CHOICE LOVER

CHOICE LOVER
Eps 97.


__ADS_3

"Ini... Gery ingin tau apa yang sebenarnya terjadi, Tan!" Ucap Kak Gery sambil memperlihatkan bingkai foto yang sejak tadi dia pegang dan amati.


"A...ah, fo...foto itu," Sahut Ibu Tiwi terbata.


Tiba-tiba Tiwi yang sedari tadi pingsan siuman dan memanggil Ibunya.


"Bu... ah," Lirih Tiwi seraya memegangi kepalanya yang masih terasa sakit.


"Sayang, kamu udah sadar, nak!" Seru Ibu Tiwi menghampiri.


"Iya, Bu! teman-teman Tiwi udah pulang semua kan, Bu? Tiwi jadi gak enak sama mereka, harusnya Tiwi temani mereka sampai pulang," Lirih Tiwi.


"Udah, gak apa-apa, Wi! sebaiknya kamu istirahat aja, Ibu ambilkan termometer dulu ya untuk cek suhu tubuh kamu!" Sahut Ibu Tiwi seraya melenggang mencari barang yang dia sebutkan tadi.


"Kak Gery kenapa ada di sini?" Tanya Tiwi saat penglihatannya menangkap sosok laki-laki yang begitu dia cintai.


Dengan langkah yang lebar, Kak Gery menghampiri Tiwi dan menunjukkan bingkai foto yang masih dia pegang.


"Itu...sttt..." Pekik Tiwi saat ingin menjelaskan.


"Wi, kamu gak apa-apa kan, nak? nak Gery, sebaiknya nak Gery pulang aja ya sekarang, Ibu mohon!" Bujuk Ibu Tiwi.


Karena merasa kehadirannya menjadi dalang kekacauan hari ini, Kak Gery pun akhirnya mengalah berpamitan dengan segala rasa penasarannya. Mungkin suatu hari nanti, dia akan menanyakannya lagi pada Tiwi, jika Tiwi sudah benar-benar sembuh.


"Baiklah! maaf, karena Gery Tiwi jadi seperti ini Tante, kalau gitu Gery pamit ya!" Tutur Kak Gery dengan wajah kecewanya.


"Tante mengerti nak, kamu hati-hati di jalan ya!" Sahut Ibu Tiwi.


"Iya, Tan!" Jawab Kak Gery. Dia pun melangkah menghampiri Tiwi sebelum benar-benar pergi.


"Cepat sembuh ya! Kakak pulang dulu, Assalamu'alaikum." Ucap Kak Gery.


Seketika bulir bening berselancar bebas membasahi pipi mulus Tiwi. Tanpa di minta, sang Ibu pun menghampirinya dan memeluk Tiwi untuk memberi ketenangan dan semangat.


"Sabar sayang, Ibu tau ini pasti sangat berat buat kamu! tapi Ibu yakin, suatu saat nanti kalian pasti akan bersama lagi," Tutur Ibu Tiwi seraya mengelus lembut punggung Tiwi yang ia peluk.


"Tiwi lelah, Bu! Tiwi udah capek berpura-pura kuat terus seperti ini. Sampai kapan Tiwi harus menahannya, Bu?" Isak Tiwi dalam pelukan Ibunya.


"Kamu harus sabar dan kuat sayang, mukjizat Allah itu sungguh ada. Jadi kamu harus yakin dan bersabar!" Sahut Ibu Tiwi sambil melerai pelukannya dan membingkai wajah Tiwi dengan kedua telapak tangannya.


"Apa Tiwi bisa, Bu?" Lirih Tiwi.


"Pasti sayang! karena Ibu tau, kalau Allah itu tidak tidur, Dia Maha melihat apa yang sedang kamu perjuangkan sekarang, kamu hanya tinggal bersabar dan menunggu hingga waktunya tiba," Sahut Ibu Tiwi.


Kata-kata penguat yang terucap dari Ibunya itu seolah menjadi sihir yang membuat Tiwi kembali bersemangat menghadapi kenyataan di hadapannya. Tiwi kembali memeluk Ibunya dengan erat.

__ADS_1


"Makasih ya, Bu! karena Ibu selalu ada untuk Tiwi dalam keadaan apa pun!" Ucap Tiwi.


"Itu udah kewajiban Ibu sayang. Ya udah, sebaiknya kamu istirahat ya sekarang, Ibu mau mengunci pintu rumah dulu!" Tutur Ibu Tiwi seraya beranjak.


Setelah kejadian hari itu, Tiwi semakin memantapkan hatinya untuk memperjuangan kembali cintanya. Sudah seminggu ini dia mangkir dari perkuliahannya. Dan akhirnya, hari ini dia mulai beraktifitas kembali, memulai sesuatu yang baru dalam hidupnya, yaitu menjadi Mahasiswi.


"Wi!!! I miss you so much, beib!!" Serbu Andrina memeluk sahabatnya itu setelah dia melihat kedatangan Tiwi di depan kelas mereka.


"Miss you too, Drin! Tata belum masuk, ya?" Tanya Tiwi.


"Kayanya dia masih sibuk, soalnya pernikahannya di percepat jadi Minggu ini, Wi!" Sahut Andrina menjawab.


Tiwi menghela nafas, dia baru ingat jika minggu kemarin sahabatnya itu memberi kabar tentang percepatan acara pernikahannya. Itu semua bukan tanpa sebab, kesehatan Kakek Tata lah yang menjadi alasan kuatnya pernikahannya itu di percepat.


"Ya ampun, aku baru ingat, Drin! Tata kemarin kirim aku chat, dia bilang Kakek tiba-tiba sakit, duh... ko aku bisa lupa ya, sih! nanti antar aku menjenguk Kakek ya, Drin!" Tutur Tiwi panik.


