuma masalah kantor biasa aja, ko! Ayang gak perlu khawatir, yang perlu Ayang lakuin sekarang cuma fokus menjaga kesehatan dan anak kita aja, ko!" Sahut Kak Gery seraya melesakkan kepalanya ke depan perut hamil Tiwi sambil memeluknya.


Dua hari kemudian, Kak Gery sudah terlihat sibuk kembali dengan pekerjaannya di perusahaan. Nino dengan setia selalu siaga menunggu perintah dari atasannya. Seperti hari ini, Nino kembali di beri perintah oleh Kak Gery untuk melaporkan perkembangan penyelidikannya tentang Viola.


"Gimana, No? apa ada berita terbaru?" Tanya Kak Gery sambil memeriksa beberapa berkas yang harus dia tanda tangani.


"Masih sama seperti dua hari yang lalu, Pak! setelah mereka pergi ke luar Negeri lusa kemarin, sampai saat ini belum ada lagi pergerakan mencurigakan dari keduanya," Tutur Nino menjelaskan.

__ADS_1


"Syukurlah, setidaknya saya bisa tenang sekarang, tapi kamu tetap pantau kedua wanita gila itu, saya tidak mau sampai kecolongan lagi!" Sahut Kak Gery penuh penegasan.


"Baik, Pak." Ucap Nino yang segera melenggang kembali ke ruangannya.


kebetulan hari ini adalah jadwal Tiwi cek up kesehatannya dengan sang janin. Kak Gery selalu menyempatkan waktunya sebisa mungkin untuk menemani sang istri meski hanya sekedar mengantarnya.


"Yang, maaf ya Aby gak bisa mengantar pulang, Aby ada meeting bentar lagi, Ayang gak apa-apa kan pulang tanpa Aby? Aby akan suruh pengawal untuk mengantar Ayang pulang!" Tutur Kak Gery setelah selesai menemani Tiwi cek up dan menggiringnya ke arah parkiran Rumah Sakit.


"Ya udah, gak apa-apa, By! jangan pulang terlalu larut, ya!" Sahut Tiwi seraya menaiki mobil yang sudah Kak Gery buka terlebih dahulu pintunya.


"Aby akan usahakan pulang cepat hari ini!" Tutur Kak Gery seraya mengecup kening Tiwi.


"Tiwi pulang ya, Assalamu'alaikum." Ucap Tiwi seraya melambaikan tangannya dari dalam mobil yang mulai melaju.


Beberapa bulan kemudian, usia kandungan Tiwi semakin mendekati hari melahirkan. Seperti kebiasaan Ibu hamil lainnya, Tiwi kini sedang mempersiapkan semua keperluannya untuk persalinan. Mulai dari mengemas popok bayi, pakaian ganti dan lain sebagainya yang kemungkinan akan dia butuhkan saat melahirkan nanti.


"Udah Bu, Kak Gery udah urus semuanya dari jauh jauh hari! Tiwi tinggal menunggu waktunya aja," Sahut Tiwi sambil melipat beberapa popok bayi ke dalam tas perlengkapan yang akan dia bawa nanti.


"Syukurlah, Ibu tau nak Gery sangat bisa di andalkan, kamu beruntung sayang bisa memiliki suami super siaga sepertinya," Tutur Ibu Tiwi mengelus perut hamil Tiwi.


"Alhamdulillah, Bu! Kak Gery memang suami siaga dan perhatian," Lirih Tiwi.


"Ada apa? kenapa kamu malah terlihat sedih?" Tanya Ibu Tiwi setelah memperhatikan perubahan raut wajah sang putri.


"Entah lah, Bu! mungkin Tiwi cuma merasa gelisah karena hari melahirkan semakin dekat," Sahut Tiwi seraya merebahkan tubuhnya di sebuah sofa khusus menyusui yang sudah Kak Gery persiapkan jauh-jauh hari untuknya.


"Kamu jangan terlalu tegang, nak! kamu harus selalu berpikir positif agar semua prosesnya nanti berjalan lancar," Tutur Ibu Tiwi memberi petuah seraya menghampiri Tiwi dan memijat kaki anaknya yang terlihat masih membengkak.


"Eh, Ibu ko malah pijat kaki Tiwi, sih! jangan, Bu! Ibu pasti udah cape banget temani Tiwi berkemas, sebaiknya sekarang Ibu makan dulu ya, Tiwi panggilkan Bi Ina deh biar siapkan makanannya!" Ucap Tiwi seraya meraih ponsel dari saku pakaiannya.

__ADS_1


Setelah menghubungi Bi Ina, Tiwi segera beranjak dari duduknya yang di bantu langsung oleh sang Ibu. Tiwi benar-benar merasa sangat kesulitan bergerak karena kehamilannya itu.


"Hati-hati, sayang!" Seru Ibu Tiwi seraya membantu Tiwi menopang tubuh suburnya yang berubah drastis saat usia kandungannya semakin bertambah.


"Makasih, ya Bu! Tiwi jadi merepotkan Ibu lagi," Ucap Tiwi yang di balas gelengan kepala oleh Ibunya.


"Ibu sama sekali gak merasa direpotkan, sayang! justru Ibu senang karena, Ibu masih bisa menemani kehamilan kamu. Sebentar lagi kamu juga akan menjadi seorang Ibu, nak! kelak kamu pasti akan merasakan hal yang sama dengan yang Ibu rasakan saat ini," Tutur Ibu Tiwi mengusap lembut kepala anak bungsunya.


"Tiwi sayang Ibu! makasih ya, Ibu udah membesarkan Tiwi dengan penuh kasih sayang, Tiwi benar-benar beruntung memiliki wanita yang luar biasa seperti Ibu di hidup Tiwi," Sahut Tiwi seraya memeluk erat tubuh renta Ibunya.


Tiwi melenggang ke arah ruang makan bersama sang Ibu. Sebelumnya, Tiwi mendapat pesan dari sang suami yang menyuruhnya menunggu untuk makan bersama. Kebetulan hari ini, hari terakhir Kak Gery bekerja sebelum dirinya mengambil cuti yang kedua kalinya agar bisa menemani sang istri melahirkan.


"Suami kamu jadi pulang kan, Wi?" Tanya Ibu Tiwi setelah mereka mendaratkan bokongnya di kursi meja makan.


"Jadi, Bu! kayanya bentar lagi juga datang," Sahut Tiwi seraya mencari posisi nyaman untuk menyantap makan malamnya hari itu.


Sejurus kemudian, suara mesin mobil pun terdengar terhenti di pekarangan rumah Tiwi. Bi Ina yang sudah tau kedatangan Tuannya segera menghampiri pintu dan mempersilahkan Kak Gery untuk masuk.


.


.


.


.


.


See you next episode 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2