
Sepanjang perjalanan itu, Salsa lebih banyak berdiam diri. Pikirkan tertuju kepada Nia. Semakin mendengar pengakuan Nia. Semakin mantap hatinya untuk menolak Danny. Dia tidak akan membiarkan dirinya berada di antara dua manusia tanpa ikatan itu.
Sedangkan Danny berusaha keras untuk mendapatkan Salsa. Melihat pakaian milik Salsa basah. Danny menunjukkan perhatiannya dengan menawarkan untuk singgah membeli pakaian sebentar. Salsa menolak dengan halus. Tidak cukup hanya disitu. Danny bahkan memberikan kaos yang dikenakan kepada Salsa untuk membantu wanita itu menghangatkan tubuhnya. Lagi lagi Salsa langsung menolak ketika melihat Danny hendak melepaskan kaos itu dari tubuhnya.
Salsa menyadari jika tidak ada manusia yang sempurna seperti dirinya dan Danny. Tapi Salsa berjanji dalam hati tidak akan menjadikan alasan ketidak sempurnaan itu untuk menerima Danny dan Masa lalunya. Jauh di lubuk hatinya. Salsa berharap banyak supaya Danny dan Nia bisa bersatu demi sang janin.Nia memang benar benar bersalah. Tapi entah mengapa. Salsa sangat merasa kasihan kepada wanita itu.
Tidak ada hidup yang sempurna. Tapi bagi setiap pasangan suami istri. Kehadiran seorang anak akan membuat mereka merasa sempurna. Begitu juga dengan Evan dan Anggita. Rumah tangga mereka terasa sempurna dengan adanya Cahaya. Walau kehadiran anak itu diluar perjanjian mereka di pernikahan pertama. Evan tetap menjadikan anak itu sebagai penyempurna dalam hidupnya. Kalau bukan dengan adanya Cahaya. Mungkin dirinya tidak berjodoh dengan Anggita kembali. Evan benar benar bersyukur mempunyai istri seperti Anggita. Wanita yang pengertian, penurut, lemah lembut dan penyayang. Banyak kebaikan yang terdapat dalam diri Anggita yang baru dia sadari setelah di pernikahan kedua ini.
Evan semakin kagum dan merasakan cintanya bertambah dalam kepada Anggita. Anggita akhirnya memutuskan menjadi ibu rumah tangga atas permintaan suaminya. Anggita menurut, karena dirinya ingin fokus menambah anak. Anggita ingin mempunyai anak yang banyak. Dia tidak ingin Cahaya seperti dirinya yang tidak punya saudara kandung. Sedangkan Evan. Menginginkan dua anak saja. Bukan tidak ingin mempunyai banyak anak. Tapi pria itu merasa kasihan melihat Anggita harus merasakan sakit karena melahirkan. Dia masih mengingat dengan jelas bagaimana Anggita kesakitan ketika melahirkan Cahaya.
Dan minggu ini, mereka menanti kabar bahagia itu. Satu bulan yang lalu, mereka berkonsultasi ke dokter specialis kandungan untuk menambah anak. Dokter sudah memberikan program untuk suami istri.
"Bagaimana hasilnya sayang," tanya Evan penasaran. Sebenarnya dirinya menginginkan masuk ke dalam kamar mandi untuk melihat langsung cara kerja test kehamilan. Anggita keberatan dan meminta Evan menunggu di kamar saja. Kini Anggita baru saja keluar dari kamar mandi. Di tangannya sudah ada test kehamilan.
"Lihat sendiri mas," kata Anggita lemas dan mengulurkan tangannya. Melihat Anggita yang lemas, Evan juga kurang bersemangat tapi tetap mengulurkan tangan mengambil test kehamilan itu dari tangan Anggita. Evan tidak memperhatikan test kehamilan itu karena berpikir jika hasilnya pasti negative. Tapi ketika dirinya hendak meletakkan test kehamilan itu diatas meja, dia tidak sengaja melihat garis dua warna merah dengan sangat jelas. Evan semakin memperhatikan test kehamilan itu dan ternyata memang benar benar positif.
