Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 117


__ADS_3

"Silahkan duduk tuan Bronson," kata Evan sambil menggerakkan tangannya menuju sofa yang hendak diduduki oleh Bronson. Bronson terlihat ragu untuk duduk tapi dua pria berbadan kekar yang sedang memapah tubuhnya membantu pria itu untuk duduk. Mendorong tubuh Bronson dengan kasar. Wibawa Bronson tidak terlihat sama sekali. Pria itu terlihat seperti pesakitan yang minta dikasihani.


Evan dan Bronson saling bertatapan. Bronson menatap Evan dengan penuh kebencian sedangkan Evan terlihat biasa saja. Pria itu bahkan menyunggingkan senyum tapi justru senyuman itulah yang membuat Bronson tidak senang. Dia berpikir jika senyuman itu adalah ejekan untuk dirinya yang terlihat berantakan. Dia tidak tahu bahwa Evan tersenyum karena merasa lega karena rencana mereka tidak berhasil. Sedangkan Anggita merasa muak melihat pria itu.


"Aku bisa melaporkan kamu karena telah menculik diriku," kata Bronson. Pria itu merasa kesal dan tertipu karena mobil yang hendak membawa dirinya dari milik sendiri ternyata adalah orang orang suruhan Evan. Baru hitungan jam dirinya menghadapi kemarahan sang istri. Kini Bronson harus menghadapi saingan bisnis yang membuat hidupnya tidak tenang selama ini.


Evan tidak terpengaruh dengan ancaman Bronson. Evan justru tertawa. Situasi saat ini seperti ini bukan karena tiba tiba. Tapi Evan sudah memikirkan jauh jauh hari sebelumnya. Dan tadi malam semua kondisi mendukung rencana itu sehingga para orang orang yang berusaha mengusik kebahagiaan bisa berkumpul di rumah Nenek Rieta dengan kondisi yang memprihatinkan.


"Laporkan saja. Jika itu terjadi sama saja dengan mengantarkan dirimu sendiri ke penjara. Semua bukti kejahatan kamu sudah ada," jawab Evan tenang. Evan tidak asal berbicara. Dia berani melumpuhkan musuhnya karena sudah mempelajari kelemahan musuhnya terlebih dahulu. Evan sadar jika kekuatan uang itu luar biasa itulah sebabnya Evan menyerang bisnis milik Bronson terlebih dahulu daripada langsung menyerang pria tua itu.


Sebenarnya bisa saja dirinya langsung melaporkan Bronson ataupun Adelia langsung ke penjara. Tapi Evan tidak melakukan itu sebelumnya karena mengetahui jika Bronson masih bisa menggunakan uang untuk mempengaruhi oknum oknum tertentu untuk bebas dari jeratan hukum.


Bronson tertawa di sela sela luka yang masih berdenyut jika bibirnya bergerak. Bronson masih sangat yakin akan kemampuan dan dirinya sendirinya.


"Aku tidak bodoh seperti kamu," ejek Bronson. Dalam situasi seperti ini. Bronson masih percaya diri bahwa dirinya lebih pintar dari Evan.


"Bisa saja kamu berpikir seperti itu. Tapi lihat kenyataannya. Dua wanita murahan yang menjadi patner kamu sudah tertangkap basah melakukan rencana jahat kalian," kata Evan sambil menunjuk Adelia dan Indi yang bersandar ke tembok dengan lesu.


Wajah tenang yang diperlihatkan oleh Indi perlahan lahan menghilang. Yang ada kini wanita itu merasa ketakutan setelah mengetahui jika pria hebat yang didengar dari Adelia sebagai donatur dan penjamin mereka berada di tempat yang sama dengan wajah yang penuh lebam. Sejak Adelia membisikkan bahwa pria itu adalah Bronson. Indi sudah merasakan tidak yakin jika dirinya bisa terbebas dari kejahatan yang dia lakukan.


"Siapa mereka. Aku tidak mengenal mereka," kata Bronson membuat Adelia dan Indi terkejut. Dua wanita itu langsung menatap Bronson merasa tidak percaya dengan pendengaran mereka. Apalagi dengan Adelia. Tapi wanita itu berpikir jika wajar saja Bronson tidak mengenal dirinya karena kondisi lebam wajahnya yang tergolong parah.


"Pak Bronson. Ini aku Adelia," kata Adelia sambil berusaha untuk berdiri.