"Kayanya aku gak bisa, Wi! nanti siang aku sama Kak Haikal di suruh ke villa Mamih Kak Haikal, katanya sih mau jenguk tukang kebunnya yang sakit, kamu gak apa-apa kan kalau pergi sendiri?" Sahut Andrina merasa bersalah.


"Hm... gak apa-apa Drin, sebaiknya kamu turuti mertua kamu aja, aku bisa datang sendiri ko!" Tutur Tiwi memahami.


"Sorry ya, lain kali aku temani deh," Sahut Andrina.


"No problem, Drin! aku gak apa-apa ko!" Ucap Tiwi.


Selesai dengan urusan perkuliahannya, Tiwi segera bersiap pulang ke rumah. Dia memilih untuk pulang terlebih dahulu sebelum mengunjungi kediaman sahabatnya untuk menjenguk Kakek dari tunangannya itu.


"Wa'alaikumsalam, baru pulang ya, Dek?" Sahut Kak Desi yang baru saja duduk di ruang keluarga rumah orangtuanya itu.


"Iya, Kak! kebetulan hari ini cuman ada satu jadwal, jadi Tiwi bisa pulang cepat, Tiwi ke kamar dulu ya!" Jawab Tiwi sambil meneruskan langkahnya menuju kamar yang sudah ia tempati sejak kecil itu.


Setelah sampai di kamarnya, Tiwi segera membersihkan wajah dan memilih baju untuk menjenguk Kakek Kak Gery.


"Kayanya baju ini udah lama gak aku pake, deh! aku pakai yang ini aja ah," Gumam Tiwi sambil mengeluarkan baju yang sudah dia pilih dari lemarinya.


Tok...tok...tok...


Ketukan pintu kamarnya membuat Tiwi menghentikan aktivitasnya dan segera membuka pintu tersebut.


"Ada apa Bu?" Tanya Tiwi setelah membuka pintu kamarnya.


"Gak apa-apa, Ibu cuma pengen pastikan keadaan kamu aja, ko! kamu mau keluar lagi ya?" Tutur Ibu Tiwi setelah melihat baju yang Tiwi pegang.


"Iya Bu... Tiwi mau ke rumahnya Tata untuk menjenguk Kakek Baskoro," Tutur Tiwi.


"Loh... Pak Baskoro sakit ya, Wi? kenapa gak kasih tau Ibu, sih? apa Kakek kamu udah tau ya?" Cecar Ibu Tiwi.

__ADS_1


"Tiwi juga baru ingat Bu, Minggu kemarin Tata memberi tahu Tiwi lewat chat, dan karena itu juga pernikahan Tata harus di percepat menjadi Minggu ini!" Tutur Tiwi menjelaskan.


"Oh, gitu ya! ya udah, kalau gitu Ibu coba telepon Kakek kamu dulu ya, siapa tau dia juga belum tau kabar ini," Sahut Ibu Tiwi sambil beranjak.


10 menit kemudian, Tiwi sudah siap dengan pakaian dan tas selempang yang dia kenakan.


"Wi, bawa ini ya! masa kamu gak bawa apa-apa, sih ke sana!" Seru Ibu Tiwi saat Tiwi berpamitan padanya.


"Tiwi mau beli buah di Supermarket bawah, ko Bu! tapi gak apa-apa deh, biar jadi banyak buah tangannya," Kekeh Tiwi di akhir ucapannya.


"Ya udah, kamu beli juga aja buah-buahan, ini! Ibu tambah uangnya!" Sahut Ibu Tiwi seraya menyerahkan selembar uang kertas berwarna biru.


"Uang Tiwi masih cukup ko, Bu!" Sanggah Tiwi.


"Udah ambil aja, siapa tau kamu nanti membutuhkannya!" Tutur Ibu Tiwi sambil memasukkan paksa uang yang dia berikan tadi ke dalam tas selempang yang di gunakan Tiwi.


"Hm... kalau gitu Tiwi berangkat dulu ya, Bu. Assalamu'alaikum." Ucap Tiwi.


Setelah mendapatkan buah-buahan segar yang Tiwi pilih dari Supermarket. Akhirnya Tiwi sampai di depan rumah Tata. Matanya sedikit memicing saat mengenali mobil yang terparkir di halaman depan rumah Tata.


"Ini kan mobil Kak Gery!" Gumam Tiwi sebelum akhirnya menekan bel rumah Tata.


"Assalamu'alaikum." Ucap Tiwi setelah seseorang membukakan pintu rumah Tata.


"Wa'alaikumsalam, eh... kamu nak, ayo masuk!" Seru Ibu Tata.


"Makasih Tante. Oh iya, ini ada sedikit buah-buahan dan cemilan untuk Kakek, Tan!" Tutur Tiwi seraya memberikan bingkisan yang dia bawa.


"Wah... Kakek pasti senang kalau tau di kirim makanan kesukaannya. Makasih ya nak, ayo! sebaiknya kita langsung ke kamar Kakek aja, yuk!" Seru Ibu Tata menggiring Tiwi ke kamar Kakek Kak Gery.


"Iya Tante," Ucap Tiwi mengekor.


"Pak! coba tebak siapa yang datang!" Tutur Ibu Tata setelah memasuki kamar Kakek Kak Gery yang ternyata sudah ada banyak orang di sana.


"Assalamu'alaikum, Kek..." Ucap Tiwi tercekat saat melihat Kak Gery dan seorang perempuan di sampingnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


See you next episode 😘😘😘


__ADS_2