CHOICE LOVER

CHOICE LOVER
Eps 146.


__ADS_3

"Tapi tetep aja, Wi! rasanya aku masih memiliki perasaan yang mengganjal kalau gak ketemu langsung sama kamu! apa lagi, besok pagi aku bakal pergi ke luar Negeri dan akan menetap di sana. Aku cuma ingin pergi dengan perasaan lega, jadi kumohon bentar aja temui aku, ya! anggap aja pertemuan kali ini pertemuan terakhir kita!" Tutur Tami terdengar sendu di akhir ucapannya.


"Emm... gimana, ya! apa Kakak benar-benar gak akan kembali lagi? kenapa kakak harus tinggal di luar Negeri? bukannya semua keluarga kakak ada di sini, ya?" Sahut Tiwi.


"Aku gak bisa menjelaskan alasan yang pastinya sama kamu, Wi! yang jelas, aku akan menetap di sana selamanya dan tak akan kembali lagi ke Negara ini. Negara yang udah banyak kasih warna dan cerita di hidup, aku!" Tutur Tami terdengar kian sendu.


Tiwi menghela nafasnya sebelum membuat keputusan. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Tiwi menyetujui untuk menemui Tami seperti yang diinginkannya.


"Baiklah Kak, In Sya Allah Tiwi usahakan datang! kalau gitu Tiwi tutup dulu teleponnya, ya! Assalamu'alaikum." Ucap Tiwi.


"Wa'alaikumsalam," Jawab Tami.


Sejurus kemudian, Tiwi mencari kontak suaminya di layar pipih yang masih dia pegang. Tiwi benar-benar masih khawatir karena masih belum mendapat kabar dari suaminya. Hingga akhirnya Bi Ina datang menghampiri dirinya yang sedang cemas menunggu sang suami menerima teleponnya.


"Aby kemana sih, tumben banget gak di angkat, apa dia benar-benar sibuk, ya?" Monolog Tiwi seraya mencoba menghubungi nomer hp suaminya kembali.


"Maaf, Bu! barusan Bapak telepon Bibi, katanya nomer Ibu dari tadi gak bisa di hubungi, kata Bapak Ibu jangan lupa minum vitamin dan susunya, Bapak juga bilang kalau beliau baru tiba di hotel saat ini!" Tutur Bi Ina setelah menghampiri majikannya yang terlihat mondar-mandir di ruang keluarga rumahnya sendiri.


"Alhamdulillah, mungkin tadi Tiwi lagi terima telepon dari teman, Bi. Jadi Aby gak bisa telepon Tiwi. Ya udah, makasih banyak ya, Bi!" Sahut Tiwi setelah mendengar kabar suaminya dari Bi Ina dan segera bergegas masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap menemui Tami.


Tak butuh waktu yang lama, Tiwi akhirnya menghampiri Pak Slamet setelah selesai berganti pakaian dan bersiap-siap sebelum menemui Tami.


"Loh, Ibu mau kemana lagi? ini udah sore loh, Bu! jangan bilang, Ibu mau menemui perempuan yang tadi di taman itu, ya!" Tutur Bi Ina saat melihat majikan perempuannya melenggang ke arah teras rumah.


"Tiwi cuma keluar bentar, ko Bi! lagi pula Tiwi bukan bertemu dengan perempuan yang tadi pagi, tapi Tiwi mau bertemu dengan adiknya, kebetulan adiknya senior Tiwi di kampus, Bu!" Sahut Tiwi setelah tiba di depan teras rumahnya.

__ADS_1


"Duh... Bibi ko jadi khawatir, ya! perasaan Bibi benar-benar gak enak kalau Ibu harus pergi, Ibu gak usah pergi aja ya! Bibi takut terjadi sesuatu sama Ibu," Sahut Bi Ina seraya menggenggam tangan Tiwi dengan kedua tangannya.


"Bi, Tiwi cuma pergi bentar, ko! Tiwi juga cuma mau ucapin selamat jalan aja sama Kak Tami! katanya, besok dia udah berangkat ke luar Negeri untuk menetap di sana! Bibi gak perlu khawatir, atau kalau mau, Bibi ikut Tiwi aja, ya! jadi Bibi gak akan khawatir lagi!" Tutur Tiwi seraya memberi tawaran pada Bi Ina yang langsung di sambut antusias oleh pembantunya itu.


Bi Ina terlihat antusias bukan karena senang di ajak majikannya jalan-jalan. Tapi, dia baru bisa tenang jika mengetahui keadaan Tiwi baik-baik saja selama di luar rumah. Apa lagi, Tiwi tinggal menunggu mulas untuk melahirkan. Kak Gery menitipkan sang istri padanya juga sudah seperti pada Ibu nya sendiri, jadi Bi Ina merasa sangat bertanggung jawab atas keselamatan Tiwi.


