CHOICE LOVER

CHOICE LOVER
Eps 67.


__ADS_3

"Umi, kenapa Kak Gery tidak mengenali Tiwi, apa yang sebenarnya terjadi?" Cecar Tiwi gusar.


Umi Kak Gery tak bisa menjawab, lidahnya terasa kelu saat mendengar pertanyaan Tiwi yang begitu menyayat hatinya.


"Nak, kamu harus kuat menerima kenyataannya," Ucap Kakek Tiwi.


"Tapi Kek, apa yang sebenarnya terjadi? kenapa Kak Gery sama sekali tidak mengenali Tiwi? jangan bilang Kak Gery hilang..." Sahut Tiwi tercekat kala Dokter yang sebelumnya Umi Kak Gery panggil melalui tombol darurat datang.


"Permisi, tolong keluar dulu ya, biar kami periksa keadaan pasiennya dulu!" Seru Dokter seraya menghampiri bangsal Kak Gery.


Ketiga orang yang berada di dalam ruangan Kak Gery tadi pun akhirnya keluar secara terpaksa. Mau tak mau mereka harus memberi ruang untuk Dokter agar lebih leluasa memeriksa keadaan Kak Gery.


"Sayang, kamu harus ikhlas ya, nak! Gery memang mengalami amnesia ringan. Tapi menurut Dokter, Gery masih bisa di sembuhkan dengan terus menjalani terapi. Kamu yang sabar ya sayang! Umi yakin, Gery pasti akan segera mengingat kamu lagi nanti." Tutur Umi Kak Gery.


"Yang di katakan Tante Mirna benar, Wi! kamu harus sabar dan kuat sekarang! Kakek yakin, kalau kalian itu memang berjodoh. Jadi apa pun keadaannya, Allah pasti akan mempersatukan kalian kembali jika sudah waktunya tiba." Tutur Kakek Tiwi.


"Tapi sampai kapan Kak Gery seperti ini, Kek... Tiwi tidak yakin jika Tiwi bisa kuat menghadapinya," Ucap Tiwi terisak.


"Kamu pasti bisa, Nak! Umi yakin Gery pasti bisa segera pulih jika kamu mau bersabar!" Tutur Umi Kak Gery.


Tiwi tak bergeming lagi, pikirannya entah sedang berselancar kemana. Yang jelas saat ini kondisi tubuhnya begitu lemah, belum lagi kenyataan yang baru saja dia dapati. Hingga akhirnya...


Bruk...


"Astagfirullah..." Ucap Kakek Tiwi dan Umi Kak Gery bersamaan.


"Wi! bangun nak, Kakek mohon, bertahanlah! Suster! tolong Sus! Cucu saya pingsan!" Seru Kakek Tiwi panik.


"Ya Allah, semoga calon menantuku tidak apa-apa, berilah Tiwi kekuatan dan kesembuhan Ya Allah, semoga dia bisa kuat menerima kenyataan ini!" Batin Umi Kak Gery.


"Mari, Pak! biar kami bawa pasiennya ke ruangan tindakan!" Sahut seorang Suster yang sudah membawa sebuah blankar untuk Tiwi.


Hari itu, Tiwi benar-benar terpuruk dan sulit menerima kenyataannya. Pantas saja Kak Gery berubah begitu dingin dan acuh padanya. Ternyata itu semua di sebabkan amnesia yang dia alami.


"Ger! kalau kamu tahu nak Tiwi hari ini pingsan gara-gara kamu, Umi yakin kamu pasti akan sangat khawatir sekarang! tapi karena kamu masih amnesia... Umi benar-benar tidak tega sama nak Tiwi, Ger! dia harus berjuang menerima kenyataan jika orang yang dicintainya telah melupakannya sekarang," Gumam Umi Kak Gery terisak setelah kembali ke dalam ruangan sang putra.


"Umi, kenapa Umi menangis?" Tanya Kak Gery yang baru saja terbangun.


"Umi hanya kelilipan, Ger! gak tau kenapa barusan seperti ada yang masuk ke mata Umi, jadi mata Umi berair seperti ini," Sahut Umi Kak Gery berbohong.


