Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 100


__ADS_3

Setiap manusia mempunyai batas kesabaran. Begitu juga dengan Anggita. Selama ini dirinya tidak melawan walau berkali kali disakiti oleh mama Anita. Wanita itu masih berusaha bersikap sopan dan hormat. Tapi sejak mengetahui putrinya adalah sasaran dari mama Anita, Adelia dan Bronson. Anggita tidak tinggal diam. Dia mencari celah kejahatan mama Anita lewat Nia. Tapi tidak berhasil. Hal itu tidak membuat Anggita menyerah untuk membuat wanita tua itu menerima pembalasan dari semua kejahatannya.


Anggita berubah menjadi sosok yang lebih pemberani. Beberapa bulan, dirinya harus berada di rumah dan keluar harus dikawal. Membuat Anggita merasa tidak bebas. Anggita bukan wanita yang gila hormat apalagi wanita pemalas. Walau dirinya sudah menjadi wanita berkecukupan. Anggita masih saja bekerja menjadi penerjemah di salah satu platform online. Dirinya juga menjadi penanggung jawab kafe pelangi. Dan untuk kafe bintang. Atas kesepakatan Evan dan Anggita. Kafe itu kini menjadi milik Danny.


Anggita merasa tidak puas hanya menerima laporan dan melihat suasana kafe lewat video call. Itu juga lah alasan Anggita untuk menyelesaikan secepatnya permasalahan dengan Bronson, Adelia dan mama Anita. Tapi keinginan Anggita itu tidak berjalan dengan mulus. Nia yang diharapkan bisa mengungkapkan kejahatan mama Anita tidak bersedia membeberkan secara detail kejahatan wanita itu.


Tidak ingin kebebasnya terus terenggut. Akhirnya Anggita melakukan penyelidikan kepada para pelayan yang ada di rumah nenek Rieta. Sejak mama Anita ketahuan bekerja sama dengan salah satu pelayan di rumah nenek Rieta. Evan dan Rendra sudah berusaha untuk mengungkap siapa pelayan tersebut. Tapi setelah diselidiki tanpa sepengetahuan para pelayan tersebut. Satu pun diantaranya tidak ada yang mencurigakan. Hal itu membuat Evan dan Rendra tidak bisa memutuskan siapa yang menjadi partner mama Anita dalam menjalankan misi kejahatan itu.


Anggita tidak tinggal diam. Seperti pagi ini, setelah Evan Dan Rendra berangkat ke kantor. Anggita memulai misinya. Dia ingin mengungkap siapa sebenarnya pelayan yang menjadi musuh dalam selimut di rumah nenek Rieta.


Anggita memulai misinya dengan mendekati salah satu pekerja di rumah itu yang bertugas sebagai tukang masak di rumah itu. Anggita berpura pura menemani wanita setengah baya itu untuk melakukan tugasnya memasak menu makan siang. Anggita memasang telinga dan matanya dengan baik untuk memperhatikan gerak gerik wanita itu.


"Biar aku bantu bi," kata Anggita sambil meraih wadah berisi kentang yang hendak dibersihkan.


"Jangan nyonya. Biar aku saja," tolak wanita itu sopan. Bagaimana pun tidak mungkin dirinya membiarkan Anggita membantu dirinya di dapur. Wanita itu mengetahui dengan jelas apa hukuman bagi mereka sebagai pelayan yang bersikap tidak sopan kepada sang majikan.


"Tidak apa apa bi. Santai saja. Bibi kerjakan saja pekerjaan yang lain."


"Tapi nyonya," kata wanita itu sambil menahan wadah itu tapi ternyata tangan Anggita lebih kuat menarik wadah tersebut sehingga wadah tersebut sudah berpindah tangan. Anggita membawa wadah tersebut ke arah meja yang ada di dapur tersebut. Dengan santai dan tidak mencurigakan Anggita menarik bangku dan duduk. Seperti perintah dari dirinya. Sang pelayan itu sudah berdiri di hadapan kompor dan membelakangi dirinya.


Anggita merasa keberuntungan berpihak kepadanya. Ponsel sang pelayan sedang discharged dan terletak di meja yang sama tempat dirinya meletakkan wadah berisi kentang.

__ADS_1


Anggita menggerakkan tangannya mendekatkan ponsel itu ke arah dirinya. Dia juga sudah mengeluarkan ponsel milik sendiri di atas meja dan menampilkan kontak dari mama Anita. Dengan cepat Anggita membuka layar ponsel pelayan itu. Anggita menarik nafas kecewa. Ternyata ponsel itu dikunci dan dibuka dengan kunci pola. Anggita berpikir keras supaya bisa mengetahui kunci pola itu tanpa mencurigakan bagi si pemiliknya.


"Bibi, mulai besok. Sepertinya aku sudah aktif kembali di kafe pelangi," kata Anggita. Sang Bibi terlihat menoleh ke arahnya kemudian kembali fokus ke kuali penggorengan.


