
"Tapi tetep aja, By! dia kan bisa temui Aby di luar kantor, bahkan tadi dia ada di sekitaran perumahan kita! Tiwi benar-benar gak tenang, By!" Keluh Tiwi mengungkapkan kecemasannya.
Kak Gery menghela nafasnya, dia begitu paham dengan kekhawatiran yang Tiwi rasakan. Kak Gery membalikkan tubuh Tiwi agar berhadapan dengannya dan mengecup dalam keningnya sebelum berucap.
"Yang, kamu percaya kan sama Aby! Aby janji, sebisa mungkin Aby akan menghindari wanita itu kalau ketemu di luar! Sebaiknya sekarang kita ke ruang keluarga aja ya! Kayanya Umi sama Ibu bentar lagi bakal datang, deh! Ayang jangan terlalu memikirkannya lagi, ya!" Tutur Kak Gery membingkai wajah istrinya dan mendaratkan kembali kecupan dalam di kening Tiwi.
Kurang lebih pukul setengah 7 malam, kedua orangtua Kak Gery dan Tiwi pun tiba beriringan. Mereka benar-benar sangat kompak, sehingga Tiwi pikir mereka sudah membuat janji sebelumnya.
"Assalamu'alaikum, Bu Mirna!" Seru Ibu Tiwi menghampiri.
"Wa'alaikumsalam, eh... besan juga baru tiba ya?" Sahut Umi Kak Gery yang baru saja turun dari mobilnya bersama sang suami.
"Iya, Bu! Bu Mirna dan suami apa kabar?" Tutur Ibu Tiwi sambil bersalaman dengan kedua besannya yang kini sudah ada di depan teras rumah anak-anak mereka.
"Alhamdulillah besan, besan sendiri bagaimana kabarnya? yuk, kita masuk dulu!" Sahut Umi Kak Gery seraya menekan bel rumah anak dan menantunya.
Tak lama kemudian, seorang ART membukakan pintu untuk mereka dan menyuruhnya langsung masuk ke ruang keluarga.
Ceklek....
"Assalamu'alaikum," Ucap Umi Kak Gery.
"Wa'alaikumsalam, silahkan masuk Bu, Pak! Ibu Tiwi sama Pak Gery sudah menunggu di ruang keluarga," Seru Bi Ina salah satu ART yang sudah ikut bekerja di rumah Kak Gery dan Tiwi semenjak mereka pindah ke rumah itu.
"Oh iya, Bi! makasih ya. Ayo besan, mereka pasti senang kita datang!" Sahut Umi Kak Gery kembali mengajak orangtua Tiwi untuk masuk ke dalam rumah anak-anaknya.
"Iya, Bu." Ucap Ibu Tiwi seraya berjalan beriringan.
"Ibu, Umi! kalian ko bisa dateng barengan? kalian janjian, ya?" Cecar Tiwi setelah melihat kedatangan Ibu dan mertuanya.
Sedang Kak Gery menyapa para lelaki paruh baya yang mengikuti kedua wanita istimewanya itu.
"Yah, apa kabar? ayo duduk!" Seru Kak Gery merangkul kedua pria paruh baya itu secara bergantian dan mempersilahkan keduanya untuk duduk di sofa ruang keluarga rumahnya.
"Ayah baik, Ger! gimana kabar kamu sendiri, nak?" Sahut Ayah Kak Gery balik bertanya.
"Alhamdulillah Gery baik, Yah! oh iya, Gery dengar kantor Ayah dapat tender besar dari perusahaan XXXXX itu ya, selamat ya, Yah!" Tutur Kak Gery pada mertuanya.
__ADS_1
"Alhamdulillah nak, Ayah masih di percaya memenangkan tender itu! perusahaan kamu sendiri gimana? Ayah dengar, kamu juga dapat investor terkenal dari luar Negeri, ya. Gimana? apa kalian udah tandatangani kontrak kerja samanya? semoga semuanya berjalan lancar ya!" Sahut Ayah Tiwi.
Kak Gery hanya bisa tersenyum kecut mengingat kembali investor yang mertuanya sebutkan. Dia benar-benar jijik saat mengingat kelakuan murahan wanita gila itu.
"Gery membatalkannya, Yah! ada hal yang buat Gery gak bisa terima kerja samanya," Tutur Kak Gery menjelaskan yang membuat kedua pria paruh baya itu menautkan kedua alis mereka.
"Kenapa, nak? apa investornya kurang adil dalam pembagian laba, ya?" Tanya Ayah Kak Gery yang kini mulai bersuara.
"Bukan, Yah. Gery masih menyelidiki motif investor tersebut. Kemarin, saat Tiwi masuk Rumah Sakit. Sebenarnya ada kaitannya dengan investor itu, Gery benar-benar gak bisa bekerja sama dengannya." Sahut Kak Gery sambil melirik ke arah sang istri yang sedang asik bercerita dengan ke dua wanita tangguh di samping kanan dan kirinya.
