CHOICE LOVER

CHOICE LOVER
Eps 147.


__ADS_3

"Bibi tunggu disini ya, Tiwi mau ke toilet dulu!" Seru Tiwi seraya mencoba beranjak dari duduknya


"Hati-hati Bu, biar Bibi antar aja, ya!" Sahut Bi Ina cemas seraya membantu Tiwi beranjak dari duduknya.


"Gak apa-apa, Bi! Bibi tunggu disini aja, nanti kalau gak ada yang menunggu, makanannya takut di ambil orang." Kekeh Tiwi.


"Tapi Bu..." Sahut Bi Ina yang langsung di sanggah oleh Tiwi.


"Tiwi gak akan lama ko, Bi! Bibi tunggu disini aja, ok!" Seru Tiwi seraya melangkahkan kakinya ke arah toilet Resto.


"Hm... Ibu kalau udah seperti itu memang susah di bilangin ya, padahal saya kan cuma khawatir, apa lagi kandungannya benar-benar udah terlihat kebawah," Batin Bi Ina yang tak bisa berbuat apa-apa selain mematuhi majikannya itu.


Ternyata kekhawatiran Bi Ina menjadi nyata. Setelah Tiwi menyelesaikan hajatnya, Tiwi berusaha keluar dari toilet, Namun sayangnya Tiwi terkunci di dalam. Entah siapa pelakunya, tapi Tiwi masih berusaha tenang dan berpikir positif. Tiwi mencoba mencari hpnya di dalam saku pakaian yang dia kenakan. Namun setelah di periksa, ternyata hpnya mati karena kehabisan baterai. lambat lain, perasaan Tiwi mulai resah, dia benar-benar takut jika dia tidak bisa keluar dari dalam toilet itu dengan segera. Bulir bening dari pelupuk matanya pun sudah mulai berjatuhan saat dirinya merasa keram di bagian bawah perutnya. Tiwi mencoba mengatur nafasnya beberapa kali, namun bukannya tenang Tiwi malah semakin merasa kesakitan pada perutnya.


"Astaghfirullah, Ya Allah! apa mungkin Tiwi kontraksi, ya?" Gumam Tiwi seraya mengusap-usap perutnya.


Sementara itu, Bi Ina yang sudah menunggu cukup lama, terlihat tak kalah gelisah karena tak kunjung mendapati majikannya kembali lagi. Dengan langkah yang lebar akhirnya Bi Ina memutuskan menghampiri Tiwi di toilet Resto tersebut setelah Bi Ina mendapatkan pesanan makanan majikannya.


"Ibu, ko belum balik lagi, ya! saya susul aja deh ke toilet, perasaan saya bener-bener gak enak!" Gumam Bi Ina seraya beranjak dari duduknya dan melenggang ke arah toilet.


Sesampainya di depan pintu toilet, Bi Ina mendapati papan yang sengaja di pasang di depan pintu toilet sebagai pemberitahuan jika toilet tersebut tidak bisa di gunakan.


"Toilet, rusak! pantesan Ibu lama, apa mungkin Ibu cari toilet lain, ya?" Terka Bu Ina bermonolog.


Samar-samar pendengaran Bi Ina menangkap suara majikannya dari dalam toilet tersebut. Toilet yang ternyata memiliki beberapa bilik di dalamnya itu, sengaja di kunci seseorang tak bertanggung jawab dari luar dan meninggalkan Tiwi seorang diri di dalam sana.


"Tolong! apa ada orang di luar? akh... Astagfirullah, tolong buka pintunya!" Teriak Tiwi di sisa tenaganya yang mulai melemah karena menahan sakitnya kontraksi.


"Kayanya itu suara, Ibu! apa jangan-jangan Ibu ada di dalam, ya?" Ucap Bi Ina yang kemudian menempelkan telinganya ke arah pintu toilet.


"Tolong!!! buka pintunya!" Teriak Tiwi dari dalam toilet.

__ADS_1


"Ya Allah, itu benar-benar suara Ibu, saya harus memeriksanya sekarang juga!" Ucap Bi Ina mulai panik seraya memutar kenop pintu yang ternyata terkunci rapat.


Ceklek.... ceklek... ceklek...


"Bu, apa Ibu yang ada di dalam?" Tanya Bi Ina setelah mencoba membuka pintu yang ternyata di kunci.


"Bibi! iya, Bi! Tiwi di dalam Bi, tolong buka pintunya! Kayanya Tiwi juga mulai kontraksi, Bi!" Tutur Tiwi merasa sedikit lega.


"Astaghfirullah... kalau gitu Ibu tunggu sebentar ya! Bibi akan cari bantuan dulu untuk membuka pintunya!" Ucap Bi Ina bergerak cepat menghampiri salah satu pekerja Resto dan memintanya untuk membuka pintu toilet tersebut.


