
Nia tidak menyangka jika menjelang pernikahannya dengan Alex. Dirinya bertemu dengan Danny dan segala bentuk penyesalannya. Kata kata Danny dan Anggita jelas terngiang di telinganya sepanjang perjalanan yang disertai hujan dan petir itu. Nia sengaja memejamkan matanya untuk menyembunyikan dirinya yang sedang memikirkan kata kata Danny dan Anggita dari Alex. Nia juga manusia biasa. Mendapatkan ceramah gratis dari Anggita membuat wanita itu berusaha keras menyakinkan dirinya sendiri jika Alex adalah jodoh terbaik bagi dirinya saat ini.
Apa yang dialami oleh Nia saat ini, berbanding terbalik dengan apa yang dia katakan kepada Danny. Kini, Nia terbawa pikirannya sendiri. Bukan karena dirinya ingin menerima Danny tapi Nia memikirkan Naya. Situasi ini menyadarkan dirinya jika menyembunyikan Naya dari Danny dan keluarganya adalah kesalahan besar. Bagaimana pun Naya dan Danny berhak mengetahui ikatan darah diantara mereka.
Memikirkan Naya, Nia merasakan kepalanya sakit. Bagaimana pun, dirinya pasti akan disalahkan oleh keluarga Danny atas perbuatannya itu. Bukan hanya sepanjang perjalanan itu Nia memikirkan perkataan Danny dan Anggita tapi setelah tiba di rumah, kata kata sahabatnya terus terngiang di telinganya.
"Apa yang kamu pikir kan mbak," tanya Jessi sambil membereskan bukunya. Wanita itu baru saja selesai mengerjakan tugas tugas kuliah. Melihat Nia berjalan lesu dan terlihat sedang memikirkan sesuatu membuat Jessi ingin mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh Nia.
"Tidak Ada."
"Jangan berbohong mbak. Mbak terlihat banyak pikiran."
"Benarkah?" tanya Nia. Dia khawatir Alex bisa melihat bagaimana dirinya berpikir di dalam mobil tadi. Alex juga tidak menawarkan diri untuk singgah sebagai mana biasanya. Seketika itu, Nia merasa was was jika Alex tersinggung atas sikapnya tadi.
"Apa Alex berbuat sesuatu atau berkata sesuatu yang membuat kamu terbebani pikiran?" tanya Jessi mencoba menebak apa yang dipikirkan oleh Nia. Nia menggelengkan kepalanya. Wanita itu kemudian menceritakan pertemuannya dengan Danny, Anggita dan Evan tadi. Nia juga menceritakan secara detail apa yang dikatakan oleh Danny dan Anggita kepada dirinya.
"Apa mbak jadi ragu untuk menikah dengan Alex?"
"Jujur, aku memikirkan kata katanya. Tapi bukan berarti aku ingin menerima Danny. Aku hanya berpikir jika ternyata hukum tabur tuai itu nyata. Dan yang membuat aku gelisah adalah Naya."
"Kenapa dengan Naya?"
"Anggita mengandung bayi laki laki. Aku takut jika terlalu lama menyembunyikan Naya. Akan terjadi sesuatu yang salah dalam pergaulannya nanti," jawab Nia. Mendengar perkataan Nia. Jessi tertawa. Dia merasa jika Nia terlalu jauh memikirkan ke masa depan sementara Naya saja masih bayi dan anak laki laki Anggita belum dilahirkan.
"Jadi apa rencana kamu mbak?"
"Aku belum mempunyai rencana apapun tentang Naya. Tapi satu hal yang aku sadari. Menyembunyikan Naya sejak awal ternyata adalah kesalahan dan justru menambah masalah baru," jawab Nia lesu.
"Kalau begitu. Beritahu mereka tentang Naya sebelum jauh terlambat," saran Jessi. Nia menatap adiknya itu. Nia mempertimbangkan pendapat adiknya itu dalam hati tapi ketika membayangkan hal terburuk jika dirinya memberitahukan tentang Naya. Nia menggelengkan kepalanya. Dia tidak sanggup kehilangan Naya jika keluarga Danny merebut putrinya itu dari dirinya. Tapi jika menyembunyikan lebih lama lagi, Nia tidak ingin terjadi sesuatu hal yang bisa menimbulkan masalah nantinya di kemudian hari.
Nia berjalan memasuki kamarnya. Berbicara dengan Jessi tidak membuat beban pikirannya berkurang.
Melihat putri cantiknya tidur pulas membuat hati Nia sedikit tenang. Tapi itu hanya sebentar. Dia menatap putrinya itu dengan tatapan iba. Nia sadar, hanya karena keegoisannya. Naya harus tumbuh tanpa kasih sayang ayah kandungnya. Semakin lama dirinya menatap Naya. Semakin Nia bisa merasakan jika apa yang dilakukan oleh Danny terhadap dirinya karena ikatan batin antara Naya dan putrinya itu.
