
Petugas medis yang baru datang, segera memboyong tubuh Tiwi dengan brankar yang mereka bawa. Bunyi Ambulan yang menggema pun mengiringi perjalanan menuju Rumah Sakit. Kak Gery tak henti-hentinya merapalkan doa, berharap agar sang tunangan dapat tertolong.
"Sayang bertahanlah... Kakak mohon!" Gumam Kak Gery seraya menggenggam dan mencium tangan Tiwi.
Tiba di Rumah Sakit, Tiwi segera di larikan ke ruang tindakan. Suster yang sejak tadi siaga pun langsung menyambutnya untuk di tindak lanjuti.
"Kak, gimana?" Tanya Sindy menghampiri Kak Gery setelah menyusulnya bersama sang Kakak, juga ke tiga temannya yang lain.
"Dia baru aja masuk ruang tindakan!" Jawab Kak Gery.
"Sabar, Bung! aku tahu Tiwi cewek yang kuat, dia pasti bisa bertahan!" Ucap Kakak Sindy seraya menepuk bahu Kak Gery.
"Makasih, Bang! dan maaf, tadi aku udah salah paham sama Abang!" Sahut Kak Gery penuh sesal. Kakak Sindy pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"No problem! oh iya, kita belum kenalan, aku Alex!" Ucap Kakak Sindy seraya mengulurkan tangan hendak berjabat tangan.
"Gery!" Sahut Kak Gery seraya menyambut uluran tangan Alex.
Kak Gery kembali menata pintu ruangan, dimana sang kekasih hati di beri tindakan medis. Dia benar-benar terpukul dengan kejadian hari ini. Kak Gery benar benar tidak bisa membayangkan, jika nyawa Tiwi sampai tidak tertolong.
"Kak! apa Kakak udah kasih kabar sama keluarganya Tiwi? mereka pasti khawatir, sekarang! soalnya, kita juga udah lumayan lama ngerjain tugas tadi!" Ucap Sindy yang mengingatkan Kak Gery pada keluarga Tiwi yang memang belum dia beri kabar.
Kak Gery meraba saku celana dan jaket yang dia kenakan untuk mencari keberadaan hp miliknya. Namun sayangnya, sepertinya hpnya itu tertinggal di dalam mobil. Dengan sigap, Sindy mengulurkan hpnya untuk Kak Gery gunakan menghubungi keluarga Tiwi. Beruntung, Sindy sempat menyimpan nomor hp Kakak Tiwi saat Tiwi meminjam hpnya tempo hari.
"Pake hp Sindy aja, Kak!" Seru Sindy seraya mengulurkan hp miliknya.
"Emangnya kamu punya nomor keluarganya, Tiwi?" Tanya Kak Gery.
"Ada, ko! kebetulan waktu itu Tiwi pernah pinjam hp Sindy! kalau gak salah nama Kakaknya itu Kak Desi, kan! Tiwi pernah cerita juga soalnya!" Sahut Sindy.
__ADS_1
"Iya, benar! kalau gitu Kakak pinjam hp kamu, ya! soalnya hp Kakak kayanya tertinggal di mobil!" Tutur Kak Gery seraya meraih hp Sindy.
Kak Desi yang kebetulan sedang menemani Kakek Tiwi menikmati tehnya, begitu terkejut setelah mendengar kabar yang Kak Gery sampaikan sore itu. Tanpa menunggu, Kak Desi segera memberi tahu Kakek dan kedua orangtuanya mengenai kabar kecelakaan adik bungsunya tersebut.
"Oh iya, aku dengar penabrak tadi sedang dalam kejaran Polisi! menurut orang-orang yang melihat kejadian tadi, katanya pelakunya seorang perempuan! mereka bilang, mobil yang menabrak Tiwi seperti sudah mengambil ancang-ancang, untuk menjadikan Tiwi sebagai target korbannya!" Ucap Alex.
"Perempuan?" Gumam Kak Gery.
"Iya, Ger! katanya perempuan yang nabrak Tiwi tadi juga sempat terlihat berbincang sama kamu sebelum kejadian terjadi!" Tutur Alex memperjelas.
"Astagfirullah!" Ucap Kak Gery seraya teringat pada perempuan yang sudah mencegahnya bertemu Tiwi sebelum kejadian penabrakan terjadi.
"Aku tau siapa pelakunya, Bang! aku akan susul dia untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya!" Tutur Kak Gery.
"Gak perlu, Ger! Polisi udah mengikuti mobilnya, ko! kebetulan setiap jam istirahat kantor menjelang sore hari, selalu ada Polisi yang berjaga di dekat Hotel tadi, sepertinya gadis itu udah di tangkap sekarang!" Sahut Alex yang membuat Kak Gery mendaratkan kembali bokongnya di kursi tunggu depan ruangan tindakan Tiwi.
