
Sementara itu Tiwi yang memutuskan pulang kembali ke rumahnya, terlihat kesulitan mendapatkan taksi sebagai transportasinya menuju rumah. Dengan terpaksa, akhirnya dia harus menunggu di sebuah halte yang tak jauh dari apartemen Kak Haikal untuk berteduh dan menunggu taksi yang melintas.
"Astagfirullah, udaranya makin dingin!" Gumam Tiwi seraya mengusap-usap lengannya yang terasa membeku.
Disaat bersamaan, sebuah mobil pribadi yang tak ia kenal berhenti tepat di hadapannya. Awalnya Tiwi tidak menghiraukannya dan tetap fokus menghangatkan diri dengan menggosok-gosokkan kedua tangannya ke lengannya sendiri. Namun tiba-tiba saja, sebuah jaket menutupi tubuhnya yang menggigil setelah seseorang mengenakannya untuknya.
"Kak Gery!" Ucap Tiwi setelah melihat wajah si pemberi jaket.
"Ayo pulang!" Seru Kak Gery sambil meraup kedua bahu Tiwi dengan kedua tangan besarnya.
"Tapi Kak..." Sahut Tiwi tercekat.
"Masuklah! di sini sangat dingin!" potong Kak Gery sambil menggiring tubuh mungil Tiwi ke dalam mobilnya.
Tak di sangka, seorang perempuan memperhatikan mereka dengan tatapan kesalnya dari atas gedung apartemen yang sama dengan yang Kak Haikal tempati.
"Itu cewek rese kemarin kan? kenapa dia bisa sama Kak Gery lagi sih! di pakaikan jaket lagi!" Gerutu perempuan di balik jendela apartemen itu.
"Apa yang kamu lakukan di sana?" Tanya Kak Gery setelah mereka berhasil masuk ke dalam mobil.
"Tiwi sedang menunggu taksi, Kak!" Sahut Tiwi menjawab.
"Tapi kenapa pakaianmu basah semua? apa kamu pingsan lagi, ya?" Cecar Kak Gery.
"I...ini karena Tiwi lupa bawa payung Kak, jadi Tiwi kehujanan." Tutur Tiwi.
"Kenapa Kak Gery kepo banget sih? dia lagi apa coba d sekitaran sini?" Batin Tiwi.
"Oh... ya udah, sebaiknya kita ke butik dulu ya, sebelum pulang!" Sahut Kak Gery yang berhasil membuat Tiwi mengerutkan keningnya.
"Butik? untuk apa Kak?" Tanya Tiwi.
"Apa kamu mau pulang dengan keadaan seperti itu ya? kamu bisa sakit nanti jika tidak cepat ganti pakaian!" Tutur Kak Gery perhatian.
"Kata-kata ini... apa Kak Gery udah pulih? kenapa dia bisa berbicara persis seperti yang pernah dia katakan di Toserba dulu?" Batin Tiwi.
"Hei! kenapa malah melamun?" Tegur Kak Gery.
"E... gak apa-apa Kak, Tiwi pulang langsung aja ya!" Seru Tiwi.
"Udah jangan khawatir, pokoknya kamu ikut ke butik dulu aja ya, aku benar-benar gak tega liat kamu kaya gitu," Sahut Kak Gery sambil fokus mengemudi.
Tiwi hanya bisa menghela kasar nafasnya dan pasrah. Jika dia menolak lagi pun akan sia-sia saja, karena Kak Gery begitu teguh dengan pendiriannya untuk mengajak Tiwi pergi ke butik.
"Loh, ini kan butik Um..." Ucap Tiwi tak melanjutkan kata-katanya setelah mereka turun dari mobil.
__ADS_1
"Iya, ini butik Umi Kakak, Wi! sepertinya kamu udah hafal ya, wajar juga sih, soalnya peminat butik ini cukup banyak! ayo masuk!" Seru Kak Gery.
"Aku bukan tau lagi Kak, tapi udah sering ke sini sebelum Kecelakaan itu terjadi..." Lirih Tiwi dalam hatinya.
"Assalamu'alaikum," Ucap Tiwi yang mendapat perhatian langsung dari Kak Gery.
Pasalnya baru pertamakali ini Kak Gery melihat seorang gadis yang mengucapkan salam saat memasuki sebuah Toko perbelanjaan. Padahal, bagi Tiwi itu sudah menjadi kebiasaannya saat mengunjungi butik calon mertuanya itu. Tiwi juga sering menyapa beberapa karyawan Umi Kak Gery yang dia kenal di sana.
"Kamu lucu, Wi! ini kan bukan rumah atau Mesjid! ko kamu malah mengucap salam sih," Kekeh Kak Gery.
"Emm... ini udah jadi kebiasaan Tiwi, Kak! maaf ya kalau Tiwi buat Kakak malu," Sahut Tiwi.
"Kamu bilang apa sih, Wi! justru Kakak itu takjub sama kamu, jarang-jarang loh ada gadis kaya kamu mau mengucap salam di tempat begini!" Sanjung Kak Gery.
"Wi! apa kabar?" Tegur salah satu pegawai butik Umi Kak Gery.
"Alhamdulillah Kak, Kak Tina sendiri apa kabar?" Sahut Tiwi ramah.
"Kalian udah saling kenal ya?" Tanya Kak Gery.
"Iya Ger, dia kan..." Sahut Kak Tina tercekat.
"Aku langganan di butik ini Kak, iya kan Kak Tina?" Ucap Tiwi sambil melirik Kak Tina untuk mengindahkan perkataannya.
