CHOICE LOVER

CHOICE LOVER
Eps 96.


__ADS_3

Seketika, suasana menjadi hening. Tata, Andrina dan Kak Haikal mengerti jika Tiwi dan Kak Gery memang membutuhkan waktu untuk bicara berdua. Tanpa di suruh, mereka beranjak meninggalkan Kak Gery dan Tiwi ke teras rumah. Kebetulan, Ibu Tiwi juga sudah kembali dari dapur membawakan beberapa cemilan dan teh hangat untuk mereka.


"Eh... Ibu simpan cemilannya di luar aja ya, gak apa apa kan, nak?" Tanya Ibu Tiwi setelah melihat teman teman Tiwi yang lainnya ada di teras rumahnya.


"Iya, Tante! gak apa-apa ko," Sahut Kak Gery. Ibu Tiwi akhirnya bergegas ke teras rumah untuk menyajikan suguhan yang dia siapkan.


"Maaf ya, Tante gak punya apa-apa untuk di suguhkan, ayo silahkan di cicipi!" Ucap Ibu Tiwi sambil menata beberapa cangkir air teh untuk mereka.


"Gak perlu repot-repot Tante. Oh iya, ini ada sedikit makanan dan buah-buahan, Tan! di terima ya!" Sahut Tata seraya memberikan bingkisan belanjaan yang sebelumnya dia beli bersama Andrina dan kedua laki-laki yang setia mengikuti mereka.


"Ya ampun... kalian ko malah repot-repot sih! makasih banyak ya, kalau gitu Tante simpan ini dulu ke dalam ya, ayo silahkan di cicipi kuenya!" Seru Ibu Tiwi kembali melenggang ke dalam rumahnya.


Di dalam ruang tamu, Tiwi masih diam dan tak berani berkata-kata untuk memulai percakapan lebih dulu. Dia lebih memilih bungkam sambil merasakan kepalanya yang masih terasa nyeri dan pusing.


"Yang, tolong ambilkan cookies nya dong!" Seru Kak Haikal dengan nada manjanya.


"Ish... malu tau di lihat, Tata!" Sahut Andrina canggung.


"Santai aja kali, Drin! lagi pula kalian itu sekarang udah jadi pasangan halal, aku ngerti ko, malah aku jadi gak sabar bisa melakukannya juga dengan Kak Iman, he... moga aja aku juga bisa merasakan kebahagiaan yang sama seperti kalian kelak ya!" Kekeh Tata di akhir ucapannya.


"Aamiin, semoga acara pernikahan kalian nanti berjalan dengan lancar ya, Ta!" Ucap Andrina.


"Aamiin..." Ucap Tata.


"Yang...ayo dong, suapi Kakak!" Rengek Kak Haikal bak anak kecil yang merajuk meminta permen pada Ibunya.


Andrina menghela nafasnya sebelum akhirnya dia menyuapkan sebuah cookies ke mulut suami manjanya itu. Di ruang tamu sendiri l, Kak Gery akhirnya memulai percakapan mereka setelah beberapa saat sama-sama berdiam diri.


"Maaf..." Satu kata itu berhasil lolos dari bibir ranum Kak Gery, memecah keheningan diantara mereka.


"Untuk apa Kakak meminta maaf lagi?" Sahut Tiwi.


"Karena Kakak benar-benar menyesali perbuatan Kakak kemarin, jadi tolong... maafkan Kakak ya, Wi!" Lirih Kak Gery.

__ADS_1


"Tiwi sudah melupakannya Kak, dan Tiwi harap Kakak tidak mengulanginya lagi selain dengan pasangan halal Kakak nanti!" Sahut Tiwi berusaha menahan rasa pusing di kepalanya.


"Makasih ya, Wi! Kakak janji Kakak gak akan mengulangnya lagi," Ucap Kak Gery bersungguh sungguh.


Keheningan akhirnya menyelimuti mereka kembali setelah permintaan maaf tersebut. Namun beberapa menit kemudian, Tiwi nampak semakin tersiksa dengan rasa sakit kepalanya yang semakin menjadi.


"Apa kamu mau makan sesuatu, Wi? Kakak kupas kan jeruk ya!" Seru Kak Gery menyambar sebuah jeruk di atas meja tamu.


"Gak perlu Kak, biar nanti Tiwi makan sendiri aja." Sahut Tiwi yang kembali terdiam sambil memijit sebelah keningnya.


"Kamu baik-baik aja kan, Wi! wajah kamu makin pucat! Sebaiknya kamu istirahat aja ya sekarang!" Ucap Kak Gery khawatir.


"Iya Kak, dan maaf tolong sampaikan pada Tata dan Andrina ya, kalau Tiwi istirahat duluan ke kamar!" Sahut Tiwi sambil beranjak dari duduknya.