"Besok. Lalu bagaimana dengan Cahaya nyonya?. Baby sitter untuk Cahaya kan belum ada."


"Iya bi. Itulah sebabnya aku ingin minta tolong ke Bibi. Supaya Bibi memperhatikan Cahaya setelah pekerjaan memasak selesai. Bibi tidak perlu takut. Aku pasti akan menghargai perhatian Bibi kepada anakku."


"Kalau masalah itu. Jangan khawatir nyonya. Aku pasti ikut memperhatikan Cahaya," jawab wanita itu cepat.


"Terima kasih Bibi. Boleh aku tahu nomor ponsel Bibi?" pinta Anggita. Wanita itu menganggukkan kepalanya dan mematikan kompor. Wanita itu berjalan ke arah meja dan mengambil ponselnya. Dia membuka ponsel itu. Sepertinya wanita itu tidak menghafal nomor ponselnya sendiri.


Anggita memasukkan nomor ponsel mama Anita ke ponsel tersebut. Anggita juga memanggil nomor itu dan seketika itu juga rahangnya mengeras. Ternyata nomor ponsel mama Anita sudah tersimpan di ponsel tersebut. Anggita menggerakkan tangannya di layar ponsel mencari aplikasi berwarna hijau. Dia mencari history chat di ponsel tersebut. Kemarahan Anggita semakin menjadi jadi ketika melihat chatting antara sang Bibi dengan mama Anita. Chatting itu memang sekedar bertanya kabar. Tapi melihat riwayat panggilan. Anggita sangat yakin jika antara sang pelayan dan mama Anita berhubungan baik dan seketika itu juga Anggita mencurigai jika wanita itu adalah pelayan itu yang sedang bekerja sama dengan mama Anita.


"Ikut aku sebentar bi," kata Anggita dingin. Tanpa mendengar jawaban sang Bibi. Anggita melenggang pergi meninggalkan dapur tanpa memberikan ponsel itu kepada pemiliknya. Anggita melangkahkan kakinya menuju taman belakang.


"Ada apa nyonya?" tanya bibi itu gugup. Melihat Anggita yang menatap dirinya tajam. Wanita itu merasa tidak enak hati.


"Duduk," kata Anggita mempersilahkan Bibi itu untuk duduk berhadapan dengan dirinya di bangku besi. Wanita itu terlihat mendaratkan tubuhnya di bangku tersebut dengan canggung.


"Bibi, ada satu hal yang harus kamu tahu tentang diriku. Aku bisa marah seperti harimau jika orang yang paling aku sayangi diusik dan terancam," kata Anggita.

__ADS_1


"Maaf nyonya. Sungguh, aku tidak mengerti maksud dari perkataan nyonya," kata wanita itu bingung. Anggita bisa melihat kebingungan itu di wajah Bibi itu tapi Anggita tidak langsung melepaskan wanita itu begitu saja.


"Kapan kamu berkomunikasi terakhir dengan Tante Anita?" tanya Anggita tajam. Wanita itu semakin terlihat kebingungan.


"Aku tidak pernah berkomunikasi dengan ibu Anita," jawab wanita itu membuat Anggita semakin yakin akan kecurigaannya. Anggita sangat jelas melihat chatting itu.


"Jangan menjawab dengan cepat. Ingat ingat dulu," kata Anggita lagi. Wanita itu terdiam beberapa saat kemudian menggelengkan kepalanya jika dirinya tidak pernah berkomunikasi dengan mama Anita.


"Apa harus polisi dulu yang bertanya baru kamu menjawab dengan jujur. Jika itu yang kamu inginkan. Aku bisa saja melaporkan kamu sekarang juga supaya kamu bisa berkata jujur."


"Aku tidak berbohong nyonya. Aku tidak pernah berkomunikasi dengan ibu Anita," jawab wanita itu putus asa. Dia merasa dan mengingat jika dirinya tidak pernah berkomunikasi dengan mama Anita tapi tuduhan Anggita sangat memojokkan dirinya.


"Lalu ini apa?" tanya Anggita sambil menunjukkan layar ponsel berisi percakapan yang diarsipkan antara mama Anita dengan wanita itu.


"Aku berani bersumpah demi Tuhan nyonya. Aku tidak pernah berkomunikasi dengan ibu Anita."


Kini giliran Anggita yang terlihat bingung melihat raut wajah sang Bibi yang sepertinya Jujur.


"Jadi kamu merasa tidak pernah berkomunikasi dengan Tante Anita padahal jejak digital sangat jelas ada nama itu," tanya Anggita lagi. Tapi wanita itu menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia tetap bersikukuh tidak pernah berkomunikasi dengan Tante Anita.


"Siapa yang pernah memakai ponsel kamu sebelumnya?" tanya Anggita. Anggita akhirnya berterus terang tentang semua kejahatan mama Anita dan salah satu saru mereka adalah komplotan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2