CHOICE LOVER

CHOICE LOVER
Eps 109.


__ADS_3

"Ger! kamu jadi, kan jenguk Tami? Umi khawatir anak itu semakin nekad kalau kamu gak membesuknya!" Seru Umi Kak Gery dari sambungan telepon.


"Iya Umi, ini Gery lagi di jalan ke Rumah Sakit, ko!" Sahut Kak Gery.


"Ya udah, kamu hati-hati ya!" Ucap Umi Kak Gery seraya memutuskan sambungan teleponnya.


"Astagfirullah, sebenernya aku males banget jenguk si Tami, tapi apa boleh buat! sepertinya aku harus lebih hati-hati lagi sama dia!" Gumam Kak Gery yang kini telah tiba di parkiran Rumah Sakit di mana Tami di rawat.


Tiwi sendiri baru saja turun dari ojek yang dia gunakan untuk menuju Rumah Sakit tersebut. Dengan tergesa dia menghampiri Suster yang berjaga hari itu. Namun saat Tiwi hendak melangkah, dirinya menangkap sosok yang begitu dia rindukan sedang menghampiri sebuah ruangan rawat inap sambil membawa seikat bunga segar.


"Kak Gery? mau apa dia disini? apa dia mau menjenguk Kak Tami juga? tapi seharusnya kan Kak Gery masih di XXXXX, sekarang!" Batin Tiwi berusaha menjaga jarak agar tak terlihat oleh Kak Gery.


"Assalamu'alaikum," Ucap Kak Gery memasuki sebuah ruangan rawat inap VIP dimana Tami di rawat.


"Wa'alaikumsalam, eh nak Gery! masuk nak!" Seru Mamih Tami ramah.


"Makasih Tante, ini ada titipan bunga dari Umi!" Tutur Kak Gery seraya menyerahkan seikat bunga yang dia bawa.


"Wah... bunganya harum sekali, makasih ya nak! Tante simpan di vas bunga dulu, deh!" Sahut Mamih Tami beranjak menghampiri sebuah vas bunga dan menata bunga pemberian Kak Gery tersebut.


Tami masih bungkam saat melihat kehadiran Kak Gery. Dia merajuk karena Kak Gery sama sekali tidak perduli pada dirinya. Hingga akhirnya Kak Gery berusaha menjelaskan agar tidak berlaku nekad seperti itu lagi.


"Tam, gimana keadaan kamu, sekarang?" Tanya Kak Gery setelah duduk di salah satu samping tempat tidur yang di gunakan Tami berbaring di Rumah Sakit.


"Apa perduli kamu, Ger? buat apa kamu basa-basi tanya kabar aku?" Ketus Tami.


"Maaf, Tam! kemari aku benar-benar gak bisa datang karena pekerjaanku benar-benar gak bisa di tinggalkan! lagi pula sejak kapan kamu berlaku bodoh seperti ini, apa kamu pikir dengan mengakhiri hidup seperti ini bisa menyelesaikan masalah?" Tutur Kak Gery.


"Kamu gak tahu apa-apa Ger, aku lebih baik mati dari pada harus menanggung beban ini sendirian!" Sahut Tami beranjak duduk dan menyambar selang infusan yang tertancap di lengan kirinya dengan brutal.

__ADS_1


Kak Gery begitu terkejut dan spontan memeluk Tami untuk menenangkannya. Mamih Tami sendiri hanya bisa terisak menyaksikan putrinya yang begitu depresi menerima kenyataan keluarganya yang hancur.


Di tempat lain, ternyata Tiwi sedari tadi mengintip mereka di balik celah jendela ruangan rawat Tami. Perasaannya, tiba-tiba terasa sesak. Hatinya bagai tercabik-cabik saat melihat Kak Gery memeluk Tami penuh khawatir. Kak Gery seakan takut jika sesuatu yang buruk terjadi lagi pada wanita yang ada dalam dekapannya itu.


"Sepertinya aku udah tau jawabannya! tapi apa itu berarti aku harus mundur..." Batin Tiwi yang tak terasa menitikkan air mata.


"Tam, aku mohon jangan seperti ini! kamu bisa cerita sama aku dan Mamih kamu kalau mau, jangan sampai kamu menyakiti diri kamu lagi seperti ini!" Seru Kak Gery setelah menarik Tami ke dalam dekapannya.


"Kamu bohong, Ger! kamu pasti cuma membujuk aku supaya gak bunuh diri lagi, kan! setelah aku tenang, kamu pasti akan kembali lagi pada gadis tengil itu!" Tutur Tami yang ternyata menyadari keberadaan Tiwi yang mengintip mereka di balik celah jendela ruangannya.


"Aku emang gak mungkin ninggalin Tiwi, Tam! dua itu tunangan ku!" Sahut Kak Gery berusaha melepaskan dekapannya.


