
Menikah dengan orang yang dicintai dan mencintai adalah impian setiap wanita termasuk Nia. Hari ini, seharusnya dirinya menikah dengan Alex yang mencintai dirinya tapi yang terjadi Danny yang menjadi pengantin pria bagi dirinya. Benar benar harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Tapi karena memikirkan berbagai faktor. Nia tidak bisa hanya memikirkan dirinya. Dan pernikahan ini akan membuat dirinya dan adik adiknya terselamatkan dari rasa malu.
Suasana haru menyelimuti hati pihak keluarga Danny dan Nia ketika terdengar kata sah yang menandakan mereka berdua sudah resmi menyandang status sebagai suami istri. Pihak keluarga Danny merasa jika pernikahan ini adalah sesuatu yang ajaib bagi mereka mengingat yang seharusnya menikah hari ini bukan Danny tapi Nia dan Alex. Takdir Danny membuat mereka duduk di tempat itu menyaksikan Danny mengikrarkan janji suci pernikahan atas wanita yang tidak mereka inginkan dulu. Kini restu mereka bagi Nia menjadi menantu mereka meskipun harus melalui jalan berliku terlebih dahulu.
Sedangkan keluarga pihak Nia merasa terharu karena kebesaran hati Danny yang bersedia menikahi Nia hari ini. Jika tidak entah apa yang mereka dengar nantinya setelah keluar dari gedung itu. Kini kekasih dan ketakutan itu sirna.
Pernikahan itu sudah terjadi. Bisik bisik para tamu menjadi bagian dari pernikahan itu. Paman dan tante Nia sengaja mengabaikan bisik bisik itu. Karena tidak ingin memberikan kesempatan kepada para tamu itu yang merasa heran dengan pengantin pria yang tidak sesuai dengan pria yang melakukan foto pre-wedding yang ada di kartu undangan.
Danny juga begitu. Pria itu bisa merasa lega karena berhasil menikahi Nia. Mungkin setelah hari ini, dirinya akan menjumpai Alex untuk mengucapkan terima kasih kepada pria itu. Danny hampir setiap saat tersenyum sedangkan Nia bersikap biasa. Wanita itu berusaha memperlihatkan wajah senang tapi bayang bayang pembatalan Alex atas pernikahan mereka memudarkan senyumnya.
Kini Danny dan Nia sudah bersanding di pelaminan. Tidak Ada pegangan tangan atau tatapan mesra yang diperlihatkan suami istri kepada para tamunya sebagimana pengantin pada umumnya. Bisa dikatakan jika para tamu yang kini masih berada di ruangan itu adalah tamu dari pihak Nia. Sedangkan tamu yang sudah sempat diundang oleh Alex memilih pulang secepatnya setelah mengetahui jika pengantin prianya bukan Alex. Sedangkan dari pihak Danny. Hanya keluarga inti yang terlihat di ruangan itu. Pihak keluarga Danny tidak sempat mengundang kerabat atau relasi untuk pernikahan Danny karena waktunya sangat mendesak. Bahkan Sisil tidak ikut ke pesta itu karena Gunawan dan yang lainnya terburu buru hingga melupakan Sisil.
"Nyonya Danny, lihat kamera donk," kata Danny bercanda kepada Nia. Kamera ponsel sudah siap memotret mereka. Danny sengaja menyentuh tangan Nia supaya wanita itu melihat ke arah kamera. Ketika Nia melihat sekilas dan langsung cekatan menekan tombol kamera.
"Kamu pasti akan menyesal melihat foto kamu ini setelah Kita berbahagia nanti," kata Danny sambil menunjukkan foto hasil tangkapan kamera ponselnya. Nia terlihat cemberut dalam foto itu sementara Danny terlihat tersenyum bahagia. Danny berusaha untuk mencairkan sikap mereka yang terlihat kaku di Mata tamu undangan. Tapi Nia sibuk dengan permasalahan hatinya.