Evan spontan menunjukkan kebahagiaannya dengan memeluk Anggita. Kemudian mendaratkan ciuman di wajah, kening Anggita berkali kali.
"Cahaya, harus tahu secepatnya bahwa dia akan punya adik," kata Evan bahagia sambil menggendong Anggita ke kamar Mandi. Sejak bangun, mereka belum membersihkan diri.
Bagaikan anak kecil, Evan memandikan istrinya itu. Anggita tidak menolak karena dirinya juga ingin menikmati perlakuan manis dari suaminya. Di kehamilan pertama dirinya tidak merasakan hal manis sekecil apapun. Jadi Anggita membiarkan Evan berlaku sesukanya yang memanjakan dirinya. Bukan hanya kali ini, Evan bersikap begitu. Evan berusaha keras memanjakan Anggita dari segi materi dan perhatiannya.
"Kamu sangat cantik sekali sayang," puji Evan setelah Anggita sudah berpakaian rapi. Bahkan pakaian yang dikenakan oleh Anggita saat ini, Evan yang memilih dan membantu wanita itu memakai pakaian tersebut.
"Terima kasih mas."
"Aku yang berterima kasih. Untuk kedua kalinya, kamu mengandung anakku," kata Evan sambil mencium tangan Anggita. Sepasang suami istri itu sudah rapi dan hendak ke rumah Nenek Rieta. Cahaya ada disana. Karena setiap hari Sabtu dan Minggu. Cahaya dan mama Feli berada di rumah nenek Rieta. Biasanya Minggu sore baru dijemput tapi karena kabar bahagia ini, pagi ini mereka ke rumah nenek Rieta.
"Bibi, Istriku hamil," kata Evan dengan wajah berbinar ketika mereka sudah di meja makan. Bibi Ani tersenyum bahagia dan menghampiri Anggita.
"Benarkah itu non?. Anggita menganggukkan kepalanya. Dua wanita itu berpelukan bahagia.
"Semoga kebahagiaan selalu bersama kalian," kata Bibi Ani tulus. Evan dan Anggita mengaminkan perkataan Bibi itu.
"Bibi, bulan ini kamu akan mendapatkan gaji dua kali lipat," kata Evan. Dia merasa senang akan doa tulus dari sang Bibi karena dirinya juga mengharapkan seperti itu. Bibi terlihat menolak karena bukan itu tujuannya mendoakan Anggita dan Evan. Tapi Evan bersikeras untuk itu. Bahkan gaji dua kali lipat yang dijanjikan pria itu kini sudah masuk ke dalam rekening Bibi Ani. Evan melakukan transaksi pengiriman itu lewat ponselnya.
"Kamu minta apa sayangku. Semampuku akan kuusahakan," kata Evan sambil menatap penuh cinta kepada istrinya itu.
"Untuk saat ini belum ada. Mungkin nanti nanti," jawab Anggita. Anggita memang tidak menginginkan apa dan tidak merasakan apa apa layak seperti wanita hamil muda pada umumnya. Kehamilan yang kedua ini sangat berbeda dengan kehamilannya yang pertama.
"Jangan ragu untuk memberitahukan kepada aku. Apapun yang kamu rasakan. Tolong beritahu aku. Aku ingin mengetahui semua yang kamu rasakan di masa hamil seperti ini."
"Iya. Tapi saat ini. Aku masih belum merasakan apa apa. Sangat berbeda dengan kehamilan yang pertama. Mungkin mengetahui kamu yang sudah jinak jadi anak kamu ini tidak bertingkah aneh aneh untuk menarik perhatian ayahnya," kata Evan. Evan tersenyum mendengar perkataan Anggita yang menyatakan dirinya sudah jinak. Tapi senyum itu berubah menjadi kesedihan ketika mengingat dirinya di waktu kehamilan Nia yang pertama. Dirinya tidak mengetahui apapun tentang kehamilan itu. Yang membuat Evan sedih. Dirinya mengetahui kehamilan itu setelah terancam gugur.
