
Tiwi masih mencoba mencerna apa yang dikatakan Kak Gery. Dia benar-benar terkejut sekaligus tak menyangka jika saat ini mereka telah benar-benar menikah.
"Ja...jadi, sekarang kita udah..." Ucap Tiwi tercekat karena Kak Gery sudah membungkamnya dengan bi*** ranumnya.
"Kakak akan memberi kabar bahagia ini sama semua keluarga, mereka pasti senang jika tahu kamu udah siuman sekarang," Tutur Kak Gery yang langsung menghubungi Uminya dan kedua mertuanya.
Mereka benar-benar bersyukur dan bahagia setelah mengetahui kabar baik tersebut. Setelah memutuskan panggilan teleponnya, Kak Gery menatap lekat manik mata istrinya seraya mengelus lembut mahkota Tiwi yang masih tertutup kerudung.
"Kakak juga akan memberi tahu kamu satu hal lagi, Yang! pasti kamu udah menunggu kebenarannya!" Ucap Kak Gery.
"Apa?" Tanya Tiwi membalas tatapan teduh suaminya.
"Apa kamu gak mau bertanya tentang ingatan Kakak?" Tanya Kak Gery sedikit memanyunkan bibirnya.
"Kakak udah ingat lagi? sejak kapan? atau selama ini Kakak hanya berpura-pura hilang ingatan?" Cecar Tiwi.
"Buat apa Kakak berpura-pura? Kakak bener-bener hilang ingatan, Yang! dan saat kamu di tabrak Tami itulah, ingatan Kakak kembali lagi!" Tutur Kak Gery menjelaskan panjang lebar.
"Jadi, Tiwi di tabrak, Kak Tami? terus gimana kabar Kak Tami, sekarang? apa dia udah di tangkap?" Sahut Tiwi menggebu-gebu.
"Udah. Hari itu juga polisi berhasil meringkusnya. Dia, benar-benar gadis gila yang terlalu terobsesi dengan ketampanan suamimu ini, Yang! Kayanya bentar lagi dia bakal di bawa ke Rumah Sakit jiwa juga," Tutur Kak Gery yang kini ikut naik ke tempat tidur Tiwi.
"Rumah Sakit jiwa? eh, ko Kakak malah naik di sini, sih! tempat tidurnya kan sempit, nanti kalau Tiwi jatuh gimana, hayo!" Ucap Tiwi menahan tubuh suaminya yang memaksa dirinya menggeser duduk.
"Kakak benar-benar kangen sama kamu, Yang! apa lagi, ini kan malam pertama kita," Goda Kak Gery seraya memeluk tubuh sang istri dari belakang.
"Ma...malam pertama? tapi kan Tiwi baru aja siuman dari koma. Apa Kakak benar-benar tega, ya menagih hal seperti itu sekarang!" Tutur Tiwi seraya melepaskan tangan Kak Gery yang melingkar di perutnya.
"Ya enggaklah, Yang! Kakak cuma bercanda, ko! Kakak cuma gak mau jauh-jauh dari kamu. Malam ini kita tidur kaya gini ya, Kakak pengen peluk Ayang sampai pagi!" Bujuk Kak Gery seraya melingkarkan kembali tangannya di perut sang istri.
"Gak akan nyaman, Kak! mending Kakak tidur di sofa aja, sekarang! nanti kalau Tiwi udah boleh pulang, baru kita tidur sama-sama, ok!" Sahut Tiwi.
"Ha... iya, deh! ternyata udah nikah pun masih harus jaga jarak kaya gini, ya! hm... ini semua gara-gara si Tami, kalau aja dia gak bikin Ayang sakit kaya gini, Kakak pasti udah tidur pulas sambil peluk Ayang!" Keluh Kak Gery seraya menghampiri sofa panjang yang terletak tak jauh dari tempat tidur Tiwi di ruangan rawatnya.
__ADS_1
Pagi harinya, kedua orangtua Tiwi sudah sangat bersemangat mengunjungi putrinya yang sudah siuman semalam. Mereka membawa berbagai makanan kesukaan Tiwi untuk jaga-jaga jika Putrinya itu sewaktu-waktu menginginkannya.
"Assalamu'alaikum," Ucap Ibu Tiwi serata menghampiri Tiwi di tempat tidurnya yang di susul oleh sang Ayah.
"Wa'alaikumsalam, Bu." Sahut Tiwi seraya memeluk sang Ibu.
"Alhamdulillah, nak! Ibu bener-bener lega banget liat kamu udah seger kaya gini! oh iya, Ibu bawa beberapa makanan kesukaan kamu, loh! bentar, biar Ibu sajikan dulu, ya!" Seru Ibu Tiwi bergegas menata makanan yang di bawanya.
"Gimana keadaan kamu sekarang, nak? apa ada yang terasa sakit?" Tanya Ayah Tiwi menggantikan duduk di tempat Ibu Tiwi sebelumnya.