Namun baru saja Tiwi hendak berdiri, tubuhnya malah limbung karena masih merasakan pusing yang teramat menyiksa di kepalanya.


"Astagfirullah..." Pekik Tiwi sambil mencoba menahan diri dengan memegang sandaran sofa.


"Hati-hati, Wi!" Seru Kak Gery.


Bukannya menjawab, Tiwi malah langsung terkulai lemas di atas lantai, seketika Kak Gery langsung menghampirinya dan segera menggendongnya untuk di baringkan di sofa.


"Astagfirullah! Tiwi kenapa, Kak?" Tanya Tata yang mendengar suara sesuatu yang terjatuh dari dalam rumah Tiwi dan ternyata itu adalah sahabatnya.


"Sepertinya Tiwi pingsan, Ta! sebaiknya kita rebahkan di kamarnya aja biar dia bisa istirahat dengan nyaman!" Sahut Kak Gery langsung meraup tubuh mungil Tiwi untuk di bawa ke kamarnya.


"Ya Allah, Tiwi kenapa, nak!" Seru Ibu Tiwi cemas setelah kembali dari menyimpan bingkisan dari Tata.


"Tiwi pingsan Tante, sebaiknya kita bawa ke kamarnya aja ya!" Sahut Kak Gery.


"Oh, ya udah ayo! biar Tante siapkan tempat tidurnya," Tutur Ibu Tiwi mengajak Kak Gery untuk mengikutinya.


Sesampainya di kamar Tiwi, Kak Gery segera membaringkannya dengan begitu hati-hati, dia benar benar khawatir dengan keadaan Tiwi, hingga akhirnya Kak Gery mengusulkan untuk memanggilkan Dokter keluarganya. Namun segera di tolak oleh Ibu Tiwi yang merasa sungkan.

__ADS_1


"Tante, Gery hubungi Dokter keluarga Gery aja ya untuk memeriksa Tiwi, Gery khawatir kondisinya semakin memburuk!" Tutur Kak Gery.


"Gak usah nak, biar Tante coba balur Tiwi dengan minyak angin dulu aja, biasanya dia akan mudah terbangun jika mencium aroma minyak angin," Sahut Ibu Tiwi bergegas mengambil minyak angin dari kotak persediaan obatnya.


"Kayanya kita menjenguk di waktu yang salah deh, Drin! Kasihan si Tiwi jadi gak bisa istirahat," Sesal Tata.


"Iya, bener Ta! semua ini salah aku, kalau aja aku gak ngajak kalian menjenguk Tiwi hari ini, mungkin kondisinya gak akan semakin memburuk seperti ini!" Isak Andrina yang sudah tak bisa lagi membendung air matanya.


"Suttt!! udah, Yang! jangan menyalahkan diri sendiri, sebaiknya sekarang kita biarkan si Tiwi istirahat aja, ayo!" Seru Kak Haikal mengajak istrinya untuk keluar dari kamar Tiwi.


Beda halnya dengan Kak Gery, dia masih saja setia duduk di samping tempat tidur Tiwi sambil menggenggam tangan tunangannya itu. Sesekali dia menatap sekeliling kamar Tiwi dengan rasa kagum, karena kamar Tiwi benar-benar terasa nyaman, bersih dan rapih.


Di saat kedua netra nya menyapu keadaan sekeliling, sorotan matanya terhenti pada sebuah foto yang terpajang di atas meja belajar Tiwi. Di hampiri nya foto tersebut. Setelah Kak Gery mengamatinya, dia benar-benar terkejut sekaligus bingung dengan apa yang dia lihat.


"A...apa ini? kenapa fotoku bisa ada di kamar Tiwi? dan kapan kita berfoto seperti ini?" Batin Kak Gery setelah berhasil menghampiri meja belajar Tiwi dan mengamati foto yang terpajang di sana.


"Nak Gery masih di sini?" Ucap Ibu Tiwi mengejutkan.


"I...iya Tante! maaf, Gery hanya masih khawatir dengan keadaan Tiwi!" Sahut Kak Gery yang masih memegangi bingkai foto dirinya bersama Tiwi saat acara pertunangan mereka.


"Sepertinya Tiwi hanya butuh istirahat nak, sebaiknya nak Gery juga istirahat aja, lagi pula ini sudah


malam, nak Gery pasti lelah, kan!" Tutur Ibu Tiwi.


"Ba...baiklah Tante, tapi sebelum Gery pamit, Gery ingin bertanya satu hal!" Sahut Kak Gery memberanikan diri.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Semoga aja masih ada yang setia membaca karya receh Mom ini, jangan lupa juga sertakan dukungan terbaik kalian ya guys... see you next episode 😘


__ADS_2