Evan menyembunyikan kesedihannya itu dari Anggita dengan cara menghabiskan makanannya dengan cepat..
Setelah mengisi perut pagi itu. Evan dan Anggita bersiap ke rumah nenek Rieta. Tiba disana, Evan membuat kehebohan dengan memanggil semua nama orang yang sedang di rumah itu termasuk Cahaya.
Nenek Rieta dan mama Feli dan juga Cahaya yang sedang di ruang keluarga tertentu saja terkejut. Masih di depan pintu, bukannya mengucapkan Salam. Evan justru berteriak memanggil mereka. Rendra dan Anna yang sedang di kamar akhirnya keluar juga. Dari tadi, sepasang suami istri itu malas keluar rumah. Setelah sarapan bersama, mereka tidak ikut bergabung dengan nenek Rieta karena sepasang suami istri itu merasa tidak enak badan.
"Ada apa Evan?" tanya Nenek Rieta setelah Evan dan Anggita tiba di ruang keluarga. Tidak lama kemudian, Rendra dan Anna juga tiba di ruangan itu.
__ADS_1
"Nenek, Cahaya akan mempunyai adik," kata Evan membuat Nenek Rieta dan mama Feli tertawa bahagia. Bahkan dua wanita itu berpelukan mendengar kabar bahagia itu. Rendra dan Anna juga tersenyum bahagia. Anna tidak sengaja langsung mengelus perutnya berharap dirinya juga secepatnya bisa hamil.
"Sini Anggita," panggil Nenek Rieta. Anggita duduk di sebelah nenek Rieta. Wanita itu memeluk cucu kesayangannya. Perlakuan yang sangat jauh berbeda dibandingkan dengan perlakuannya kepada Nia.
"Kamu juga sudah bisa periksa Anna. Kalian sudah lebih satu bulan menikah. Bisa saja sudah ada calon cucuku di rahim kamu," kata nenek Rieta kepada Anna.
"Ya ma," jawab Anna.
"Tunggu apalagi Rendra. Pergi sana beli test kehamilan untuk istri kamu?" perintah nenek Rieta kepada Rendra. Rendra tidak langsung beranjak dari duduknya karena kepalanya terasa sakit. Tiga hari yang lalu, Rendra terlambat makan dan kurang beristirahat. Umur yang tidak muda lagi. Membuat pria itu harus displin menjaga pola makan dan istirahat. Belum lagi encok, pegal linu yang menyerang pinggangnya tiba tiba.
"Mas Rendra kurang sehat mama. Besok saja," jawab Anna. Mereka tidak bisa mengandalkan jasa pekerja karena setiap hari minggu para pekerja libur setengah hari dan aktif bekerja mulai sore hari.
"Istirahat lah Papa. Biar aku saja yang keluar membeli test kehamilan itu," kata Evan akhir. Nenek Rieta menganggukkan kepalanya setuju.
Tidak lama kemudian, Evan sudah kembali dengan membawa test kehamilan. Nenek Rieta mendesak Anna untuk langsung melakukan test. Sebenarnya wanita itu malu tapi tidak kuasa menolak perintah sang nyonya besar.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Nenek Rieta penasaran. Anna tersenyum sumringah dan menyatakan positive.
"Benarkah?" tanya Rendra tidak percaya. Sakit kepalanya mendadak hilang mendengar kabar bahagia itu. Anna memamerkan test kehamilan itu dengan tersenyum. Wanita itu hampir meneteskan air matanya ketika melihat pertama kali hasil dari test kehamilan itu saat di kamar mandi.
