
Umi Kak Gery hanya bisa pasrah dengan keputusan Tiwi. Dia juga sadar jika dia tidak bisa memaksakan perasaan calon menantunya itu. Mungkin saat ini memang hal itu yang di butuhkan oleh Tiwi dan Kak Gery.
"Umi, jaga kesehatan ya! Tiwi pamit sekarang Assalamu'alaikum," Tutur Tiwi berpamitan.
"Wa'alaikumsalam, kamu juga harus jaga kesehatan ya nak, hati-hati di jalan..." Lirih Umi Kak Gery sambil memeluk Tiwi sebelum dia pergi.
Dua bulan kemudian, Tiwi akhirnya mulai memasuki Perguruan Tinggi. Pagi ini, dia terlihat begitu sibuk mempersiapkan apa saja yang akan dia bawa ke kampusnya, sesuai dengan anjuran dari para seniornya sebelumnya.
"Wi! ayo! Ayah sudah telat nih," Seru Ayah Tiwi dari balik pintu kamar putrinya.
"Iya, Yah! ini juga udah selesai ko!" Sahut Tiwi bergegas membuka pintu.
"Ya ampun, ini semua barang bawaan kamu ya?" Tanya Ayah Tiwi terkejut.
"Iya Yah, ya udah yuk berangkat sekarang! bukannya Ayah udah telat ya?" Sahut Tiwi sambil melenggang
melewati Ayah nya.
"Kamu gak sarapan dulu, Wi?" Tanya Kak Desi.
"Gak keburu Kak! nanti aja deh di kampus, Tiwi berangkat sekarang ya! oh iya, kalau nanti sore Yani ke rumah suruh pulang lagi aja ya, Kak! soalnya Tiwi hari ini bakal pulang malam," Tutur Tiwi menitip pesan.
"Ya ampun... kamu bawa apa aja itu, Wi? kamu itu mau ospek atau mau pindah rumah sih?" Seru Ibu Tiwi yang baru saja kembali dari warung.
"CK! Ibu belum pernah lihat orang di ospek ya? Ya udah ah, nanti Tiwi sama Ayah telah lagi, Tiwi berangkat dulu ya Bu, Kak, Assalamu'alaikum." Ucap Tiwi bergegas.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati!" Seru Ibu Tiwi.
Sesampainya di kampus, Tiwi segera menghampiri Tata dan Andrina yang sudah menunggunya sejak pagi. Hari itu rencananya mereka akan melakukan pencarian jejak di sebuah tempat Wisata Alam.
"Wi!!" Panggil Andrina dan Tata kompak.
"Kamu kemana aja sih, Wi? aku pikir kamu gak jadi ikut?" Cecar Andrina.
"Jadi dong, Drin! ya udah yuk kita simpan dulu barang-barang bawaannya!" Sahut Tiwi bergegas bersama kedua sahabatnya.
Saat ini, mereka menempuh pendidikan di Universitas yang sama, dengan jurusan yang sama pula di Universitas yang Kak Gery juga tempuh di sana.
"Ta, kenapa kamu diam terus sih? lagi ada masalah ya?" Tanya Tiwi setelah memperhatikan salah satu sahabatnya yang sedikit terlihat murung tak seperti biasanya.
"Aku keliatan banget sedih ya?" Ucap Tata balik bertanya seraya terisak.
"Eh... ko malah nangis sih, Ta! kayak bocah aja deh, udah cerita aja sama kita, kamu kenapa sih hari ini? gak biasanya deh kamu nangis kaya gini!" Tutur Andrina.
"Ihhh... kamu jahat banget deh, Drin! aku kan lagi sedih!" Sahut Tata semakin terisak.
"Udah-udah, kalian ko malah pada ribut sih! sebenernya apa yang terjadi sih, Ta?" Tegur Tiwi.
__ADS_1
"Kak Iman Wi..." Ucap Tata tercekat.
"Kak Iman kenapa, Ta?" Tanya Tiwi.
"Dia bilang, dia mau putus..." Rengek Tata semakin pecah.
"Putus? bukannya kalian udah bertunangan sebulan yang lalu ya?" Sahut Andrina menimpali.
"Iya Drin, tapi ternyata tunangan pun gak bisa mencegah kita dari kata putus. Apa lagi dia mengucapkannya di depan kedua orangtua aku." Tutur Tata menjelaskan.
"Astagfirullah, bukannya Kak Iman udah ngebet banget pengen nikahin kamu, ya Ta? kenapa sekarang malah minta putus?" Tanya Tiwi.
"Iya Wi, aku juga gak ngerti sama jalan pikiran dan perasaannya! dia benar-benar tega banget putusin aku. Padahal aku udah benar-benar sayang banget sama dia." Tutur Tata terisak.