"Apa masih perih, Mi? coba Gery lihat!" Tutur Kak Gery cemas.


"Gak apa-apa, Umi udah lebih baik ko sekarang, kamu mau Umi ambilkan minum, Ger?" Sahut Umi Kak Gery mengalihkan.


"Boleh Mi, kebetulan tenggorokan Gery memang terasa kering," Tutur Kak Gery.


"Ya sudah, Umi ambilkan dulu ya!" Ucap Umi Kak Gery sambil beranjak.


Di ruangan Tiwi...

__ADS_1


"Nak, bangun sayang! jangan membuat kami khawatir, kamu harus kuat dan cepat sembuh." Tutur Ibu Tiwi setelah mereka datang untuk bergantian berjaga dengan Kakek dan Kak Desi.


"Bu, sebaiknya kita biarkan dulu Tiwi beristirahat saja! Ayah yakin, saat ini dia hanya perlu waktu untuk meyakinkan dirinya sendiri agar bisa menerima kenyataannya," Sahut Ayah Tiwi.


"Iya, Yah! semoga anak kita bisa kuat menerima kenyataan ini," Tutur Ibu Tiwi.


Beberapa hari kemudian, Tiwi di perbolehkan pulang dari Rumah Sakit, tak sedikit teman-teman dan juga sanak saudara Tiwi menjenguknya setelah dia tiba di rumah.


"Wi, Ibu buatkan bubur buat kamu, nak! di makan dulu ya," Tutur Ibu Tiwi.


"Terimakasih Bu. Nanti Tiwi makan deh, sekarang Tiwi masih ingin rebahan," Sahut Tiwi sambil membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


"Hm... ya udah, tapi nanti dimakan ya!" Pesan Ibu Tiwi sambil bergegas keluar dari kamar Tiwi setelah meletakkan mangkuk bubur yang dia buatkan.


Tok...tok...tok...


"Assalamu'alaikum." Ucap Tata dan teman-teman Osis yang lainnya.


"Wa'alaikumsalam, eh ada teman-temannya Tiwi ya!, masuk-masuk nak!" Seru Ibu Tiwi setelah membukakan pintu rumahnya.


"Bagaimana keadaan Tiwi sekarang Tante?" Tanya Rizki.


"Dia sudah jauh lebih baik sekarang, sebentar! Tante buatkan kalian minuman dulu ya," Sahut Ibu Tiwi.


"Terimakasih banyak Tante, maaf merepotkan." Tutur Tata.


"Sebenarnya si Tiwi kenapa bisa kecelakaan sih l, Ta? aku dengar dia waktu itu kecelakaannya sama sepupu kamu yang tunangannya itu ya?" Cecar Rizki.


"Astagfirullah, jadi mereka sempat terpental juga ya, Ta?" Sahut Andrina bertanya.


"Iya, Drin! makannya kaki mereka pada retak tulang karena akibat benturan, tapi untungnya gak terlalu parah. Hanya saja... sepupu aku jadi amnesia, sekarang!" Tutur Tata


"Ya Allah, semoga mereka lekas sembuh lagi ya." Ucap Nana tulus.


Tak lama kemudian, Ibu Tiwi menyajikan minuman yang dia buatkan untuk teman-teman Tiwi. Setelah itu Ibu Tiwi segera memanggil Tiwi supaya menemui teman-temannya.


"Wi! ada teman-teman kamu nak, sapa mereka dulu ya! kamu udah kuat, kan?" Tutur Ibu Tiwi.


"In Sya Allah, Bu! Tiwi rapihkan kerudung dulu deh," Sahut Tiwi sambil membenarkan kerudungnya.


"Ya udah, sini Ibu bantu!" Seru Ibu Tiwi seraya membantu Tiwi membenarkan kerudungnya, setelahnya Ibu Tiwi membantunya menghampiri teman-teman Tiwi di ruang tamu.


"Bebeb... aku kangen banget sama kamu! kamu baik-baik aja, kan?" Ucap Andrina yang langsung berhamburan memeluk Tiwi.


