
Menunggu Oci dan satpam tiba di ruangan itu. Anggita merasakan ketakutan. Dia panik sebentar tapi kemudian Anggita bisa mengusai dirinya. Berkali kali dirinya mengguncang tubuh Evan dan saat bersamaan Anggita juga merasakan tubuhnya merinding. Tapi tidak sedikitpun pria itu terganggu dengan suara Anggita. Anggita memanggil nama dua pria itu secara bergantian. Seperti orang yang sedang bermimpi indah. Evan dan Rico tidak berkutik sama sekali.
Anggita merasakan waktu berjalan lambat. Anggita merasa Oci dan satpam sangat lama. Ketakutan yang dirasakan oleh Anggita jelas membuat suasana ruangan itu semakin mencekam. Bukan hantu yang dia takuti. Anggita ketakutan membayangkan jika para pelaku yang membuat Evan dan Rico masih berada di gedung itu. Mengingat ada dua mobil masih terparkir di area parkir dan satpam yang satu lagi tidak terlihat batang hidungnya. Itu artinya ada lebih dari dua orang di gedung itu yang tidak diketahui secara pasti kesetiaan mereka terhadap Pemilik perusahaan.
Sepertinya hal yang ditakutkan oleh Anggita akan terjadi. Dari ruangan itu. Dia bisa menangkap bayangan berpakaian putih yang hendak menuju ruangan itu. Anggita tidak dapat melihat jelas dari ruangan itu karena kaca pembatas ruangan Evan dengan ruangan lainnya bukan kaca tembus pandang. Tapi Anggita sangat yakin orang tersebut bukan Oci ataupun satpam.
Anggita langsung bersembunyi ke kolong meja setelah membuat posisi Evan kembali menelungkup ke meja seperti pertama kali dia menemukan pria itu. Wanita itu merasakan jantungnya tidak teratur berdetak saat mendengar pintu terbuka dan merasakan orang tersebut berjalan mendekati meja kerja Evan.
Dari persembunyiannya Anggita dapat melihat kaki orang tersebut yang kini berdiri tepat di sebelah kursi yang diduduki oleh Evan. Dari kakinya Anggita mengetahui jika orang tersebut adalah seorang wanita. Dan anehnya wanita tersebut tidak memakai sepatu atau alas kaki.
Anggita semakin ketakutan. Dia mengamati kaki tersebut yang jelas menginjak lantai. Otaknya menyimpulkan jika wanita tersebut adalah manusia. Di tengah rasa ketakutan Anggita ingin keluar dari persembunyiannya tapi kemudian niat itu diurungkan karena pertimbangan Anggita tidak mengetahui berapa orang yang ada di gedung itu saat ini yang menjadi pengkhianat. Anggita hanya berharap. Oci dan sang satpam secepatnya tiba di ruangan itu dan bisa menangkap basah wanita tersebut. Tapi apa yang diharapkan Anggita tidak menjadi kenyataan. Hingga wanita itu keluar dari ruangan itu hingga langkahnya menjauh. Orang orang yang dia harapkan secepatnya datang tidak kunjung tiba di ruangan itu.
Anggita keluar dari persembunyiannya. Kedatangan wanita itu tidak memberikan informasi yang cukup untuk mendapatkan bukti pengkhianatan. Anggita mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru berharap ada jejak wanita itu yang tertinggal di ruangan itu.
Anggita kembali menghubungi Oci. Jawaban wanita itu melegakan dirinya karena sudah berada di lift menuju lantai ruangan Evan.
"Apa yang terjadi dengan pak bos dan pak asisten?" tanya satpam itu bingung. Anggita menatap satpam tersebut dengan penuh selidik. Tatapan yang menyelidiki apakah satpam tersebut adalah pengkhianat atau tidak.
"Aku sudah berusaha membangunkan mereka berdua. Menurut bapak
Mereka tertidur karena apa?.
"Mungkinkah mereka tertidur karena kelelahan. Tapi mengapa bisa bersamaan seperti ini dan tidurnya sangat pulas?"
Satpam itu terlihat kebingungan untuk menjawab pertanyaan Anggita. Tapi wajah polosnya dan perkataannya membuat Anggita yakin jika satpam tersebut tidak menjadi bagian dari pelaku yang membuat Evan dan Rico seperti ini.
