
Nia merenungkan kata kata sang tante. Sifat keras kepalanya perlahan mencair mendengar bahwa paman nya yang terkadang menangis karena pengalaman hidupnya. Sang paman adalah saudara kandung dari ayahnya. Dan satu satunya saudara ayahnya yang masih hidup. Membayangkan sang paman bisa menangis hanya karena kisah hidupnya. Nia tidak dapat membayangkan kesedihan kedua orang tuanya jika masih hidup.
Tidak ada yang diucapkan oleh Nia untuk menjawab permohonan sang tante. Dirinya hanya tertunduk kemudian mengikuti langkah sang tante kembali ke tempat dimana Danny berada. Tidak bisa dipungkiri jika sebenarnya Nia mempertimbangkan apa yang dikatakan oleh tantenya tadi.
"Sudah siap?" tanya Danny. Nia dan sang tante sudah bergabung di tempat itu. Tidak menjawab, Nia mengulurkan tangannya mengambil Naya dari tangan mama Tiara.
Melihat Nia bergegas hendak pergi. Danny akhirnya pamit kepada keluarganya dan Nia hanya membungkukkan badannya ke arah semua keluarga baik ke pihak Danny dan keluarga dari pihaknya.
"Biarkan aku saja yang membawa Naya," kata Danny melihat Nia sedikit kesusahan berjalan. Nia masih memakai kebaya dan rok batik. Gaun pengantin yang dirancang Alex yang seharusnya di pakai setelah akad. Nia sama sekali tidak memakai gaun tersebut.
Nia tidak memperdulikan tawaran Danny itu. Dengan high heels miliknya Nia berjalan terseok seok.
"Jangan egois Nia. Bagaimana kalau kamu jatuh pasti yang kesakitan bukan hanya kamu kan. Naya juga," kata Danny kesal ketika melihat Nia tidak memperdulikan perkataannya.
Nia berhenti sebentar. Menatap Danny dengan tajam kemudian mengulurkan tangannya memberikan Naya kepada Danny. Setelah Naya berpindah tangan. Nia membuka high heel miliknya kemudian berjalan terlebih dahulu meninggalkan Danny yang memperhatikan dirinya tadi.
Baru saja Nia berjalan beberapa langkah. Suara tangisan Naya terdengar sangat keras di sepanjang lorong menuju lift. Danny berusaha menenangkan Naya tetapi bayi itu masih tetap saja menangis. Sedangkan Nia terus melangkah. Dirinya berhenti di depan lift karena memang lift itu belum terbuka.
"Nia, Naya menangis. Sebaiknya kamu saja yang membawa Naya. Dan aku yang membawa high heels itu," kata Danny menyodorkan Naya ke tangan Nia. Nia tidak menolak. Wanita itu masih terdiam dan tidak memberikan high heels miliknya ke tangan Danny.
"Sini high heels milik kamu."
Nia memberikan high heels itu. Kemudian masuk ke dalam lift yang sudah terbuka. Di lift itu, Danny menarik nafas panjang. Aksi diam yang diperlihatkan oleh Nia sedikit membuat dirinya kesal tapi Danny berusaha memaklumi hal itu. Danny berpikir, Nia seperti itu karena masih sulit menerima kenyataan yang baru yang tidak pernah dia duga sebelumnya.
"Alex," kata Danny ketika melihat di lobby hotel itu Alex berdiri seakan menunggu kedatangan mereka. Alex tersenyum kepada Nia dan Danny. Danny membalas senyuman itu dan melangkah ke arah Alex berdiri. Sedangkan Nia sudah melihat Alex tapi karena rasa sakit hati itu. Nia pura pura tidak melihat dan berjalan terus ke luar dari gedung tersebut.
Melihat istrinya tidak mengikuti langkahnya. Danny menjadi bingung. Menghampiri Alex kah atau mengikuti langkah Nia. Melihat Alex memberikan kode kepada dirinya untuk mengikuti Nia akhirnya Danny berlari mengejar langkah istrinya itu.
__ADS_1
"Nia, siapa yang kamu cari?" tanya Danny melihat Nia yang matanya berkeliling seakan mencari sesuatu.
"Taksi online," jawab Nia tanpa menoleh ke Danny. Danny terlihat mengacak rambutnya. Dia tidak melarang Nia pulang ke rumahnya. Tapi apa salahnya jika dirinya mengantarkan Nia dan Naya.