"I'm fine Drin, aku juga kangen banget pengen cepat cepat Sekolah lagi!" Sahut Tiwi membalas pelukan sahabatnya itu.


"Wi l, kamu benar gak apa-apa?" Seru Rizki cemas.


"Aku baik-baik aja ko, Ki! terimakasih ya, kalian udah mau menjenguk kesini. Oh iya, acara liburan kemarin jadi, kan?" Tutur Tiwi bertanya.

__ADS_1


"Jadi Wi, tapi rasanya kita ada yang kurang kalau kamu gak ikut, jadi kemarin acaranya kita bubarkan dan sepakat menggantinya setelah kelulusan nanti! semoga pada saatnya nanti, kamu udah benar-benar sembuh ya, Wi!" Sahut Rizki penuh harap.


"Iya Wi, rasanya kita gak adil kalau harus berlibur tanpa kamu kemarin, because acara Tahunan kita bisa sukses juga, itu semua berkat ide dan hasil kerja keras kamu, Wi!" Tutur Nisa menambahkan.


"Itu semua berkat kerja keras kita semua ko, bukan cuman aku aja, makasih ya... Kalian solid banget sama aku guys..." Ucap Tiwi terharu.


Setelah melepas rindu dan berbincang-bincang dengan teman-temannya, akhirnya Tiwi kembali beristirahat ke kamarnya. Hingga suatu hari, Tiwi mulai mengikuti pelajaran di Sekolahnya kembali karena sudah sangat dekat dengan Ujian Nasional.


"Selamat Pagi tuan putri?" Sapa Andrina menggoda.


"Astagfirullah, kamu ngagetin aja deh, Drin'!" Sahut Tiwi sambil mengelus dadanya


"He... kamu di antar sama siapa tadi? ko aku gak liat orangnya? kayanya bukan bokap kamu, deh!" Tutur Andrina.


"Memang bukan Drin, aku tadi naik ojek," Sahut Tiwi yang membuat Andrina terkejut.


"Astaga naga... jadi, tadi kamu berangkat naik ojek ya Wi? hm... kebangetan kamu, terus bagaimana kalau kaki kamu sakit lagi, memangnya supir ojek itu mau tanggung jawab?" Omel Andrina merasa khawatir dengan aksi nekad sahabatnya.


"Gak usah lebay, Drin! aku udah jauh lebih baik ko sekarang, tenang aja!" Sahut Tiwi tak memperhatikan jalan dan menabrak seseorang di depannya.


Bruk...


"Aww..." Pekik Tiwi.


"Sorry-sorry! elo gak apa-apa, kan?" Tanya Kak Haikal yang tak lain seseorang yang tertabrak oleh Tiwi.


"Gak apa-apa Kak, maaf barusan Tiwi gak memperhatikan jalan," Sahut Tiwi sambil meringis.


"Elo yakin gak apa-apa?" Tanya Kak Haikal meyakinkan.


"Iya Kak, Tiwi baik-baik aja ko," Sahut Tiwi.


"Hm... sepertinya kaki Lo gak bakal sembuh dalam waktu yang singkat ya, Wi!" Ucap Kak Haikal.


"Entahlah, Kak!" Sahut Tiwi lirih.


"Ok, kalau gitu gue bakal jemput Lo saat pulang Sekolah sebagai permintaan maaf gue barusan, elo jangan nolak, ok!" Tutur Kak Haikal sambil bergegas ke arah parkiran Sekolah Tiwi.


"Tapi, Kak! Tiwi bisa pulang sendiri ko." Sahut Tiwi.


"Wi, sebaiknya kamu terima aja ajakan Kak Haikal, toh kamu saat ini memang butuh bantuannya, kan!" Bisik Andrina.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Kira-kira Tiwi terima tawaran dari Kak Haikal gak ya??? yang penasaran ikutin terus kelanjutan kisahnya tiap hari ya... jangan lupa kasih dukungan terbaiknya juga, see you next episode... 😘😘😘


__ADS_2