"Aku rasa, ada hubungannya dengan minuman itu," kata Oci sambil menunjuk dua gelas yang ada di hadapan Evan dan Rico.
"Pak, yang bapak ketahui. Siapa saja yang masih berada di gedung ini," tanya Anggita. Dia mengedipkan sebelah matanya kepada Oci sebagai pertanda dirinya sependapat dengan Oci. Anggita sengaja tidak langsung menjawab dugaan Oci supaya sang satpam masih tetap dengan pemikiran jika Evan dan Rico tertidur karena kelelahan.
"Selain pak bos dan pak asisten. Ada dua orang teknisi yang sedang memperbaiki cctv dan dua orang karyawan kantor di ruangan itu bu. Untuk bertugas di luar hanya Saya Dan rekan saya."
"Mengapa kalian lama tiba di ruangan ini?" tanya Anggita. Anggita berpikir jangan sampai Oci dan satpam lama ke ruangan ini karena ada hubungannya dengan kedatangan wanita tadi.
"Kami harus menunggu pak satpam yang satu lagi untuk menjaga pos satpam bu. Aku sudah menyuruh mbak ini untuk terlebih dahulu menyusul ibu ke ruangan ini. Tapi mbak ini tidak mau dan harus sama sama."
Oci menganggukkan kepalanya bahwa apa yang dikatakan oleh satpam tersebut adalah benar. Dirinya benar benar takut jika berjalan sendiri di dalam gedung yang sunyi itu.
"Hubungi karyawan yang berada di ruangan cctv supaya mereka berempat meninggalkan gedung ini. Berpura puralah sebagai mas Evan," kata Anggita tegas sambil menunjuk telepon yang Ada di atas meja kerja milik Evan. Sang satpam dan Oci terlihat kebingungan sedangkan Anggita langsung mengangkat gagang telepon dan memencet nomor tujuan ruangan cctv. Beruntung di dekat telephon tersebut ada daftar nomor telepon setiap ruangan di gedung tersebut.
Tidak Ada jalan lain bagi pak satpam selain menurut dengan apa yang diperintahkan oleh Anggita. Dengan suara yang dibuat menyerupai suara Evan. Sang petugas yang berada di ruangan cctv percaya dan berjanji bahwa besok cctv akan bisa dipakai seperti biasa.
"Apa kira Kira mereka sudah meninggalkan gedung ini," tanya Anggita setelah sepuluh menit berlalu. Mengurangi jumlah manusia di gedung itu adalah cara yang tepat untuk mengamankan diri dari pengkhianat itu.
"Saya rasa sudah ibu," jawab satpam itu.
"Pak satpam. Kamu tahu apa yang menjadi tugas seorang satpam bukan?" tanya Anggita.
"Saya tahu bu." Satpam menundukkan kepalanya. Sang satpam merasa jika pertanyaan Anggita ada hubungan dengan dirinya yang ketahuan tertidur di jam kerja.
__ADS_1
"Sebutkan," kata Anggita tegas. Satpam itu pun menyebutkan apa apa saja yang menjadi kewajiban sebagai satpam di perusahaan itu. Semua yang disebutkan oleh satpam itu benar tapi pelaksanaanya tidak sesuai dengan kewajiban menjadi seorang satpam.
"Kalau begitu. Bantu aku dan polisi menemukan orang ini. Polisi sebentar lagi tiba di tempat ini," kata Anggita sambil menunjukkan video yang dia ambil tadi ketika bersembunyi. Video yang hanya menampakan kaki hingga pinggang. Posisi Anggita yang bersembunyi. Tidak bisa mengambil video wanita itu secara keseluruhan.
"Siapa ini bu. Mengapa aku harus menangkapnya?" tanya satpam itu bingung. Bagaimana dirinya bisa menangkap orang hanya mengandalkan video kaki sampai ke pinggang.
"Aku sangat yakin dia adalah pelaku yang memberikan mereka obat tidur. Tadi sempat datang kemari. Aku mengambil video ini ketika bersembunyi di kolong dekat kaki mas Evan. Aku sangat yakin wanita ini masih di gedung ini. Jika kamu tidak berhasil menemukannya dan tidak membawa wanita itu dalam waktu setengah jam. Itu artinya kamu adalah sekutu dari wanita tersebut. Aku pastikan kamu ikut diseret ke kantor polisi," kata Anggita dengan wajah yang tidak lagi lembut.