"Adelia?. Siapa kamu?" tanya Bronson. Dalam keadaan sakit seperti ini. Pria itu masih bisa memainkan sandiwara seakan akan tidak mengenal Adelia. Indi merasa ragu. Dia membantu Adelia lewat siku tangannya supaya Adelia bisa berdiri.

__ADS_1


"Pak, jangan pura pura tidak mengenal aku. Kita tidak hanya sekali dua kali bertemu. Sudah berkali kali."


Bronson tidak menanggapi perkataan Adelia. Pria itu bisa berpikir licik. Dia berpikir tidak akan lepas dari jerat hukum jika mengakui mengenal Adelia. Hanya ini jalan satu satunya terlepas dari rencana kejahatan yang gagal di jalankan oleh mereka.


Evan tertawa dan bertepuk tangan melihat sandiwara itu.


"Lihatlah Adelia. Aku sengaja mengundang pria jahat ini untuk bernegoisasi tentang kalian berdua. Kamu sudah mendengar perkataannya kan. Dia tidak mengenal kalian berdua. Karena dia tidak mengenal kamu. Maka kalian berdua akan mendapatkan imbalan setimpal dari rencana jahat ini," kata Evan. Adelia menggelengkan kepalanya cepat.


"Evan, aku mohon. Tolong maafkan aku. Aku benar benar menyesal. Kalau bukan karena bujukan pak Bronson. Aku tidak mungkin melakukan ini semua. Bisa saja saat ini aku masih di penjara," kata Adelia. Wanita itu tidak sadar jika perkataannya membocorkan kejahatannya sendiri.


"Diam kamu Adelia. Masih pantaskah suamiku memberikan maaf kepada kamu atas semua kejahatan yang kamu lakukan. Jika kamu benar benar ingin dimaafkan seharusnya kamu tidak bersedia bekerja sama dengan pria jahat ini. Kamu melakukan ini karena hati kamu masih tidak berubah," kata Anggita sengit. Anggita sengaja mengatakan itu supaya suaminya tidak terpengaruh dengan wajah memelas dari Adelia.


"Benar kata istriku Adelia. Aku belum bisa Memaafkan kamu. Kesalahan kesalahan kamu sebelumnya saja belum bisa dimaafkan. Kini kamu mengulang kesalahan yang sama ingin mencelakai putriku. Aku tidak bisa memaafkan kamu," kata Evan tegas.


Adelia menundukkan kepalanya. Matanya memanas hendak menangis setelah sadar dirinya tidak bisa lagi lari dari kenyataan saat ini. Bayang bayang penjara kini melintas di wajahnya. Jika boleh memilih, Adelia tidak ingin lagi kembali ke sana. Tempat yang dihindari banyak orang itu akan menjadi tempat tinggal di hari hari mendatang.


Anggita menarik nafas panjang melihat Adelia yang bersimpuh itu. Jika kesalahan Adelia hanya menyakiti dirinya sendiri. Mungkin saat ini. Dirinya akan mudah memaafkan Adelia.


"Adelia. Apa permintaan maaf kamu ini tulus?" tanya Anggita sambil menatap wajah Adelia. Adelia menganggukkan kepalanya serius. Saat ini memang dirinya benar benar minta maaf. Sikap Bronson kepada dirinya saat ini membuat Adelia sadar bahwa dirinya benar benar bodoh. Bodoh karena bersedia bersengkongkol dengan orang licik yang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri.


"Adelia. Coba posisikan diriku pada dirimu sendiri. Apa kamu bisa memaafkan orang yang sudah berkali kali menyakiti dirimu bahkan menyakiti anak kamu sejak di kandungan."


Seketika itu juga Adelia menangis mendengar perkataan Anggita. Menangis karena hanya membayangkan saja dirinya tidak bisa berterima akan kejahatan yang seperti dia lakukan. Bayang bayang perlakuan jahatnya kepada Anggita dan Evan terlintas di pikirannya. Adelia benar benar merasa bersalah dan sadar akan kesalahannya. Dan sepertinya penyesalan saat ini tidak ada artinya untuk mendapatkan maaf dari Anggita dan Evan.


"Maafkan aku Anggita. Aku benar benar menyesal dan sadar akan kesalahanku," kata Adelia sambil terisak.

