CHOICE LOVER

CHOICE LOVER
Eps 118.


__ADS_3

Setelah Dokter memberitahu mereka jika Andrina mengandung janin kembar. Kak Haikal semakin over protektif terhadap istrinya. Dia benar-benar menjelma menjadi suami siaga plus cerewet, namun itu semua tentu Kak Haikal lakukan semata-mata agar anak-anak dan istrinya tetap sehat.


"Iya-iya, deh! Drina makan, deh! baby twins, kalian jangan bikin ulah dulu ya! Mommy mau makan dulu sekarang, ok! kalian jangan berebut nutrisi di dalam perut mommy ya," Ucap Andrina pada perut hamilnya sendiri seakan berkomunikasi dengan kedua jagoan dalam perutnya.


Kak Haikal terkekeh melihat kelakuan menggemaskan istrinya. Setiap hari rasa cintanya semakin tumbuh dan bertambah. Setelah selesai menyantap makan siangnya, Andrina terlihat lelah dan menyandarkan punggungnya di sofa empuk ruangan kerja suaminya. Kak Haikal yang melihatnya segera menghampiri setelah dia mencuci tangan sebelumnya di kamar mandi ruang kerjanya.


"Anak Daddy gak nakal, kan? Mommy sepertinya lelah sekali, apa kalian tak mau diam lagi ya!" Ucap Kak Haikal seraya mengusap perut Andrina yang terlihat menyundul ke sana kemari karena anak-anaknya yang aktif bergerak.


"Mas, usap punggung Drina juga, dong!" Seru Andrina saat merasakan pegal di bagian punggungnya juga.


"Apa masih suka pegal ya, Yang? kita periksakan ke Dokter aja ya, Mas takut kamu kontraksi awal," Sahut Kak Haikal cemas.


Karena Andrina hamil anak kembar, Dokter memberinya banyak informasi agar Kak Haikal menjadi suami siaga. Kak Haikal juga di beri tahu jika kemungkinan Andrina bisa saja melahirkan lebih awal dari perkiraan hari melahirkan.


"Nanti aja deh, Mas! ini cuman pegal biasa, ko! Drina masih bisa membedakannya," Tutur Andrina yang mengerti kecemasan sang suami.


"Kalian baik-baik di dalam ya, nak! kasihan Mommy kalau banyak gerak, Mommy jadi pegal-pegal badannya!" Ucap Kak Haikal berbincang lagi dengan perut besar Andrina.


"Mas, usap sebelah sini juga, dong!" Seru Andrina seraya menunjukkan bagian pinggang belakang pada sang suami.


"Sebelah sini, ya! apa gak sebaiknya kita ke Dokter aja ya, Yang?" Sahut Kak Haikal yang masih saja cemas.


"Hm... iya deh, tapi sekarang kita beli kado dulu ya! Mas bisa izin, kan sekarang?" Tutur Andrina.


"Sayang, kamu lupa ya kalau suamimu ini yang punya perusahaan, ngapain harus ribet minta izin!" Sahut Kak Haikal sambil mencubit gemas pipi cabi istrinya.


"Oh iya, he... Drina lupa, Mas kan atasan disini ya!" Kekeh Andrina.


...****************...


"By, malam ini kita nginap di rumah Ayah ya! Tata kangen sama orang rumah, sekalian kita bicarakan untuk syukuran 7 bulanan nanti," Tutur Tata sebelum menyeruput minumannya yang sedari tadi menganggur di atas meja kantin.

__ADS_1


"Boleh, Abi juga mau sekalian ngobrol sama Ayah masalah rumah yang mau di jual di dekat rumah kamu itu, Yang! semoga aja pemiliknya mau memberi harga spesial, jadi kita bisa membelinya dan tinggal berdekatan dengan orang tua kamu," Sahut Kak Iman.


"Aamiin... semoga aja ya, By! ya udah, kalau gitu sekarang kita pulang dulu ke apartemen yuk By! Tata kan harus bawa baju ganti dan baju kerja Abi, jadi besok Abi bisa berangkat dari rumah Ayah langsung!" Seru Tata yang di setujui oleh suaminya dan mereka berdua pun beranjak bersama-sama dengan Kak Iman yang membantu Tata dengan penuh perhatian.


Setibanya di rumah sang Ayah, Tata segera merapihkan baju miliknya dan sang suami. Semenjak menikah, Tata dan Kak Iman memang langsung pindah rumah. Mereka memilih menempati apartemen yang Kak Iman sewa sebelumnya, agar mereka bisa merasakan kemandirian dalam berumah tangga.


"Sini, biar Abi yang masukkan bajunya!" Seru Kak Iman membantu sang istri yang sedang merapihkan baju mereka untuk di masukkan ke dalam lemari Tata.