"Tiwi udah jauh lebih baik, ko Yah! Ayah gak kerja? kenapa Ayah keliatan lebih kurus, sekarang?" Tutur Tiwi memperhatikan tubuh Ayahnya yang terlihat sedikit lebih kurus.
"Ayah cuma kelelahan, sayang! kamu gak perlu khawatir. Oh iya, suamimu mana? dia jagain kamu siang malam loh, selama kamu di rawat di sini! meski Ayah dan Ibu udah melarangnya, tapi dia bener-bener keras kepala. Sampai akhirnya, dia minta restu Ayah sama Ibu buat nikahi kamu kemarin," Tutur Ayah Tiwi.
"Jadi, bener ya, Yah! ternyata Kak Gery beneran bersungguh-sungguh ya selama ini," Sahut Tiwi.
"Iya, nak! kamu begitu beruntung mendapatkan suami seperti nak Gery. Dia benar-benar menyayangi kamu dan bertanggung jawab! sebab itu juga lah, Ayah semakin yakin saat dia meminta restu Ayah untuk menikahi kamu," Tutur Ayah Tiwi mengusap pucuk kepala Tiwi dengan lembut.
"Wa'alaikumsalam, nak Gery dari mana?" Tanya Ayah Tiwi.
"Gery abis beli sedikit gorengan dan air minum, Yah! Gery sajikan di piring dulu ya!" Sahut Kak Gery bergegas ke arah mini kitchen yang ada di ujung ruangan rawat Tiwi samping pintu kamar mandi.
"Loh, kamu beli gorengan ya nak? padahal Ibu bawakan sarapan buat kalian Lo!" Sahut Ibu Tiwi yang kebetulan baru selesai memindahkan makanan yang dia bawa.
"Gery cuma beli sedikit, ko Bu! wah, keliatannya sarapan yang Ibu bawa lebih enak, deh! Gery coba makan sekarang ya!" Tutur Kak Gery meletakkan gorengannya dan meraih piring berisi makanan untuknya sarapan yang sudah di hidangkan oleh sang mertua.
"Ya udah, kamu habiskan sarapannya, ya! Ibu juga mau membawakan makanan kesukaan Tiwi dulu, sekarang!" Sahut Ibu Tiwi bergegas menghampiri keberadaan anak dan suaminya.
"Makasih ya Bu! masakannya benar-benar enak," Ucap Kak Gery tulus.
Setelah menghabiskan sarapannya, Kak Gery segera membawa gorengan yang sudah di pindahkannya di atas piring kepada kedua mertuanya.
"Oh iya Kak, kemarin Tata sama Andrina ke sini juga, ga?" Tanya Tiwi setelah suaminya ikut bergabung bersama mereka.
__ADS_1
"Iya, Yang! kemarin Tata ikut menghadiri akad, sedangkan Andrina dan Haikal menyusul setelah acara akad selesai," Jawab Kak Gery.
"Tiwi jadi kangen sama mereka! pasti sekarang perut hamil mereka udah pada keliatan besar-besar! jadi gak sabar nunggu mereka pada lahiran nanti," Ucap Tiwi berbinar.
"Kamu pasti gak akan tega kalau liat perut nak Andrina, sayang! perutnya benar-benar sangat besar," Sahut Ibu Tiwi.
"Jangan-jangan, Andrina hamil anak kembar, ya Bu! biasanya kan yang perutnya besar, hamil kembar! sama kaya Bi Atik waktu hamil si kembar yang meninggal," Tutur Tiwi mengingat adik Ibunya itu saat mengandung sang buah hati yang sayangnya harus berpulang kembali pada Sang Maha Kuasa.
"Benar, sayang! perutnya sama persis sama Bibi kamu waktu itu, semoga aja saat waktunya melahirkan nanti, nak Andrina di beri kelancaran dan keselamatan ya, Aamiin," Ucap Ibu Tiwi.
"Terus, kapan kalian kasih Ayah dan Ibu cucu?" Sahut Ayah Tiwi yang membuat Kak Gery tiba-tiba tersedak.
Ibu Tiwi langsung memberinya air minum yang kebetulan ada di sampingnya. Tiwi sendiri hanya bisa terkekeh saat menyaksikan tingkah lucu suaminya itu.
"Ayah ini suka ngawur deh, Tiwi kan belum sembuh sepenuhnya! memangnya Ayah tega ya sama anak kita kalau harus hamil saat belum sembuh betul!" Tegur Ibu Tiwi.
"Ayah kan cuma bercanda, Bu! siapa tahu aja, setelah Tiwi sembuh nanti dia bisa langsung hamil menyusul teman-temannya," Kekeh Ayah Tiwi.
"In Syaa Allah, Yah! Gery juga gak akan menundanya ko kalau Tiwi udah bener-bener sembuh! iya kan, Yang!" Seru Kak Gery meminta persetujuan istrinya.
"Ti... Tiwi terserah, Kakak deh!" Jawab Tiwi dengan kedua pipi merahnya seraya menunduk malu.
.
.
.
.
.
See you next episode 😘😘😘
__ADS_1