Nia tidak menjawab dan menanggapi foto itu. Dalam hati dirinya kesal karena melihat Danny menjadikan foto itu wallpaper layar ponsel miliknya. Tapi Nia tidak mengungkapkan kekesalan itu. Nia memilih memalingkan wajahnya. Terlalu sakit hati kepada Alex atas pembatalan pernikahan ini dan rasa bencinya kepada Danny membuat wanita itu susah untuk tersenyum.
Seharusnya melihat Gunawan, mama Tiara dan Nenek Rieta yang terlihat duduk bersama dengan paman dan tantenya di kursi tamu undangan. Nia harusnya merasa senang. Tapi wanita itu itu seakan tidak merasakan kebahagiaan hari ini.
Tidak ada tanggapan Nia akan foto itu, akhirnya Danny juga diam. Pria itu membiarkan Nia bertindak sesukanya. Danny juga tidak protes ketika Nia meminta pembawa acara untuk memangkas sebagian rangkaian acara yang sudah dikonsep sebelumnya.
Sesuai keinginan Nia, acara yang seharusnya selesai jam lima itu kini sudah berakhir di jarum jam yang menunjukkan ke angka tiga. Mungkin karena masih larut dalam kesedihan. Nia tidak ingin berlama lama di pelaminan apalagi menyaksikan beberapa acara yang dirancang Alex untuk acara tersebut.
Nia bahkan meminta paman dan bibinya untuk menginap satu malam lagi di hotel itu dengan menempati kamar pengantin yang seharusnya ditempati oleh dirinya dan Alex malam ini. Nia tidak ingin bermalam disana bersama Danny karena dirinya akan kembali ke rumah miliknya sesuai dengan yang dikatakan oleh Danny sebelum dirinya setuju dengan pernikahan ini.
"Jessi, pesankan taksi online untuk kita pulang," bisik Nia kepada Jessi. Nia dan Danny masih duduk di pelaminan sedangkan keluarga pihak Danny dan keluarga pihak Nia masih berbicara santai di kursi tamu undangan. Naya berada di tangan mama Tiara dan sepertinya bayi itu terlihat nyaman bersama neneknya.
"Taksi online? untuk apa?" tanya Jessi heran. Danny dan keluarganya pasti membawa kendaraan pribadi ke tempat ini yang bisa membawa Nia dan Naya pulang.
__ADS_1
"Untuk pulang. Jadi untuk apa lagi?" kata Nia pelan. Danny masih di sampingnya dan mendengar bisikan Nia dan jawaban Jessi. Seperti perkataannya tadi, Danny tidak ingin memaksa Nia untuk langsung ikut dengan dirinya ke rumah orang tuanya.
"Kamu gila mbak. Kamu sudah punya suami. Pak Danny pasti membawa mobil ke tempat ini. Lalu kamu Naik taksi pulang?. Jangan bersikap anak anak. Mbak sudah punya anak. Ikutlah pulang dengan mobil pak Danny," kata Sisil.
"Ya Nia, tidak perlu pesan taksi online. Aku bisa mengantarkan kalian pulang," kata Danny. Dia juga tidak ingin melihat istri dan putrinya pulang dengan taksi karena Danny tidak ingin mendapatkan penilaian negatif di Hari pertama dirinya menjadi suami Nia di Mata paman dan tantenya Nia.
"Tidak perlu mengantar kami kak. Kamu juga pasti lelah dan perlu istirahat. Kita bisa pulang sendiri sendiri karena arah rumah kita juga tidak searah."
Jessi mengerutkan keningnya mendengar perkataan Nia. Walau dirinya masih gadis.. Jessi mengetahui sedikit tentang kewajiban seorang istri bagi suaminya. Mendengar perkataan Nia. Jessi sudah langsung bisa menangkap maksud perkataan Nia.