"Iya mas, aku hamil. Kita akan segera menjadi orang tua," jawab Anna senang. Rendra tidak dapat menyembunyikan rasa bahagia itu. Dia menghampiri Anna yang masih berdiri dekat pintu. Rendra langsung mengangkat tubuh wanita itu. Tapi itu hanya sebentar. Rendra langsung menurunkan tubuh istrinya karena sesuatu yang tidak diharapkan terjadi di pinggangnya. Pegal linu, menyerang persendiannya.
"Ayo mas. Duduk dulu," kata Anna. Justru wanita itu sekarang yang menuntun Rendra supaya bisa berjalan ke arah sofa. Anna
benar benar menarik resiko mempunyai suami yang sudah berumur tua. Evan juga bertindak cepat. Dia langsung mengambil obat yang diperintahkan oleh Rendra kepadanya.
Kondisi Rendra yang kurang sehat tidak mengurangi kebahagiaan keluarga itu. Bahkan tante Tiara, Gunawan, Danny dan Sisil akan segera bergabung di rumah itu. Mereka berencana makan siang bersama.
"Kita doakan saja. Danny berjodoh dengan Salsa mama," jawab Gunawan. Nenek Rieta menganggukkan kepalanya. Dia sudah berharap banyak pendekatan Danny terhadap wanita itu akan berakhir bahagia.
Danny tidak mengeluarkan suara apapun. Dia yang mengetahui sejauh mana pendekatannya dengan Salsa. Pria itu hanya menjadi pendengar setia sejak tiba di ruang keluarga itu. Dia hanya menjawab jika pertanyaan mengarah kepada dirinya atau Sisil yang selalu mengusik dirinya.
"Nenek tidak sabar menunggu kelahiran mereka. Nenek senang sekali karena mendapatkan dua generasi sekaligus," kata nenek Rieta juga. Wanita itu tidak henti hentinya membicarakan kebahagiaannya.
"Bukan dua nek. Tapi tiga. Anak yang di kandungan Nia juga generasi nenek. Anggota keluarga Kita," kata Evan meralat perkataan Neneknya. Semua terdiam termasuk tante Tiara.
Hanya Anggita yang menganggukkan kepalanya setuju dengan perkataan Evan.
Ternyata hanya mendengar nama Nia. Pemberian itu bisa terhenti dengan sendirinya. Semua bermain dengan pikiran mereka masing masing termasuk Danny. Tidak ada perkataan pria itu tentang membela calon anaknya. Justru Evan yang hendak memperjuangkan calon anaknya.
"Nenek tidak menganggap anak itu sebagai generasi mu?" tanya Evan memerah kesunyiaan di ruangan itu.
"Bukan begitu. Aku hanya lupa saja."
"Kalau begitu. Jika anak itu lahir dan Nia mengijinkan. Kita harus menyematkan nama Dinata di belakang namanya. Anak itu berhak mendapatkan itu dan mendapatkan warisan dari keluarga Kita," kata Evan lagi. Pria itu berpikir panjang di Masa depan menyangkut anak yang dikandung oleh Nia.
"Perusahaan kakek Martin jatuh ke tangan kamu. Jika kamu menginginkan anak itu mendapatkan warisan maka kamu yang harus membaginya. Hasil jerih payahku hanya diwariskan kepada cucu cucu yang terlahir dari wanita yang baik dan dari ikatan suci pernikahan," kata Gunawan tegas. Hati pria itu masih membatu jika berkaitan dengan Anna.
"Baik pa. Itu bukan masalah bagiku."
"Aku keberatan jika nama keluarga ada di belakang nama anak itu nantinya."
__ADS_1
Evan terdiam mendengar perkataan papanya. Sedangkan Anggita merasa hatinya sakit mendengar itu walau bukan anaknya yang diperlakukan seperti itu. Nia tidak cukup tidak dianggap. Ternyata anaknya juga sulit masuk menjadi anggota keluarga hanya karena keras kepala papa mertuanya.