"I...iya, Ger! Tiwi ini pelanggan butik kita. Oh iya, kamu sekarang mau beli baju ya, ayo Kakak tunjukkan model terbaru!" Sahut Kak Tina mengajak Tiwi melihat-lihat pakaian terbaru yang ada di butik Umi Kak Gery. Seketika, Tiwi melirik Kak Gery meminta persetujuan.
"Wi, kalian kenapa seperti orang asing sih? bukannya kalian sudah bertunangan ya?" Tanya Kak Tina meluapkan rasa penasarannya.
"Ceritanya panjang Kak, Tiwi gak yakin kalau harus menjelaskannya sekarang, lain kali aja ya Tiwi cerita! intinya Kak Gery sekarang masih amnesia, jadi dia masih gak ingat sama Tiwi, Kak!" Tutur Tiwi panjang lebar.
"Oh... gitu ya, semoga aja kalian bisa secepatnya bersatu lagi ya, Wi!" Sahut Kak Tina yang di Aamiin kan oleh Tiwi.
...****************...
"Kakak kenapa malah hujan-hujanan sih? Drina Kan cuman pergi sebentar, kalau Kakak sakit gimana coba?" Gerutu Andrina sambil membantu suaminya mengeringkan rambut yang masih basah.
"Kakak cuman khawatir sama kamu, Yang! Kakak pikir kamu benar-benar pergi ke Rumah Sakit sendirian! Kakak gak mau di tinggalin kamu, Yang!" Sahut Kak Haikal lirih.
Andrina menghentikan gerakan tangannya dan menatap suaminya dengan lekat. Sedetik kemudian dia menghela nafasnya dan mulai mengatakan apa yang ingin dia sampaikan.
"Kak, Drina gak akan ninggalin Kakak, ko! sebenarnya, Drina udah suka sama Kakak lumayan lama, Drina cuma masih belum terbiasa dengan hubungan kita yang tiba-tiba menikah ini, tapi jauh di dasar hati Drina, Kakak adalah laki-laki yang selalu Drina suka, dan Drina bersyukur karena sekarang kita udah bersama," Tutur Andrina panjang lebar.
"Kenapa kamu baru bilang sekarang sih, Yang! sejak kapan kamu menyukai Kakak? astaga, ini benar-benar
membuat Kakak bahagia, Kakak juga udah suka sama kamu cukup lama, jadi saat Kakak di jodohkan dan di suruh menikahi kamu semalam, Kakak gak menolaknya lagi!" Sahut Kak Haikal berseri-seri.
__ADS_1
"Benarkah? sejak kapan Kakak suka sama Drina?" Tanya Andrina menyelidik.
"Entahlah, tapi sepertinya saat kita melakukan pemotretan di acara perpisahan kamu waktu itu deh. Entah kenapa, Kakak merasa nyaman saat di dekat kamu, Yang! meski kamu sering cekcok sama Kakak, tapi Kakak menyukainya, bahkan bayangan kamu selalu muncul di mana-mana setelah hari itu, Kakak benar-benar selalu mikirin kamu siang dan malam!" Tutur Kak Haikal.
"Benarkah? makasih ya udah mau perjuangin Drina," Sahut Drina tersipu
"Kenapa harus berterimakasih, Yang! jujur dalam berhubungan itu nomor satu! jadi kita usahakan untuk saling jujur seperti ini ya mulai sekarang, dan kedepannya kalau Kakak membuatmu gak nyaman, kamu ngomong aja ya, supaya Kakak bisa ngertiin kamu dan merubah sikap!" Tutur Kak Haikal.
Andrina menganggukkan kepalanya, perasaannya kini benar-benar lega setelah meluapkannya langsung pada yang bersangkutan. Dan beruntungnya lagi, ternyata perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Andrina akhirnya bisa menerima hubungannya itu dengan bahagia.
"Sayang, berarti sekarang Kakak boleh minta jatah dong!" Ucap Kak Haikal seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Ihhh... Kakak nyebelin deh, Drina kan belum siap," Sahut Andrina tersipu.
...****************...
"Kenapa masih belum ganti juga? kamu belum menemukan pakaian yang cocok ya?" Tanya Kak Gery setelah kembali dari dapur butik Uminya.
"Tiwi gak jadi pilih deh, kayanya baju Tiwi juga udah kering, ko!" Sahut Tiwi sungkan.
"Hm... ini minum dulu, kamu tunggu sebentar ya!" Tutur Kak Gery sambil bergegas menghampiri deretan pakaian yang tergantung rapi di butik Uminya itu.
"Kak Gery sebenarnya mau apa sih?" Batin Tiwi.
"Nah... sepertinya ini cocok buat dia, aku suruh dia coba dulu deh!" Gumam Kak Gery sambil membawa pakaian yang dia pilih untuk di berikan pada Tiwi.
"Wah... pilihan kamu emang gak pernah salah, Ger! Tiwi pasti sangat cocok memakai baju itu!" Seru Kak Tina yang sudah memperhatikan anak majikannya itu semenjak memilih pakaian untuk Tiwi.
"Aku rasa baju ini emang cocok untuk dia, semoga aja dia juga suka, aku akan suruh dia coba dulu deh!" Sahut Kak Gery kembali menghampiri Tiwi.
"Apa ini, Kak?" Tanya Tiwi setelah Kak Gery memberikan pakaian pilihannya tadi pada Tiwi.
"Cobalah! Kakak ingin melihat kamu memakainya, Wi!" Seru kak Gery.
"Tapi Kak, Ti..." Sahut Tiwi tercekat.
"Udah! coba dulu aja, ok! Kakak tunggu disini, jadi cepatlah coba pakaiannya!" Seru Kak Gery tak mau di bantah.
.
.
.
.
__ADS_1
.
See you next episode 😘😘😘