"Biarkan aku yang mengantarkan kamu Nia," kata Danny pelan. Baru beberapa jam menjadi suami Nia, pria itu seakan sudah kehilangan kesabaran menghadapi sifat Nia yang ternyata keras kepala.
"Aku bisa Naik taksi online," jawab Nia ketus membuat wajah Danny memerah. Hari pertama menjadi suami Nia. Danny merasa tidak dihargai. Danny sudah berusaha keras mulai dari bercanda, berbicara lembut berharap komunikasi mereka bisa berjalan dengan bagus ternyata Nia tidak membuahkannya itu. Cara Nia bersikap sangat jelas menunjukkan jika tidak ada itikad baik wanita itu untuk belajar menerima kenyataan ini.
"Mengapa kamu tidak bersedia aku yang mengantarkan kalian pulang?" tanya Danny. Dia ingin mendengar jawaban yang masuk akal dari wanita itu. Dia akan menerima apapun jawaban Nia termasuk jika Nia mengatakan masih membenci dirinya. Tapi wanita itu tidak mengatakan apapun yang menjadi alasan dirinya tidak bersedia diantar pulang.
"Apa kamu takut aku menginap di rumah kamu dan meminta hak aku sebagai suami. Itu yang kamu takutkan Nia?" tanya Danny pelan. Walau kesal Danny berusaha berbicara pelan karena sadar mereka di tempat umum. Banyak orang keluar masuk ke dalam gedung hotel itu. Dan Danny tidak ingin menjadi pusat perhatian hanya karena kesal. Danny menanyakan hal itu kepada Nia karena Danny menduga hal itu yang ditakutkan oleh istrinya itu.
Lagi lagi Nia tidak menjawab. Membuat Danny membenarkan dugaannya itu sebagai alasan Nia tidak bersedia diantar pulang oleh dirinya. Danny pun berpikir tidak akan memaksakan kehendaknya untuk mengantarkan Nia dan Naya pulang.
"Itu kah taksi yang kamu cari?" tanya Danny lagi sambil menunjuk mobil warna hitam yang supirnya seperti mencari seseorang. Pertanyaan itu jelas menunjukkan jika dirinya merelakan Nia pulang dengan taksi tersebut walau sebenarnya Danny merelakan dengan berat hati. Nia mengarahkan pandangannya ke arah mobil yang sedang ditunjukkan oleh Danny. Nia kemudian melihat layar ponselnya. Melihat Nia tidak melangkah, berarti bukan Mobil itu yang sedang ditunggu oleh Nia.
Danny kembali menarik nafas panjang yang kesekian kalinya. Sikap Nia benar benar menguji kesabarannya.
"Nia, Danny. Sebagai rasa senang atas pernikahan kalian. Aku mengundang kalian makan bersama di rumah nenek malam ini juga," kata Anggita sambil tersenyum kepada Nia. Nia hendak protes tapi Nia menggelengkan kepalanya supaya Nia tidak mengucapkan satu katapun.
"Sebenarnya ini sudah lama aku inginkan Nia. Sejak hamil satu bulan. Aku ingin kita makan bersama. Tapi karena hubungan kalian kala itu kurang baik. Aku memendam keinginan itu. Sekarang kalian sudah suami istri. Bisakah kamu memenuhi keinginan aku itu Nia?" tanya Anggita penuh harap. Nia hendak menggelengkan kepalanya menolak permintaan Anggita tapi bayang bayang kebaikan Anggita selama mereka bersahabat terlintas di pikirannya.
Anggita yang memperkerjakan dirinya, Anggita yang membantu biaya uang masuk pertama kalinya Sisil dan juga uang sekolah adiknya Rahma yang bisa dikatakan selama satu tahun Anggita yang membayarkan. Mengandalkan gajinya ketika bekerja di kafe pelangi tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan mereka bertiga. Bisa dikatakan gajinya hanya cukup untuk biaya makan dan transport saja.
Nia menatap Anggita. Nia sadar belum pernah membalas kebaikan wanita itu. Selama bekerja di kafe pelangi. Nia tidak pernah mengalami masalah keuangan karena Anggita tidak pelit memberikan uang kepada dirinya. Ada ada saja cara Anggita supaya Nia bersedia menerima uang tersebut. Anggita juga sadar jika selama ini, Anggita tidak ada di saat dirinya sedang terpuruk. Nia mengetahui jika sahabatnya itu juga mempunyai banyak beban pikiran menghadapi Adelia, mama Anita dan Bronson. Dan baru beberapa bulan terakhir ini, permasalahan itu berakhir dengan masuknya tiga orang itu ke jerusi besi.