"Terserah kamu papa. Lakukan yang terbaik menurut kamu," kata Tante Tiara kecewa. Tadi dirinya sudah terlanjur senang dengan apa yang direncanakan oleh Evan menyangkut anak yang dikandung oleh Nia tapi rasa senang itu terhempas begitu saja dengan keras kepalanya.
Tante Tiara tidak memaksakan Danny harus menikahi Nia. Tapi hubungan tidak baik seperti ini juga tidak disukainya. Dia ingin Gunawan dan Nenek Rieta berdamai dengan Nia demi sang anak itu. Berdamai tidak harus menjadikan wanita itu menjadi anggota Keluarga tapi lebih menjalin hubungan yang baik demi kepentingan sang anak. Hari ini dia bisa menyimpulkan jika bukan hanya Nia yang tertolak. Tapi juga calon cucunya itu.
"Danny, kamu tidak mengatakan sesuatu tentang kepentingan anak itu di Masa depan?" tanya Evan.
"Aku serahkan semua kepada Nia kak. Selama ini aku sudah berusaha bertanggung jawab secara materi tapi Nia mendadak menutup rekeningnya sehingga uang tidak bisa terkirim kepadanya," jawab Danny jujur. Pertemuan terakhir dan penolakan Nia akan bantuannya terlintas di pikirannya. Ada rasa ingin tahu akan kabar wanita itu setelah pertemuan terakhir itu. Tapi untuk bertanya tidak mungkin karena setelah selama ini dirinya yang memblokir nomor kontak Nia kini wanita itu yang memblokir nomor kontaknya.
Evan hanya bisa menarik nafas panjang. Sejak mengetahui Nia mengandung benih Danny. Setiap kumpul bersama seperti ini pasti selalu ada perdebatan yang tidak menemukan kesimpulan tentang Nia dan janin itu.
"Anak itu tidak bersalah. Perbuatan Nia lah yang salah. Tidak adil jika Kita membebankan kesalahan itu kepada anak tersebut. Dia ada di rahim Nia karena memang sudah takdirnya. Kita harus memikirkan masa depan. Jika dilihat dari usia, mungkin Kita yang tua tua ini tidak akan lama lagi menikmati hidup. Yang artinya, yang berinteraksi dengan anak itu nantinya adalah Sisil, Cahaya, dan calon anakku dan calon anak Evan yang kedua. Jangan sampai mereka ini yang mendapatkan dendam dari anak Nia karena perlakuan kita yang tua tua ini," kata Rendra. Pria itu juga tidak setuju jika dengan apa yang dikatakan oleh Gunawan.
"Nenek, Papa. Aku mengetahui jika kalian orang baik. Kalian seperti ini karena kesal dengan perbuatan Nia. Kalian saat ini diuji. Kalian sangat baik kepada orang orang yang tidak mampu. Kebaikan kalian itu sekarang mendapatkan ujian. Bagaimana kalian memperlakukan orang yang membuat kesal dan marah. Kalian tidak lolos ujian itu nek, pa. Kalian dibutakan kebencian. Aku rasa Nia juga tidak mengharapkan pertanggungjawaban Danny dan pertanggungjawaban secara materi. Mungkin, dia hanya butuh anak itu kita anggap sebagai bagian dari kita."
"Aku tidak butuh ceramah kalian berdua. Tapi jika Nia menyerah dan memberikan anak itu kepada Kita. Anak tersebut akan menyandang nama Dinata," jawab Rendra keras kepala.
"Aku rasa itu tidak akan pernah terjadi pa. Dia menolak materi dari Danny karena Nia merasa sanggup membelanjai dirinya dan calon anaknya. Kalau papa dan Nenek tidak bisa menerima anak itu. Aku mohon jangan pisahkan Nia dari anaknya," kata Anggita. Dia tidak tahan mendengar perkataan Gunawan.