"Gak apa, Ger? kenapa investornya mengganggu menantu Ayah? apa jangan-jangan investor itu menginginkan sesuatu dari kamu, ya?" Cecar Ayah Kak Gery.
"Iya, nak Gery! jika memang ada masalah, bicarakan saja pada kami, mungkin kami bisa membantu nak Gery nantinya!" Sahut Ayah Tiwi.
Mendengar nama sang putri tersayang di sebut-sebut, dirinya semakin khawatir jika kedepannya masalah ini akan terulang lagi. Ayah Tiwi benar-benar tidak menginginkan sesuatu yang buruk terjadi pada putri dan menantunya.
"Gery udah suruh Nino untuk menyelidikinya, Yah! kalian gak perlu khawatir, Gery akan terus menjaga Tiwi dan memantaunya setiap saat. Semoga aja Nino segera mendapat info terkini tentang investor tersebut," Tutur Kak Gery.
"Semoga kalian selalu dalam lindungan Allah, nak! dan semoga keluarga kecil kalian selalu di limpahkan kebahagiaan," Sahut Ayah Tiwi yang di Aamiinkan oleh Kak Gery dan Ayahnya.
"Wah, udang asam manisnya enak banget. Kamu masak sendiri, ya nak?" Puji Umi Kak Gery setelah melahap udang asam manis yang di hidangkan menantunya.
"Iya, Mi! Tiwi tadi semangat banget loh bikinnya, Gery aja sampai menegurnya biar gak terlalu cape!" Tutur Kak Gery.
"Yang namanya orang masak kan pasti sibuk, By!" Sahut Tiwi yang membuat semua orang terkekeh melihat tingkah menggemaskannya.
"Ternyata anak Ibu sekarang udah jago banget masak, ya! syukurlah," Ucap Ibu Tiwi.
Setelah selesai menyantap makan malam, Kak Gery mengajak semua orang kembali duduk bersama di ruang keluarga, sambil menikmati buah-buahan segar sebagai pencuci mulut. Mereka pun bercengkrama kembali hingga waktu bergulir semakin malam.
"Yah, pulang sekarang yuk!" Seru Umi Kak Gery setelah menatap jam dinding yang tergantung di atas layar LED besar rumah anaknya.
"Ayo, Ayah benar-benar kenyang malam ini, makasih ya nak untuk jamuan nya!" Sahut Ayah Kak Gery.
"Yah, kita juga ikut pamit sekarang aja yuk, biar Tiwi dan nak Gery bisa istirahat, mereka pasti lelah hari ini, apa lagi Tiwi baru aja pulang dari Rumah Sakit kan," Tutur Ibu Tiwi.
"Iya, Bu! ya udah, kalau gitu Ayah dan Ibu juga pulang sekarang ya nak!" Sahut Ayah Tiwi sambil beranjak dari duduknya yang di ikuti oleh istri dan kedua besannya.
__ADS_1
"Loh, Umi sama Ibu, ko malah mau pada pulang, sih! Kalian nginep aja ya! Iya kan By!" Ucap Tiwi.
"Iya, Mi, Bu! sebaiknya kalian menginap aja di sini!" Sahut Kak Gery.
"Lain kali aja ya nak, Ayah sama Ibu kebetulan harus ke rumah pamannya Tiwi, besik. Kamu jangan sampai kelelahan lagi ya!" Tutur Ibu Tiwi sambil mengusap wajah putrinya dengan lembut
"Hm... ya udah, kalau gitu Ibu dan Ayah hati-hati di jalan, ya!" Sahut Tiwi.
"Ayah sama Umi juga pulang ya sayang, Ayah juga besok harus masuk kerja, lain kali aja, ya!" Ucap Ayah Kak Gery.
"Iya, Yah! Kalian juga hati-hati di jalan, ya! Oh iya Mi, Besok kalau jadi Tiwi mau ke butik ya, Umi ada di sana kan, besok?" Tanya Tiwi beralih kepada mertua perempuannya.
"Ada, ko nak! apa perlu, Umi jemput ke sini?" Sahut Umi Kak Gery.
"Gak apa-apa, Mi! Tiwi besok berangkat sama Kak Gery ko, iya kan By?" Tutur Tiwi seraya bertanya.
"Ayang mau apa ke Butik? Ayang kan harus banyak istirahat!" Tanya Kak Gery bingung karena Tiwi belum membicarakan hal tersebut dengannya.
"Tiwi mau cari baju hamil yang lebih besar, By! baju-baju Tiwi udah sempit semua, sekalian jalan-jalan. boleh ya... mumpung Aby lagi cuti!" Bujuk Tiwi.
"Oh, gitu ya! Ya udah, besok pasti Aby antar, ko!" Sahut Kak Gery.
"Kalau gitu Umi tunggu ya, sekarang Umi pulang dulu!" Tutur Umi Kak Gery sambil meraih hand bag miliknya.
Akhirnya kedua orangtua Tiwi dan Kak Gery pun pulang dan kembali meninggalkan sepasang suami istri itu di kediaman mereka.
.
.
.
.
.
See you next episode 😘😘😘
__ADS_1