Sepanjang malam itu Nia tidak bisa memejamkan matanya. Naluri keibunya terus bekerja. Menyadari dirinya mempunyai seorang putri yang cantik. Nia takut jika keputusannya menikah dengan pria yang bukan ayah kandung dari putrinya itu adalah salah.
"Apa ini yang terbaik?" tanya Nia berulang kali dalam hatinya. Alex adalah pria yang terbaik yang dia kenal selama hamil dan enam bulan ini. Alex bisa memenuhi persyaratan yang dia buat sebelum serius menjalani hubungan. Alex juga menunjukkan kasih sayangnya kepada Naya putrinya.
Tapi apakah itu akan bertahan lama. Bukankah cinta pertama seorang anak perempuan itu adalah ayah kandungnya sendiri?. Pertanyaan itu terus berputar putar di kepala Nia. Sampai saat ini, dia tidak meragukan cinta Alex kepada dirinya dan Naya. Hanya saja ada rasa khawatir yang menyusup ke hati Nia. Rasa khawatir dimana Alex bisa berubah suatu hari nanti jika mempunyai anak kandung dari dirinya.
Selain itu, Nia juga membayangkan bagaimana tanggapan putrinya nanti setelah mengetahui jika dirinya yang memisahkan Naya dari Danny.
__ADS_1
"Apa aku yang terlalu cepat memutuskan untuk menikah?"
Rasa sayangnya terhadap Naya membuat Nia terus berpikir. Kini wanita itu meragukan dirinya sendiri yang terlalu cepat memutuskan untuk menikah. Tapi setelah lama berpikir tidak membuat wanita itu merasa lega. Nia membawa beban pikirannya hingga dirinya tertidur.
Besok paginya Nia terlambat bangun karena terlalu larut memejamkan mata. Wanita itu terbangun bukan karena tangisan atau ocehan Naya tapi karena Jessi yang membangunkan dirinya.
"Mbak, ada tamu," kata Jessi pelan kepada Nia yang masih betah memejamkan matanya.
"Tamu, siapa?" tanya Nia cepat dan langsung membuka matanya.
"Aku tidak mengenalnya. Yang pasti dia tidak salah alamat," kata Jessi. Nia berpikir sebentar. Dalam hati dirinya menebak siapa yang menjadi tamunya di pagi hari seperti ini.
"Kamu yakin tidak salah alamat?" tanya Nia. Teman temannya tidak ada yang mengetahui alamatnya di tempat ini. Jessi menganggukkan kepalanya. Nia menyuruh Jessi keluar dan meminta tamu untuk menunggu sebentar. Nia harus membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum menjumpai tamu itu.
Nia memperhatikan punggung wanita yang menjadi tamunya itu. Posisi sang tamu yang membelakangi Nia membuat Nia tidak dapat melihat wajah wanita itu. Nia sengaja berdetak supaya wanita itu menyadari kedatangan di ruang tamu itu.
Nia mengerutkan keningnya setelah wanita itu menoleh dan bahkan tersenyum kepadanya. Nia merasa pernah bertemu dengan wanita itu tapi dia lupa dimana mereka bertemu.
"Nia, apa kabar. Kamu masih ingat dengan aku?" kata wanita itu sambil mengulurkan tangannya.
"Maaf, jujur aku kurang ingat," jawab Nia sangat canggung.
"Anna," kata wanita itu membuat Nia terkejut. Mendengar nama itu, Nia mengingat jika Anna adalah istri dari Rendra. Tapi karena pertama bertemu dan saat itu Anna memakai riasan pengantin membuat Nia sama sekali tidak bisa mengenali wanita itu saat ini.
"Aku sudah mengetahui tentang Naya, Nia. Jadi kamu tidak perlu mendadak gelisah seperti itu. Aku datang ke tempat ini justru karena mengetahui jika kamu punya seorang putri yang sama usianya dengan bayi laki laki mu yang sudah tiada."
Nia merasakan nyawanya seperti tercabut dari raganya. Ketakutan itu jelas terlihat di wajahnya. Saat ini dirinya belum siap jika putrinya diketahui oleh Danny tapi kini di hadapannya salah satu Anggota keluarga Danny sudah mengaku mengetahui tentang Naya putrinya. Banyak tanda tanya terlintas di pikirannya bagaikan Anna bisa mengetahui alamat bahkan tentang putrinya.
"Darimana dan dari siapa ibu mengetahuinya?" tanya Nia berubah menjadi sosok yang sangat dingin.
