CHOICE LOVER

CHOICE LOVER
Eps 61.


__ADS_3

"Wi kamu gak apa-apa kan?" Tanya Andrina.


"Aku baik-baik aja ko, kamu udah selesai siapin peralatan lombanya?" Tanya Tiwi.


"Udah, tinggal tunggu peresmian sama juri-juri!" Jawab Andrina.


"Bagus deh! ya udah, kalau gitu kita tunggu di gerbang aja yuk! sekalian sambut juri-juri nya!" Seru Tiwi sambil bergegas.


"Ayo!!" Sahut Andrina.


Selang beberapa saat, peresmian pembukaan acara Gelar Seni pun di mulai, setelah Kak Gery dan teman teman Nasyidnya tiba untuk membantu.


"Gi... siap-siap dokumentasi ya!" Seru Rizki.


"Siap, Ki!" Sahut Regi sambil bersiap menangkap gambar sebagai dokumentasi acara mereka.


"Wi, kamu minum dulu nih! muka kamu udah terlihat pucat tuh!" Tegur Andrina sambil memberikan botol air mineral pada Tiwi.


"Nanti aja deh Drin, aku masih harus siapkan acara selanjutnya nih," Sahut Tiwi.


"Udah! simpan dulu sebentar susunan acaranya, dikit aja deh minum dulu, biar kamu bisa fokus jjuga Wi!" Bujuk Andrina sambil membukakan botol air mineral untuk Tiwi.


"Ulu-ulu... sahabatku yang satu ini so sweet banget sih," Ucap Tiwi bernada manja sambil mencubit kedua pipi Andrina.


"Ish, lebay banget deh! udah, buruan minum dulu!" Sahut Andrina


"Eh, Wi! ada yang nyari kamu tuh di belakang panggung," Tegur Sarah teman Tiwi.


"Oh, siapa Rah? laki-laki apa perempuan?" Sahut Tiwi setelah meneguk air mineralnya.


"Laki-laki Wi, sepertinya dia salah satu anggota Nasyid yang bakal jadi bintang tamu deh," Tutur Sarah.


"Emm... ya udah, nanti aku samperin orangnya deh, makasih ya, Rah!" Ucap Tiwi.


"Ok, sama-sama Wi." Sahut Sarah.


"Kira-kira siapa ya, Drin?" Tanya Tiwi.


"Mana aku tahu? udah sana, samperin aja kalau penasaran!" Seru Andrina sambil mendorong punggung Tiwi untuk menggiringnya Ke belakang panggung.


"Ya ampun, Drin! kamu gak usah kaya gini juga kali!" Ucap Tiwi.


"Biarin, Wi! habisnya kamu lelet banget sih jalannya," Tutur Andrina sedikit mengejek sahabatnya itu.


Tiba-tiba, Andrina melepaskan dorongan tangannya yang membuat Tiwi hampir terpelanting ke belakang, setelah tiba di belakang panggung. Beruntung Kak Gery dengan sigap segera meraih tangan mungilnya, hingga akhirnya mereka terjatuh dalam kondisi berpelukan.


"Eh..." Pekik Tiwi tak bisa mengontrol keseimbangan tubuhnya.


"Yang!" Ucap Kak Gery yang segera menarik tangan Tiwi.


Bruk...


"Aw... Astagfirhullah! Kakak gak apa-apa?" Tanya Tiwi setelah jatuh bersamaan dengan Kak Gery.


"Harusnya Kakak yang bertanya seperti itu, Yang! kamu gak apa-apa, kan?" Sahut Kak Gery khawatir.


"Eh, itu si Tiwi sama salah satu anggota Nasyid bintang tamu sedang apa sih? kenapa mereka berdua berpelukan di lantai seperti itu?" Gumam Rizki yang tak sengaja melihat Tiwi dan Kak Gery yang masih berbaring di lantai.