"Dia emang pantas di hukum! tindakannya kali ini benar-benar udah kelewatan!" Geram Kak Gery penuh emosi.
Perasaan mereka benar-benar hancur saat mengetahui kondisi Tiwi yang kritis. Meski beberapa kali Tiwi pernah masuk Rumah Sakit, namun kali inilah yang paling terparah. Bahkan saat kecelakaan bersama Kak Gery dulu pun, kondisi Tiwi tidak separah kecelakaan sekarang.
"Yah, anak kita, Yah!" Isak Ibu Tiwi dalam pelukan suaminya.
"Sabar, Bu! Kita berdoa aja, semoga Allah memberi keajaiban, supaya anak kita bisa bertahan dan melewati masa kritisnya!" Sahut Ayah Tiwi mencoba menenangkan istrinya, meski dia sendiri benar-benar khawatir setengah mati.
"Kamu harus kuat, Mia! Tiwi anak yang tangguh, dia pasti bisa melewati masa kritisnya," Ucap Kakek Tiwi yang tak kalah sedih menyaksikan kondisi cucu kesayangannya tak berdaya.
"Ini salah Gery, Tan! seandainya, tadi Gery mau menuruti Tami untuk pergi dengannya, mungkin Tami gak akan nekad menabrak Tiwi!" Seru Kak Gery penuh sesal.
Ibu Tiwi memilih bungkam. Dia sama sekali tidak menyahuti perkataan Kak Gery. Perasaannya benar benar hancur dan sedih. Beberapa kali, nyawa putrinya terancam bahaya oleh tunangannya sendiri. Meski tak sedikit juga kebaikan yang Kak Gery berikan untuk putri bungsunya itu, tapi tetap saja. Perasaan sang Ibu dari gadis yang tengah kritis itu begitu pilu. Dia benar-benar gelisah dan khawatir jika sang putri tidak bisa bertahan dengan kondisinya kali ini.
__ADS_1
"Kak, kita pulang duluan ya! nanti kalau udah ada kabar, kasih tau Sindy, ya!" Seru Sindy berpamitan kepada semua orang yang menunggu Tiwi.
"Makasih ya, Sin! Kakak pasti mengabari kamu nanti!" Sahut Kak Gery memaksakan senyum di wajahnya yang sudah sembab.
"Sama-sama Kak! kalau gitu kami pamit dulu ya semuanya, Kek, Tante, Om, Kak Desi mari! Assalamu'alaikum," Ucap Sindy sebelum mereka pergi meninggalkan keluarga Tiwi dan Kak Gery yang masih menunggu di depan ruang tindakan.
Suara Adzan Maghrib menggema dan melebur ke seluruh kawasan Rumah Sakit. Kak Gery dan keluarga Tiwi memutuskan pergi ke Masjid terdekat untuk melaksanakan kewajiban mereka sebagai seorang . Muslim. Mereka juga tidak menyia-nyiakan waktu tersebut untuk bermunajat pada Sang Pencipta. Berdoa dan berharap, agar Tiwi bisa tertolong dan melalui masa kritisnya.
"Ya Allah Ya Tuhan ku, aku mohon dengan sangat pada-Mu, berilah keselamatan pada tunangan hamba,
mudahkanlah dia dalam melalui masa kritisnya, berikanlah kesempatan pada hamba untuk menebus semua kesalahan-kesalahan yang pernah hamba perbuat padanya, dan ijinkanlah hamba mengikatnya kelak dengan ikatan pernikahan yang suci, sebagaimana Rasul-Mu mencontohkannya pada kami, umatnya." Gumam Kak Gery melangitkan doa.
Dilain tempat, kini Tami berhasil di ringkus oleh Polisi dan di kenakan pasal berlapis. Selain menyalahi aturan berlalu lintas, Tami juga di ancam hukuman penjara atas percobaan pembunuhan pada Tiwi. Sehingga sudah dapat di pastikan, dirinya akan mendekam di penjara dalam kurun waktu yang cukup lama.
"Mih! Tami gak mau di penjara Mih Mamih harus bebasin Tami, Tami gak mau di kurung di sini, Mih!" Rengek Tami saat Polisi menggiringnya ke ruangan sempit berpagar besi yang menjulang tinggi.
"Maafkan Mamih, Tam! tapi kamu memang udah
keterlaluan kali ini! Mamih gak bisa nolong kamu lagi, sekarang! semoga aja kamu bisa introspeksi diri di dalam penjara, Mamih pasti akan selalu menjenguk kamu, sayang! Mamih harap kamu bisa merubah sikap egois dan ambisi kamu itu, nak!" Isak Mamih Tami seraya menyaksikan putrinya di giring masuk ke dalam penjara.
.
.
.
.
.
__ADS_1
See you next episode 😘😘😘