Tami semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Kak Gery, dia tidak membiarkan Kak Gery lepas begitu saja, apa lagi dia sudah melihat Tiwi berderai air mata menyaksikan mereka yang sedang berpelukan saat ini.


"Aku gak perduli, Ger! kalau kamu gak mau aku bunuh diri lagi, kamu harus selalu ada buat aku, aku butuh kamu sebagai penyemangat hidupku yang sudah hancur ini, Ger!" Tutur Tami pura-pura terisak.


"Sayang, Mamih mohon jangan sepeti ini! nak Gery gak mungkin menemani kamu, dia udah mau menikah, nak! sebaiknya kamu ikut Mamih ke luar Negeri aja ya, kita mulai hidup yang baru di sana!" Seru Mamih Tami.


"O...ok-ok, kamu tenang dulu, ya Tam! sebaiknya sekarang kamu istirahat aja, ok!" Sahut Kak Gery sambil mencoba melepaskan tangan Tami yang melingkar erat di pinggangnya.


"Engga, Ger! aku gak mau istirahat! aku takut kamu pergi kalau aku istirahat!" Rengek Tami dengan wajah yang dibuat memelas.


Kak Gery bersusah payah menghela nafasnya, dia benar-benar bingung mencari alasan yang tepat untuk menghindari Tami. Hingga akhirnya Tami mengecup pipi Kak Gery yang membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut, termasuk Tiwi. Tanpa sengaja Tiwi membuat jendela yang dia gunakan untuk mengintip menimbulkan suara karena keterkejutannya.


Kak Gery langsung melihat ke arah sumber suara. Dia benar-benar terkejut, saat tau jika Tiwi juga melihat aksi Tami yang mencium pipinya. Seketika Kak Gery menghempas kasar tangan Tami yang masih melingkar di lehernya. Saat Kak Gery hendak menyusul Tiwi, Tami langsung mencekal tangannya dan kembali mengancam. Tami mengatakan, jika Kak Gery sampai pergi mengejar Tiwi, Tami akan kembali menggoreskan pisau di nadinya.


"Jangan pergi! kalau tidak aku akan nekad lagi seperti kemarin!" Ancam Tami seraya meraih sebilah pisau buah yang tergeletak di atas meja samping tempat tidurnya.


Mamih Tami dan Kak Gery benar-benar di buat panik dan tegang. Tami semakin mengarahkan pisau itu di lehernya. Hingga akhirnya Kak Gery menyerah dan mengindahkan kemauan Tami saat itu, mungkin saat ini hal itu benar-benar yang terbaik untuk Kak Gery.

__ADS_1


Ditempat lain, Tiwi masih terlihat berlari seraya berurai air mata. Hatinya terasa perih saat melihat Tami yang begitu mudahnya mencium Kak Gery, dia bahkan menyaksikan Kak Gery yang diam saja seperti tak mau menolaknya.


"Ya Allah, kenapa hati Tiwi nyesek banget. Tiwi bener-bener gak bisa liat Kak Gery mesra sama wanita lain," Batin Tiwi seraya melunguhkan bokongnya di lantai lorong Rumah Sakit, tak jauh dari ruangan rawat Tami.


"Dek, kamu kenapa menangis di sini? apa kamu sakit?" Tegur seorang Suster yang kebetulan lewat di lorong itu.


Tiwi segera menggelengkan kepala dan berusaha berdiri seraya menyusut sisa air matanya. Meski kini tubuhnya benar-benar lemas tak bersemangat, Tiwi berusaha menyunggingkan senyumnya untuk meyakinkan sang Suster, jika dia baik-baik saja.


"Saya gak apa-apa, Sus! saya cuma kelelahan aja! saya permisi, mari!" Ucap Tiwi seraya melangkahkan kakinya yang masih bergetar hebat.


Setibanya di sebuah halte depan Rumah Sakit, Tiwi memilih duduk sambil menyandarkan kepalanya ke dinding samping halte. Ingatannya kembali berputar saat menyaksikan Tami yang mencium Kak Gery, dan hal itu berhasil membuat air matanya terjun bebas kembali di pipi mulusnya.


"Aku harus percaya sama Kak Gery! aku gak boleh berprasangka buruk dulu, bisa jadi Kak Gery hanya ingin menenangkan Kak Tami, tadi!" Batin Tiwi menyemangati dirinya sendiri.


"Nona, Tiwi?" Seru seorang supir taksi setelah menghentikan mobilnya tepat di depan Tiwi yang masih melamun. Tiwi segera tersadar dan menganggukkan kepalanya seraya memasuki taksi yang sebelumnya dia pesan.


"Sudah siap, Non?" Tanya sang supir lagi.


"Iya, Pak!" Sahut Tiwi setelah duduk dengan nyaman.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Yang belum kasih dukungannya jangan lupa ya...


See you next episode 😘😘😘


__ADS_2