"Tiwi gak apa-apa ko, ini semua gara-gara si Andrina, tuh! dia main lepas punggung Tiwi aja barusan," Gerutu Tiwi sambil mencoba beranjak.


"Hm... syukurlah, kerudung kamu jadi sedikit kotor, Yang! Kakak bantu bersihkan ya!" Seru Kak Gery sambil membantu Tiwi membersihkan kerudungnya.


"Eh, ko dia berani belai-belai calon cewek gue sih? kurang ajar!" Gumam Rizki tak terima.


"Yang! apa Tata cerita sama kamu kalau dia bertengkar sama si Iman?" Tanya Kak Gery.


"Enggak, setahu Tiwi hubungan mereka baik-baik aja ko!" Sahut Tiwi.


"Tapi kenapa belakangan ini si Iman jadi sering marah-marah gak jelas ya? apa lagi setelah tiba di sini, tadi! dia langsung mengurung diri di salah satu kelas, Yang!" Tutur Kak Gery.


"Mengurung diri? di kelas mana Kak?" Tanya Tiwi.


"Itu, di kelas yang dekat dengan perpustakaan! Kalau kamu bisa, tolong bantu Kakak bujuk dia ya!" Seru Kak Gery.

__ADS_1


"Emm... gimana ya!" Gumam Tiwi.


"Sebentar aja, Yang! mau ya... nanti kalau dia macam-macam, Kakak akan kasih dia pelajaran langsung deh!" Tutur Kak Gery.


"Hm... Ya udah deh," Sahut Tiwi.


Setibanya di depan kelas yang dimaksud, Tiwi segera mengetuk pintunya agar Kak Iman mau membuka pintunya.


Tok...tok...tok...


"Kak, apa Kak Iman ada di dalam?" Seru Tiwi setelah mengetuk pintu.


"Sepertinya itu suara si Tiwi, dia mau apa ya?" Gumam Kak Iman dari dalam kelas.


"Kak! ini Tiwi! Kakak bisa buka dulu pintunya gak? ada yang ingin Tiwi sampaikan soalnya!" Seru Tiwi sambil mengetuk pintu kelas kembali.


Ceklek...


"Asa apa, Wi?" Tanya Kak Iman setelah membuka pintu kelas.


"Grup Nasyid Kakak sebentar lagi giliran naik ke panggung, Tiwi kan bertugas untuk menyiapkan acara, jadi Tiwi mohon kerjasama Kakak supaya tidak mempersulit Tiwi ya!" Tutur Tiwi panjang lebar.


"Oh, gitu ya! ya udah deh, Kakak bakal ke belakang panggung nanti!" Sahut Kak Iman lesu.


"Aku pikir, dia mau kasih tau aku penyebab Tata cuek sama aku, ternyata hanya soal tugas ya, ha..." Batin Kak Iman.


"Gimana, Yang? dia gak macam-macam, kan?" Tanya Kak Gery.


"Aman terkendali ko." Ucap Tiwi percaya diri.


Tak lama kemudian, Tiwi di panggil oleh Rosa salah satu Teman Osisnya untuk meminta bantuannya melepas peserta lomba lintas alam.


"Wi!" Seru Rosa.


"Yang! kayanya temen Ayang manggil deh!" Ucap Kak Gery.


"Ocha mau apa ya?" Sahut Tiwi bingung.


"Ya udah, samperin dulu aja,Yang! Siapa tau ada hal penting lagi!" Saran Kak Gery.


Sesampainya di hadapan Rosa, Tiwi diminta Rizki untuk membantu Kepala Sekolahnya melepas peserta lomba lintas alam dengan menggunakan Bendera yang akan beliau kibarkan sebagai pertanda pelepasan para peserta.


"Wi! kamu di suruh si Rizki temani Pak Kepala Sekolah tuh!'" Seru Rosa.


"Kenapa aku sih?" Gumam Tiwi bertanya.