"Mau ya Nia. Mau donk. Masa keinginan ibu hamil tidak dituruti. Ini keinginan dedek dalam perut loh," kata Anggita membuat Nia kembali ke masa masa kehamilan dulu. Di saat itu banyak keinginannya yang tidak terkabulkan apalagi keinginan itu jika berkaitan dengan Danny.
__ADS_1
Akhirnya Nia menganggukkan kepalanya karena tidak ingin janin Anggita seperti janinnya dulu yang keinginannya tidak tercapai.
Nia tersenyum melihat senyum cerah di wajah sahabatnya. Dia melupakan panggilan dari supir taksi online. Ketika Danny mendorong pelan tubuh Nia yang sudah menggendong Naya menuju mobil miliknya. Nia tidak menolak.
Di tempat nya berdiri. Anggita tersenyum melihat punggung Nia dan Danny yang menjauh dari dirinya. Danny yang membawa high heels milik Nia terlihat seperti pria yang sangat pengertian dan mencintai istrinya. Tapi siapa yang tahu bahwa di hati keduanya mungkin belum ada cinta. Atau bisa saja mereka sudah saling mencintai tapi belum menyadari karena belum bisa berdamai dengan takdir.
Anggita tersentak karena elusan tangan Evan yang tiba tiba berdiri di hadapannya.
"Menurut kamu. Apakah mereka bisa saling mencintai nantinya?" tanya Evan. Pria itu juga melihat lurus ke arah E
Danny dan Nia yang sudah hampir di mobil milik Danny.
"Aku bukan peramal mas. Tapi aku berharap seperti itu. Nia dan Danny berhak bahagia," jawab Anggita.
"Seperti kita," jawab Evan semakin memeluk Anggita dengan rasa sayang. Memiliki Anggita saat ini adalah hal segalanya bagi Evan.
Tidak jauh dari mereka Danny membukakan pintu mobil untuk istrinya itu kemudian mengambil Naya dari tangannya. Rok batik yang lumayan ketat sulit bagi Nia untuk Naik ke dalam Mobil jika masih menggendong Naya.
Sepanjang perjalanan itu. Danny dan Nia saling diam. Sebenarnya Danny ingin banyak berbicara dengan istrinya itu tapi pria itu takut mendapatkan tanggapan yang dingin dari Nia. Danny memilih diam, karena tidak ingin kesal atas sikap istrinya itu. Danny membayangkan reaksi putrinya Sisil nantinya jika mengetahui Nia sudah mama sambungnya. Putrinya itu pasti senang. Mengingat putrinya. Keinginan Danny untuk membawa Nia ke rumahnya orang tuanya hampir tidak terbendung. Tapi mengingat sikap dingin yang diperlihatkan oleh Nia. Danny akhirnya tidak terlalu banyak untuk itu dalam waktu dekat ini.
Setelah tiba di halaman rumah nenek Rieta. Danny juga melakukan hal yang sama. Membuka pintu untuk istrinya itu ketika masuk ke dalam mobil tadi.
Tidak lama kemudian mobil Evan juga sudah berhenti di sebelah mobil milik Danny. Dua pasang suami istri itu hampir masuk bersamaan ke dalam rumah. Nenek Rieta dan yang lainnya belum tiba di rumah itu.
Anggita tidak main main dengan perkataannya. Dia tidak asal mengundang Nia makan malam dengan mempercayakan persiapan makan malam itu kepada pekeja. Anggita bahkan turun tangan ke dapur walau perutnya sudah membuncit. Dia menyuruh Nia untuk duduk tenang di sofa.
"Danny, Nia. Apa rencana kalian setelah ini tanya Evan kepada sepasang pengantin baru itu.
__ADS_1
Danny menceritakan rencananya kepada saudaranya itu. Danny juga menceritakan tentang dirinya dan Nia yang akan hidup terpisah untuk sementara waktu. Evan tidak bertanya apa alasan mereka melakukan hal itu karena sudah bisa menduga alasan tersebut.
"Bagaimana kalau kalian tidak perlu hidup terpisah. Untuk sementara waktu kalian bisa tinggal di rumah kami dulu," kata Evan kepada Danny dan Nia.