"Jangan jadikan diri kamu menjadi istri durhaka di hari pertama dirimu menyandang status istri mbak. Tunjukkan bakti kamu sebagai istri mulai saat ini dengan mengikuti suami mu ke mana dirimu akan dibawa olehnya," kata Jessi menasehati Nia. Dia tidak setuju jika Nia tidak ikut dengan Danny hari ini ke rumah pria itu. Jessi mengatakan itu bukan karena memikirkan perkataan tetangganya nantinya. Tapi Jessi ingin pernikahan Nia dan Danny menjadi pernikahan yang berbahagia nantinya.
Di sebelah Nia, Danny mengembangkan senyumnya mendengar nasehat Jessi untuk istrinya. Kata Mata Jessi terdengar bijak dan memang seharusnya seperti itu. Walau Danny tidak memaksa Nia untuk ikut pulang dengan dirinya tapi tidak menolak jika Nia bersedia ikut pulang dengan dirinya. Jauh di lubuk hatinya, Danny menginginkan hal itu.
"Ini kesepakatan kami tadi pagi sebelum menikah. Dan kak Danny yang mengatakan hal seperti itu. Jika aku pulang ke rumah. Itu tidak langsung menjadikan aku sebagai istri durhaka."
"Aku rasa, kamu perlu memikirkan kata kata Jessi, Nia," kata Danny. Mereka berdua sedang menatap lurus ke arah mama Tiara dan yang lainnya. Suami istri itu bisa melihat jika Gunawan dan Jessi sedang berjabat tangan kemudian selanjutnya Jessi juga berjabat tangan dengan nenek Rieta. Sepertinya Gunawan, Jessi dan Nenek Rieta saling meminta maaf.
Nia tidak menjawab tapi dalam hati dirinya tetap bersikeras untuk pulang ke rumahnya. Ternyata melihat Gunawan dan Nenek Rieta, rasa sakit hati itu masih ada dan Nia ingin menyembuhkan sakit hati itu terlebih dahulu baru bersedia tinggal satu atap dengan Danny nantinya.
Nia berusaha mengembangkan senyumnya kala melihat Anggita yang sedang digandeng oleh Evan menuju tempat mereka.
"Sekali lagi, selamat untuk kalian berdua ya. Langgeng sampai kakek dan nenek," kata Evan setelah suami istri itu sudah tiba di pelaminan. Danny tertawa senang sedangkan Anggita dan Nia terlihat berpelukan. Ternyata kedatangan mereka menghampiri Danny dan Nia untuk berfoto bersama. Dua pasang Suami istri itu berfoto dengan berbagai pose tapi wajah Nia masih saja tidak bisa berbohong dengan kesedihannya.
Danny memberikan tangannya supaya Nia menggandeng dirinya ketika turun dari pelaminan itu. Danny berusaha menjadi suami yang baik. Tapi sepertinya apa yang dilakukan oleh Danny sedikitpun tidak menyentuh hatinya.
"Nia, Danny. Kemari dulu," panggil Nenek Rieta yang melihat Nia dan Danny turun dari pelaminan. Nia tidak bisa menghindar dan mengikuti langkah Danny menghampiri nenek Rieta dan yang lainnya. Nia juga tidak bisa menolak ketika nenek Rieta membentangkan tangannya untuk memeluk Nia.
"Nenek berdoa. Semoga Danny adalah pria yang baik dan bertanggung jawab lahir dan batin bagi kamu Nia. Nenek sangat yakin cucuku itu bisa mencintai kamu dengan tulus. Dan Nenek juga berdoa. Semoga kamu bisa menjadi istri yang baik bagi Danny. Nenek percaya seiring berjalan waktu kamu pasti bisa menerima Danny," kata nenek Rieta. Lagi lagi Nia tidak bisa untuk tidak menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Baiklah, Kita sudah bisa pulang sekarang?" tanya Gunawan. Hanya mereka yang tersisa di gedung itu. Gunawan juga sudah menyuruh orang kepercayaannya untuk melunasi segala tagihan yang belum dibayar berkaitan dengan pernikahan Danny dan Nia itu. Bahkan Gunawan, mama Rieta juga Rendra dan Anna berencana sepulang dari gedung ini langsung ke rumah Alex untuk menggantikan uang Alex yang sudah masuk membayar sebagian uang muka untuk pernikahannya hari ini.