"Aku juga gak tau, Wi! ya udah, cepat ya! nanti pak Kepala Sekolah takut keburu menunggu tuh"


!" Seru Rosa.


"Hm... ok deh," Sahut Tiwi seraya menghela kasar nafasnya.


Akhirnya Tiwi menuruti perintah Rizki untuk menemani Kepala Sekolahnya melepas peserta lomba. Namun saat hendak melakukan pelepasan peserta pertama, dirinya di suruh menunggu seseorang oleh Kepala Sekolahnya sebelum memulai kegiatan perlombaan saat itu.


"Apa sudah bisa di mulai, Pak?" Tanya Tiwi sopan.


"Tunggu sebentar ya! kita tunggu dulu donatur Sekolah kita untuk pelepasan peserta lombanya!" Sahut Kepala Sekolah Tiwi.


"Baiklah Pak, kalau begitu Tiwi akan mengulang daftar regu peserta dulu saja untuk mengisi waktu, permisi Pak!" Tutur Tiwi.


"Iya! silahkan nak! semoga saja pihak donatur Sekolah kita tidak terlalu lama membuat kita menunggu," Sahut Kepala Sekolah Tiwi.


"Baiklah adik-adik! sambil mengisi waktu, Kakak akan sebutkan kembali nama-nama regu kalian sesuai asal Sekolah kalian, beserta nomor urut pesertanya ya!" Tutur Tiwi mulai mengulur waktu hingga seseorang yang di maksud Kepala Sekolahnya itu datang.


"Maaf Kek, aku telat!" Ucap seorang pria sambil memeluk Kepala Sekolah Tiwi.


"Akhirnya kamu datang juga! ya udah, sebaiknya kita lakukan pelepasan peserta lombanya segera ya! kasihan mereka, sudah menunggumu dari tadi, tuh!" Seru Kepala Sekolah Tiwi.


"Baiklah Kek, aku harus bagaimana sekarang?" Tanya pria itu.


"Sebentar! biar nak Tiwi yang jelaskan sama kamu ya. Nak Tiwi! tolong berikan benderanya pada donatur Sekolah kita ya, dan beri tahu juga dia harus melakukan apa saja untuk pelepasan peserta lombanya" Tutur Kepala Sekolah panjang lebar.


"Oh, i...iya Pak! silahkan anda berdiri di sini, Kak! dan ini benderanya, tinggal anda angkat ke atas untuk menandakan pelepasannya setelah saya selesai menyiapkan peserta pertamanya nanti," Papar Tiwi.

__ADS_1


"Ternyata hanya seperti itu ya? ya udah, ayo lakukan yang terbaik! aku tidak ingin ada kesalahan ok." Sahut Kak Haikal yang tak lain pria yang di maksud Kepala Sekolah Tiwi tersebut.


"Baiklah, silahkan ambil posisinya Kak!" Ucap Tiwi menahan kesal.


"Hei! kenapa ekspresi wajah mu seperti tidak senang melihat kehadiranku?" Tutur Kak Haikal sedikit berbisik dan sopan.


"Lantas, Tiwi harus bagaimana Kak? sudahlah! kali ini Kakak jangan coba macam-macam! di sini, sekarang. Selain banyak yang menonton, ada beberapa wartawan juga yang sedang meliput kita, jadi Kakak tidak bisa berbuat semaunya." Tegas Tiwi.


"Sialan! dasar bocah tengil! awas saja, nanti gue akan buat perhitungan sama Lo!" Batin Kak Haikal.


Tak lama setelah pelepasan peserta lomba lintas alam selesai, Tiwi segera bergegas ke bagian konsumsi untuk meminta mereka menyajikan suguhan para tamu undangan yang mulai berdatangan.


"Gin, kalian siapkan suguhan untuk tamu-tamu undangannya sekarang ya! sepertinya mereka udah pada datang!" Tutur Tiwi.


"Ok, Wi!" Sahut Gina salah satu teman Osisnya Tiwi.