"Makasih, Abi benar-benar suami idaman banget deh, ngerti aja kalau gerak Tata udah gak terlalu bebas, sekarang!" Sahut Tata menyunggingkan senyuman manis di bibirnya.


Sama halnya seperti yang Kak Haikal rasakan, Kak Iman juga tak kalah over protektif saat tahu Tata mengandung janin di rahimnya. Apalagi Kak Iman memang sudah sangat siap dengan tanggung jawabnya setelah menikahi Tata.


"Harus dong! di sini kan ada Putri Abi, jadi Abi tahu kalau Uminya pasti akan sedikit kesulitan dalam bergerak," Sahut Kak Iman mengelus lembut perut Tata yang sudah membesar.


"Aww..." Pekik Tata.


"Wah... anak Abi lagi main ya, nak! jangan kencang-kencang, ya! kasihan Umi nya jadi kesakitan," Ucap Kak Iman yang merasakan pergerakan pada perut Tata akibat sang jabang bayi yang diketahui berjenis kelamin perempuan itu menendang dinding rahim Ibunya.


"Anak Umi jago bikin kejutan terus nih, sehat-sehat ya, sayang! Umi jadi gak sabar nunggu waktunya lahiran," Sahut Tata ikut berbincang dengan sang jabang bayi yang ada di dalam rahimnya.


...****************...


"Yang, kamu kan udah di larang minum es sama, Dokter! kita cari yang lain aja ya!" Bujuk Kak Haikal.


"Dikit aja, Mas! kayanya gak akan apa-apa deh! emangnya Mas mau ya anak kita ileran pas nanti udah lahir!" Ucap Andrina yang mampu membuat Kak Haikal menuruti kemauannya dengan terpaksa.


"Ha... baiklah, tapi ini yang terakhir ya! Mas cuma khawatir sama kesehatan kalian, Yang!" Tutur Kak Haikal.


"Ok! makasih ya, Mas ku yang ganteng. emmuach," Sahut Andrina seraya mengecup pipi suaminya dengan gemas.


Setelah mendapatkan yang di inginkan, Andrina dan Kak Haikal segera menemui Tiwi di ruangannya yang masih lumayan ramai dengan sanak saudara Tiwi, yang kebetulan berdatangan silih berganti untuk menjenguknya juga.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," Ucap Andrina setelah menemukan ruangan Tiwi.


"Wa'alaikumsalam, eh nak Andrina! ayo masuk nak!" Seru Ibu Tiwi menggiring Andrina masuk dan mendudukkannya di kursi samping bangsal Tiwi.


"Makasih, Tan! gimana keadaan Tiwi sekarang, Tan? oh iya, Kak Gery juga udah pulang ya, Tan?" Cecar Andrina setelah berhasil mendaratkan bokongnya di kursi samping bangsal Tiwi.


"Nak Gery sedang mengantar Kakeknya pulang, kalian sengaja datang ke sini ya! duh... Tante jadi ikut was was loh lihat perut kamu yang semakin besar ini, kalian udah cek lagi ke Dokter kandungan belum?" Sahut Ibu Tiwi yang malah mengusapkan tangannya di perut buncit Andrina.


Ibu Tiwi merasa cemas sendiri saat melihat kandungan Andrina yang memang sangat besar di usia kandungannya yang menginjak 7 bulan itu. Kehamilan kembarnya membuat Andrina sering mendapat perhatian seperti hal yang di lakukan Ibu Tiwi padanya.


"Udah, Tan! kebetulan Drina hamil anak kembar, jadi perut Drina lebih buncit dari perut Ibu hamil yang mengandung anak tunggal," Tutur Andrina yang membuat Ibu Tiwi mengelus kembali perut buncitnya itu.


"Ma Sya Allah nak, selamat ya! kalian sekali di kasih langsung dua sama Allah, semoga kalian sehat-sehat dan lancar saat melahirkan nanti ya." Sahut Ibu Tiwi memanjatkan doa.


"Aamiin... makasih ya, Tan! oh iya, Drina ada sedikit hadiah untuk pernikahan Tiwi, Tan! Mas, kadonya!" Seru Andrina seraya mengulurkan tangannya pada sang suami.


"Ini, Tan! ada sedikit makanan juga, semoga Tante suka ya!" Sahut Kak Haikal seraya menyerahkan dua bingkisan yang di bawanya.


"Kalian kenapa harus repot-repot seperti ini sih, makasih banyak ya," Ucap Ibu Tiwi menerima bingkisannya yang ia letakkan di atas nakas.


"Sama-sama Tan, jangan sungkan. Oh iya, katanya Tata juga tadi ke sini ya, Tan! apa dia juga udah pulang ya?" Tanya Andrina.


"Iya nak, tadi mereka pulang paling awal, sepertinya nak Tata kelelahan," Sahut Ibu Tiwi.


.


.


.


.

__ADS_1


.


See you next episode 😘😘😘


__ADS_2