"Sudah pa. Dan aku harus mengan...."
"Maaf, sebelum pulang. Bisakah aku berbicara dengan Nia terlebih dahulu?" tanya tante Nia memotong perkataan Danny.
"Oya, silahkan bu," kata Gunawan.
Tante menarik tangan Nia menjauh dari tempat itu.
"Ada apa tante?" tanya Nia heran.
"Aku mendengar dari Jessi. Kamu pulang ke rumah mu dan tidak ikut pulang bersama ke rumah Danny. Benar?"
Nia menganggukkan kepalanya bersamaan dengan itu sang tante menggelengkan kepalanya.
"Kamu salah Nia. Kalau pun Danny mengatakan hal itu sebelum menikah tadi. Seharusnya kamu dan Naya ikut dengan Danny ke rumahnya."
"Tapi aku belum bisa tante."
"Sampai kapan kamu tidak bisa?. Satu bulan, satu tahun atau selama lamanya. Danny sudah membantu kita dan keluarganya juga menerima kamu. Jadi apa yang kamu khawatirkan. Pernah kah kamu berpikir. Mengapa Alex melakukan ini?. Apa kah pernah pernah berpikir jika Alex melakukan ini bisa saja karena restu keluarganya yang tidak menginginkan kamu jadi menantu mereka. Hadapi kenyataan yang kamu hadapi sekarang Nia. Jangan terlalu larut dalam Masa lalu. Karena masa lalu mu itu kini dan akan menjadi masa depan kamu."
Nia tertegun mendengar perkataan tantenya. Hatinya bertanya apakah mungkin Alex melakukan ini karena restu keluarga. Tapi rasanya tidak mungkin karena Nia sendiri mengetahui jika keluarga Alex merestui hubungan mereka.
"Nia, keberhasilan seorang anak itu dilihat bukan hanya seberapa banyak uang yang dia punya. Keberhasilan anak itu juga dilihat bagaimana anak tersebut membina rumah tangganya. Bagaimana bisa kamu dan Danny menumbuhkan cinta di hati kalian jika kalian hidup terpisah. Seharusnya hendak tidur dan bangun tidur kamu harus selalu di sisinya. Kamu sudah pernah gagal berkali kali jangan biarkan kamu gagal dalam berumah tangga. Kamu tidak mengetahui bagaimana paman mu terkadang menangis mengingat pengalaman hidup kamu yang pahit. Dia merasa gagal tidak bisa mendidik kamu karena paman kamu merasa jika kamu dan adik adik kamu adalah tanggung jawab kami semenjak Kedua orang tua kalian meninggal. Andaikan badannya bisa dibagi dua. Paman kamu pasti bisa membagi dua tubuhnya supaya bisa menjaga kalian dan menjaga keluarganya sendiri."
Nia menitikkan air matanya mendengar perkataan tantenya. Apa yang dikatakan oleh sang tante adalah kebenaran. Pamannya tidak henti hentinya memberikan perhatian kepada mereka walau hanya lewat telepon. Jarak yang lumayan jauh dan kesibukan membuat paman dan tantenya tidak bisa mengawasi Nia dan adik adiknya secara rutin.
"Dengarkan perkataan tante Nia. Tante mengatakan ini bukan karena sejumlah uang yang sudah kami terima dari pihak suami kamu. Paman dan tante akan memberikan semua pemberian mertua kamu kepada Jessi untuk kebutuhan mereka berdua dan kebutuhan kuliah mereka. Tante mengatakan ini karena Tante ingin yang terbaik bagi kamu dan adik adik kamu. Tante sadar tidak bisa membantu kalian secara materi. Hanya nasehat ini yang bisa aku berikan. Jadi tolong terima nasehat tante ini Nia," kata wanita itu berharap Nia bersedia mengubah keputusannya.
__ADS_1