CHOICE LOVER

CHOICE LOVER
Eps 108.


__ADS_3

Flash back start.


"Ger, kalau kamu gak pulang dan temui aku, hari ini juga aku akan bunuh diri! aku benar-benar gak bisa hidup tanpa kamu," Tutur Tami lewat sambungan telepon.


"Tam, udahlah! cobalah cari pria lain yang lebih baik dari aku! aku gak mungkin berpaling dari tunangan aku, aku benar-benar mencintainya," Sahut Kak Gery.


"Kamu gak mencintainya Ger, kamu cuman terobsesi pada gadis tengil itu, aku mohon, Ger! datanglah hari ini, aku benar-benar membutuhkan kamu saat ini!" Bujuk Tami seraya terisak.


"Maaf Tam, aku gak bisa!" Ucap Kak Gery langsung mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.


Tami benar-benar naik pitam dan segera meraih pisau lipat yang tergeletak di dalam laci meja belajar kamarnya. Tami benar-benar sedang terpuruk saat itu, kabar perceraian orangtuanya membuatnya benar-benar terguncang dan membutuhkan seseorang untuk menjadi sandarannya. Namun sayangnya, Kak Gery yang menjadi satu-satunya harapannya pun tidak bisa dia raih, hingga dia pun gelap mata dan memilih m menorehkan pisau lipat pada pergelangan tangannya, m sebagai upaya untuk mengakhiri hidupnya sendiri.


"Tami! sayang, bangun nak! Mamih mohon bangun, sayang! kamu harus bertahan!" Tutur Mamih Tami.


Flash back done.


"Maaf, Sus! apa pasien yang baru saja di bawa barusan bernama, Tami?" Tanya Tiwi pada Suster jaga.


"Benar, Dik! tapi Adik siapanya ya?" Jawab Suster balik bertanya.


"Saya teman kuliahnya, Sus! kalau boleh tau, Kak


Tami sakit apa ya, Sus? ko, tangannya banyak darahnya gitu!" Tanya Tiwi lebih serius.


"Pasien di duga depresi dan melakukan percobaan bunuh diri!" Tutur Suster.


Seketika Tiwi membungkam sendiri mulutnya. Dia benar-benar tidak menyangka jika Tami bisa senekat itu untuk melukai tubuhnya sendiri.

__ADS_1


"Astagfirullah, terus gimana kondisinya sekarang, Sus? apa saya bisa membesuknya sekarang?" Cecar Tiwi.


"Saat ini pasien masih harus mendapatkan perawatan intensif, jadi pasien masih belum bisa di besuk!" Sahut suster.


"Hm... gitu ya, Sus! ya udah, makasih banyak ya, Sus infonya!" Ucap Tiwi sambil berpamitan menghampiri jendela kaca pintu ruangan Tami.


"Semoga Kak Tami baik-baik aja!" Gumam Tiwi sambil menatap sendu ke arah kaca pintu ruangan Tami.


Malam harinya, Kak Gery mendapat kabar jika Tami di larikan ke Rumah Sakit dari Uminya. Umi Kak Gery juga memberitahukan kondisi Tami saat ini yang benar-benar memprihatinkan. Beberapa kali, Tami menyebutkan nama Kak Gery dalam kritisnya dan hal itu membuat Mamih Tami berinisiatif menghubungi Umi Kak Gery, agar membujuk anaknya supaya mau datang melihat kondisi Tami saat ini. Akhirnya dengan terpaksa Umi Kak Gery membujuk anak tunggalnya itu agar mau menjenguk Tami barang sebentar.


"Sebentar aja, Ger! Umi mohon, kamu pulanglah dulu," Bujuk Umi Kak Gery lewat panggilan teleponnya.


"Apa kondisinya separah itu ya, Mi? tapi Gery benar-benar masih harus menyelesaikan beberapa pertemuan lagi bersama klien di sini, Mi!" Tutur Kak Gery dengan nada malas.


"Umi tahu, Ger! makannya kamu besuk nya sebentar aja! ini juga supaya kamu gak ikut di salahkan dalam hal percobaan bunuh diri Tami. Umi gak mau kamu terbawa-bawa kasus yang gak jelas nantinya!" Sahut Umi Kak Gery mencoba memberi solusi.


