
Setelah dirasa cukup lama berjemur, Tiwi akhirnya membawa baby Al kembali ke kamarnya dan meminta sang baby sister yang sejak dia melahirkan dipekerjakan suaminya untuk menemani baby Al di kamarnya. Tiwi menyempatkan dirinya menyiapkan beberapa makanan dan minuman untuk sang suami yang dari seminggu yang lalu memutuskan bekerja dari rumah itu.
Tok... tok... tok...
"Masuk!" Seru Kak Gery dari dalam ruangan kerjanya.
"Aby masih sibuk ya? ini... Bunda bawakan beberapa cemilan untuk menemani Aby bekerja," Sahut Tiwi setelah masuk ke ruangan kerja suaminya dan meletakkan sebuah nampan yang sudah dia isi dengan berbagai cemilan dan minuman di atas meja kerja suaminya.
"Ma Syaa Allah, Ayang pengertian banget, sih! kalau begini Aby bisa betah nih kerja di rumah terus, makasih ya, Yang!" Ucap Gery seraya melingkarkan kedua tangannya di pinggang Tiwi yang sudah berdiri di hadapannya.
"Ya gak bisa gitu dong, By! Aby kan seorang atasan yang harus memberi contoh baik buat karyawan karyawannya, jadi Aby tetap harus ke kantor! lagi pula Tiwi dan baby Al kan udah jauh lebih baik sekarang," Sahut Tiwi mendudukkan dirinya di pangkuan sang suami yang menariknya dengan lembut.
"Iya, deh! tapi suntik semangat dulu, dong!" Rayu Kak Gery seraya melesakkan kepalanya di sela leher sang istri.
"Ihh... Aby mesum deh, ini kan masih pagi, By! lagi pula Tiwi kan masih nifas," Tutur Tiwi seraya menahan rasa geli.
"Ayolah Bun, ini aja, ya!" Bujuk Kak Gery seraya menunjuk bibir ranum istrinya dengan jari telunjuknya.
"Emm... tapi bentar aja, ya! Tiwi takut baby Al nangis kalau kelamaan di tinggal," Sahut Tiwi seraya mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.
"Ok!" Ucap Kak Gery yang langsung menyambar bibir ranum istrinya dengan rakus.
Kecupan yang kian lama mengganas itu akhirnya mereka hentikan tak kala keduanya kehabisan oksigen. Tiwi segera beranjak dan membenahi pakaiannya sebelum kembali menghampiri baby Al. Kak Gery yang melihat rona merah di wajah istrinya hanya bisa terkekeh gemas melihat kelakuan istrinya itu.
"Rasanya semakin hari Aby semakin tidak bisa hidup tanpa kamu, Yang! makasih ya," Tutur Kak Gery setelah melepaskan pagutan bibir mereka.
"Udah ya, Tiwi mau lihat lagi baby Al di kamar, Assalamu'alaikum." Sahut Tiwi tergesa-gesa keluar dari ruangan kerja suaminya dengan pipi yang merona merah sempurna.
"Ya Allah, godaan puasa kali ini benar-benar menguji kesabaran!" Gumam Kak Gery seraya menatap kepergian sang istri yang menghilang di balik pintu ruang kerjanya.
Tiwi segera masuk ke kamar sang putra dan melenggang ke kamar mandi sebelum menghampiri baby Al yang sedang di timang oleh baby sister. Debar jantung Tiwi masih saja selalu berdetak berlebihan setiap kali berhubungan fisik dengan suaminya. Setelah menetralkan perasaannya, Tiwi segera keluar dari kamar mandi dan meminta putranya pada sang baby sister.
"Assalamu'alaikum sayang, Al gak rewel kan Bunda tinggal sebentar?" Ucap Tiwi setelah berhasil menimang putra tampannya.
__ADS_1
"Saya permisi dulu ya Bu! kalau butuh apa-apa Ibu tunggal panggil saya aja!" Sahut Mba Cika yang tak lain sang baby sister.
"Iya Mba, Makasih ya udah jagain, Al." Ucap Tiwi sebelum Mba Cika keluar dari kamar putranya.
"Sama-sama Bu, saya permisi ya!" Sahut Mba Cika.
"Iya Mba, makasih ya," Ucap Tiwi yang kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi khusus menyusui.
"Al haus ya sayang, maaf ya Bunda tadi kasih Aby cemilan dan semangat dulu, Al gak marah kan sama Bunda?" Tutur Tiwi bermonolog di depan wajah tampan putranya yang masih begitu mungil.
Beberapa jam kemudian Tiwi, baru teringat dengan janji suaminya yang akan menghubungi Tami hari ini. Setelah memastikan putranya tertidur pulas, Tiwi akhirnya kembali ke dalam ruangan kerja sang suami untuk menagih janji.
cekrek...