"Kalau gitu Bibi ikut ya, Bu! tapi benar nih gak apa apa? atau Bibi pergi pake kendaraan lain aja, deh!" Sahut Bi Ina merasa sungkan jika berangkat bersama sama dengan majikannya.


"Ko, pake kendaraan lain sih, Bi! udah, Bibi ikut di mobil bareng Tiwi aja! udah yuk, Bibi ganti dulu baju gih, Tiwi tunggu di sini ya!" Seru Tiwi.


30 menit kemudian, Tiwi dan Bi Ina tiba di sebuah Resto yang Tami maksud. Dia segera melenggang masuk dan mencari keberadaan Tami untuk menyapa.


"Sepertinya itu Kak Tamu, Bi. Ayo!" Seru Tiwi berjalan beriringan menghampiri Tami.


"Hati-hati, Bu! pelan-pelan aja jalannya!" Ucap Bi Ina mengingatkan saat Tiwi terlihat antusias menghampiri Tami yang sudah duduk di salah satu kursi Resto.


"Gak apa-apa, ko Wi! ayo duduk wah, ternyata kamu lagi hamil besar ya, berapa bulan?" Sahut Tami seraya menggeser sebuah kursi untuk membantu Tiwi duduk di dekatnya.


"Sudah bulannya, Kak! tinggal nunggu mules," Jawab Tiwi.


"Emm... ini siapa Wi?" Tanya Tami sambil menunjuk ke arah Bi Ina.


"Oh, Ini saudara Tiwi kak, namanya Bi Ina." Tutur Tiwi memperkenalkan asisten rumah tangganya yang sudah dia anggap seperti kerabat sendiri.


Bi Ina hanya terlihat menganggukkan kepalanya untuk merespon tatapan Tami. Setelah keduanya berbasa-basi Tami akhirnya mengucapkan apa yang selama ini ingin dia katakan pada Tiwi.

__ADS_1


"Wi, aku benar-benar minta maaf, ini benar-benar tulus dari dasar hati aku, aku benar-benar menyesal udah pernah celaka kan kamu waktu itu, dan rasanya aku gak akan pernah tenang, kalau kamu belum benar benar memaafkan kesalahanku, Wi!" Tutur Tami sambil menggenggam tangan Tiwi yang tergeletak di atas meja.


"Tiwi udah memaafkan Kakak, ko! Jadi, Tiwi harap Kakak sekarang bisa tenang dan gak terbebani lagi, ya!" Sahut Tiwi membalas genggaman tangan Tami yang mengusapnya lembut.


"Makasih banyak ya, Wi! aku benar-benar beruntung masih bisa mendapatkan maaf dari kamu. Ok, karena waktu udah semakin sore, aku cabut duluan ya! aku mau siap-siap berkemas untuk besok, sekali lagi thanks, ya Wi udah mau maafin aku, aku pamit ya, bye." Tutur Tami seraya beranjak dari duduknya dan memeluk Tiwi erat sebelum melenggang keluar Resto.


"Sama-sama, Kak. Semoga kakak di sana bisa menemukan kebahagiaan," Sahut Tiwi membalas pelukan Tami sambil mengelus punggungnya dengan lembut.


Setelah dirasa cukup puas berpelukan, Tami akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Tiwi dan Bi Ina yang masih duduk di dalam Resto. Hingga akhirnya, Tiwi memesan makanan untuk dia bawa pulang karena mengingat Bi Ina yang ikut dengannya saat ini dan tidak bisa membuat makanan untuknya malam ini.


"Bi, pulang nanti Bibi hangatkan makanan ini aja, ya!" Ucap Tiwi setelah memesan beberapa menu makanan untuk makan malam.


"Iya Bu, maaf ya Bibi jadi gak sempat memasak makan malam! Bibi benar-benar khawatir kalau Ibu pergi sendirian," Sahut Bi Ina seraya meremas jemarinya sendiri karena merasa tak enak pada majikannya.


"Gak apa-apa, Bi! sekali-kali kita juga perlu jajan di Resto kayanya!" Kekeh Tiwi.


Tiba-tiba Tiwi merasa ingin buang air kecil saat itu juga. Karena usia kandungannya yang sudah benar benar tinggal menghitung hari. Tiwi jadi semakin sering beser dan bolak balik ke kamar mandi.


.


.


.


.

__ADS_1


.


See you next episode 😘😘😘


__ADS_2