Evan menggelengkan kepalanya. Dia tadi berpikir jika kebahagiaan karena kehamilan Anggita dan Anna bisa membuat Gunawan dan Nenek Rieta sedikit melembut kepada Nia. Tetapi kenyataan yang dia dapat nenek Rieta dan Gunawan masih keras kepala. Dan lebih parahnya ternyata mereka tidak pernah memikirkan janin itu.
Evan akhirnya mengalihkan pembicaraan. Membicarakan Nia hanya membuat perdebatan tak berujung.
"Danny, bisakah kamu membantu aku di perusahaan. Seperti besok aku belum bisa ke kantor," kata Rendra kepada Danny. Rendra berencana akan membawa Anna besok periksa sekalian dengan dirinya akan konsultasi dengan dokter langganannya. Kehamilan Anna membuat pria itu bertekad harus sehat.
"Bisa om," kata Danny bersemangat. Nenek Rieta dan Gunawan juga ikut tersenyum melihat semangat Danny. Mereka senang karena dengan seperti itu, akan banyak waktu bagi Danny untuk bertemu dengan Salsa.
Evan menatap pria itu dengan malas.
Esok harinya. Danny benar benar ke kantor perusahaan milik. Dia bersenandung kecil sejak turun dari mobil. Para karyawan Rendra sudah mengenal pria itu sebagai keponakan dari Pemilik perusahaan karena satu bulan terakhir ini. Danny sering ke kantor itu hanya untuk menjumpai Salsa.
Danny merasa kecewa karena setelah tiba di lantai dimana meja Salsa berada. Pria itu tidak menemukan Salsa disana.
"Salsa belum datang?" tanya Danny. Dia langsung menanyakan Salsa kepada pihak personalia.
"Tadi datang Pak. Tapi langsung pulang. Dia hanya mengantarkan surat pengunduran dirinya."
"Mengundurkan diri. Mengapa?" tanya Danny terkejut.
"Tidak disebutkan di surat ini Pak. Tapi menurut pengakuan Salsa tadi. Dia terima menjadi sekretaris di perusahaan yang jauh lebih besar dari perusahaan ini," kata pegawai itu.
Danny mengacak rambutnya frustasi. Pengunduran Salsa membuat dirinya tidak bersemangat berlama lama di kantor itu.
"Mengapa seperti ini," gumam Danny frustasi. Danny langsung berusaha menghubungi Salsa tapi nomor kontaknya tidak aktif. Danny keluar dari gedung perkantoran itu dan langsung menuju mobilnya.
Danny melajukan mobilnya kencang menuju rumah Salsa. Danny terlihat tergesa gesa turun dari mobil dan langsung berlari menuju pintu rumah. Danny memanggil nama Salsa berkali kali tapi tidak ada yang menyahut. Hini akhirnya Danny menyerah dan berjalan menuju mobilnya.
Dari mobil itu. Danny menatap rumah yang menjadi tempat tinggal wanita pujaannya. Danny merasa dirinya seperti pria yang tertolak. Salsa adalah wanita yang baik dan diidamkan Gunawan dan Nenek Rieta menjadi wanita pendamping hidupnya. Tapi sepertinya impian Gunawan dan Nenek Rieta mempunyai menantu seperti Salsa tidak akan jadi kenyataan. Danny sadar jika pengunduran Nia dari perusahaan milik Rendra bukan hanya karena tidak tahan melihat kebahagiaan Rendra dan Anna tapi juga untuk menghindari dirinya. Danny bisa melihat jika tidak ada cinta di Mata Salsa untuk dirinya.
Danny hanya bisa memukul setir melampiaskan rasa patah hati itu. Baru saja dirinya membuka hati kepada seorang wanita seperti Salsa. Danny tidak berhasil menggapai hati sang pujaan hati. Danny tertunduk kemudian menatap jalanan yang tidak lurus. Seperti jalanan berliku itu, begitu perjalanan hidupnya di dalam percintaan. Penuh liku dan entah dimana nanti hatinya berlabuh.
__ADS_1