
"Astaga!! apa dia bidadari yang turun dari surga ya?" Kagum Kak Haikal sesaat setelah Tiwi keluar dari ruang make over.
"Ma Sya Allah, begitu sempurnanya ciptaan Mu, Ya Allah. Dia benar-benar cantik dan bersinar, tapi kenapa perasaanku seakan tidak asing dengan gaun yang dia kenakan ya?" Gumam Kak Gery dalam hatinya.
"Ta, aku terlihat begitu mencolok ya?" Tanya Tiwi memecah lamunan kedua pria di hadapannya.
"Engga ko, kamu pokoknya cantik pake banget deh, Wi. ayo! kita berangkat sekarang, nanti kita telat lagi!" Seru Tata sambil menarik tangan Tiwi.
Baru saja beberapa langkah, Tiwi sempat di tarik oleh Kak Gery yang berjalan di belakangnya. Ternyata saat itu gaun yang Tiwi kenakan tersangkut pada kancing jas yang Kak Gery kenakan. Entah bagaimana itu terjadi, yang jelas hal tersebut membuat Tiwi semakin gelisah.
Dia seakan tak bisa bernapas dengan baik saat Kak Gery tak sengaja menarik gaun nya ke belakang, hingga tubuhnya hampir terjengkang menindih tubuh Kak Gery yang berada di belakangnya.
"Eh, Astaghfirullah," Ucap Tiwi.
"kamu gak apa-apa kan, Wi?" Tanya Tata khawatir.
"A... aku gak apa-apa, Ta! kenapa Kak Gery tarik gaun Tiwi sih?" Tutur Tiwi.
"Kakak gak sengaja, barusan ujung gaun yang kamu pakai tersangkut di kancing jas Kakak, jadi barusan kamu tertarik ke belakang, maaf!" Sahut Kak Gery.
"Elo jangan ambil kesempatan dalam kesempitan dong, Ger! matanya sampai gak ngedip gitu natap gebetan gue!" Tegur Kak Haikal yang langsung menarik Tiwi agar berdiri dengan benar kembali setelah posisinya yang hampir saja terjatuh ke dalam pelukan Kak Gery.
"So... sorry Kal! Ana benar-benar gak ada maksud apa pun ko!" Ucap Kak Gery yang membuat hati Tiwi mendadak sesak.
Entah mengapa setelah mendengar penuturan Kak Gery tersebut, perasaan Tiwi seakan tercabik-cabik. Ternyata Kak Gery masih saja tidak merasakan kehadirannya di hatinya.
"Are you ok, girl?" Tanya Kak Haikal yang membuyarkan lamunan Tiwi.
"Wi, kamu baik-baik aja kan?" Tanya Tata khawatir.
Mata indah itu mulai berkaca-kaca dan bersiap menumpahkan bulir beningnya. Namun sekuat tenaga Tiwi menahannya, dia tidak ingin terlihat rapuh dihadapan siapa pun saat itu.
"Aku baik-baik aja Ta. ayo! sebaiknya kita berangkat sekarang! Kak Febi, Kak Rara, kita pamit dulu ya, Assalamu'alaikum" Tutur Tiwi sedikit berteriak untuk berpamitan.
"Wi, kamu berangkat bareng aku aja ya!" Seru Tata.
"Gak bisa dan gak boleh. Secara mobil gue lebih keren dari punya si Gery. Ayo! elo lebih pantas naik mobil gue, Wi!" Sahut Kak Haikal sambil menarik Tiwi ke dalam mobil sportnya setelah dia membukakan pintunya terlebih dahulu.
"Tapi Kak..." Ucap Tiwi tercekat karena Kak Haikal langsung menggiringnya masuk ke dalam mobil.
"Apa teman kamu bakal baik-baik aja Ta? sepertinya si Haikal begitu kasar sama dia," Tanya Kak Gery cemas.
"Kakak gak marah Kak Haikal menghina mobil kita barusan? Kenapa Kakak malah menghawatirkan teman Tata?" Sahut Tata balik bertanya.
__ADS_1
Kak Gery sempat terdiam dan memikirkan kembali ucapan Tata. Jika di pikir kembali, yang di ucapkan Tata ada benarnya. Kenapa dia harus mengkhawatirkan temannya Tata? dia kan sama sekali tidak memiliki hubungan apa pun, tapi apa mungkin memang ada?. Batin Kak Gery bertanya-tanya.
"Kak, ayo jalan! Tata bisa telat kalau bengong terus!" Tegur Tata mengembalikan kesadaran Kak Gery.
"Oh... sorry Ta, ya udah kita berangkat sekarang, kunci mobilnya mana ya?" Ucap Kak Gery gelagapan.
"Kuncinya udah terpasang di mobilnya dari tadi, Kak!" Seru Tata mengingatkan.
"Oh iya, ya udah kita berangkat! kenapa Kakak jadi pelupa begini ya?" Kekeh Kak Gery sambil menyalakan mobilnya.