Sang satpam dan Oci terlihat terkejut mendengar perkataan Anggita.Oci langsung merapat ke meja kerja Evan dan memperhatikan lewat ekor matanya apa yang ada di atas meja tersebut yang bisa dilemparkan kepada sang satpam jika satpam tersebut menunjukkan gelagat mencurigakan.
"Bu, aku tidak pernah berpikir untuk berkhianat. Untuk membuktikan kesetiaanku kepada pak bos aku akan mencari wanita itu di seluruh penjuru ruangan," kata sang satpam serius. Kemudian menghubungi rekannya bertanya apakah melihat seorang wanita keluar dari gedung selama dirinya berada di dalam gedung. Jawaban rekannya yang mengatakan hanya teknisi cctv dan petugas yang keluar dari gedung itu membuat satpam itu bersemangat membuktikan kesetiaannya disertai dengan rasa takut.
"Kalau begitu. Tunjukkan kesetiaan bapak sekarang juga," kata Anggita dingin.
Anggita kembali memanggil nama Evan dan Rico secara bergantian. Berharap dua pria itu terbangun tapi ternyata obat tidur itu membuat mereka terlelap tanpa beban. Oci hanya terdiam. Sampai saat ini, ketakutan itu tidak hilang dari diri wanita itu. Bahkan wanita itu terlihat gemetar karena rasa takut itu.
Sedangkan di luar ruangan. Sang satpam juga menajamkan penglihatan dan pendengarannya. Walau dirinya adalah seorang laki laki dan petugas keamanan dirinya juga merasakan ketakutan karena berkeliaran di gedung yang remang remang tengah malam seperti ini. Tapi demi keluarga, rasa takut itu dikesampingkan demi mengamankan pekerjaannya. Sang satpam itu sadar di usia yang sudah kepala empat sangat susah untuk mencari pekerjaan lain. Sikap setia dan mengabdi kepada perusahaan harus diuji seperti ini dengan perbuatan rekan kerja yang tidak setia.
Sambil berjalan dan mengedarkan pandangannya. Sang satpam mengutuk pergi tidak setia dari rekan kerjanya itu.
Sang satpam itu memeriksa semua ruangan tidak terkecuali. Tapi wanita yang dicurigai oleh Anggita tidak ditemukan. Sang satpam terlihat lelah dan sedih. Ancaman Anggita bukanlah ancaman isapan jempol semata. Dari tatapan wanita itu. Sang satpam yakin jika Anggita tidak main main dengan ancamannya.
Satu tahun menjadi rekan kerja dengan Anggita di perusahaan itu. Sang satpam mengetahui sepak terjang Anggita dalam bekerja. Selain pintar, wanita itu juga sangat berani dan tidak bisa disuap. Dia akan memberikan sanksi kepada para bawahannya yang melakukan kesalahan fatal. Anggita terkenal dengan kepintaran dan ketegasannya. Jika Anggita tidak bisa mentolerir kesalahan apalagi pengkhianatan.
Sang satpam terlihat putus asa. Tapi ketika dia hendak berbalik. Dia melihat Cahaya lampu dari celah pintu bawah sebuah pintu. Pintu itu adalah pintu gudang. Tanpa ragu. Satpam tersebut mendekati pintu tersebut dengan pelan. Sang satpam langsung mendobrak pintu karena sangat yakin jika wanita yang dicari Anggita berada di ruangan itu.
"Apa yang kamu lakukan di kantor ini tengah malam seperti ini?" tanya satpam itu tajam tapi merasa lega karena pekerjaannya akan aman. Wanita itu merupakan office girl dan kini tidak mengenakan pakaian kerja melainkan pakaian biasa.
"Maaf Pak. Saya sedang ada masalah dengan orang tua saya. Saya menginap di kantor ini karena menghindar dari orang tua saya," jawab wanita itu. Jawaban yang seperti sudah disiapkan karena wanita itu tidak kesulitan mencari alasan atas pertanyaan sang Satpam.
Sang satpam tidak ingin membuang waktu. Dia mendekati wanita itu dan menyeretnya tanpa berkata kata. Wanita itu berteriak minta dilepaskan tapi sang satpam tidak perduli. Dia menyeret wanita itu hingga ke ruangan Evan.