Tiwi tak hentinya merapal doa, nafasnya kian memburu seiring kontraksi yang terus menyiksa tubuhnya.


"Aby! akh... sayang maafin Bunda ya, nak! kamu tunggu sebentar lagi, ya! Bunda masih berusaha keluar dari sini!" Lirih Tiwi di sela Isak dan rasa nyerinya.


Bi Ina benar-benar gelisah tak karuan, dirinya sudah bisa memastikan jika majikannya saat ini pasti tidak sedang baik-baik saja di dalam toilet sana. Saat pintu toilet berhasil di buka, Bi Ina masih harus mencari majikannya di tiap bilik yang tertutup rapat. Hingga akhirnya, Bi Ina menemukan Tiwi yang sudah terkulai lemah di dalam salah satu bilik toilet tersebut.


Ceklek...


Di Hotel tempat Kak Gery singgah.


"Apa?? kenapa hal seperti ini bisa terjadi, Sel? tau begini saya tidak akan pergi" Ucap Kak Gery pada sekretarisnya di dalam kamar hotel yang dia singgahi saat ini.


"Ma... maaf Pak, ini memang salah saya karena telah lalai, sekali lagi saya minta maaf!" Sahut Sella seraya menundukkan kepalanya.


"Arrggh... udahlah, sekarang juga siapkan mobil untuk saya pulang! buang-buang waktu saja," Rutuk Kak Gery seraya meraih hpnya yang tergeletak di atas nakas kamar hotelnya dan mencoba menghubungi Nino untuk meminta kejelasan yang lebih lanjut.


"Ba... baik Pak, saya permisi." Sahut Sella bergegas keluar.


"Astaghfirullah, sebenarnya apa yang terjadi? kenapa si Sella bisa ceroboh seperti ini," Gumam Kak Gery seraya menunggu sambungan teleponnya terhubung dengan Nino.


"Assalamu'alaikum, Pak." Ucap Nino di sebrang telepon.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, No! cepat jelaskan semuanya? kenapa ada kesalahan sampai seperti ini?" Cecar Kak Gery.


"Maaf Pak, saya baru saja ingin menjelaskannya dan saya harap Bapak sedikit tenang, saya baru saja menemukan pergerakan Nona Viola dan adiknya Tami hari ini, sepertinya urusan Bapak yang mendadak harus pergi keluar Kota juga ada hubungannya dengan rencana kedua wanita itu," Tutur Nino membuat Kak Gery menautkan kedua alisnya.


Sejurus kemudian Kak Gery mendengar suara ketukan pintu dari luar kamar hotelnya. Setelah dia membukanya, Kak Gery mendapati sang supir yang sudah bersiap mengantarnya pulang. Alhasil, Kak Gery pun memutuskan sambungan teleponnya dengan Nino dan bersiap untuk pulang.


"Maaf Pak, mobilnya sudah siap," Ucap sang supir setelah Kak Gery membukakan pintu kamar hotel.


"Hm! tolong bawakan barang-barang saya!" Seru Kak Gery dengan nada dinginnya seraya melenggang meninggalkan kamar hotel.


"Baik, Pak!" Jawab sang supir seraya membawa barang-barang Kak Gery untuk dia bawa ke dalam mobil majikannya.


"Astaghfirullah, kenapa perasaanku jadi gak enak, ya apa mungkin Viola dan Tami merencanakan sesuatu yang buruk lagi buat aku? atau mungkin, Tiwi... Astaghfirullah, kenapa aku baru ingat! Tiwi pasti yang jadi incaran mereka sekarang!" Batin Kak Gery.


Tanpa menunggu apa pun lagi, Kak Gery segera mencari kontak sang istri untuk menghubunginya. Namun, setelah Kak Gery mencoba menghubunginya berkali-kali, Kak Gery tetap saja tak mendapat jawaban dari sang istri. Alhasil, Kak Gery semakin khawatir dan cemas memikirkan sang istri.


Sejurus kemudian, Kak Gery mendapati panggilan telepon dari Nino. Dia begitu terkejut saat mengetahui kabar sang istri yang sedang mengalami kontraksi akibat syok yang Tiwi alami setelah insiden di toilet Resto.


"Apa! Astaghfirullah... kenapa jadi seperti ini? ok-ok, saya akan segera pulang secepatnya! kamu pastikan saja keselamatan dan keamanan istri dan anak saya sekarang, ok!" Tutur Kak Gery sebelum mengakhiri sambungan teleponnya dengan Nino.


"Baik, Pak! saya mengerti!" Jawab Nino.


.


.


.


.


.

__ADS_1


See you next episode 😘😘😘


__ADS_2