Setibanya di gedung perpisahan, Tiwi sudah di sambut oleh sahabatnya Andrina di depan pintu masuk. Saat Tiwi melangkah menghampiri Andrina, semua mata seakan menyorot ke arah kedatangannya. Tiwi seakan memiliki daya tarik tersendiri, apalagi dia datang di dampingi Kak Haikal yang berjalan di dekatnya. Meski risih, Tiwi tetap harus menahannya agar Kak Gery benar-benar tergerak hatinya.
"Ma Sya Allah, Wi!!! kamu cantik banget, kalau aku jadi laki-laki, pasti udah aku pepetin, deh!" Kekeh Andrina seraya memeluk sahabatnya itu.
"Haist, gak usah lebay! si Tiwi udah ada gue yang jaga, jadi elo jauh-jauh sana." Ucap Kak Haikal melerai pelukan Tiwi dan Andrina.
"Ish, Kakak ko kasar banget sih sama perempuan cantik. Pantas aja Kakak gak laku-laku." Ejek Andrina.
"Eh, ini bocah nyebelin banget sih." Geram Kak Haikal.
"Biarin, wew..." Sahut Andrina sambil menjulurkan lidahnya.
"Dasar bocah tengil." Geram Kak Haikal.
"Sudah-sudah, lebih baik kita cari tempat duduk sekarang! kaki aku bisa sakit lagi nih kalau terlalu lama berdiri." Tegur Tiwi.
"Ok! yuk!" Seru Andrina tanpa beban mengait sebelah lengan Tiwi.
"Dasar bocah aneh." Gumam Kak Haikal yang masih sedikit kesal.
Ketiganya akhirnya .asuk ke dalam gedung untuk mencari kursi mereka masing-masing. Bertepatan dengan itu, ternyata Tata dan Kak Gery baru saja tiba setelah mencari parkiran mobil yang cukup penuh.
"Eh, itu si Tata, Wi. Ta!! " Teriak Andrina menggema.
"Dasar bocah aneh. Gue jadi penasaran sama yang dia makan. Kenapa suaranya bisa secempreng ini sih? bikin kuping gue sakit aja!" Gerutu Kak Haikal dalam hatinya.
"Kalian jahat deh tinggalin aku masuk duluan!" Rajuk Tata setelah menghampiri.
"Sorry, Ta! tadi aku di ajak si Tiwi sih, katanya kakinya takut sakit lagi kalau kelamaan berdiri," Sahut Andrina.
"Tapi kan aku ajak kamu juga gara-gara kalian berantem terus Drin! ya udahlah, sebaiknya sekarang kita duduk di kursi masing-masing aja ya!" Tutur Tiwi memberi saran.
"Ok deh, eh kursi kita sebelahan ya, Wi!" Sahut Tata sambil duduk di kursinya.
__ADS_1
"Eh...iya, Ta! tapi si Andrina duduk dimana ya?" Tutur Tiwi celingukan.
"Aku di sini!!! kamu kangen sama aku ya!" Teriak Andrina sambil duduk di kursi barisan depan Tiwi dan Kak Haikal.
"Astaga! ini bocah gak dimana-mana nyebelin terus kerjaannya. Gak bisa pelan-pelan apa ngomongnya? perasaan dari tadi teriak-teriak melulu, deh!" Ucap Kak Haikal
"Biarin, tapi biar nyebelin aku ngangenin kan, Kak!" Sahut Andrina.
"Ish, amit-amit deh!" Ucap Kak Haikal seraya bergidik.
"Kak! gak baik mengejek orang hingga seperti itu, nanti kalau tiba-tiba Kakak jatuh cinta sama si Andrina tau rasa loh!" Tutur Tiwi mengingatkan.
"Gak mungkin, Wi! dia bukan level gue." Sahut Kak Haikal.
"Awas aja nanti kalau benar-benar terjadi, aku akan membuat Kakak bertekuk lutut mengemis cinta sama
aku." Seru Andrina menggebu.
"Jangan ngarep deh, sebaiknya sepulang dari sini elo beli kaca yang gede supaya elo tahu diri, jadi cewek ko bar-bar banget sih," Omel Kak Haikal. Namun bukan Andrina namanya kalau tidak melawan saat tersudutkan.
"Kenapa aku harus beli kaca besar, apa Kakak meragukan pesona aku ya? atau Kakak mau memberitahu betapa cantiknya aku, benar kan?" Ucap Andrina percaya diri.
"Astaga, bocah ini benar-benar pandai berbicara, gue nyerah deh," Gumam Kak Haikal tak bergeming.
"Kenapa diam, Kak? apa Kak Haikal udah mengakuinya ya, secara pesona aku sulit terlupakan," Tutur Andrina sambil mengibaskan kipas yang dia bawa dengan gaya khas centilnya.
"Terserah elo deh, gue benar-benar udah muak ladeni bocah aneh kaya Lo!" Sahut Kak Haikal.
"Udahlah, Drin! Kak! hari ini kenapa kalian sering banget adu mulut sih? ini kan acara perpisahan kita, Drin! apa kamu mau melewatkannya begitu aja ya?" Ucap Tiwi yang membuat Kak Gery menatapnya tanpa berkedip.
"Kenapa suaranya terdengar begitu merdu sekarang, apa dia memakai sihir ya?" Gumam Kak Gery dalam
Hatinya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
See you next episode guys... 😘😘😮