"Sabar kawan, pada dasarnya laki-laki itu memang sama pada brengsek semua, sama seperti laki-laki angkuh yang ada di sana itu!" Sahut Andrina sambil menunjuk seorang laki-laki yang sedang berjalan menghampiri mereka.
"Apa, Lo! menunjuk-nunjuk muka gue? mau gue patahkan ya itu jari!" Tegur Kak Haikal yang tak lain laki-laki yang Andrina maksud.
"Coba aja kalau berani, wew..." Sahut Andrina sambil menjulurkan lidahnya.
"Eh, ini bocah tengil banget sih! awas Lo ya, gue bakal bikin elo habis hari ini juga!" Geram Kak Haikal.
"CK! situ pikir aku bakal takut ya!" Sahut Andrina percaya diri.
"Hm... liat aja nanti!" Ucap Kak Haikal tersenyum menyeringai sambil bergegas meninggalkan ketiga gadis di hadapannya.
"Duh... ternyata capek juga ya! kapan sampainya sih?" keluh Tata.
"Semangat Ta, sepertinya ini masih setengahnya perjalanan deh, kita harus tetap berjalan untuk menemukan garis finis nya!" Tutur Tiwi menyemangati.
"Iya Ta, masa kamu gitu aja udah menyerah!" Sahut Andrina yang berjalan di jajaran paling depan.
Tiba-tiba saja seorang senior mengagetkannya dan membuat Andrina terjatuh hingga kakinya keseleo.
"Aww!!!" Pekik Andrina.
"Astagfirullah, Drin! kamu gak apa-apa, kan?" Tanya Tiwi menghampiri.
"Sirry... sorry... gue kira elo gak akan terkejut seperti ini!" Tutur Senior yang mengejutkan Andrina.
"Gak apa-apa Kak, aku cuman kaget aja ko!" Sahut Andrina seraya mencoba kembali berdiri.
"Syukurlah, kalau begitu kalian bisa ikuti peraturannya sekarang, kan?" Ucap Senior itu dengan nada sedikit
mengintimidasi.
"Siap Kak!" Jawab Andrina lantang.
__ADS_1
"Drin! Kamu yakin bisa lanjutkan kegiatannya? kaki kamu sedikit memar loh itu," Bisik Tiwi khawatir.
"Tenang aja Wi, ini gak terlalu sakit ko, aku masih bisa menahannya!" Sahut Andrina.
"Hei! siapa yang suruh kalian bisik-bisik? fokus ke depan dan keluarkan minuman dan makanan kalian di sini sekarang juga!" Tegur Senior tegas.
"Ma... maaf Kak!" Ucap Tiwi terbata sambil mengeluarkan semua makanan dan minuman mereka.
"Bagus, sekarang kalian bisa melanjutkan perjalanan, ayo cepat!" Seru Senior.
"Terimakasih Kak!" Jawab mereka kompak.
Akhirnya Tiwi, Tata dan Andrina menuntaskan perjalanannya yang cukup menguras tenaga tersebut. Hingga tibalah mereka semua untuk beristirahat sambil menikmati udara segar dan pemandangan pegunungan yang cukup memanjakan mata.
"Drin! Kaki kamu makin bengkak, loh! apa kamu gak merasakan sakit ya?" Tanya Tiwi khawatir.
"Iya Wi, memang sakit ko! tapi aku gak boleh menyerah, kita masih harus kembali ke kampus setelah acara ini selesai!" Sahut Andrina bersemangat.
Namun baru saja Andrina hendak berdiri, Andrina langsung kehilangan keseimbangannya saat kebetulan Kak Haikal menghampiri mereka untuk mengecek keadaan Tiwi.
Brukk....
"Aww!" Pekik Kak Haikal yang tertindih oleh Andrina.
"Ma... maaf! Aku gak sengaja!" Ucap Andrina sambil berusaha beranjak dari tubuh Kak Haikal.
"Kaki elo bengkak!" Seru Kak Haikal setelah melihat salah satu pergelangan kaki Andrina membengkak.
"I...ini bukan apa-apa ko," Sahut Andrina sedikit meringis nahan nyeri.
"Bukan apa-apa gimana sih? jelas-jelas kaki elo udah bengkak Segede ini, elo masih bilang gak apa-apa! ayo ikut gue! kita obati dulu kaki Lo sebelum pulang!" Tutur Kak Haikal sambil menyeret Andrina.
"Hei!! bisa pelan dan lembut sedikit gak, sih? kaki aku kan masih sakit!" Tegur Andrina.
"Udah jangan cerewet! atau elo mau gue gendong, ya!" Sahut Kak Haikal dengan seringai di bibirnya.
"Eh... eh... engga usah deh, gak usah! aku jalan sendiri aja." Jawab Andrina bergidik ngeri.
.
.
.
.
.
__ADS_1
See you next episode... 😘😘😘