Kak Gery menghela nafasnya panjang, dia benar benar terkejut sekaligus tak percaya jika Tami benar benar nekad mencoba buhun diri. Sejurus kemudian, Kak Gery segera menghubungi asistennya untuk mengatur jadwalnya, besok yang semula harus menemui klien terakhirnya di siang hari jadi dia ajukan lebih awal, agar Kak Gery bisa pulang sesegera mungkin untuk memastikan keadaan Tami.


"Ha... semoga aja si Tami gak terlalu parah kondisinya, aku benar-benar gak nyangka kalau dia bisa senekat ini!" Gumam Kak Gery.


Dilain tempat, Tiwi tak kalah terkejut dan gelisah. Entah mengapa Tiwi merasa jika aksi percobaan bunuh diri Tami itu masih ada sangkut pautnya dengan tunangannya. Tiwi semakin curiga jika Tami masih memendam perasaannya pada Kak Gery, sehingga dia gelap mata dan khilaf ingin mengakhiri hidupnya sendiri.


"Ya Allah, kenapa aku jadi gelisah gini, ya? hm... semoga aja Kak Gery gak terlibat dalam hal percobaan bunuh diri Kak Tami. Tapi, kenapa hati kecil aku meyakini ada hubungannya dengan Kak Gery, ya? ha... kayanya besok aku harus menjenguknya lagi untuk memastikan, siapa tahu besok aku mendapatkan petunjuk lain!" Gumam Tiwi sambil mencoba memejamkan matanya.


Sejurus kemudian, Tiwi malah terduduk dan mengingat jika Kak Gery sama sekali tidak menghubunginya lagi setelah panggilan terakhirnya sore tadi. Padahal biasanya Kak Gery pasti selalu meneleponnya setiap malam sebelum dia tidur. Di cek nya kembali hp Tiwi, ternyata tak ada satu chat yang masuk pun dari Kak Gery. Hal itu membuat kecurigaan Tiwi semakin bertambah, namun Tiwi tak mau berburuk sangka dan memilih mendoakan yang terbaik untuk Tami dan Kak Gery.


"Kenapa perasaan aku makin gak enak ya? kayanya aku benar-benar harus mengunjungi Kak Tami lagi besok!" Gumam Tiwi setelah mengecek hpnya.

__ADS_1


Keesokan harinya, Kak Gery yang baru saja selesai memenuhi pertemuan dengan klien terakhirnya itu, akhirnya bergegas berkemas untuk kembali pulang ke rumahnya sebelum menjenguk Tami di Rumah Sakit.


"Assalamu'alaikum," Ucap Kak Gery seraya masuk ke dalam rumahnya.


"Wa'alaikumsalam. Loh, Ger! kamu udah pulang ya? bukannya kamu bilang jadwalnya akan selesai besok, ya?" Tanya Kakek Kak Gery yang ternyata sedang menginap di rumah Kak Gery.


"Gery percepat jadwalnya, Kek! Gery masuk kamar dulu ya, Kek!" Tutur Kak Gery berpamitan sambil melenggang ke arah kamarnya.


"Tumben anak itu pulang cepat, apa hubungannya dengan nak Twi sudah membaik ya sekarang?" Gumam Kakek Kak Gery yang salah mengira, jika Kak Gery pulang cepat karena Tiwi.


"Ha... males banget, deh! kalau aja bukan karena penasaran dengan kondisinya, mungkin aku gak akan pulang secepat ini! untungnya klien bisnis tadi bisa di ajak kompromi! kalau engga, ha... ya udahlah, sebaiknya aku siap-siap aja sekarang, biar urusannya cepat kelar juga!" Gumam Kak Gery di dalam kamarnya.


Tepat pukul 13.00, Tiwi yang baru saja selesai melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, segera bergegas menuju Rumah Sakit dimana Tami di rawat. Kebetulan hari ini kedua sahabatnya absen masuk kuliah. Mereka berdua kompak tidak masuk kuliah karena mengalami morning sickness, akibat kehamilan mereka.


"Bismillah, semoga hari ini aku bisa mendapatkan informasi yang cukup jelas untuk menghilangkan perasaan gelisah ku ini!" Batin Tiwi seraya beranjak dari tempatnya duduk setelah selesai melaksanakan Sholat Dzuhur.


.


.


.


.


.


Jangan lupa kasih dukungan terbaiknya ya guys...

__ADS_1


See you next episode 😘😘😘


__ADS_2