__ADS_1


"Jujur, aku belum bisa memaafkan kamu. Tapi aku punya saran kepada dirimu. Jika kamu benar benar menyesal. Maka kamu harus bertanggung jawab dan siap menerima hukuman akan semua kesalahan kamu. Berusahalah menjadi pribadi yang baru, pribadi yang baik sejak saat ini. Jika kamu benar benar berubah. Aku sangat yakin kamu akan mendapatkan kebahagiaan. Perlu kamu tahu. Perbuatan baik dan perbuatan jahat sama sama akan mendapatkan imbalan. Perbuatan baik akan mendapatkan kebahagiaan selagi kamu bisa bersyukur. Dan perbuatan jahat hanya akan mendatangkan kesusahan. Dan coba renungkan. Atas semua perbuatan jahat yang kamu lakukan selama ini. Apa hidup kamu merasa tenang?. Apa kamu bahagia?. Yang ada kamu semakin jatuh terperosok karena bekerja sama dengan pria ini."


Adelia merasa tersentuh dengan semua perkataan Anggita. Dia membenarkan perkataan Anggita bahwa dirinya tidak pernah bahagia akan semua kejahatannya. Dia sadar, seandainya dirinya tidak bekerja sama dengan Bronson. Mungkin hukumannya tidak lama lagi dan bahkan dirinya masih mempunyai rumah. Tapi sifat jahat yang bersemayam di hatinya membuat Adelia kehilangan semuanya.


"Aku siap mempertanggungjawabkan semua kejahatanku," kata Adelia setelah beberapa menit terdiam.


Anggita langsung menatap Adelia. Adelia terlihat serius. Anggita menepuk punggung Adelia supaya tidak bersimpuh lagi. Anggita tersenyum sedangkan Evan terlihat menatap Adelia dengan sinis.


"Pilihan yang tepat Adelia. Kamu siap untuk kembali ke penjara kan?" tanya Anggita.


"Aku siap Anggita. Mungkin inilah cara supaya aku kembali ke jalan yang benar."


"Bagus Adelia. Penyesalan kamu menyelamatkan kamu dari hukuman yang sudah disiapkan sebelumnya," kata Anggita sambil mengelus tangan suaminya. Evan langsung menatap Anggita tidak suka dengan perkataan istrinya.


"Mas, sebaiknya Adelia kembali ke penjara. Kita hargai penyesalannya," kata Anggita kepada Evan. Tadi pagi, dia tidak sengaja mendengar pembicaraan Evan dan Danny yang akan mengirim Adelia ke salah satu rekan Danny. Menjadikan Adelia menjadi pekerja bagi rekan Danny yang seorang mafia yang terkenal kejam. Seorang wanita yang masuk ke Sana akan sulit keluar karena akan dijadikan sebagai pemuas dahaga para pria pria dewasa yang bekerja bagi mafia tersebut.


Anggita merasa bersyukur. Bukan hanya karena berhasil membuat Adelia tersentuh tetapi juga karena berhasil menjauhkan Evan dan Danny dari dosa. Bagaimanapun mengirim Adelia ke mafia tersebut sudah termasuk menjerumuskan Adelia ke dalam dosa.


"Danny, hubungi polisi sekarang juga," perintah Evan. Bronson yang sejak tadi mendengar pembicaraan Anggita dan Adelia kini bergerak gelisah.


"Lepaskan aku Evan," kata Bronson. Melihat Danny sedang memegang ponselnya. Bronson ketakutan. Dia tidak ingin berurusan dengan polisi.


"Kenapa aku harus melepaskan kamu. Bukankah penjara adalah rumah terbaik untuk kamu sendiri. Bayangkan saja jika kamu tidak masuk penjara. Kamu pasti malu mendengar kehancuran perusahaan milik kamu sendiri," kata Evan.


"Kamu tidak punya bukti untuk melaporkan aku," kata Bronson. Evan langsung membuka layar ponselnya dan menunjukkan bukti bukti kejahatan pria itu. Bronson terlihat terkejut dan bahkan keringat dingin.

__ADS_1


"Maaf Pak. Selama ini aku menahan diri. Untuk saat ini ijinkan aku membalas semua kejahatan mu kepada keluarga kami," kata Evan sambil berdiri. Dia mendaratkan beberapa tinju ke tubuh Bronson. Evan melampiaskan kemarahannya selama ini dengan membuat pria itu mengaduh kesakitan.


__ADS_2