"Ikat dia," perintah Anggita tajam setelah wanita itu berada di hadapan. Sang satpam dan Oci terlihat kebingungan untuk mengikat wanita itu karena bisa dipastikan jika di ruangan itu tidak Ada tali.
Sisi lembut dalam diri Anggita lenyap seketika. Dia menatap tajam ke arah sepatu Oci. Mengerti akan tatapan itu. Oci melepaskan sepatunya dari kakinya. Dan juga melepaskan tali sepatu tersebut. Oci memberikan tali sepatu itu kepada sang satpam.
Wanita itu dibuat terduduk di sofa dengan tali sepatu yang mengikat kedua kakinya dan kedua tangannya.
"Katakan siapa yang menyuruh kamu memberikan obat tidur kepada mereka," tanya Anggita kepada wanita itu. Tanpa basa basi Anggita langsung bertanya kepada wanita itu. Anggita tidak mengenal wanita itu karena wanita itu baru beberapa bulan bekerja di perusahaan Dinata.
"Aku tidak mengerti pertanyaan kamu," jawab wanita itu. Sepertinya wanita itu juga tidak mengenal Anggita karena ini pertama Kali baginya bertemu dengan istri dari Evan itu. Wanita itu berusaha bersikap tenang tapi sorot matanya tidak bisa berbohong. Jelas terlihat ketakutan di sorot mata itu.
Mendengar jawaban wanita itu. Anggita memutar video wanita itu tadi. Wanita itu terlihat terkejut tapi bisa secepatnya membuat raut wajahnya normal kembali.
"Jangan mengelak lagi. Jika kamu tidak jujur, sebentar lagi polisi akan datang. Jika kamu jujur. Aku hanya memecat kamu dan memberikan pesangon. Sekarang kamu pilih sendiri. Berada di penjara atau dipecat dengan pesangon. Di penjara kamu bisa aku pastikan berkata jujur karena polisi akan melakukan berbagai cara untuk membuat kamu jujur. Misalnya mencabut kuku kamu atau disetrum listrik. Karena aku akan mengeluarkan biaya berapapun demi menangkap otak pelaku yang sesungguhnya. Jika aku memecat Kamu. Kamu masih mempunyai kesempatan mencari pekerjaan lain," kata Anggita panjang lebar berusaha mempengaruhi wanita itu tanpa harus berbuat kasar. Wanita itu juga terlihat takut mendengar perkataan Anggita.
Anggita menunggu wanita itu berbicara. Dia sangat yakin jika wanita itu sekarang sedang berpikir keras.
"Jangan melindungi penjahat. Kami tidak akan membocorkan nama kamu kepada otak pelaku kejahatan ini. Kamu pasti aman." Oci juga berusaha mempengaruhi wanita itu.
__ADS_1
Wanita itu terlihat menundukkan kepalanya.
"Mbak Adelia."
Akhirnya nama itu keluar dari mulut wanita itu. Anggita tidak begitu terkejut mendengar pengakuan wanita itu. Karena hanya tiga nama yang ada di benaknya akan otak pelaku yaitu Adelia, Bronson dan mama Anita.
"Tidak mungkin Adelia. Pasti yang lain kan?" tanya Anggita. Dia ingin menguji wanita itu dan berharap menyebut nama mama Anita atau Bronson.
"Saya jujur bu. Mbak Adelia yang membayar saya melakukan ini," jawab wanita itu. Anggita hanya menatap wanita itu sekilas kemudian berjalan ke arah meja kerja Evan. Sedangkan semua pembicaraan itu sudah tersimpan di video ponsel milik Oci. Wanita itu cepat berpikir untuk membuat adanya bukti pengakuan wanita tersebut.
"Minum," perintah Anggita sambil menyodorkan sisa minuman Rico ke dalam mulut wanita itu. Oci dan satpam terlihat terkejut dan tidak menyangka Anggita melakukan hal itu. Anggita berhasil membuat wanita itu minum sisa milik Rico dan bisa dipastikan jika beberapa saat lagi. Wanita itu akan tertidur.
