CHOICE LOVER

CHOICE LOVER
Eps 139.


__ADS_3

Setelah berganti pakaian tidur Tiwi merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Hari itu benar-benar sangat melelahkan bagi Tiwi.


"By, ayo tidur!" Seru Tiwi ketika melihat suaminya masih berkutat dengan laptop di atas meja kerjanya.


"Bentar lagi, Yang! Aby kirim dulu beberapa email, ya!" Sahut Kak Gery yang tetap fokus menatap layar laptopnya.


"Kan bisa besok, By! Tiwi gak bisa tidur kalau gak di peluk Aby!" Rengek Tiwi.


Akhirnya Kak Gery memilih mengalah dan segera mematikan laptopnya seraya beranjak menghampiri sang istri yang sudah merajuk di atas tempat tidur.


"Iya deh, iya! kayanya jagoan Aby bikin Bundanya makin manja, ya!" Goda Kak Gery seraya memeluk Tiwi yang membelakanginya.


"Ihhh... Aby ko gitu, sih! Tiwi kan cuma pengen di peluk, bukannya manja" Gerutu Tiwi.


"Iya-iya, Bunda cuman butuh pelukan Aby, tapi apa benar cuman pelukan, Bunda gak mau yang lainnya, nih?" Goda Kak Gery dengan seringai di wajahnya.


"By, geli!" Pekik Tiwi saat sang suami dengan usilnya mengendus-endus daun telinganya dengan gemas.


"Tapi Bunda suka, kan? Aby buka puasa malam ini, ya!" Bisik Kak Gery dengan suaranya yang sudah terdengar berat.


Tiwi tak menjawab, namun tubuhnya seakan merespon sang suami yang terus menyusuri setiap inci tubuhnya. Akhirnya malam itu Tiwi memberi hak suaminya untuk berbuka puasa dan mencurahkan semua hasratnya yang sudah lama dia pendam sejak trisemester pertama kandungan Tiwi.


Keesokan harinya, Tiwi tengah bersiap untuk mengunjungi butik mertuanya bersama sang suami. Tiwi memilih menggunakan pakaian gamis polos berwarna pastel yang dia padukan dengan Khimar yang berwarna senada dengan gamis yang ia kenakan. Kak Gery sendiri sudah siap dengan setelan Jarko berwarna tak kalah senada dengan istrinya yang di padukan dengan celana jeans putih.


"Yang, jam tangan Aby yang kamu beli di XXXXX itu di simpan dimana, sih?" Tanya Kak Gery seraya menghampiri Tiwi.


"Ada di laci nakas samping tempat tidur, By!" Sahut Tiwi sambil menambahkan polesan bedak tipis di wajah cantiknya.


"Duh... istri Aby, ko makin hari makin cantik, sih emmuach... bikin tambah gemes, deh!" Ucap Kak Gery seraya mengecup singkat sebelah pipi sang istri.


"Aby! Tiwi gak selesai-selesai, loh kalau d gangguin terus!" Sahut Tiwi.


"He... iya deh, Aby panaskan dulu mobilnya, ya!" Sery Kak Gery mengalah dan beranjak menghampiri garasi mobilnya.


Sejurus kemudian, Tiwi terlihat sudah siap dengan setelan Ibu Hami yang dia gunakan. Kak Gery sampai terperangah melihat penampilan istrinya itu, dia benar-benar beruntung menikahi Tiwi yang begitu dia cintai dan sayangi.

__ADS_1


"By, ayo! nanti keburu siang lagi!" Seru Tiwi setelah berpamitan pada kedua Art nya.


"Oh, udah selesai, ya. Ayo!" Sahut Kak Gery seraya membantu istrinya masuk ke dalam mobil mereka.


"Bi, kami pergi dulu ya!" Pamit Kak Gery pada Bi Ina.


"Iya, Pak! hati-hati di jalan ya," Sahut Bi Ina sebelum akhirnya Kak Gery melenggang ke arah mobilnya dan melajukan kendaraan tersebut ke butik Uminya.


Di perjalanan, Tiwi sempat meminta Kak Gery menepi beberapa kali. Karena tergoda oleh jajanan pinggir jalan yang menggiurkan, alhasil Tiwi membawa banyak makanan di tangannya saat memasuki butik sang mertua.


"By, stop-stop, By! ada yang jual rujak tumbuk, tuh! Tiwi mau beli dulu, ya!" Seru Tiwi.


"Ya ampun, Yang! dari tadi kamu udah beli banyak jajanan, loh! Ayang yakin bisa abisin semuanya?" Sahut Kak Gery.


"Ini juga bukan maunya Tiwi, By! ini maunya anak kita, Tutur Tiwi merajuk.


"Iya, Yang! Aby tau, ko! tapi alangkah baiknya Ayang bisa mengontrolnya, kan bisa jadi mubazir kalau makanannya gak ke makan semua!" Sahut Kak Gery memberi pengertian.