"Aby masih kerja? istirahat dulu bentar yuk!" Seru Tiwi setelah masuk ke ruangan kerja suaminya dan menarik kedua tangan suaminya agar beranjak dari singgah sana tempat suami mencari nafkah.
"Ada apa, Yang? Aby bentar lagi juga selesai, ko!" Sahut Kak Gery seraya mengikuti langkah istrinya yang membawanya masuk ke arah kamar mereka.
"Ada apa sih, tumben-tumbenan ajak masuk kamar siang-siang begini?" Sahut Kak Gery setelah sampai di dalam kamar seraya menarik pinggang istrinya dengan cekatan.
"Aww... ish Aby ko main tarik-tarik aja sih, Tiwi kan cuman mau tagih janji, Aby!" Gerutu Tiwi seraya mencoba melepaskan diri.
"Janji? janji apa? kayanya Aby gak punya janji apa-apa, deh!" Sahut Kak Gery.
"Ihh... Aby ko jadi cepet pikun, sih! baru punya anak satu juga. Semalam, kan Aby udah janji sama Tiwi mau telepon Kak Tami!" Tutur Tiwi seraya melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami.
"Oh, iya! kenapa Aby jadi lupa ya? kayanya gara-gara Bunda kurang kasih semangat sih hari ini, charger lagi dong biar gak pelupa," Goda Kak Gery seraya mendekatkan wajahnya pada wajah Tiwi yang segera di tahan oleh sebelah tangan Tiwi.
"By!! Ayo buruan telepon Kak Tami, nanti Al keburu bangun lagi!" Seru Tiwi seraya menepuk sebelah bahu suaminya sebagai tanda protes pada suaminya.
"He... iya deh Aby telepon sekarang, Bunda tunggu bentar ya!" Sahut Kak Gery mengalah serata melepaskan pelukannya dan meraih hpnya di dalam saku pakaiannya.
Sejurus kemudian, Kak Gery berhasil menghubungi Tami yang ternyata sudah berada di Rumah Sakit menemani Ibunya yang terkapar sakit di atas tempat tidur Rumah Sakit.
__ADS_1
"Gimana, By? udah terhubung belum?" Tanya Tiwi sambil mendekatkan telinganya di hp sang suami yang sedang di gunakan menghubungi Nino yang dia tugaskan untuk mengawasi Tami.
"Bentar, Yang! Nino masih jalan buat samperin Tami di ruangan Ibunya," Sahut Kak Gery sambil menekan tombol loud speaker pada hpnya.
"Tam, ada yang ingin bicara sama kamu, nih!" Seru Nino setelah menghampiri Tami di ruangan Ibunya.
"Siapa?" Tanya Tami seraya menerima hp Nino yang sudah di ulurkan padanya.
"Nanti juga kamu tau!" Tutur Nino seraya melipat tangannya dan bersandar di dinding samping Tami duduk menunggu Ibunya.
"Halo?" Ucap Tami saat hp Nino sudah dia tempelkan di salah satu telinganya.
"Halo, Assalamu'alaikum Kak, Ini Tiwi. Kak Tami baik-baik aja kan? kabar Ibu gimana, Kak? beliau baik-baik juga, kan?" Cecar Tiwi yang melontarkan pertanyaannya secara bertubi-tubi.
"Alhamdulillah Ibu udah jauh lebih baik Wi, makasih ya udah khawatirkan kami! aku bener-bener minta maaf buat Kak Viola. Gara-gara Kak Viola, kamu kemarin sempat mengalami hal yang tak di inginkan lagi," Sesal Tami terdengar sendu di akhir ucapannya.
"Tiwi udah ikhlas, Kak! Kakak gak perlu merasa bersalah lagi, ok! semuanya pasti baik-baik aja Kak, Tiwi percaya suatu saat nanti Kak Tami pasti akan menemukan kebahagiaan kakak sendiri." Sahut Tiwi yang membuat suaminya menggelengkan kepala.
"Aamiin... semoga aja ya, Wi! Kakak benar-benar malu sama kamu, meski Kakak dan keluarga kakak selalu jahat sama kamu, tapi kamu selalu dengan mudah memaafkan kami, makasih ya! Gery benar-benar beruntung memiliki istri berhati malaikat seperti kamu, Wi!" Tutur Tami.
"Sama-sama Kak. Oh, iya! Tiwi alihkan panggilannya menjadi panggilan video, ya! Tiwi mau lihat keadaan Ibu Kak Tami juga saat ini!" Seru Tiwi sambil mengalihkan panggilannya teleponnya menjadi panggilan video.
.
.
.
.
.
See you next episode 😘😘😘
__ADS_1