Lima belas menit kemudian. Benar saja wanita itu tertidur. Anggita menyuruh Oci membuka tali sepatu di kedua kaki wanita tersebut. Anggita juga memerintahkan kepada Oci untuk memapah wanita itu menuju mobil dan satpam memapah Rico sedangkan dirinya memapah Evan.
Butuh waktu lumayan lama enam orang itu keluar dari gedung. Memapah orang yang tidur membuat mereka kesusahan berjalan cepat.
"Apa yang Saya katakan jika polisi datang bu?" tanya satpam itu setelah berhasil memasukkan tiga orang yang tertidur pulas itu ke dalam mobil. Wanita itu sengaja dibuat di depan. Sedangkan Anggita di tengah bersama Evan sedangkan Rico berada di bagian belakang.
"Kamu tidak perlu mengatakan apa apa. Yang harus kamu lakukan adalah menutup mulut akan apa yang kamu lihat termasuk kepada rekan kamu itu," kata Anggita. Satpam yang berada di pos satpam itu juga kini sudah terlihat tidur.
"Baik bu," jawab satpam itu.
"Sepertinya kamu tidak melapor ke polisi," tebak Oci. Anggita menganggukkan kepalanya karena memang benar dirinya tidak melapor kepada polisi. Dia akan menyelesaikan permasalahan ini tanpa campur tangan polisi mengingat Adelia bisa keluar dari penjara karena tenaga uang.
"Jadi apa maksud kamu mengatakan seperti itu kepada satpam itu seperti tadi?" tanya Oci.
"Aku sengaja membuat sang satpam ketakutan terlebih dahulu. Aku takut satpam itu terlibat dengan mereka yang seperti ini," kata Anggita. Dia memang sengaja berkata seperti itu supaya satpam ketakutan dan menuruti perintahnya. Dan tidak mungkin dirinya yang mencari wanita itu ke persembunyiannya. Anggita berpikir cepat untuk memastikan aman terlebih dahulu.
"Pemikiran yang sangat pintar dan cerdik. Kamu memang pintar Anggita dan layak menjadi istri dari seorang pengusaha seperti Evan. Pantas saja kakek Martin sangat menginginkan kamu menjadi istri cucunya," kata Oci. Dia mengetahui tentang perjodohan antara Evan dan Anggita. Saat itu Oci Dan teman teman mereka yang lainnya berpikir jika Anggita sangat beruntung dinikahi oleh pangeran Dinata. Oci tidak mengetahui. Jika Anggita dalam tahap dibahagiakan seperti sekarang ini melalui jalan terjal dan berliku terlebih dahulu.
Oci tidak mengetahui bagaimana kisah pernikahan Anggita dan Evan di pernikahan pertama. Wanita itu hanya mengetahui keadaan Anggita saat ini. Anggita yang sangat dimanja secara materi dan kasih sayang oleh Evan. Tidak hanya Evan. Hampir semua Anggota keluarga kakek Martin menyayangi Anggita.
"Kamu tidak hanya pintar dan cerdik Anggita. Tapi juga wanita yang paling beruntung."
Akhirnya pujian yang kedua kalinya terdengar dari mulut Oci. Wanita itu tidak cemburu sama sekali tentang kehidupan temannya. Dia hanya memuji dengan tulus.
Anggita tidak begitu menghiraukan pujian temannya walau dia mendengar dengan jelas. Pikirannya hanya tertuju kepada Evan yang sampai saat ini masih tertidur pulas.
Anggita membelai wajah suaminya itu. Anggita kemudian mendaratkan ciumannya di kening sang suami. Dia berharap pria itu bangun secepatnya.
"Bangun lah mas. Jangan biarkan mereka menang atas kita," kata Anggita. Oci bisa mendengar perkataan temannya itu.
"Semua akan baik baik saja Anggita," kata Oci. Melihat Evan dan Rico tertidur pulas. Oci juga takut jika dua pria itu masih betah tertidur pulas sementara para pengkhianat menjalankan rencananya.
"Biasanya berapa jam pengaruh obat tidur Oci?" tanya Anggita.
"Aku juga tidak tahu Anggita. Aku rasa itu tergantung dosisnya,"
Jawaban kurang memuaskan itu membuat Anggita kembali merasa cemas. Dia menepuk pipi suaminya bergantian berharap Evan segera terbangun.
__ADS_1