"Tiwi, kan bisa bagikan sama pegawai Umi, By! jadi gak akan mubazir!" Ucap Tiwi.


"Ha...ya udah, deh! tapi jangan sampai ada yang ke buang, ya!" Sahut Kak Gery mengalah.


"Astaghfirullah, kumat lagi kan sensinya! ha... aku harus ektra sabar, nih." Batin Kak Gery seraya turun dari mobilnya untuk membelikan rujak tumbuk yang istrinya inginkan.


"Aby ikhlas, ko Yang! ya udah, Aby beli dulu rujaknya, ya!" Sahut Kak Gery seraya beranjak turun dari mobilnya.


"By, pedesnya dikit aja, ya!" Teriak Tiwi dari dalam mobil.


Kak Gery terlihat menghela nafas sebelum melayangkan jari-jari nya yang menandakan kalau dia paham. Sampai di tempat pedagang rujak tumbuk, Kak Gery segera memesan jajanan tersebut sesuai pesanan istrinya tadi.


"Pak rujaknya 1, ya! pedesnya dikit aja!" Ucap Kak Gery memesan.


"Siap, Den! mau pakai terasi atau engga?" Tanya sang pedagang seraya memperlihatkan wadah yang berisi olahan ebi tersebut.


"Duh, pake gak ya? emm... gak usah deh Pak," Sahut Kak Gery ragu.

__ADS_1


"Siap Den, tunggu bentar, ya!" Ucap pedagang rujak


Selang beberapa menit, Kak Gery kembali ke dalam mobilnya dan memberikan pesanan sang istri. Tiwi terlihat begitu girang saat sang suami memberinya sebuah cup medium berisi rujak tumbuk pesanannya. Dengan antusias, Tiwi segera membuka tutup cup tersebut dan menghirup aroma rujak tumbuk yang dia inginkan. Namun baru saja Tiwi menghirupnya, dia langsung memasang wajah cemberut ke arah sang suami.


"Aby! rujaknya gak paket terasi, ya? ko gak tercium baunya sih?" Tanya Tiwi.


"Eh, emm... A... Aby sengaja gak suruh pedagangnya kasih terasi, Yang! Aby pikir kamu gak akan suka, jadi..." Sahut Kak Gery tercekat.


"Ihhh, Aby kan bisa tanya Tiwi dulu, tadi! pokoknya Tiwi gak mau makan rujaknya kalau gak paket terasi," Ketus Tiwi seraya menaruh sembarang cup berisi rujak tumbuknya.


"E...eh... ya udah-ya udah, Aby beliin lagi deh yang baru, jangan marah lagi ya!" Bujuk Kak Gery setelah


berhasil menyelamatkan cup rujak yang hampir terjatuh berserakan di dekat persneling mobilnya.


"Gak usah! Tiwi udah gak minat lagi sekarang." Ucap Tiwi memalingkan wajahnya ke arah jendela samping.


Kak Gery menghela kasar nafasnya, kesabarannya benar-benar di uji kali ini. Namun meski begitu, Kak Gery tetap bersyukur bisa menemani sang istri yang ternyata begitu memiliki banyak keinginan. Apa lagi Kak Gery sangat paham, bahwa pengorbanan istrinya sangat besar di banding apa yang dia lakukan saat ini.


Kak Gery begitu bersyukur karena Tiwi bisa mengandung anak mereka setelah sebelumnya Dokter menyatakan jika Tiwi akan sulit hamil. Karena beberapa kali pernah menjalani operasi di sekitar perut, tentu membuat kondisi rahim dan organ intim Tiwi sedikit terganggu. Jadi Kak Gery sangat memahaminya kala sang istri bersikap manja padanya. Lagi pula jika buka padanya, lantas Tiwi harus bermanja pada siapa? tidak mungkin, kan Tiwi bermanja pada orang lain, pikir Kak Gery.


"Yang, maafkan Aby ya!" lirih Kak Gery seraya meraih sebelah tangan istrinya yang di lipat di depan dadanya.


"Aby tau Aby salah, tapi kamu jangan marah lagi ya, Aby paling gak tahan Ayang cuekin gini!" Tutur Kak Gery seraya mengecup tangan istrinya


"Hm... maafkan Tiwi juga ya, By! Tiwi udah keterlaluan barusan. Gak tau kenapa, semenjak kehamilan Tiwi makin membesar, emosi Tiwi makin gak karuan, maaf ya! selama ini Tiwi pasti banyak merepotkan Aby!" Sahut Tiwi sambil menjatuhkan bulir bening dari kedua ujung matanya.


"Hei, it's ok, Yang! jangan nangis lagi, ya! Aby tau, ko Ayang juga cuma kebawa emosi aja! mungkin itu faktor dari perubahan hormon juga! jadi gak usah nangis lagi, ya!" Tutur Kak Gery mengusap lembut air mata istrinya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


See you next episode 😘😘😘


__ADS_2