"Yang pasti bukan dari Alex. Asal kamu tahu, Alex dan aku masih kerabat."
Lagi lagi Nia terkejut. Dia sama sekali tidak mengetahui hubungan kekerabatan antara Anna dan Alex. Jika wanita itu tidak memberitahukan hal itu saat ini bisa saja sampai pernikahan itu tiba. Nia tidak mengetahuinya. Dulu, waktu Alex mengajak dirinya ke pernikahan wanita ini. Nia berpikir jika Anna hanyalah klien biasa dari calon suaminya. Dan selama ini, juga Alex tidak banyak menceritakan tentang kerabatnya.
"Lalu darimana?" tanya Nia penuh selidik.
Anna tersenyum. Sejak kedatangan Danny semalam ke rumahnya. Dia tidak menyangka jika calon istri dari Alex kerabatnya itu adalah Nia yang sama yang dicari oleh Danny selama ini. Anna tentu saja samar samar mengingat Nia karena masih sekali bertemu. Ketika Nia melahirkan bayi dan kehilangan bayi laki lakinya. Anna tidak pernah ikut mengunjunginya Nia karena saat itu dirinya hamil satu bulan yang rentan dengan keguguran.
Anna tidak bisa tinggal diam. Dia bertanya kepada Reni adiknya Alex tentang Nia. Anna tentu saja terkejut ketika mendapatkan informasi jika Nia adalah wanita yang mempunyai satu orang putri. Anna merasa Reni salah menyebutkan putri yang seharusnya mempunyai seorang putra yang sudah meninggal dunia. Tapi Reni mempertegas jika Nia mempunyai seorang putri dan seorang putra yang sudah meninggal dunia. Anna tentu saja terkejut. Dan dia ingin memastikan kebenaran itu sehingga dirinya membujuk Reni untuk memberikan alamat Nia kepada dirinya.
"Jangan takut Nia. Aku datang kemari tidak mempunyai maksud apapun. Hanya aku yang mengetahui tentang putri kamu diantara keluarga besar kakek Martin. Tapi perlu kamu tahu, tidak tertutup kemungkinan yang lain juga akan mengetahuinya juga," kata Anna.
__ADS_1
Tidak mungkin dirinya menyembunyikan hal besar ini dari keluarga besar suaminya. Kedatangannya ke rumah Nia untuk meminta Nia menyelesaikan masalah tentang Naya secepatnya. Alex adalah kerabatnya. Anna tidak ingin kerabatnya itu disalahkan nantinya hanya karena sudah menjadi suami Nia dan dituduh ikut menyembunyikan Naya.
"Menurut ibu, apa yang harus aku lakukan?" tanya Nia. Tadi malam dirinya terus memikirkan hal itu. Dan saat ini, Nia butuh pendapat bijak sana dari Anna tentang masalah tentang putrinya.
"Apa kamu merasa bersalah melakukan inj?" tanya Anna. Nia menganggukkan kepalanya karena memang dirinya merasa bersalah telah menyembunyikan Naya dari ayah kandungnya.
"Kamu melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya Nia. Sebaiknya kamu menyelesaikan masalah ini sebelum kamu memulai hidup baru bersama Alex. Jangan membawa masalah masa lalu di dalam rumah tangga kamu bersama Alex. Itu bisa merusak hubungan kalian nantinya. Berani berbuat berani bertanggung jawab Nia. Tidak ada jalan lain selain memberitahukan Naya kepada keluarga sebelum kalian menikah," kata Anna tegas.
"Tapi aku takut bu."
"Apa yang kamu takutkan?. Kamu takut Naya dipisahkan dari kamu?. Aku rasa itu tidak mungkin. Kamu yang terlalu takut dengan pemikiran kamu sendiri. Karena sebenarnya tidak ada alasan kamu menyembunyikan Naya dari Danny. Karena bayi yang meninggal saja, keluarga sangat kehilangan apalagi dengan Naya yang jelas generasi penerus kakek Martin. Mereka pasti menerima dan menyayangi. Jika pun mereka berniat memisahkan Naya dari kamu. Kamu bisa membawa dia pergi sejauh mungkin karena kamu sudah ada alasan membawa Naya pergi."
"Pikirkan matang matang Nia. Karena rumah tangga kamu dengan Alex kelak bukan hanya satu bulan, satu tahun tapi kalau boleh selama hidup kalian. Pernahkah kamu berpikir jika terjadi sesuatu yang buruk kepada Naya dan saat itu keluarga Danny mengetahui tentang Naya?. Apa yang terjadi pada kamu jika seperti itu. Bukan hanya kamu yang disalahkan tapi juga Alex," kata Anna lagi. Dia hanya ingin yang terbaik bagi Alex dan Nia.