"Ehem... sorry! apa gue boleh minta kopi hitam panas?" Tegur Kak Haikal menghampiri.


"Astagfirullah, orang ini kenapa ikutin aku terus sih," Batin Tiwi.


"Boleh Kak, silahkan tunggu sebentar ya! biar nanti saya antarkan ke meja Kakak!" Sahut Gina.


"Gue mau dia yang mengantarkan, tidak boleh orang lain, ok!" Seru Kak Haikal sambil bergegas kembali ke tempat duduknya.


"Wi, ini kopinya! tadi Kakak itu bilang, dia ingin kamu yang mengantarkan kopinya, Wi!" Tutur Gina Sambil memberikan nampan berisi secangkir kopi panas pesanan Kak Haikal.


"Kenapa harus aku lagi sih?" Rengek Tiwi.


"Udah... antarkan dulu aja, Wi! kayanya Kakak tadi itu orang yang punya pengaruh banget ya, buat Sekolah kita?" Tutur Gina.


"Dia memang Donatur Sekolah kita Gin! Ya udah, biar aku antarkan dulu kopinya deh, eh... tapi sepertinya ada yang tertinggal deh, sebentar!" Sahut Tiwi berbalik ke arah dapur umum.


Tiba-tiba saja Tiwi mendapat ide untuk mengerjai Kak Haikal dengan menambahkan beberapa sendok gula lagi pada kopi pesanannya.


"Rasain! diabetes-diabetes deh, minum kopi legit ini!" Gumam Tiwi.


"Kenapa lama sekali?" Tegur Kak Haikal setelah Tiwi berhasil menyajikan kopi pesanannya.


"Maaf, Kak! tadi saya harus mengurus beberapa hal yang lainnya dulu, silahkan menikmati kopinya." Sahut Tiwi sambil beranjak.


Namun baru saja Tiwi membalikkan badannya, tangannya langsung di genggam Kak Haikal agar dia tidak langsung pergi begitu saja.


"Astagfirullah." Ucap Tiwi terkejut.


"Bagaimana Kal? kamu sudah mendapatkan kopinya ya? ayo diminum dulu selagi hangat!" Tegur Kepala Sekolah Tiwi.


"Iya Kek, Haikal minum deh!" Sahut Kak Haikal sambil tak melepaskan tangan Tiwi yang masih mencoba melepaskan genggamannya.


"Kenapa kamu tahan nak Tiwi seperti itu?" Tanya Kapala Sekolah Tiwi.


"Astaga! Kopi ini begitu over legit! gue rasa dia sengaja mau ngerjain gue! Lihat saja nanti, kali ini gue tidak akan kasih ampun!" Gumam Kak Haikal dalam hati.


"Kal..." Seru Kepala Sekolah Tiwi.


"Ah... iya Kek! tadi dia mau jatuh, jadi Haikal reflek pegangin dia deh dan Haikal pikir Haikal udah mengenalnya sebelumnya, deh!" Tutur Kak Haikal.


"Benarkah! apa nak Tiwi sudah saling kenal dengan cucu, Bapak?" Tanya Kepala Sekolah Tiwi.


"Kami sempat bertemu di acara pernikahan rekan bisnis Om Rudi beberapa waktu lalu, Pak!" Jawab Tiwi sejujurnya.


"Dia waktu itu datang sama keluarga Om Rudi, Kek!" Sahut Kak Haikal memperjelas.


"Oh... Jadi kamu ya, yang pernah di ceritakan Baskoro. Kakek benar-benar baru tahu Kal!" Tutur Kepala Sekolah Tiwi seraya terkekeh.


"Jadi, Pak Kepala Sekolah ini Kakeknya Kak Haikal ya, kenapa kebetulan terus seperti ini sih?" Batin Tiwi.


.


.


.


.

__ADS_1


.


See yuo next episode... 😘😘😘


__ADS_2