Nia meremas jari jarinya sambil memikirkan perkataan Anna. Dia merasa apa yang dikatakan oleh Anna ada benarnya. Dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada putrinya dan Nia kembali disalahkan karena hal itu. Nia merasakan kekhawatiran yang luar biasa menyadari waktunya yang sudah sempit. Tiga hari lagi adalah pernikahannya itu artinya dirinya hanya mempunyai waktu hari ini dan besok untuk membawa Naya kepada Danny dan keluarganya.
"Jadi bagaimana donk bu," tanya Nia lagi. Dia tidak bisa mengatakan apa yang sudah ada di pikirannya. Nia berharap Anna membantu dirinya tidak hanya memberikan sekedar saran saja.
"Kita mulai dari mas Rendra ya. Aku yakin. Mas Rendra bisa membantu kamu memberitahukan Naya kepada Danny dan Anggota keluarga lainnya," kata Anna. Anna tidak ingin dirinya yang membawa Nia ke hadapan Gunawan dan mama Tiara. Anna sadar diri bahwa dirinya adalah Anggota baru yang tidak ingin dianggap sok ikut campur urusan ini. Anna hanya berani ikut campur hanya sebatas ini karena dirinya sadar masalah ini jika dibiarkan akan bisa membuat Alex dituduh bekerja sama dengan Nia menyembunyikan Naya. Sebagai saudara. Anna tidak ingin saudaranya itu mendapatkan masalah.
"Mas Rendra bersedia datang ke tempat ini," kata Anna setelah bertukar pesan dengan Rendra. Anna jujur jika dirinya sedang berada di rumah Nia saat ini.
"Sudah berapa bulan kandungannya bu?" tanya Nia basa basi. Naya sudah berada di pangkuan wanita itu dan sedang mengajak Naya berbicara.
"Tujuh bulan," jawab Anna. Wanita itu terlihat sangat senang mengajak Naya berbicara walau Naya menanggapi dirinya hanya dengan tersenyum.
"Sudah mengetahui jenis kelaminnya?" tanya Nia lagi.
"Sudah. Laki laki," jawab Anna. Nia terlihat menarik nafas panjang. Mungkinkah dirinya mempunyai pemikiran yang sama sehingga Anna menyempatkan waktu datang ke rumah ini hanya untuk membicarakan tentang Naya?"
"Kita tidak mengetahui masa depan seperti apa Nia. Kalau bisa sekarang mengapa harus menunda bukan?. Lebih baik memperkenalkan mereka sejak dini daripada mereka berkenalan di masa depan tanpa mengetahui ikatan darah diantara mereka. Kita tidak mengetahui umur kita sampai kapan. Kita juga tidak mengetahui kita dinama sepuluh tahun lagi. Kita juga tidak mengetahui bagaimana kondisi keuangan kita di masa depan. Jadi jangan menunda apapun yang bisa dikerjakan saat ini."
Nia menganggukkan kepalanya setuju dengan kata kata Anna itu. Ternyata apa yang menjadi kekhawatiran dirinya tentang putrinya jika masih saja disembunyikan dari Danny. Anna juga memikirkannya. Kini tidak ada lagi keraguan di hatinya untuk membawa Naya kepada Danny. Seperti kata Anna. Dia akan membawa Naya pergi sejauh mungkin jika pihak keluarga Danny berusaha memisahkan dirinya dari Naya.
Tidak lama kemudian, Rendra tiba di rumah Nia. Rendra sangat terkejut melihat Naya. Dia bertanya dalam hati dan menjawab sendiri juga dalam hati tentang Naya.
"Ini putri kamu Nia, putri Danny?" tanya Rendra sambil mengulurkan tangannya mengambil Naya dari tangan Anna. Nia menganggukkan kepalanya dengan setetes air matanya sudah hampir keluar dari matanya. Melihat sendiri bagaimana Naya bertemu dengan Rendra yang merupakan Kakeknya sendiri membuat Nia terharu. Nia tidak bisa menjawab dengan kata kata karena wanita itu merasakan tenggorakannya tercekat. Nia hanya mampu menganggukkan kepalanya.
"Ini cucuku. Cucuku. Siapa namanya?" tanya Rendra senang.
"Naya." Anna yang menjawab.
__ADS_1
Pria itu tidak ingin bertanya lebih jauh lagi tentang alasan Nia menyembunyikan Naya. Melihat Naya sehat dan terawat apalagi tubuhnya gemuk berisi sudah cukup bagi Rendra bahwa Nia cukup bertanggung jawab sebagai seorang ibu.